
Pagi hari Suer di kagetankan oleh sebuah gedoran pintu di kamar sebelahnya yang tidak lain adalah di kamar Dinda, dengan wajah semerawut Suer keluar dan melihat wajah yang sungguh tidak asing. Suer mengerjapkan matanya berusaha memastikan siapa orang itu.
Pria itupun sama sangat terkejut dan terpana melihat Suer yang baru saja bangun tidur. Dalam hati dia berharap gadis itu tidak mengenalinya.
"Lin Dong?" Suer bertanya namun pria itu malah celingukan dan kemudian menunjuk dirinya sendiri.
"Lin Dong? Siapa? Gue?" Pertanyaan itu bertubi tubi. Apakah Lin Dong amnesia pikir Suer.
"Kamu Lin Dong?" Tanya lagi Suer memastikan. Pria itu menggeleng kemudian dan tertawa.
"Wow.. wow.. maaf cantik aku bukan Lin Dong atau Ge Dong ataupun Tak Gendong kenalin gue Keenan" pria itu menyodorkan tangannya.
Namun air mata Suer malah meleleh dan jati bersamaan dengan Dinda yang keluar dari kamarnya.
"Bang, lo lama banget si. Kemaren Mak Lampir udah marahin gue tau!" Bentak Dinda yang kini tidak mengenakan kacamata.
Namun Dinda terdiam saat melihat kakaknya malah terpaku memperhatikan wanita yang kini berada di ambang pintu di samping kamarnya.
"Eh, Suer?" Dinda terkejut saat air mata Suer terjatuh dan perlahan isak terdengar.
"Ke..enan.. apa aku boleh memeluk mu sebentar saja. Hiks.. hiks.." tangis Suer menjadi kian parah dan Keenan malah semakin bingung. Memeluk gadis secantik itu siapa yang mau nolak, pikir Keenan.
"Boleh, tapi jangan nangis lagi ya.." Keenan menarik tubuh Suer dan memeluknya. Suer dapat merasakan dengan jelas bila degupan itu adalah milik Lin Dong. Dia bisa merasakan itu.
"Terimakasih" bisik Suer menyembunyikan wajahnya dalam dada bidang Keenan.
Dinda yang sejak tadi memperhatikan adegan bak sinetron itu hanya menonton saja, /Ah seandainya ada semangka. Pikir Dinda.
Suer menyudahi pelukannya dan mengulurkan tangan.
__ADS_1
"Aku Lin Suer" dengan senyum lebar Keenan menerima uluran tangan Suer.
"Aku Keenan jangan lupa ya" ujar Keenan dan di angguki Suer.
"Udah nih dramanya?" Suer terperanjat dan buru buru menghapus air matanya.
"Nih duit lo" Keenan menyerahkan uang pada Dinda.
"Makasih Bang." Ucap Dinda, Suer akhirnya masuk namun sebelum dirinya menutup pintu Keenan sudah mencegat pintu itu duluan.
"Tunggu! Sore ini di kampus ada acara kesenian lo datang kan?" Tana Keenan.
Suer terdiam sebelumnya dia pernah menolak permohonan dari Dinda dan bila sekarang dirinya meng iya kan ajakan dari Keenan dia takut melukai hati Dinda.
"Aku harus kuliah." Jawab Suer nampak wajah Keenan uang sedikit kecewa.
Sebenarnya bukan itu yang di khawatirkan Dinda namun dirinya tidak ingin kakaknya sakit hati karena Dinda tahu Suer sudah menikah. Melihat tatapan Keenan dan bagaimana Keenan menatap Suer dapat di pastikan bila pria itu sudah jatuh cinta pada pandangan pertama pada Suer.
"Tapi, kalo Dinda mau bareng sama aku. Mungkin akan aku pertimbangkan lagi." Ucap Suer.
Mampus gue! Kalo kaya gini terus bisa bisa nantinya malah akan ada yang tersakiti. Ucap hati kecil Dinda. Dinda bukan tidak menyukai sosok Suer namun identitas Suer yang sudah menikah membuatnya takut bila bila kakaknya akan nekat dan menjadi seorang pebinor.
"Wah kalo mahluk ini si kayanya datang secarakan dia itu panitia sembilan penyelenggara jadi wajib datang." Keenan berkata mantap.
"Aku rasa juga gitu, kemaren aku ajak gak mau sekarang si Keenan yang ngajak langsung mau. Aneh banget si" Dinda menggerutu dan benar benar merasa putus asa.
Suer dapat melihat wajah waspada yang kini di pasang oleh Dinda, Suer sadar apa yang membuat gadis itu berubah semacam itu.
"Oh ya apa di dekat sini ada toko ice cream?" Tanya Suer dirinya sungguh penyuka ice cream dan berharap di dekat sana ada karena dirinya ingin sarapan ice cream.
__ADS_1
"Ada, jangan bilang kamu mau saran ice cream ya?" Dinda menodongkan tangannya menohok dan seakan begitu tepat sasaran.
"Wah Dinda pandai sekali. Aku memang mau sarapan ice cream." Suer tersenyum manis membuat Keenan yang sedari tadi menatapnya menjadi salah tingkah.
"Aku juga mau." Keenan mengangkat tangannya dengan wajah memerah. Ah cowok asem ini bener bener buat gue repot aja. Ucap hati kecil Dinda.
"Gimana kalo kita bertiga sarapan ice cream aja bareng pagi ini. kebetulan aku masuk jam 9 jadi masih ada waktu. mau gak?" Dinda menatap jam tangannya dan sungguh tidak akan sempat.
"Dinda harus ke lokasi tempat kesenian pagi pagi. Secara diakan panitia sembilan, dimana tidak boleh lewat pukul sembilan alias jam tujuh sudah harus ada di kampus. Benar itu de?" Keenan menjelaskan panjang lebar dan memeberi kode pada adiknya.
"Oh, sayang sekali. Baiklah lain kali saja kalo begitu aku pergi sendiri aja." Suer berusaha kembali tersenyum dan hendak masuk ke kamarnya.
"Tunggu! kenapa sendiri? Aku temani ya? please..." Keenan memberikan senyum yang paling manis yang pernah dia miliki hingga akhirnya Suer-pun tersenyum dan mengangguk sebelum akhirnya menghilang di balik pintu.
Dinda yang masih memperhatikan kakaknya pada akhirnya menggeleng, dirinya harus memperingatkan pria itu sebelum pada akhirnya apa yang dirinya takutkan sejak tadi benar benar terjadi.
"Keenan sebelum lo patah hati mendingan lo mundur aja gak usah ngejar Suer." Dinda berucap langsung pada intinya.
" Sorry banget de, gue udah jatuh cinta pandangan pertama liat dia. Dan apapun akan gue lakukan buat dapetin dia." Keenan berucap teguh penuh kepastian.
"Ah percuma gue ngasih peringatan sama orang gila kaya lo bang tapi satu hal yang harus lo tau kalo Suer itu sudah menikah. Gue liat dari mukanya gue yakin dia cinta mati sama suaminya. Dan sorry banget gue pikir lo bakal sakit hati dan gak akan dapetin apa yang lo mau bang." panjang lebar Dinda berusaha menjelaskan agar kakaknya bisa faham, namun seperti yang sudah di ramalkan sebelumnya pria itu agaknya sangat keras kepala.
"Sebelum janur kuning melengkung gue siap buat nikung kayanya pepatah itu udah kadaluarsa sekarang. Sebelum bendera kuning berdiri masih banyak cara buat buat gue jadi suami. Hahaha.. itu kayanya lebih cocok kan de?" Keenan bertanya dengan wajah yang sudah siap menerima penghalang.
"Ah, gue udah gak ada cara ngasih tau lo. tapi gue harap lo bisa jaga diri lo baik baik bang!" Dinda keluar pintu dan mengunci pintu kamarnya.
" Gue berangkat" Dinda mengangkat tangan dan melambai kepada sang kakak. Keenan mengangguk tekadnya kini sudah bulat untuk menjadi seorang pebinor entah nanti apa yang akan di katakan oleh orang tuanya namun dia benar benar tidak akan melepaskan Suer kali ini.
Bersambung...
__ADS_1