
Wanita gendut itu menatap Suer dari ujung rambut hingga ujung kaki dia kembali menggeleng.
"Ya ampun, anak muda zaman sekarang penampilannya kok begitu banget. Kamu kerja di tempat hiburan malam ya?" Tanya wanita itu. Suer menggeleng.
"Tidak nyonya saya seorang mahasiswi" Jawab Suer.
Hmm boleh juga ni cewek selain tatak ramanya baik, dia juga tahu cara menyenangkan hati orang. Wanita itu nampak mengangguk angguk.
"Nih yang di samping sini kamar kosong. Kapan pindahnya?" Suer terdiam sejenak mendapatkan jawaban serta pertanyaan itu, dia sudah membawa koper besar kenapa wanita itu masih bertanya kapan ya jelas sekarang lah pikir Suer.
"Sekarang nyonya" Jawab lagi Suer.
"Baiklah, ingat baik baik peraturan di sini catat bila perlu. Satu dilarang keluar malam maksimal datang jam 9 malam larut sedikit pintu akan di kunci. Dua di larang membawa barang barang haram ke mari seperti miras dan oplosan apalagi obat obatan terlarang. Ketiga Bayar kos harus tepat waktu. Keempat.... Kelima..." seterusnya Suer faham dirinya terasa berada di dunia tertutup namun hal semacam itu memang demi kebaikannya sendiri. " Kamu ngerti?" Wanita gendut itu menyentak Suer yang nampak tengah melamun.
"Mengerti nyonya." Jawab Suer.
"Nah karena kamu akan tinggal mulai hari ini jadi kamu harus bayar sewanya juga sejak saat ini." Suer mengangguk. Untunglah Albert sebelumnya sudah mempersiapkan uang cash Rupiah untuknya jadi Suer tidak terlalu kerepotan.
"Berapa nyonya?" Wanita itu mengangkat alisnya.
"Untuk bayar air 50.000 bayar listrik 50.000 bayar wifi 100.000 dan fasilitas lainnya serta kebersihan 300.000 jadi totalnya 500.000" Suer mengangguk dan mengeluarkan uang dengan jumlah yang di tetapkan sekaligus merogoh kembali uang dengan jumlah yang sama kemudian. Sedari tadi Suer sudah memperhatikan wanita yang tengah di marahi oleh wanita gendut tadi hati Suer jadi sedikit kasihan dan dirinya yang memang berasal dari keluar super kaya raya akhirnya mengulurkan bantuan.
"Ini untuk bayar sewa kosan saya. Dan yang ini untuk nona di sana" Suer menunjuk seorang gadis dengan kacamata tebal yang semula wanita itu marahi.
__ADS_1
"Wah kamu terlalu murah hati nak. Baiklah terimakasih banyak" wanita itupun pergi meninggalkan Suer dan gadis itu di sana setelah memberikan kunci kamar.
Wanita dengan kacamata tebal itu akhirnya mendekati Suer.
"Terimakasih uangnya nanti aku ganti ya" Suer tersenyum sebelum akhirnya menggeleng. Uang sekecil itu bagi Suer memang bukan apa apa dan sama sekali tidak akan mengurangi tumpukan uangnya sepersen pun.
"Tidak perlu. Aku Suer, Lin Suer" Suer menyodorkan tangannya dengan senyum mengembang gadis itupun menerima uluran tangan Suer.
"Aku Adinda putri panggil saja Dinda, salam kenal" merekapun tersenyum bersamaan. Seakan perkenalan itu memang sudah terjalin sangat lama dan mereka seakan tersatukan oleh sesuatu yang bahkan Suer sendiri tidak tahu apa itu.
"Mau aku bantu beres berasnya?" Tawar dinda. Suer menggeleng dan memang dirinya saat itu hanya ingin sendirian dan apa kata orang nanti bila dalam koper itu ada lukisan aneh karya tangannya.
"Aku mohon" Adinda merengut. Suer tersenyum dan akhirnya mengangguk. Terserah nanti dirinya mau di bilang aneh kek atau mungkin gak ada kerjaan kek. Dalam kopernya memang begitu banyak barang dan buku buku yang aneh yang mungkin akan membuat Dinda berpikir bila dirinya sangat sangatlah tidak ada kerjaan, karena sebelumnya dirinya pernah berusaha mati matian melukis wajah seseorang meski pada akhirnya lukisan itu nampak sangat hancur dan jelek sekali dan tidak sesuai dengan apa yang ada pada rencana Suer.
Suer membuka kopernya mengeluarkan buku bukunya dan kertas yang dia gulung.
"Wah apakah ini karya tanganmu?" Dinda bertanya dan Suer akhirnya mengangguk, Suer sudah bisa memastikan bila dalam hati Dinda dirinya akan berkata bila itu lukisan paling aneh yang pernah dia lihat, namun sebuah kata yang tidak terduga keluar dari mulut Dinda.
"Aku juga sangat suka melukis. Siapa yang coba kamu lukis ini?" Suer terdiam mendapatkan pertanyaan siapa dia. Bagi Suer dia adalah segalanya, dan dia juga adalah orang yang sangat asing baginya namun juga sangat dekat dengan hatinya meski jangkauannya kini mungkin tidak akan pernah bertemu dia lagi.
"Itu Suamiku." Dinda terkejut, melihat penampilan Suer nampak bila Suer belum menikah dan nampak dari fisiknya masih nampak seperti seorang perawan, itu kejutan yang luar biasa.
"Kamu sudah menikah?" Untuk memperjelas pendengarannya sebelumnya Dinda kembali bertanya.
__ADS_1
"Ya. Aku sudah menikah" Suer menjawab dengan gamblang selain status seperti itu dapat melindunginya toh memang dirinya sudah menikah meski di dunia yang berbeda.
"Wah aku sama sekali tidak menyangka." Ujar Dinda. Dinda lalu melihat sebuah foto yang tak lain adalah Suer dan Albert. Dinda beranggapan bila Albert adalah suami dari Suer.
"Apa ini Suami mu?" Tanya lagi dinda berusaha memastikan.
"Bukan. Itu kakakku" dan akhirnya Dinda ber-o panjang sekali.
"Oh ya kak Suer besok di kampusku ada acara pentas seni apa kamu mau datang?" Dinda bertanya dengan riang.
"Tidak bisa, besok aku harus mulai masuk kuliah" Dinda mengangguk faham.
"Baiklah. Aku akan memasak bukankah kamu dari perjalanan jauh pasti lapar." Suer akhirnya mengangguk dan merapikan barang barangnya sendirian.
Dinda yang memang mengambil jurusan fisiologi dapat melihat dengan jelas raut wajah Suer yang tertekan apalagi saat dirinya bertanya mengenai suaminya. Seperti ada kesedihan yang begitu mendalam dan sakit yang seakan tidak bisa di obati di dalamnya.
Namun Dinda yang bijaksana tidak ingin bertanya lebih lanjut dan lebih baik membiarkan Suer terlebih dahulu.
Hari itu akhirnya berlalu dengan baik dan Suer bertemu dengan teman yang sangat baik dan unik. Dirinya sekan bisa terbawa dalam suasana menyenangkan saat berbicara dengan Dinda.
Malam hari Suer menatap ke atas langit langit putih dengan AC yang menyala penuh karena udara di Negara itu memang sangat panas sehingga mengharuskan Suer untuk menyesuaikan tubuhnya terlebih dahulu.
Malam itu akhirnya Suer bisa tidur dengan nyenyak dia bisa merasakan hawa dan suara indah di telinganya yang tiba tiba entah datang dari mana seakan berbisik dan memintanya tidur. Untuk menunggu hari esok yang seolah akan lebih baik.
__ADS_1
Bersambung...