
Suer dan semuanya sudah mulai memasuki daerah tersebut, nampak hilir mudik bergantian. Para penjejal makanan, pakaian, batu batuan dan perhiasan nampak berbaris rapi di sepanjang jalan.
Mereka semua diam, karena memang tidak tahu harus berbuat apa dan apa yang harus mereka lakukanpun mereka tidak tahu.
Namun pandangan mereka tiba tiba terarah ke atas di mana langit tiba tiba nampak mendung dengan awan tebal seolah bergelombang mengitari sesuatu.
"Tetua Iblis, lari..!" Teriak orang orang di sana berlarian tunggang langgang ke segala penjuru arah.
"Apa itu?" Suer kian di buat panik tak kala melihat dua siluman ular sebelumnya nampak kepanasan dan tangannya melepuh serta tubuhnya hampir memperlihatkan bentuk asli mereka.
"Cepat kalian lari..!" Ji Yu memperingatkan pada mereka namun mana mungkin mereka membiarkan Ji An dan Ji Yu yang nampak tengah tersiksa itu.
"Suer, bawa mereka pergi." Keenan memberi perintah seketika Suer mengangguk dan merubah bentuk fisiknya membawa semua orang ke tempat yang aman, termasuk Ji An dan Ji Yu.
Suer kembali ke dekat Keenan dan nampak seekor naga hitam tengah berusaha keluar dengan susah payah dari lorong tersebut.
"Kita sebaiknya menyerangnya sebelum dia keluar." Suer memberikan isyarat.
Keenan mengangguk dan mereka terbang menatap naga itu hingga seorang pria tua renta dengan tongkat tengkorak yang nampak menyeramkan serta pakaian seba hitam membuat dirinya semakin nampak di takuti.
"Kita harus menghajarnya dulu sepertinya." Keenan mulai merasakan energi besar pria itu yang hampir memenuhi seisi kota.
Bukh...
Tanpa di sadari sebuah pukulan dari tongkat tengkorak itu mengenai perut Keenan, Keenan terkejut di samping itu juga Suer merasa kian terancam.
__ADS_1
"Kita harus apa?" Dinda khawatir memperhatikan pertarungan itu.
"Kalian juga punya darah dewa, kenapa kalian tidak mencoba berubah?" Ji Yu berkomentar dan di angguki Ji An.
"Ya, cobalah, seperti ini." Ji An memberikan pelajaran berharga pada Dinda dan Albert dia memberikan intruksi agar pikiran keduanya tenang dan mengambil nafas dalam.
Albert dan Dinda menutup matanya dan merasakan sesosok mahluk abstrak yang belum begitu jelas mereka lihat perlahan namun pasti saat keringat mulai mengucur tubuh mereka, Albert dan Dinda akhirnya bisa menyentuh mahluk itu dan tampaklah apa yang ada di hadapan mereka.
Seolah simbol perjanjian sudah terjalin seketika tubuh Dinda dan Albert berubah, Dinda terbang ke arah dua kakaknya sedangkan Albert diam di bawah memberikan perlindungan pada warga.
Keenan terkejut menyaksikan perubahan pada diri adiknya namun dia kembali fokus dan seranganpun di mulai. Pertarungan hebat berlangsung dulu sengit hingga terasa getaran getaran tanah seolah terbelah dan langit bergemuruh dengan hebatnya.
"Hehehe.. ternyata kalianlah titisan lima elemen itu, hehehe... aku harus mendapatkan energi kalian. Hiyaaa..." pria tua itu tak menjelaskan lebih banyak dan mulai menyerang dengan membabi buta. Dinda yang masih dalam keadaan ragu ragu merasa tidak nyaman.
"Dinda, jangan takut. Lakukan apapun yang menurutmu benar!" Keenan berkata seolah mengerti apa yang ada dalam pikiran adiknya itu.
"Jangan kesana, bukan kalian akan membantu namun justru kalian akan menjadi beban mereka." Albert mulai memasangkan pelindungnya dengan sangat baik hingga sosok wanita yang di kenalinya nampak di balik Naga hitam itu dialah Shelitz.
"Oh adikku yang malang, sekarang kau sudah menjadi naga yang penuh dengan amarah. hancurkan mereka!" Shelitz berteriak menyeru dan sontak serangan demi serangan terjadi 1 vs 1 terjadi dengan sengitnya.
Semua orang di sana terluka Albert terkejut namun dirinya tak punya sayap untuk menolong mereka, hingga pertarungan terjadi di darat dan akhirnya kesempatan Albertpun tiba. dirinya mulai melindungi dan serangan di lakukan ketiga orang di sampingnya.
Mereka melawan tanpa ampun hingga sebuah kejadian dimana pedang naga iblis berhasil di taklukan oleh San dan mulai menyerang dengan hebatnya.
San hendak menusuk Albert namun bukan Albert yang tertusuk justru Dindalah yang tertusuk. Dalam beberapa saat keadaan sekan berhenti dan Dinda terjatuh Albert melotot dan berusaha mengobati Dinda namun gagal Dinda meninggal.
__ADS_1
Akhirnya Albert menyerang dengan bulir air mata dan membabi buta dan ternyata sayang amarah pada dirinya menyulutkan hatinya membuatnya hancur berkeping keping dan meninggal.
Kini tinggal Suer dan Keenan. Suer nampak sedikit merasa pedih namun inilah perjuangan mereka dan seranganpun di lakukan namun aneh tiba tiba perut Suer mengencang dan membesar, ada sesuatu dalam perut itu yang seolah bergerak kesana kemari.
Suer menjadi lemas dan lemah, merasa mendapatkan kesempatan mereka mulai menargetkan Suer namun Suer berhasil di lindungi oleh Keenan hingga akhirnya mereka kewalahan dengan kekuatan yang sekan meledak ledak dari diri Keenan.
Keenan muali melancarkan aksi aksinya dan mereka akhirnya melemah, Shelitz berhasil di tumbangkan bersama dengan tetua Iblis itu, kini Keenan berhadapan denagn San dan serangan demi seranganpun dilakukan.
San merasa dirinya terpojok dan di bawah nampak Suer yang tengah meringis dengan darah di sekujur tubuhnya terutama di bagian perut ke bawah, San akan segera menyerang Suer. Namun sebuah tubuh mendorong san, Ji An berusaha melindungi Suer.
Namun Ji An yang memenag lemah langsung di banting membuat siluman ular itu tak berkutik. Ji Yu yang berada di samping Suer mendengar tangis bayi dan membuat mereka gelagapan karena memang tidak pernah menyentuh mahluk semungil itu.
San mengeluarkan pedangnya dan, Clep.. menusuk perut Suer JI Yu yang melihat di samping nampak sangat terkejut.
"Suuuer..." Keenan dari atas sana berteriak dan sontak membanting tubuh San. Suer tiba tiba menghilang menjadi serpihan cahaya keemasan.
Keenan murka dan mulai melakukan serangan terhadap San secara membabi buta, dia melepaskan serangan serangan mematikan. Keenan nampaknya sudah mengerti apa yang terjadi. perjalanan waktu dan kekuatan yang luar biasa dalam diri Suer mempercepat pertumbuhan rahim dalam perutnya meski sebelumnya belum pernah terdeteksi namun Keenan amat yakin bila itu adalah anaknya.
"Bawa dia pergi dari sini." Keenan memberi aba aba pada Ji An dan Ji Yu pergi.
Dengan setengah berlari Ji An dan Ji Yu akhirnya pergi ke tempat yang cukup baik bagi mereka bertiga bersembunyi.
"Sekarang tinggal kita!" Keenan mengerahkan seluruh kemampuan yang di milikinya hingga sebuah ledakan ledakan energi yang begitu besar terdengar dan mereka bertarung hingga titik darah penghabisan.
Keduanya sama sama meninggal dan tidak ada yang menang atau kalah.
__ADS_1
Ji An dan Ji Yu akhirnya merawat bayi itu yang di beri nama Lin Suer.
TAMAT