
Bukannya membunuh sebuah cahaya tiba tiba keluar dari tangan Suer berasal dari kotak ukiran yang sedari tadi di pegangnya perlahan ukiran itu membuyar dan menyambar tubuh Suer.
Tak ada bekas luka dalam tubuh Suer namun tiba tiba cahaya itu menyambar ribuan pasukan di hadapan mereka dan hangus seketika selain itu seekor naga biru tiba tiba masuk ke tubuh Lin Dong dan membuat pria itu pingsan seketika. Lin San yang terpaku tiba tiba tubuhnya terasa panas dan terbakar hingga darahnya terasa mendidih dan matanya mengeluarkan darah hidungnya tak luput dari itu kejadian mengerikan itu di saksikan ribuan perajurit yang semula di pimpin oleh Lin Dong.
Perlahan tubuh Suer mulai menghilang bersama dengan kotak ukiran itu yang ikut berubah menjadi abu. Tak ada yang tahu setelah kejadian itu tertuang dalam sejarah bila Kaisar pada akhirnya memberikan tahtanya pada seorang muridnya yang dia panggil Lin Tian.
Albert yang masih terpaku dalam tempat tersebut tiba tiba kembali melihat cahaya dan adiknya yang kembali alangkah aneh pikir Albert namun hal itu belum cukup membuatnya terkejut karena darah yang mengaliri tubuh Suer. Albert buru buru mendekati Suer berbarengan dengan Shelitz yang sama terkejutnya.
"Sayang kenapa ini?" Shelitz agaknya risau menatap bagaimana Suer yang terbaring tak sadarkan diri. Albert mencari sumber darah tersebut dan ternyata sumbernya sudah tertutup rapat.
Albert mengecek nadi adiknya yang ternyata baik baik saja tidak ada yang terjadi yang membahayakan adiknya itu. Namun pikiran Albert masih bertanya tanya tentang apa yang terjadi sebenarnya sehingga adiknya kembali.
Suer membuka matanya mendengar suara Albert yang berteriak teriak memanggil namanya. Suer terkejut dan langsung melihat sekeliling dan benda yang dirinya cari sudah menghilang kini dirinya hanya dapat membaca buku sejarah dan tertera bila Kaisar selamat. Suer bernafas lega dan menatap Albert dan Shelitz bergantian.
"Suer apa yang terjadi?" Tanya Albert menatap adiknya yang nampak lemas dan tatapan yang terlihat kosong seperti itu.
"Tidak ada kak. Aku akan kembali ke rumah" hanya kata itu saja yang sanggup Suer katakan. Namun Shelitz yang sedari awal memperhatikan buku yang di pegang Suerpun faham dirinya bisa membaca lagi sejarah dan mengetahui apa yang terjadi pada Suer. saat Albert hendak bertanya kembali Shelitz buru buru menghentikannya. Shelitz menggeleng dan memapah Suer menuju ke luar istana itu.
"Kita pesan kamar malam ini. Kita menginap dulu di sini karena malam masih larut" ucap Albert. Tak ada reaksi yang di tunjukan Suer hanya sebuah tatapan kosong saja.
__ADS_1
Akhirnya malam itu mereka menginap di Hotel. Shelitz yang khawatir pada Suer akhirnya tidur sekamar dengannya.
Keesokan harinya Suer dan Albert serta Shelitz kembali ke Negara mereka. Masih dengan tatapan kosong dan hampa Suer mengurung diri di kamar hingga satu bulan lamanya.
Suatu sore Albert akhirnya memberanikan diri menengok adiknya yang nampak sangat kurus dengan mata memerah dan kehitaman di sekitar matanya serta wajah pucat dengan rambut tak terawat sangat jauh berbeda dengan Suer yang dulu. Suer yang selalu tampil ceria dan penuh energi kini benar benar nampak kehilangan nyawanya.
"Suer..." perlahan dan sangat lirih Albert mengusap kepala Suer yang tertidur. Suer membuka matanya namun tidak menatap suara yang semula memanggilnya.
"Lupakan dia" ucap Albert lagi yang sudah mengetahui apa yang terjadi.
"Dia begitu mencintaimu sampai akhir hayatnya dia tidak pernah menikah lagi. Tapi dia selalu baik baik saja dan menjaga Kekaisaran dengan baik. Suer bisakah kamupun bangkit" lanjut Albert.
"Aku akan melanjutkan kuliahku di Indonesia. Kak aku tidak bisa terus di sini" mendengar itu Albert menghembuskan nafasnya setelah sekian lama inilah permintaan adiknya tentu Albert akan mewujudkan keinginan adiknya itu.
"Besok." Albert terbelalak namun mustahil baginya untuk menolak. Albert mengangguk dan menerima sepenuhnya pilihan sang adik.
Akhirnya keesokan harinya Suer pindah ke Negara dengan garis khatulistiwa dan b3gitu banyak pulau itu. Suer pernah mendengar bila di Negara itu begitu damai dan jarang membedakan orang dengan garis darah biru atau darah merah. Di Negara itu dia bisa menenangkan diri.
Awalnya Suer berpikir akan melanjutkan studinya di china namun saat melihat kastil kastil itu dan melihat jalan jalan itu membuatnya mengurungkan niat. Disana sepertinya dirinya tidak akan move on tapi akan lebih patah hati.
__ADS_1
"Suer. Apa kamu yakin? Disana adalah daerah kekuasaan Kenan. Bila kamu di sana..." belum selesai kakaknya berpesan Suer memotong pembicaraan itu.
"Aku akan baik baik saja kak. Aku yakin teman kakak itu tidak akan menyakitiku" jawab Suer. Albert akhirnya kembali mendesah namun kali ini perasaannya benar benar terasa lega. Entah mengapa namun dirinya merasa bila kepergian Suer itu adalah awal dari sebuah perjalanan baru bagi Suer.
"Satu lagi yang harus kakak faham. Aku tidak akan mencolok dan tidak akan sama di sana. Aku hanya akan menjadi orang biasa di sana, kakak tidak boleh menghancurkan rencanaku!" Albert terkekeh mendengar ancaman yang begitu aneh itu dari Suer.
"Baiklah adikku sayang. Tapi jangan lupa bulan depan di hari pertunangan kakak mu. Kamu harus datang" Suer tersenyum dan menyeret kopernya.
"Baiklah" Suer berangkat ke bandara dan terbang sendirian. Di atas dalam pesawat itu Suer benar benar terasa menghempaskan bebannya yang selama ini menumpuk di hatinya dan memenuhi sanubarinya. Suer seakan menjadi burung yang melayang dan bebas tanpa terhalang apapun menuju langit biru yang cerah.
Saat tiba di Negara itu Suer benar benar sendiri. Tak ada yang dia kenal di Negara itu. Seakan menyerahkan takdir pada yang maha kuasa Suer akhirnya berjalan mengikuti ujung ibu jarinya.
Suer menemukan sebuah tempat yang tepat untuk persembunyiannya kala itu. Sebuah kos kosan dengan bagian tembok berdempet dan bertumpuk adalah tempat yang cocok untuk menyembunyikan identitasnya.
Seorang wanita dengan tubuh gemuk, dandanan yang super super menor dengan rambut kribo nampak tengah memarahi salah satu penghuni kos kosan di sana. Terdengar dari pembicaraan mereka bila penghuni kosan tersebut sudah telat bayar iuran kamar. Suer akhirnya mendekat dan menyapa kedua orang itu.
"Permisi" Suer memberikan senyum terbaiknya membuat ibu kos itu nampak sejenak terpaku terpukau menatap kecantikan gadis di hadapannya.
"Siapa kamu?" dengan garang dan super galak ibu dengan menggunakan baju daster kebesaran itu akhirnya menyentak Suer
__ADS_1
"Apa disini ada kamar yang kosong? Saya hendak menyewa disini." ucap Suer berusaha sabar menghadapi emak emak gambreng tersebut.
Bersambung...