Lin Suer

Lin Suer
Tentang Keenan


__ADS_3

Keenan menatap mereka sekan menghunuskan pedang yang sangat tajam dan menusuk ke arah mereka, nyali mereka seketika menciut seperti kerupuk yang tersiram air.


"Apa kalian mengganggu pacarku?" Semua orang terperanjat dan melotot mendengar itu. Sekan seorang banci merekapun mengelak dan sekan tidak ada yang terjadi apa apa.


"Huuh, dasar banci! Kalian tidak berani melawan apa burung kalian sudah tidak bisa bertelur?" Keenan tertawa mendengar ejekan Suer sekaligus istilah yang di gunakan gadis itu.


"Istilah macam apa itu? Kejam sekali." Suer memalingkan wajahnya masih kesal, keindahan sore yang mempesona itupun harus hancur akibat keributan yang mereka buat.


"Apa pacarku ini marah?" Suer enggan menanggapi. "Sayang maafkan aku, aku sungguh tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tidak pernah membujuk perempuan, Sayang aku mohon jangan marah." Keenan gelagapan saat melihat wajah kesal Suer.


"Apa aku harus mematahkan kaki dan tangan mereka dulu baru kamu akan memaafkan aku?" Suer mengangkat bahunya, ada sesuatu yang bisa dia ambil dari setiap ucapan pria itu.


"Aku mau pulang." Suer menarik lengan Keenan tidak ingin berlama lama lagi, Keenan yang di tarik paksa akhirnya melenggang pergi. Dalam perjalanan itu Suer tidak mengucapkan satu patah katapun dia bungkam sekan tengah mengungkap sesuatu.


Sesampainya di depan kosan Suer Keenan hendak pamit namun Suer malah menarik pria itu masuk ke dalan kamar kosnya. Keenan terkejut, dia melihat mata Suer yang memerah dan pipinya yang sudah pucat.


"Kenapa?" Keenan tak berdaya saat melihat Suer nampak melemah itu, Keenan langsung memeluk Suer dan mendekapnya erat.


"Aku merindukan seseorang" Keenan terperanjat, dia berpikir mungkinkah Suer merindukan kakaknya.


"Merindukan Albert?" Suer tersenyum sinis mendengar itu Suer melepaskan diri dari pelukan Keenan.


"Siapa kamu?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Suer, terlambat untuk menarik kata kata itu lagi.


"Aku? Aku Keenan, bukankah sudah jelas tentang itu?" Nampak mata Suer sudah mengeluarkan cairan.


"Kamu bukan kokikan? Kamu juga tidak terlihat seperti orang biasa. Siapa kamu? Apa yang kamu inginkan?" Keenan gelagapan mendengar pertanyaan itu.

__ADS_1


"Apa tidak percaya bila aku seorang pelayan atau koki, besok ikut aku. Sekarang istirahatlah, aku tahu kamu lelah." Suer memalingkan wajahnya.


"Bawa aku ke tempat kerja mu sekarang." Keenan terperanjak mana mungkin pikirnya.


"Ini sudah larut Suer, jadi tidurlah." Suer cemberut, Suer ingin tahu apa yang akan di lakukan pria itu sekarang.


"Sayang, jangan seperti ini. Aku tidak tenang tahu." Suer sudah tidak ambil pusing, sepertinya Keenan memang bukan Lin Dong mereka hanya mirip pikir Suer.


"Pergilah, jangan datang lagi kemari. Aku akan pindah ke china besok." Keenan terbelalak dan langsung memeluk Suer.


"Suer aku mohon maafkan aku, aku tidak ingin hal seperti ini terjadi pada kita." Suer tak ingin membahas lagi, dirinya benar benar terasa di bohongi oleh Keenan.


"Kamu mata mata? CIA? Atau anggota FBI? Katakan saja padaku. Tidak ada orang biasa yang akan berkata langsung akan mematahkan kaki tangan orang dengan gamblang. Dan di seluruh dunia ini yang mengetahui rupa dari adik Albert Anderson hanya beberapa orang saja. Kecuali kamu seorang mata mata terlatih, kamu tidak akan tahu identitasku. Dan satu lagi aku tahu kamu bukan manusia sembarangan. Sebelum kamu mengatakan kebenarannya jangan harap aku akan menemui mu lagi." Suer berkata dengan sangat tegas dengan begitu panjang kali lebar.


"Baiklah, sepertinya kamu terlalu pandai untuk semua hal itu. Ayo ikut aku!" Keenan menarik tangan Suer dan mendudukan gadis itu.


"Ayo!" Suer terperanjat saat melihat apa yang di bawa pria itu. Suer tak habis pikir dengan apa yang ada pada otak Keenan.


"Kamu bisa terkena hukum penculikan bila melakukan pemaksaan seperti ini Keenan." Suer enggan ikut dengan pria iri, selain tidak tahu akan di bawa ke mana, Suer juga takut bila pria itu melakukan hal nekat.


"Suer aku mencintaimu, percayalah." Ya untuk soal mencintai Suer juga tidak meragukan perasaan pria itu namun bila ikut begitu saja Suer juga ragu.


"Kita mau kemana?" Suer menatap Keenan sekan mencari jawaban dalam ekspresi pria itu.


"Pulang." Suer membelalakan matanya, mana mungkin dirinya pulang sedangkan besok dirinya harus kuliah dan tidak mungkin meninggalkan pelajaran itu.


"Kamu gila ya? Aku gak mau!" Keenan tertawa renyah namun sekan pahit dan hambar membuat Suer merasa ada sesuatu yang aneh.

__ADS_1


"Lalu aku harus apa untuk membuktikan beberapa hal itu?" Suer menelan ludahnya saat dengan tiba tiba Keenan menarik tubuhnya dan memeluknya begitu saja.


"Ta...ta..pi Aku tidak bisa pergi dari sini." Keenan terkekeh melihat kegugupan Suer, kini dengan jelas Keenan bisa melihat bagaimana Suer sebenarnya hanya mengujinya.


"Menurutlah, dan semuanya akan baik baik saja." Suer menelan ludahnya alasan apa yang kini malah membuat hatinya percaya begitu saja pada pria itu. Tidak ada jawaban yang di inginkan Suer dalam dadanya namun saat Keenan menarik tangannya dengan sangat ringan Suer mengikuti Keenan.


"Mungkin kamu juga sudah mengenaliku sebelumnya itulah sebabnya kamu kemari dan sekan takdir yang kuasa, kamu memang untukku." Suer menatap Keenan sekan pria itu sangat lemah dan tidak berdaya. Suer merasa bersalah dan kasihan namun dirinya juga tidak bisa menghentikan apa yang sudah menjadi tujuannya.


"Duduk biak baik." Suer memeluk Keenan dan itu sudah cukup untuk Keenan merasa nyaman dan entah apa yang akan di lakukan pria itu selanjutnya namun melihat keseriusan yang di tunjukkan oleh Keenan sekan semuanya adalah sesuatu yang besar.


Keenan mengendarai sepeda motornya seperti seorang setan jalanan, hawa dingin dan angin yang sekan menampar nampar pakaian mereka cahya lampu jalanan yang mereka lewati seperti kilatan kilatan cahaya yang tak ada putusnya.


Suer merasakan sesuatu dalam ritme perjalanan mereka, sebuah tempat di pinggir jalan menjadi tujuan mereka. Suer mengangkat alisnya dan nampak Keenan tengah menyapa beberapa orang.


Suer terpana melihat Keenan dan duduk di tempat yang tidak jauh dari Keenan, nampak Keenan sudah bersiap dan mengenakan perlengkapannya. Suer berpikir apakah selama ini dirinya berpikiran terlalu banyak tentang pria itu.


Keenan memasak dan nampak begitu telaten dengan jaket yang di lepas dan hanya mengenakan sebuah kaos putih yang semula dirinya kenakan.


Suer menatap bagaimana pria itu nampak menjadi daya tarik beberapa wanita, Suer menekan keningnya. Namun Keenan sendiri nampak tidak perduli dan menyelesaikan masakannya dan menyerahkan hasil karyanya di hadapan Suer.



"Masih kurang buktinya sayang?" Suer terdiam menyaksikan senyum menawan yang ada di sudut matanya.


Suer menggeleng, dirinya kini benar benar tidak tahu harus apa dan bagaimana menyikapi pria seperti itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2