
Keenan mulai merasakan sebuah hawa dingin dan hangat yang berbaur menjadi satu di tubuhnya dalam dadanya terasa ledakan ledakan energi yang begitu besar.
"Kau keterlaluan, Shelitz!" Keenan menyerang terus dengan membabi buta hingga beberapa kali tubuh Shelitz terpental.
San yang melihat kakaknya di serang se begitu kejamnya tak terima, San mulai melancarkan serangan serangannya yang pertama namun dapat di tepis dengan mudah oleh Keenan.
"Aku sudah percaya padamu San, Penghianat!" Teriak lagi Keenan menendang perut San dengan sangat keras hingga darah mengalir dari sudut bibir San.
"Rupanya kau sudah berhasil Lin Dong." Keenan tidak ambil pusing dirinya langsung melayangkan pukulannya, dengan sebuah energi hitam San menahan tangan Keenan.
Nampak asap mengepul dari tangan San sebuah asap hitam dan memperlihatkan sebuah sayap hitam di punggungnya. Keenan mulai sadar bila permainan sudah akan di mulai.
"Kau yang meminta kematian Keenan, jangan salahkan aku. Hiiiya.." San hampir bisa mencekik leher Keenan namun dengan sangat cepat Keenan menghindar dan mundur beberapa meter.
"Kau mulai takut?" Keenan terperanjat menyaksikan kekuatan yang maha dasyat kini terpampang di hadapan matanya.
San nampak berubah menjadi seperti seekor monster yang mengerikan kepulan kepulan asap hitam kian memperparah keadaan, Keenan tidak berkutik dia merasa tubuhnya di tekan dengan sangat kuat.
"Kau ingin melawan? Percuma saja. Meski kau hidup kembali kau tidak akan pernah bisa membunuh ku Huahahahah..." Tawa menggema membuat Keenan dan Dinda merinding namun mereka sama sekali tidak takut dengan apa yang dia lihat.
"Kak, aku titip kak Suer." Dinda menyerahkan Suer ke Yuan, dengan langkah cepat Yuan membawa Suer dan Albert ke tempat yang lebih aman. Yaitu di tengah tengah air suci di bawah pohon sakura.
"Kak?" Dinda menatap Keenan yang kini nampak sudah berdarah dari hidung sudut mulutnya.
"Jangan kemari Dinda, jaga Suer untukku." Dinda terperanjat, di saat saat seperti itu kakaknya masih memikirkannya bahkan dia tidak memikirkan dirinya sendiri.
"Nona, yang di katakan Tuan Keenan benar, anda sebaiknya menjaga mereka." Yuan menunjuk tempat di mana Albert dan Suer kini berada.
__ADS_1
Dengan berat hati akhirnya Dinda meninggalkan Keenan dan menuju ke tempat Suer dan Albert berada, hatinya terus berdoa dan berharap. Di dalam air itu nampak ikan yang berenang ke sana kemari Dinda sekan hanyut dalam lamunannya.
'Adakah yang bisa aku lakukan untuk membantu?' Pertanyaan itulah yang melintas dari kepalanya.
Dinda menyaksikan bagaimana pertarungan Keenan yang kini tersudutkan bahkan beberpa kali Keenan nampak hampir tertusuk.
Keenan yang berada di atas kini merasa lebih leluasa dalam bergerak setiap gerakan yang dirinya dan Yuan lakukan seolah sebuah tarian yang menggambarkan saling percaya. Awalnya mereka memang kewalahan menghadapi San namun kini mereka mulai berimbang. Setiap serangan yang di lakukan San kini mulai terbaca dan keadaan perlahan mulai membaik.
Shelitz sadar dan melihat tiga orang manusia di bawah sana, kini tujuannya adalah membunuh Suer. Dinda yang menyadari hal itu menghadang di hadapan mereka.
"Aku tidak akan membiarkan kamu menyentuh suami dan kakak iparku!" Teriak Dinda namun tidak di hiraukan oleh Shelitz. Shelitz terus mendekat dan melihat wajah Dinda ang kini nampak ketakutan.
"Aku tidak perlu menyentuhnya, aku hanya perlu membunuhnya." Shelitz berkata sedikit berbisik namun tegas.
Suer perlahan membuka matanya dan sosok yang pertama dia tangkap adalah seekor ikan mas yang seolah tengah tersenyum ke arahnya.
Sebuah keajaibanpun muncul tubuh Suer yang semula di penuhi luka kini hilang perlahan, Suer mulai merasakan sebuah energi asing yang memenuhi tubuhnya.
Sebuah ledakan energi dirinya rasakan dan dengan matanya yang tajam Suer bisa melihat sang kakak yang kini di sampingnya masih dalam keadaaan tidak sadarkan diri. Remang remang suara Shelitz dan Dinda terdengar oleh telinga Suer.
Suer menatap ke arah punggung di hadapannya yang kini seolah tengah menjaganya dari mara bahaya. Lagi lagi ledakan dari dalam tubuhnya terasa kian menggila kekuatan seolah terkumpul dalam dadanya.
Suer bangkit dan menatap ke arah depan melihat Shelitz yang kini menatapnya penuh keterkejutan.
Cahaya merah keemasan kini menghiasi tubuh Suer dan sebuah ledakan berhasil mengubah Suer menjadi sosok yang berbeda, sosok yang tidak pernah mereka kenali sebelumnya.
Seekor Phionix terbang di sekitar Suer dan masuk Ke dalam kepalanya hingga sebuah mahkota tertera di kepala Suer gaun yang begitu amat mempesona dan wajah yang menawan kini kian membuat Suer nampak sangat bercaya, sekaligus berbahaya.
__ADS_1
Shelitz terkejut menyaksikan perubahan pada diri Suer sebuah sayap kini nampak melambai di punggung Suer, sayap dengan warna Keemasan dan merah itu bersinar menerangi tempat tersebut. Di atas sana Keenan nampak terkejut menyaksikan perubahan pada diri sang isteri.
Saat Keenan tidak dalam kondisi siap sebuah pukulan mengenai perutnya, Keenan gagal menghindar hingga akhirnya darah kembali keluar dari dalam mulutnya.
"Tuan?" Yuan yang terkejut lantas mendekat namun San yang sudah siap dengan pedangnya hendak menusuk tubuh Keenan.
"Tidaaaak!" Yuan berteriak dan akhirnya menghindarkan kejadian yang tidak di sangkanya, Yuan mendorong tubuh Keenan hingga akhirnya pedang itu mengenai dada kiri Yuan.
Darah segar mengalir dari dada Yuan, Keenan terkejut menyaksikan kejadian yang secepat kedipan mata itu. Dia melihat kini Yuan sudah nampak tersenyum lega.
"Tugasku untuk melindungi tuanku sudah aku lakukan dengan baik. Hiduplah dengan baik tuan." Yuan yang melihat darah yang mengalir dari dadanya sontak mengambil darah itu dan mengukirkan sebuah tulisan di dadanya.
San yang menyadari apa yang kini di tulis Yuan terperanjak dan terkejut bukan main, dia melihat Yuan mulai melakukan sandi dan perjanjian tertentu dengan mulut komat kamit membaca mantra Yuan membuka matanya dan darah kini mengalir dari mata Yuan.
"San, aku sudah berhasil. Dan kau semoga bisa di hentikan." mata Yuan dan San beradu mereka saling memandang hingga sebuah portal dimensi terbuka dan sontak membawa Yuan dan San ke tempat yang berbeda. Keenan ke bawah dan membawa Albert dan Dinda bersamaan dengan itu Suer mendorong tubuh Shelitz pada portal tersebut.
Yuan merasakan tubuhnya kian dingin dan dingin sebuah lintasan lintasan kecil dalam ingatannya di masa lalu mulai berseliweran. Sebuah ingatan kecil saat dirinya di pungut oleh Lin Dong dan di latih bersama dengan San pun terlintas.
Tidak pernah terbayang olehnya sebelumnya bila dia harus terbunuh oleh saudara seperguruannya sendiri yaitu San.
Namun Yuan sendiri tidak menyesal karena merasa tugas yang di bebankan padanya kini sudah dirinya lakukan dirinya sudah berusaha melindungi tuannya dari bahaya dan melindungi dunia dari kehancuran.
Selamat tinggal dunia
itulah kata terakhir yang terselip dari kepergian Yuan.
Bersambung...
__ADS_1