Lin Suer

Lin Suer
Rahasia Besar


__ADS_3

Suer menatap pria yang kini duduk berhadapan dengannya, senyum dari bibir itu tidak pernah luntur dan semakin membuatnya mempesona.


"Makanlah dulu, aku akan menunggu." Keenan berkata dengan nada yang cukup lirih bahkan terkesan berbisik di tempat seramai itu jelas Suer sulit mendengarnya, namun melihat gerak bibir Keenan Suer sudah tahu apa yang di ucapkan pria itu.


"Keenan kenapa sampai seperti ini?" Suer bertanya sama lirihnya namun hanya sebuah senyum yang di perlihatkan oleh pria itu yang sama sekali tidak bisa menjadi jawaban atas pertanyaannya kala itu.


Suer tidak ada pilihan lain selain menyantap makanan yang di sajikan Keenan kala itu, namun matanya tiba tiba terbelalak sebuah rasa yang sama dan sangat melekat itu kini menyentuh lidahnya. Air mata Suer kembali menetes teringat saat saat Lin Dong memasak untuknya dab menyajikannya.


Keenan terkejut melihat gadis itu kembali menangis dia tidak mengerti mengapa semua hal itu terjadi padanya.


"Suer," Keenan menyentuh pipi Suer dan mengusap air mata yang semula mengaliri pipi manis itu.


Suer mengangkat wajahnya merasakan sentuhan yang teramat lembut itu, Suer meremas tangan Keenan hingga sebuah tangis meledak dan membuat Keenan kian merasa bingung.


"Suer, apa ada sesuatu yang menyakitimu?" Suer menggeleng dan tidak ingin memperpanjang masalah itu.


Suer menggumpal mulutnya dengan satu sendok penuh makanan itu dan mengusap air matanya kasar.


Suer menghabiskan makanannya dan meminum satu gelas teh hangat sampai tetes terakhir, Keenan mengangkat alisnya. Selama ini saat dirinya makan bersama Suer dirinya tidak pernah melihat Suer makan serakus itu.


"Suer sudah kenyang?" Suer tersenyum puas, Keenan terkekeh dan mengusap kepala Suer lembut.


"Ayo mau lihat tempat tinggalkukan?" Suer ternganga dia tidak pernah berkata ingin tahu tempat tinggal Keenan pikirnya. Namun Keenan sudah terlanjur berdiri dan menggandeng tangannya.


Mereka kembali melaju di jalanan yang kini sudah terasa lebih sepi karena memang waktu menunjukkan sudah sangat malam pula, Suer di bawa ke sebuah kostan yang cukup jauh dari kota sebuah tempat yang cukup terpencil namun sangat nyaman.


Suer menatap sekeliling dan tidak mendapati seorangpun di sana, tidak ada orang yang bahkan melintas saja tidak ada. Disana lebih seperti kuburan di bandingkan pemukiman.

__ADS_1


Keenan menggandeng tangan Suer ke sebuah rumah sederhana kosan itu nampak cukup lengkap karena terdapat sebuah kamar dapur dan ruang depan di bawah atap itu.


"Selamat datang di tempat tinggalku." Suer tersenyum, dirinya melihat beberapa foto keluarga yang tergantung di dinding.


Suer tersenyum melihat foto Keenan yang nampak masih kecil dan beberapa orang di sekelilingnya. Mata Suer tertuju pada pria yang nampak tengah merangkul Keenan dirinya amat mengenal pria itu.


"Keenan?" Keenan seketika berbalik dan tersenyum, wajahnya nampak berseri.


"Sudah tahu sekarang?" Suer menganga tak percaya jadi pria yang dulu ingin di kenalkan Albert padanya adalah Keenan yang ini. Harusnya di Negara ini bukan hanya satukan namanya Keenan tapi kenapa dunia begitu sangat kecil.


"Jadi?" Suer berusaha mengambil kesimpulan dan mencari jawaban atas pertanyaannya.


"Jadi apa lagi? Aku mengenal kakak mu dengan baik dan aku juga seharusnya mengenali dengan baik siapa isteriku bukan?" Suer membelalakan matanya.


"Tunggu, jadi?" Suer menelan ludahnya dia menatap rumah yang cukup sangat sangat kecil itu seharusnya tidak sesuai dengan sosok pria semacam Keenan.


"Dasar koki pembohong." Keenan tertawa mendengar celotehan Suer yang sekan tengah memojokkannya namun juga tengah menggodanya.


"Jadi, masih mau denganku?" Suer tentu saja mengangguk. Namun dalam setiap hal Keenan masih merasa bila semua hal yang terjadi itu masih ada yang belum bisa Suer terima. Keenan merasakan bila Suer belum seutuhnya mencintai dirinya.


Suer menginap di kediaman Keenan malam itu dan saat subuh subuh Keenan mengantar Suer pulang. Kegiatan mereka berlanjut lebih beragam lagi dan penuh dengan tawa dan ceria. Keenan amat senang dengan perubahan yang terjadi pada Suer dirinya merasa sudah seutuhnya memiliki gadis itu.


Beberapa minggu berlalu hingga tiba waktunya acara pertunangan Albert dan Shelitz. Suer memutuskan berangkat lebih dulu dan Keenan akan menyusul kemudian karena Keenan harus menyelesaikan pekerjaannya yang masih menumpuk banyak.


Suer datang ke Negaranya dan di sambut oleh Shelitz dan Albert yang sudah menunggu beberapa pelayan dan pengawalpun ikut serta bersama mereka. Beberapa media juga hadir dan mulai menyorot sosok Suer.


Semua orang terkagum kagum dengan kecantikan Suer namun karena untuk pertama kalinya Suer berada muncul di media dirinya tidak terlalu banyak berkata kata dan hanya tersenyum saja.

__ADS_1


Dalam perjalanan pulang Suer merasa ada yang aneh dengan tingkah Albert dirinya merasa ada sebuah konspirasi yang sedang mereka jalankan.


Benar firasat Suer Albert ternyata hendak melakukan perayaan pertunangannya di sebuah Istana megah di China tepatnya di Istana Lin. Suer merasa tidak setuju namun melihat kebahagiaan kakaknya dirinya sama sekali tidak ingin banyak bicara. Toh pesta itu hanya satu malam, pikir Suer.


Suer merasa tidak tidur nyenyak beberapa hari di rumahnya sendiri sekan dirinya merasa kekurangan sesuatu yang tidak bisa dirinya katakan.


Satu minggu di Negaranya membuat mata panda Suer kian membesar dan Suer merasa tidak cukup percaya diri akan hal itu. Hingga sebuah informasi berhasil dia dapati bila hari itu Keenan akan datang ke rumahnya dan hari itu Keenan sudah berada di Negara itu.


Siang itu Suer menunggu Keenan dengan risau di taman belakang rumah megah itu, hingga sebuah berita dari pelayan yang mengatakan Keenan datangpun membuat Suer terperanjak dan berlari ke ruangan depan.


Untuk pertama kalinya sejak pertama kali Suer bertemu dengan Keenan dirinya melihat Keenan yang sesungguhnya. Keenan yang di kenali banyak orang dan cukup asing bagi Suer.


Keenan merentangkan tangannya dan Suer tertawa berlari memeluk pria itu. Pelepasan rindu itu terasa sangat lama dan terasa sangat berarti bagi Suer.


"Apa merindukan ku?" Keenan bertanya dan di angguki Suer namun dalam pelukan itu Keenan masih merasakan bila Suer tidak merindukannya melainkan merasakan pelukan itu untuk orang lain dan bukan dirinya.


Keenan mengelus rambut Suer dan menatap wajah yang kini nampak menyorotinya, beberapa malam itu Keenan selalu bermimpi buruk dan nampak mata Suer yang memerah yang menandakan Suerpun tidak bisa tidur.


"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan apa boleh?" Suer mengangguk dan membawa pria itu ke belakang rumahnya.


Suer merasa bila Keenan sedikit berubah pria itu nampak sedikit dingin dan merasa bila sesuatu yang mengganjal itu begitu besar.


Dua gelas teh dan beberapa makanan kecil kini sudah terletak di atas meja dan Keenan dan Suer masih dalam kebisuan tidak ada satu patah katapun yang mereka ucap hingga akhirnya Keenan membuka pembicaraan mereka.


"Suer maafkan aku." Suer mengangkat wajahnya nampak wajah sendu itu sekan menyimpan sebuah rahasia besar.


Suer tidak berkata apa apa dan masih memandang mata Keenan berusaha mencari apa yang kini mengusik hatinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2