
"Lin Dong." Bisik Keenan dan seketika Suer melotot berbalik menatap suaminya yang kini tengah menunduk. Mata mereka beradu sekan beberapa pertanyaan yang tidak mereka jawab akan terjawab dari penerjemahan tak terucap itu.
"Woi!" Dari belakang seorang gadis mengagetkan mereka membuat keduanya menatap ke arah sumber suara bersamaan.
"Dinda?" Suer terkejut menatap gadis yang kini terbungkus gaun cantik yang memperlihatkan bagaimana gadis itu sangat cantik.
"Hai Suer, ah gue gedek!" Keenan tersenyum dan menggeleng menatap Dinda yang kini meneguk anggur dalam gelas yang semula dia bawa.
"Sabar de. Ini hanya sementara." Suer mengangkat alisnya tidak mengerti, Keenan hanya menatap kecut ke arah adiknya yang kini masih sadar dan belum mabuk sepenuhnya.
"Sayang, Dinda kenapa?" Keenan menunjuk ke arah bawah tepat di mana seorang pria tengah bercumbu dengan seorang gadis.
"Itu Remi, pacar Dinda." Mata Suer seketika melotot dia menatap Dinda yang mengambil gelas ke dua dan meneguknya sampai habis.
"Suer kelihatan gak dari luar dada gue berdarah?" Suer menggeleng dan memapah Dinda. Entah sudah ke berapa gelas gadis itu minum. Namun melihat Dinda yang sudah melantur itu tandanya dia sudah minum cukup banyak dan lama.
"Kamu akan baik baik aja Dinda." Suer berusaha menguatkan Dinda namun lagi Dinda berusaha menghentikan seorang pelayan dan hendak minum kembali. Sebelum akhirnya di hentikan Suer.
"Sudah Dinda, kenapa kamu mesti melukai diri kamu sendiri demi pria semacam itu?" Dinda berdecak kesal dan mendorong Suer ke dalam pelukan Keenan dan kembali mengambil gelas berisi anggur.
Suer mencoba menghentikan Dinda namun Keenan melarang Suer dan membiarkan gadis itu puas dan tepar. Untung di sana tidak ada siapa siap selain mereka dan para pelayan. Suer nampak sudah teler namun belum tertidur.
"Sayang, aku antar kamu istirahat dulu. Biar nanti aku jemput Dinda dan menyuruhnya tidur." Suer mengangguk patuh.
Suer dan Keenan meninggalkan Dinda sendirian dalam keadaan teler hingga seorang pria memperhatikan gadis yang di kenalinya itu.
"Din, Dinda. Ayo saya antar ke kamar." Dinda mengibaskan tangannya dan tidak ingin bangkit.
__ADS_1
"Om, hidup lo bahagia banget si? Gue enggak om!" Dinda melantur dan menarik Albert ke sampingnya.
"Kamu mabuk Din, ayo saya antar." Dinda tidak mendengarkan dan malah merangkul Albert dengan mesra.
"Dinda?" Albert berusaha melepaskan rangkulan dan berusaha menjauhkan Dinda dari tubuhnya.
"Om Al, aku mohon satu malam saja." Dinda memelas. Albert menelan salivanya melihat sebuah belahan dada di antara tangannya yang menempel.
"Dinda, kamu tidak sedang sadar." Sebenarnya Albert tahu bila kesadaran Dinda saat itu masih ada namun dirinya berusaha melupakan lintasan lintasan kata kata yang terucap dari bibir Dinda barusan.
"Apa bila aku sadar Om Al akan mau padaku? Bukankah kamu juga sudah punya tunangan?" Albert menelan ludahnya lagi saat gundukan gunung menerpa dadanya dan tubuh Dinda kini berada di atasnya.
"Dinda ka.." Dinda menutup bibir Albert dan mengecupnya lembut.
"Hanya malam ini saja, aku tidak akan mengganggu mu lagi. Aku berjanji." Albert mengangkat tubuh Dinda yang masih menggantung di tubuhnya.
Albert membawa gadis manis itu ke kamarnya, malam itu seperti larut dalam alunan setan mereka bergelut layaknya pasangan yang telah menikah. Albert dan Dinda melakukan hubungan terlarang itu di bawah selimut dan di antara birahi dan kenikmatan mereka.
Rasa bersalah sudah tentu di rasakan Albert namun dirinya pun tau bila penyesalan saja tidak cukup karena dirinya juga harus bertanggung jawab pada adik sahabatnya itu.
Di pagi hari nampak matahari sudah bersinar terang sedangkan dua orang yang baru saja bergelut semalam nampak tengah meratap.
"Om, aku tidak akan bocorkan hal ini pada siapapun aku sudah berjanji." Dinda berusaha menyingkirkan tangan besar yang sejak tadi melingkari perutnya.
"Aku tidak akan melepaskanmu Dinda." Dinda tertegun mendengar sebuah bisikan yang terdengar mengancam di telinganya itu.
"Tapi ini hanya kejadian satu malam Om, sudahlah. Kamu juga biasa melakukan ini kan?" Dinda berusaha bangkit dan berpura pura tidak merasakan apapun yang terasa amat perih itu.
__ADS_1
"Aku tidak biasa, dan kamu wanita pertama. Aku sudah mengatakan padamu bila aku akan membereskan segalanya." Albert menarik kembali tubuh Dinda yang masih belum mengenakan benang itu.
"Om, ta..tapi.. Kamu sudah bertunangan." Dinda tidak ingin menjadi pelakor dan menghancurkan hubungan orang lain.
"Itu hanya kedok." Dinda terbelalak hampir tak percaya hingga sebuah ketukan pintu mengejutkan mereka.
"Diam disini." Albert mengenakan kimononya dan membuka pintu. Dari luar nampak Suer yang mengangkat alisnya menatap tubuh sang kakak yang di penuhi bercak merah.
Suer mendorong kakaknya dan Suer kembali terbelalak saat seorang gadis yang menutupi tubuhnya dengan selimut masih berada di atas kasur.
"Kalian?" Albert memijat keningnya dan menatap Dinda dan Suer bergantian.
"Suer, aku... Tidak berusaha menghancurkan hubungan kakakmu aku hanya.." Albert menyerobot ucapan Dinda yang belum selesai.
"Sudah tahu sekarang?" Suer mengangguk hingga akhirnya Keenan datang dan menatap terkejut ke arah mereka.
"Dinda?" Keenan menggeleng hampir tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Dengan cepat Keenan menutup pintu kamar itu dan meraih tangan Suer.
"Al, apa maksudnya ini?" Albert memakaikan selimut itu di tubuh Dinda hingga gadis itu nampak tengah mengenakan gaun.
Buuuk..
Sebuah pukulan melayang di pipi Albert, bogem mentah itu di layangkan Keenan atas kekesalannya sebagai seorang kakak yang merasa adiknya sudah di nodai. Rasa hormat yang semula dirinya miliki terhadap sosok yang kini menjadi kakak iparnya itu lenyap seketika, setelah menyaksikan apa yang di perbuat Albert pada adik satu satunya.
"Kak!" Dinda menutup mulutnya menyaksikan sang kakak kini tengah terbakar api amarah. Dinda tidak berfikir panjang tadi malam dirinya hanyut dalam kesedihan sehingga menginginkan pelampiasan dengan apa yang belum pernah dirinya lakukan dan berikan pada siapapun dan pada akhirnya berujung seperti saat itu.
"Hentikan! Ini semua salahku kak!" Keenan memalingkan pandangannya ke arah Dinda. Keenan merasa ada sesuatu yang salah antara hubungan mereka, bila Dinda menjadi isteri Albert itu artinya dirinya dan Suer pun juga termasuk dalan pelanggaran itu.
__ADS_1
"Tidak Kenan, ini memang salahku. Aku yang menginginkan adik mu" Dinda melotot mendengar itu dan menatap Albert tajam. Seolah lewat mata itu Albert mengatakan tidak apa apa, namun hati Dinda sekan tak terima bila sampai bogem mentah kembali melayang pada wajah Albert.
Bersambung...