
"Suer dulu aku mencintai seorang wanita dan wanita itupun mencintaiku. Aku sungguh tidak bisa melepaskannya dan aku begitu mencintainya." Suer mulai merasakan dadanya sesak. Setiap kata yang di ucapkan Keenan seakan hunusan hunusan pedang yang langsung menebas hatinya membuat hati itu perlahan merasakan sakit yang di luar batas.
"Suer wanita itu kini datang lagi, dia memintaku untuk hadir dalam hidupnya. Suer, di kehidupan sebelumnya mungkin kami tidak di persatukan dan kami berakhir mengenaskan. Namun kini aku tidak bisa melepaskannya. Aku sungguh sungguh mencintainya meski untuk waktu lama aku selalu memintanya mencintaiku menyayangi ku dan berada di sampingku." Keenan menghentikan ucapannya saat sebuah air mata berhasil lolos dari bendungan itu. Keenan perlahan merasakan dadanyapun sesak ada sejuta maaf yang ingin dirinya ungkap namun kata kata menyakitkan yang terdengar lembut itulah jalan awalnya.
"Suer, cinta kami begitu besar dan aku menunggunya sampai ribuan tahun untuk bisa melihatnya lagi, Suer aku mencintainya." Suer merasa hatinya terusik sekan pria itu tengah berbicara sesuatu yang menyinggung dirinya. Suer merasa dulu dirinyalah yang seperti itu bahkan berulang kali Keenan memintanya untuk percaya padanya dan mencintainya, meski Suer tidak pernah sepenuhnya menyerahkan hatinya. Dan saat dirinya akan menyerahkan seluruhnya pria itu tiba tiba mundur dan berkata mencintai wanita lain.
"Aku ingin menikah dengannya." Deg, jantung Suer kembali berhenti dia merasakan di bagian dadanya ada sesuatu yang retak dan sakit. Lebih sakit dari pada kehilangan sesuatu siapapun yang berharga.
Suer merasakan hatinya lebih sakit dari saat Lin Dong dan dirinya berpisah, Suer sulit menafsirkan itu. Kini emosinya sudah tidak bisa di kuasai dan sudah berada di luar batas emosi yang pernah dia rasakan sebelumnya, sebuah penghianatan memang sangat menyakitkan.
Air mata Suer tak menetes dirinya masih menatap Keenan dengan tajam wajah Keenan nampak sendu dan beberapa hari tak bertemu dengan pria itu nampak banyak perubahan yang besar padanya. Suer melihat air muka Keenan yang penuh dengan kejujuran dan tidak ada kebohongan sedikitpun. Namun yang ingin di ketahui Suer adalah siapa wanita itu? Selama di Indonesia Suer tidak pernah melihat Keenan dekat dengan wanita dan selalu bersikap dingin.
"Suer bukankah aku tidak salah bila aku mencintainya?" Tidak ada jawaban dari Suer baik gelengan anggukan ataupun ucapan. Suer sudah mengetahui jawaban atas pertanyaan itu namun dirinya tak ingin melakukan itu.
"Apa kamu tidak ingin bertanya sesuatu?" Suer kembali diam dirinya sungguh muak melihat Keenan, namun sekaligus merasakan hatinya yang kian berdarah.
"Keenan, apa aku juga salah mencintaimu?" Suer meremas dadanya yang terasa begitu sesak dan lidahnya yang kelu begitu terasa pahit.
Keenan menggeleng, kini bayangan yang selama ini menghalangi mereka sudah bisa di lihat Keenan namun melihat Suer yang diam dan seperti itu nampak lebih menyakitkan.
__ADS_1
"Akupun memiliki cinta di masa lalu, akupun mencintainya. Namun saat aku harus memilih mungkin aku tidak akan ragu memilih mu, karena dia hanya masa lalu dan tidak bisa menjadi tabir pemisah." Suer berucap dengan mata yang basah.
"Apa kamu menganggap bila aku adalah dia?" Keenan berusaha menyelidiki hal itu. Mimpi buruknya yang membawa Keenan ke tempat yang jauh membuatnya tak nyaman.
Dalam mimpi itu Keenan seakan bertemu dengan seseorang yang memiliki wajah yang sama dengan dirinya, dia selalu berucap bila mereka adalah orang yang sama dan Suer dalam bahaya.
Sampai detik itu Keenan belum tahu apa bahaya yang mengancam Suer, namun kini dirinya hanya ingin memastikan bagaimana perasaan Suer sesungguhnya pada dirinya.
"Tidak, tapi ya. Aku merasa bila kalian satu jiwa dan kalian adalah orang yang sama." Keenan tersenyum dan menunduk di depan Suer. Suer terperanjat melihat pria itu kini nampak begitu lemah.
"Siapa yang kamu cintai?" Pertanyaan itu sungguh membingungkan Suer, bagi Suer Keenan adalah Lin Dong dan Lin Doang adalah Keenan bila dirinya harus di harapkan seperti ini Suer sudah menemukan jawabannya.
"Lin Dong? Bukankah harusnya kaisar Lin?" Suer mengangkat alisnya mungkinkah sesuatu yang mengganggu hatinya dan ucapan Keenan sebelumnya hanya sebuah pancingan untuk dirinya mengatakan semua itu.
"Apa kamu mengingat sesuatu?" Suer menatap mata Keenan lekat lekat mencari sesuatu dalam mata coklat itu.
"Tidak banyak, hanya sesuatu yang menyakitkan dan sesuatu yang tidak bisa aku miliki di masa lalu." Keenan tersenyum dan sebuah pelukan mendarat di dadanya.
Suer menangis dan tertawa dua hal yang berlawanan itu dirinya satukan dan membuat Keenan terperanjat melihat ekspresi aneh itu.
__ADS_1
"Aku tidak salah selama ini. Ternyata benar benar kamu." Suer memeluk Keenan melampiaskan semua kekesalan dan kerinduannya pada pria itu. Suer memukul mukul dada Keenan dan menangis sejadi jadinya.
"Sayang, apa kamu mencintaiku atau membenciku? Jahat sekali." Suer tertawa dan mengecup bibir Keenan membungkam mulut itu yang semula protes. Namun saat itu Keenan dapat merasakan cinta sesungguhnya. Cinta yang selama ini merasa ada keraguan, sesuatu yang seakan tabir itu ternyata bukanlah penghalang namun sebuah tempat penyatuan untuk dirinya dan Suer.
Bibir Suer yang terasa panas dengan liar memaksa Keenan untuk melakukan hal lebih, Keenan menaikan permainan bibir mereka yang masih menyatu.
"Ehem.." Suara yang cukup keras mengejutkan mereka berdua yang tengah bercumbu mesra.
Suer nampak malu dengan wajah yang memerah sedangkan Keenan nampak tidak perduli seakan tidak melakukan kesalahan apapun.
"Aku merasa kalian akan menikah lebih awal bila kemesraan kalian seperti ini." Komentar pria yang semula mengejutkan mereka berdua.
"Heh, aku pikir juga begitu. Tapi aku kasihan padamu kakak ipar." Sebuah jitakan di layangkan Albert pada Keenan.
"Dasar tidak tahu malu, kamu melakukan hal semacam itu di tonton banyak pelayan dan pengawal sekaligus. Astaga, kamu benar benar sudah menodai adikku apa kamu tidak merasa bersalah sedikitpun?" Keenan mengangkat bahunya tidak perduli.
"Astaga, Suer apa kamu serius dengan pria ini? Aku jadi ragu dengan perjodohan ini." Suer mengangkat wajahnya yang memerah.
"Meski tanpa perjodohan aku akan tetap memilihnya kak." Albert menekan keningnya yang berdenyut merasa dirinya sudah di dahului sang adik.
__ADS_1
Bersambung...