Lin Suer

Lin Suer
Penampilan memukau


__ADS_3

"Aku mau pinjem baju yang di ruang ganti itu, gak di pakek kan?" Dinda mengangguk, Suer tidak menunggu aba aba lainnnya langsung kembali melesat, Dinda penasaran apa yang akan di lakukan dua mahluk aneh itu nanti.


Suer berdandan dan mengenakan baju itu dan benar saja sangat cocok dengan tubuhnya, Suer bercermin dan nampak sudah lumayan.



"Bagus" Komentar Suer Sebelum akhirnya menuju panggung dan nampak Keenan yang sedikit terkejut namun kemudian tersenyum menyaksikan pujaan hatinya kini tengah memasuki daerah kekuasaannya.



"Hai sayang?" Sapa Keenan melepaskan gitar di tangannya, kemeja Keenan nampak sudah basah oleh keringat, Suer tersenyum. Beberapa orang nampak mencoba menghentikan Suer di bawah panggung namun Dinda mencegahnya. Dinda merasa akan terjadi hal besar dan akan menyukseskan acaranya kali itu adalah kejutan ini.


Suer mengambil gitar yang semula tergeletak dan mulai memainkannya, Suer menutup matanya. Sudah lama dirinya tidak menyentuh alat musik namun nampaknya kemampuannya tidak hilang sedikitpun dan mulai memainkannya dengan lancar. Keenan tersenyum bangga dan memasangkan mikrofon pada Suer.


"Hmm.. Sangat mengejutkan!" Sela Keenan dan terdengar dari bawah teriakan para penonton.


"Nyanyi.."


"Nyanyi.."


"Nyanyi.."


Suer tersenyum dan menyanyikan sebuah lagu yang dulu sempat dia ciptakan saat dirinya sendirian di desa saat Lin Dong tengah berburu. Suer mulai bernyanyi lagi yang tidak pernah di perdengarkan sebelumnya.


...


Dunia membelitku membawaku padamu, yeah.. padamu..


Kau keajaiban yang tidak pernah aku temukan sebelumnya, kamu cinta yang belum pernah ada sebelumnya... Aku mencintaimu...


Suara merdu Suer mengalun dengan sendirinya, suasana berubah menjadi sunyi saat Suer bernyanyi dan saat kata terakhir yang dirinya ucapkan, membuat Keenan terus terpaku, dirinya menatap geming gadis itu. Seolah sesuatu yang sudah lama memberinya harapan seperti sesuatu hal yang baru itu bukan baru lagi tapi sudah sangat lama dan sudah tertanam selamanya.


"Sudah" Suer tersenyum menatap Keenan yang kini meneteskan air matanya, Suer berharap dengan dirinya menyanyikan lagi ini Keenan dapat sadar akan kehidupan pria itu sebelumnya.

__ADS_1


Keenan bertepuk tangan di iringi riuh penonton yang berseru Lagi, tidak mereka hiraukan Suer mendekat ke arah Keenan dan menggenggam tangannya.


"Apa merasakan sesuatu yang tidak asing?" Keenan seolah mendapatkan sebuah jawaban dari rasa bingungnya, mungkinkah sejak lama Suer mencintainya hingga menyusulnya, ataukah karena Suer belum mengetahui identitasnya menjadikan gadis itu ragu dan kini nampak sebuah keyakinan dalam mata itu.


Keenan menarik tubuh Suer dan memeluknya, semua penonton menjerit dan para wanita merasa patah hati sekaligus senang karena akhirnya mereka menemukan gadis yang tepat untuk kekasih impian mereka.


"Aku mencintaimu Lin Suer" Seketika diam dan Dindapun di bawah panggung menjadi panik dirinya langsung mencari tempat pengendali efek panggung.


Suer tersenyum, semua orang bingung dengan apa yang akan di lakukan oleh Dinda, gadis itu tidak pernah berbuat sepanik itu. Sedangkan Suer di atas panggung nampak terpaku saat kedua pipinya di sentuh dan bibirnya merasakan kehangatan dari bibir Keenan yang kini sudah menyatu.


Semua efek panggung di kerahkan Dinda di bawah panggung membuat semua penonton bersorak dan Suer sendiri merasakan gugup dan nerfes, untuk pertama kalinya seumur hidup.


Semua orang bertepuk tangan.


Sudah tahu apa yang terjadi, di balik layar LED nampak seorang pria memperhatikan kedua mahluk itu dan sangat merasa gerah.


"Siapa gadis itu?" tanyanya penuh penasaran, "Dia seenaknya menambahkan marga kita pada nama gadis itu." Pria itu nampak kesal dan berbalik menatap seorang wanita yang tengah memasak.


"Kenapa sayang?" Wanita itu yang tidak lain adalah isterinya merasa heran melihat bagaimana suaminya nampak sangat kesal.


"Kamu lagi ketawa kenapa?" Pak Lin nampak tidak senang.


"Yasudahlah pak, dia itukan tunangannya Keenan. Dia itu Xiau Suer" Pak Lin nampak terkejut dan berubah ekspresi nya seketika.


"Wah dia memang putraku dia sangat berani sama sepertiku." Bu Putri hanya menggeleng melihat suaminya yang berubah dalam satu detik itu.


"Tadi saja hanya anakku dan sekarang kamu mengambil kembali, benar benar." Bu Putri tertawa dan Pak Lin nampaknya juga sangat senang dan berbunga bunga.


"Ah Bu Keenan kan anak kita berdua, apa kita harus segera ke kota dan mempercepat pernikahan mereka?" Bu Putri menggeleng melihat kelakuan suaminya.


"Sabarlah pak, biarkan mereka melakukan pendekatan dulu. Jangan terburu buru." Pak Lin pun mengangguk setuju.


Dinda akhirnya bernafas lega hingga akhirnya ponselnya berdering dan langsung Dinda angkat nampak Ayahnya yang melakukan video call.

__ADS_1


"Kenapa Pak?" Dinda merasa bingung, Ayahnya itu mana pernah melakukan hal semacam itu sebelumnya.


"Dimana kakak mu?" Dinda kembalikan kamera dan nampak Keenan baru turun panggung bersama Suer.


"Kak, Bapak mau VC!" Teriak Dinda karena memang di sana sangatlah bising. Keenan mengangkat alisnya bingung dan akhirnya menatap layar ponsel Dinda.


"Kenapa Pak?" Keenan bingung sekaligus merasa terkejut sama seperti yang di rasakan Dinda sebelumnya.


"Mana calon menantuku?" Keenan tersenyum.


"Ada, dia sekarang berada di ruang ganti. Kenapa?" Keenan seolah tidak melakukan dosa bertanya balik.


"Bawa dia kemari, atau aku akan ke kota besok." Keenan mengangkat alisnya.


"Sudahlah Pak, aku juga tahu apa yang harus aku lakukan. Tapi untuk sementara biarkan kami begini dulu, aku tidak ingin menggemparkan banyak orang dengan ini." Pak Lin nampak kian bingung.


"Jadi, maksudmu menantuku itu belum tahu identitasmu?" Keenan mengangguk mengiyakan. Pak Lin akhirnya menghembuskan nafas kasar.


"Yasudahlah, kamu lakukan saja dulu apa yang sebaiknya kamu lakukan dan bawa dia kemari pada waktunya. Ingat bawa dia kemari sebelum dia mengetahui identitasmu." Keenan mengangguk faham.


Zaman sekarang memang sangat sulit mencari wanita yang tulus yang mereka lihat kebanyakan adalah uang dan jabatan, sedangkan saat itu Keenan hanya sebagai seorang koki tidak lebih, dirinya tidak ingin memberi tahu Suer terlebih dahulu agar Suer bisa menerima dirinya apa adanya dulu.


Sambungan telepon itupun akhirnya berakhir, Keenan masuk ke ruang ganti Suer, dan nampak Suer yang sudah seperti semula. Keenan menatap Suer penuh kagum.


"Sayang, orang tuaku ingin bertemu denganmu, apa bisa?" Suer terkejut.


"Apa harus secepat ini?" Keenan menggeleng dirinya sendiri sebenarnya tidak yakin.


"Aku usahakan Weekend ini, bagaimana?" Keenan tersenyum dan memeluk Suer dari belakang menatap pantulan mereka yang kini terlihat dalan cermin.


"Apa kamu sungguh sungguh akan menerimaku? Aku hanya seorang tukang masak." Suer mengangkat alisnya. Suer mana perduli denganidentitas Keenan yang dirinya inginkan adalah Keenan seutuhnya. Tidak perduli dia siapa atau apa, dirinya akan mencintainya.


"Aku tidak melihat itu sebagai kelemahan." Suer berkata dengan tenang.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2