Lin Suer

Lin Suer
Hadiah untuk suami


__ADS_3

Para penyergap itu akhirnya mengaku kalah dan mundur korban begitu banyak sekali dan korban luka pun banyak jumlahnya. Para pengawal yang terluka mereka obati. Suer membantu para pengawal itu dan nampak hilir mudik kesana kemari membuat Lin Dong sedikit cemas.


"Suer istirahatlah" pinta Lin Dong sebuah senyum di ukir di bibir Suer dengan nampak darah mengalir segar dari sana. Dengan lembut Lin Dong mengusap darah itu dan mengecup kening Suer. Jelas nampak cinta di antara mereka yang begitu kental membuat para pengawal itu salah tingkah.


"Yang mulia istirahatlah biarkan para pengawal yang terluka menjadi bagian kami para tabib" seorang tabib nampak menunduk dan senyum mengembang di wajah mungil Suer.


"Tidak apa apa Pak Tabib aku juga pernah belajar ilmu kedokteran dulu. Dan saat seperti ini bukankah kemampuan ku juga di butuhkan para perajurit berjuang antara hidup dan mati demi kami. Hal semacam ini aku lakukan tidak seberapa harganya" jawab Suer membuat Lin Dong faham dari mana dirinya bisa jatuh cinta sedalam itu pada Suer.


Gadis yang nampak sederhana dan sangat menjunjung norma membuatnya yakin akan pilihannya itu.


"Akupun akan membantumu" Lin Dong mengusap rambut Suer dan mereka akhirnya bekerja para tabib tidak bisa membantah mereka.


Mereka bekerja dengan tawa selain Suer membawa keceriaan dan nyawa baru pada mereka dan sifat rendah hati yang dimilikinya itu membuat para pengawal dekat dengan Suer.


Malam itu berlalu tanpa tidur satu detikpun. Mata Suer lelah dan kini di pagi hari Suer malah tertidur di atas tandu.


Dari luar nampak Lin Dong membawa senampan makanan dan masuk. Lin Dong melihat bagaimana teduh dan nyaman tidur Suer. Lin Dong tidak tega membangunkan Suer.


Namun Suer tetap terbangun saat menyadari ada hawa di dekatnya.


"Hai pagi" sapa Suer menguap dan meregangkan tubuhnya yang terasa begitu kaku.

__ADS_1


"Siang" ucap Lin Dong. Suer tertawa dan melihat makanan di sana.


"Wah kamu memang paling tahu keinginanku" ucap Suer menyantap makanannya. Namun beberapa saat sepi sebelum akhirnya suara dari perut Lin Dong berbunyi.


Nampak wajah Lin Dong yang memerah, Suer tersenyum dan menyodorkan sesendok makanan ke hadapan mulut Lin Dong.


"Ayo makan bersama" pinta Suer dan makanan itupun disantap oleh Lin Dong" para pengawal yang memperhatikan dari luar nampak berseri seri melihat bagaimana tuan mereka yang selalu murung itu akhirnya bisa tersenyum indah berkat kehadiran Suer. Makan mereka berakhir nikmat dengan nada khas Suer dirinya langsung berceletuk.


"Aku tidak pernah pacaran jadi aku tidak tahu bagaimana melakukan sweet tragedi" Lin Dong agaknya faham yang di maksud oleh Suer dirinya menyentuh pipi Suer dengan penuh perasaan dan begitu lembut seperti menyentuh boneka porselen. Suer menikmati sentuhan yang penuh perasaan itu, dirinyalah bisa merasakan perasaan yang sama seperti yang di rasakan Lin Dong saat itu.


"Kita akan melakukan pacaran perlahan" Ucap Lin Dong namun tiba tiba tawa tergelak dari mulut Suer. Dia benar benar terhibur dengan semua itu. Kata kata Lin Dong yang mungkin agak sedikit aneh itu berhasil menggelitik perutnya.


"Baiklah" jawab Suer "Mari kita belajar pacaran" lanjutnya lagi.


Pertama kali Suer melihat Istana yang kini di huni oleh Lin Dong dirinya tercengang centang dan sangat takjub. Ukiran Ukiran dalam istana itu nampak begitu unik dan artistik membuat orang yang melihatnya betah berlama lama. Para pelayan yang awalnya tidak tahu bila Suer adalah isteri Kaisar mereka merasa sedikit aneh dengan tampilan Suer. Namun setelah Lin Dong mengumumkan siapa sebenarnya Suer akhirnya merekapun tahu sosok yang selalu memabukkan Kaisar mereka itu.


Selama di sana Suer tidak pernah berlaku semena mena ataupun bersikap Sombong pada siapapun dia begitu ramah dan memang terkadang sering mengerjai pelayan pelayanan sendiri. Perlahan para pelayan itupun mulai terbiasa dan malah senang bila di kerjai oleh Suer karena setelahnya mereka akan bersenang senang dan belajar banyak hal dari Suer. Ilmu yang mereka kantongi dari Suer sungguh tak ternilai harganya bagi mereka dan mereka semua menjadi sangat patuh pada Suer meskipun Suer tidak pernah menindas ataupun menakuti mereka. Namun karena sikap dan sifat itulah yang membuat para pengawal dan pelayan menjadi amat segan terhadap sosok Suer.


Hari hari berlalu dengan baik. Suer belajar kaligrafi dan bergaul dengan para bangsawan di sana. Sifat Suer yang rendah hati sangat di senangi oleh kaum bawah dan atas semuanya menyukai Suer.


Suatu hari Suer berencana akan melakukan kejutan untuk Lin Dong demi merayakan hari bersejarah yaitu hari ulang tahun Suer kenegaraan dan hari itu pula dimana Lin Dong di jabat menjadi raja dan saat itu pula dirinya akan menyandang gelar ratu yang akan di berikan oleh Lin Dong.

__ADS_1


Seluruh istana sibuk banyak tamu berdatangan dari negara tetangga dan banyak di antara mereka penasaran dengan sosok Lin Suer yang sudah sangat tersohor kala itu.


Suer dengan gaun khas kekaisaran berwarna emas bersanding dengan Lin Dong yang mengenakan warna pakaian yang senada. Dengan hati hati Suer membawa sebuah kotak kecil dan bergegas ke arah Lin Dong.


Dari kejauhan nampak Lin Dong yang tengah berbincang dengan seorang wanita. Ah apa Suer cemburu ya tentu Tidak. Karena dirinya tau Lin Dong hanya miliknya seorang.


"Yang mulai permaisuri" wanita itu memberi salam dan dengan anggun Suer menjawab salam itu.


"Hai" jawab Suer itu terdengar aneh namun Suer menyukai sapaan semacam itu.


"Suamiku. Ini!" Suer memberikan kotak itu dengan wajah yang seperti kepiting rebus.


Wanita yang berada disana tertawa renyah. "Benar kata rumor. Kalian memang pasangan paling manis sepanjang masa" Suer tersipu mendapat pujian itu.


"Apa Ini?" Tanya Lin Dong dengan wajah yang sama tersipunya.


"Hadiah untuk suami" jawab Suer dan sontak kini malah wanita yang bersama merekalah yang salah tingkah.


"Ah baiklah. Agaknya aku kurang tepat berada di sini. Saya pamit yang mulai Kaisar dan yang mulia Permaisuri" perempuan itupun pergi bersama pelayannya.


Lin Dong membuka hadiah yang di berikan Suer dan nampak sebuah cincin tanpa mata namun terukir namanya dan Suer.

__ADS_1


"Terima kasih" bisik Lin Dong hampir tidak terdengar namun jarak mereka yang sangat dekat sehingga suara sekecil apapun dapat di dengar oleh Suer.


Bersambung...


__ADS_2