
Akhirnya kini semua orang sampai di sebuah tempat yang teramat asing dan mereka belum pernah melihat tempat yang setanah dan seindah itu.
San dan Shelitz yang kemungkinan akan terpojok akhirnya melarikan diri, mereka tidak ingin mati sia sia dan pada akhirnya perjuangan mereka akan sia sia.
Keenan dan Suer membiarkan mereka pergi, untuk sementara sepertinya keberadaan Shelitz dan San tidak akan begitu menganggu perdamaian.
Mereka berempat akhirnya turun, dan alangkah terkejutnya mereka saat melihat sesosok mahluk yang begitu menyeramkan di upuk mata mereka.
Tubuh manusia namun bagian bawahnya seperti ular dan bagian tubuh bawahnya terpancung seakan akan tengah di tahan seseorang.
"Siapa disana?" makhluk itu berseru agaknya kurang bersahabat dengan kedatangan mereka berempat.
"Kami tidak bermaksud mengganggu mu." Keenan buka Suara mahluk itu merasakan energi besar di sekitarnya.
"Apakah kalian kultivator?" agaknya pertanyaan itu agak asing bagi mereka bertiga ya karena Al, masih belum sadarkan diri.
"Tidak, kami bukan Kultivator." mahluk itu nampak kebingungan.
"Apa kalian siluman? Atau Iblis?" lagi lagi mereka bertiga terkejut.
"Kami bukan Siluman, Kultivator, ataupun iblis. Kami hanya manusia biasa." Suer mulai bersuara sayapnya melambai dan melangkah ke arah mahluk tersebut.
"Kau dewi." Suer mengangkat alisnya dia bukan mahluk semacam itu, Suer melihat bagaimana mahluk itu menahan sakit.
"Boleh aku bantu?" Suer tersenyum dan berusaha membantu mahluk yang nampak terkurung itu, sisik sisik nya beberapa sudah mengelupas dan bagian tubuhnya penuh dengan darah.
"Tapi Suer?" Keenan merasa ragu saat sang isteri akan menolong mahluk aneh itu.
__ADS_1
"Tidak apa apa suamiku." Suer tersenyum berusaha memberikan penerangan pada suaminya bila apa yang dirinya lakukan tidak salah.
"Biar aku saja yang menolongnya." Suer akhirnya mengangguk, dengan cepat Keenan menolong mahluk itu.
Mahluk yang sudah bebas itu tertawa dan mondar mandir kegirangan wajahnya nampak berseri seri.
"Terimakasih." Ucapnya tulus. "Sebenarnya kalian hendak kemana?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mahluk yang semula amat mengerikan itu.
"Kami juga kurang tahu." Suer menatap Al, yang masih belum sadarkan diri.
"Sungguh malang, sepertinya kalian juga bukan berasal dari dunia ini. Kekuatan yang besar pada diri kalian bisa menimbulkan perpecahan. Sebaiknya kalian pergi ke dunia manusia dan menjadi manusia. Sembunyikan kemampuan kalian, karena itu akan berakibat buruk bagi kalian." Mahluk itu seolah memberikan nasihat pada mereka bertiga.
"Ya, kemana kami bisa pergi?" Keenan bertanya dan menatap mahluk yang nampaknya sudah cukup bersahabat itu.
"Ji An, aku datang.." Nampak mahluk lain dengan bentuk serupa seperti sebelumnya dengan bagian bawah sama persis menghampiri mereka.
"Siapa kalian?" Seolah waspada mahluk yang baru datang itu menatap mereka berempat dengan tajam dan nampak seperti sebelumnya dia kurang bersahabat.
"Ji Yu, mereka sudah menolongku dari jeratan siluman. Seharusnya kita berterima kasih pada mereka." Nampak kini mahluk itu menatap ke arah sebelahnya.
"Aku Ji An, dan ini adalah Ji Yu. Kami awalnya hendak ke dunia manusia namun kami malah terkena perangkap siluman." Ji An menunjuk benda yang semula mengekangnya.
"Ke dunia manusia? Kenapa?" Suer bertanya merasa aneh, apakah di dunia itu mahluk jadi jadian semacam itu dengan manusia bersahabat baik atau bagaimana.
"Ya, setiap mahluk yang terbuang akan menuju dunia manusia. Selain karena manusia tidak memiliki kekuatan dan keabadian, manusia juga cukup baik dan bersahabat." Ji An dan Ji Yu nampak berpandangan.
"Bila kalian mau, mari ikut bersama kami." Keenan dan Suer berpandangan dan mengangguk. Suer dan Keenan memperhatikan bagaimana mahluk yang semula mengerikan itu kini berubah menjadi sosok dua manusia tampan.
Suer memperhatikan bagaimana mereka berubah, Suer menutup mata dan seketika dirinya pun berubah seperti dirinya yang semula dengan pakaian yang sama.
__ADS_1
Keenan melihat sang isteri yang berubah sontak terkejut dan tersenyum sekilas dirinya pun melakukan hal yang sama hingga akhirnya mereka berubah bentuk.
Ji An dan Ji Yu nampak berpandangan mereka seolah melakukan sebuah trik sulap, Ji An dan Ji Yu mengeluarkan beberapa pakaian dan menyerahkannya pada Suer dan Keenan.
"Kami tidak berpenampilan seperti itu dan kalian akan menjadi bahan tontonan bila berpakaian semacam itu. Pakai ini, dan setelahnya kita bisa berangkat." Suer terdiam, bagaimana mungkin dirinya berganti pakaian dalam kondisi semacam itu.
"Di sana." seakan mengerti Ji Yu menunjuk sebuah pohon besar, Suer mengangguk dan mengganti pakaiannya bersamaan dengan itu Al, terbangun.
"Ssst.. ah sakit sekali." Al menatap dua pria tampan di hadapannya dan terkejut, namun dirinya menatap ke arah samping dan nampak isterinya tengah berada di sampingnya.
"Kamu sudah bangun Om." Dinda mengelus pipi Albert membuat pria itu merasa nyaman dan merasakan getaran aneh pada dadanya yang sekan berada dalam puncak keabadian.
"Dinda, kita dimana?" Albert menatap ke sekeliling yang nampak di tumbuh tanaman tanaman dan pohon pohon besar dan nampak mengerikan.
"Kita juga kurang tahu." Suer keluar dan melihat kakaknya yang sudah sadar, Keenan berganti pakaian dan kemudian Dinda. Al yang di bantu Keenan akhirnya berganti pakaian juga.
"Nampaknya kalian sudah sangat pantas menggunakan pakaian semacam itu." Ji An berkomentar dan tersenyum ke arah mereka.
"Ji An kita harus cepat aku merasa para pemburu itu masih ada di sekitar sini." Keenan faham pada kondisi itu dan menggendong Keenan yang masih dalam keadaan lemah mereka berjalan menapaki akar akar besar yang seolah menghalangi jalan mereka namun tidak menghentikan langkah mereka.
Sebuah tempat tandus dengan padang pasir yang tidak terlalu tebal namun sangat angin bertiup maka debu debu akan menghalangi pandangan mereka dan membuat mereka sulit melihat apa yang ada di depan mereka.
Mereka terdiam sejenak membiarkan angin bertiup dengan sendirinya dan seolah menyibakkan debu debu dari jalanan mereka perlahan bisa melihat sebuah gerbang yang amat kokoh menjulang.
Beberapa orang nampak keluar masuk gerbang itu dan seolah sudah menjadi rutinitas mereka, mereka sudah bertegur sapa dengan satu sama lainnya.
Suer dan Keenan menatap takjub ke arah sana, itu jelas bukan di kerajaan Lin. Lantas kemana sebenarnya Yuan membawa mereka, itu sungguh tempat yang asing baik bagi Keenan maupun bagi Suer.
Tubuh Yuan yang berubah menjadi portal dimensi dan seketika menghilang dengan kelopak bunga bunga beterbangan sudah tidak bisa memberikan keterangan. Kini mereka hanya bisa mencari apa sebenarnya yang terjadi dan apa tujuan Yuan membawa mereka ke tempat tersebut.
__ADS_1
Bersambung...