Lin Suer

Lin Suer
Kebangkitan Lin Dong


__ADS_3

"Yang mulia." Pria itu nampak menunduk memberi hormat kepada Suer dan Keenan.


"Hai Yuan ya?" Suer sudah bisa menebak dan akhirnya Yuan mengangguk dan masih tangan yang berada dalam posisi hormat.


"Syukurlah kamu ada di sini, bisa bantu kami menikahkan mereka." Keenan menunjuk Albert dan Dinda, Yuan terkejut namun pada akhirnya mengangguk.


Pernikahan sederhana dengan gaun pengantin berupa seprai hotel yang di kenalan Dinda dan saksi Suer dan Keenan semuanya berlangsung tanpa siapa siapa lagi.


...----------------...


"Kak!" Seorang pria dengan wajah merah padam berdiri tegak menentang ucapan seseorang.


"San, sudah aku katakan sejak dulu aku mencintai Lin Dong. bukankah bagus bila aku menginginkan pria itu dan kau bisa mengambil wanita busuk itu." nampak San merasa tidak suka mendengar seseorang yang dia cintai di katai busuk.


"Masih belum terima?" Shelitz nampak menghunus tajam wajah San dengan tatapan mengintimidasi.


"Kak, ribuan tahun aku menanti Suer dan apa sekarang kau juga akan membunuhnya?" San nampak tidak takut dan menentang sang kakak.


"Kau sudah berani menentang ku San!" San menghembuskan nafasnya kasar dan meninggalkan tempat di mana beberapa pria berpakaian hitam nampak di sana.


"Aku harus cepat menjalankan tugasku." bisik Shelitz dan mulai memperhatikan beberapa pria yang kini berdiri tegap.


"Kalian para pelayan, siapa dari kalian yang ingin meminum darah?" Mereka nampak takut hingga hanya sunyi yang ada.


"Cih, Kalian keluarlah." kini hanya Shelitz sendiri bersama rencananya sendiri dalam ruangan itu.


...----------------...


"Selanjutnya kita harus mencari sosok empat legenda itu." Keenan memulai pembicaraan saat mereka sudah berkumpul di tepi air yang mengalir di bawah tanah itu.


"Tuan, aku rasa kita harus memulai dari menelusuri orang orang yang memiliki benda benda bersejarah itu." Keenan mengangguk faham mendengar Yuan berpendapat.

__ADS_1


"Kak, bagaimana dengan Ibu dan Ayah?" kini nampak wajah khawatir Dinda yang langsung di peluk oleh Suer.


"Kamu jangan khawatir de, aku sudah melakukan yang terbaik untuk mereka itulah sebabnya mereka berada di pedesaan." Suer tersenyum mendengar penuturan suaminya dan Dinda juga merasa tenang.


"Kita harus kembali ke masa lalu, dan menghentikan wanita itu melakukan pembunuhan itu. Dan menghentikan mereka semua." Keenan memberi pendapat dan semuanya setuju dengan penuturan Keenan.


"Dulu saat Kaisar Xu membuka portal nampaknya sangat sulit namun dia berhasil, itu artinya ada sebuah celah dimana kita bisa kembali ke masa itu dan kembali mengubah sejarah." Keenan mengangguk mendengar pendapat Albert.


"Sebaiknya kita harus cepat mencari cara untuk mengetahui caranya."


"Tuan, sesungguhnya saya tahu caranya." Yuan memaparkan apa yang dirinya ketahui kemudian "Dalam melakukan portal kita harus memiliki perjanjian dengan dua dunia, dan dua alam. karena yang dapat melakukan itu hanya mahluk setengah abadi saja." Keenan menatap Yuan.


"Bukankah kamu juga salah satunya? Tapi, aku tidak mau mengorbankanmu Yuan. Aku tahu resikonya, jangan gegabah." Keenan akhirnya menghentikan ucapan Yuan.


"Lantas, apa yang harus saya lakukan tuan?" Keenan tersenyum pahit dan sepertinya tidak ada jalan lain.


Brak..


Duar...


"Ternyata kalian di sini." Keenan langsung keluar melindungi mereka semua bersama Yuan.


"Kau terlalu cepat sadar Shelitz." nampak Shelitz dengan sayap hitam dan rambut pendek dengan wajahnya yang sebenarnya.



Suer menatap wajah sesungguhnya milik Shelitz, telinga yang seperti peri begitu runcing wajah nampak manis namun juga menyeramkan sekan Shelitz menginginkan darah mereka.


"Kurang ajar, kalian sudah mencuri mahkotaku!" Teriak lagi Shelitz.


"Hahaha, bukankah itu kejutan yang menyenangkan Shelitz. " Albert tertawa jahat dan melemparkan mahkota Shelitz yang sudah tidak berbentuk dengan mata berupa permata berharga yang langsung di jatuhkan pada air suci di bawah sana pada air terjun.

__ADS_1


"Kurang ajar!" Shelitz dengan sangat cepat seperti kilat mencengkeram leher Albert membuat Suer terperanjak dan menendang tubuh Shelitz. Namun apa yang fi lakukan Suer sia sia belaka karena Shelitz mahluk setengah abdi itu langsung melempar Suer.


"Suer!" Keenan berteriak dan berusaha menyelamatkan kakak ipar dan Suer namun yang mereka lakukan sia sia.


Bukh..


Sebuah pukulan menghantam perut Shelitz pukulan itu di berikan Yuan dan sebuah darah mengalir di sudut bibir Shelitz.


"Yuan, untuk ke sekian kalinya kau selalu mengganggu rencanaku. Dasar mahluk menyebalkan." Shelitz mulai menyerang Yuan. Namun Yuan dengan cekatan dapat menghindari setiap serangan itu.


"Shelitz kamu menjadi iblis seperti ini, dan ingin membunuh kami." Shelitz tertawa mendengar penuturan Yuan.


"Oh, Pangeran Yuan. Kau masih sama seperti dulu. Masih sangat polos namun sekarang aku tidak akan membiarkan apa yang terjadi di masa lalu terulang." Yuan mengangguk dan pertarungan sengitpun terjadi hingga akhirnya Yuan terluka.


Duar, Bukh..


Crat...


Darah segar mengalir dari hidung dan mulut Yuan. semua orang terkejut, sebuah cahaya bersinar terang dan nampak mereka kembali kedatangan tamu. Dia adalah San, San nampak terkejut melihat apa yang di lakukan kakaknya.


Keenan dan seluruh orang di sana mulai merasa was was namun tiba tiba sesuatu yang tidak dapat mereka lihat kini bisa terlihat mata Keenan, darah mengalir dari mata itu dan membuat sebuah gejolak di dadanya.


Mata Keenan bukan hanya terasa perih yang begitu menyakitkan namun juga merasakan sesak dan tubuhnya yang terasa begitu dingin dan sangat menyiksa.


Suer yang sudah hampir tidak sadar akibat bantingan yang di lakukan Shelitz pada dirinya merintih dan menyentuh tangan suaminya, Keenan bisa merasakan tangan yang terasa selembut kapas itu menghangatkan tangannya.


"Suer," Keenan berucap dengan lirih dan kini dirinya bisa melihat sebuah sayap hitam di belakang punggung Shelitz dan sebuah sayap merah keemasan di punggung Suer sebuah batok kura kura dirinya lihat di punggung Albert dan sebuah kumis dan buntut dengan bulu bulu putih nampak pada diri Dinda.


Keenan yang melihat semua itu sontak mengecup kening isterinya dan memeluknya lembut, nampak wajah Suer yang sudah pucat dan tidak sadarkan diri. Keenan membaringkan Suer karena dirinya merasa bila Suer masih bisa di selamatkan termasuk Albert. Keenan membawa Suer ke dekat Dinda.


"Jaga Suer untukku, jaga dia baik baik." dengan berat hati akhirnya Dinda yang sudah tidak memiliki pilihan lain akhirnya mengangguk.

__ADS_1


"Kak, hati hati." Keenan mengangguk mendengar penuturan adiknya, nampak Shelitz yang hendak menginjak tubuh Yuan, dengan cepat Keenan menendang perut Shelitz membuat wanita itu terpental hingga puluhan meter dan San yang melihat kebangkitan dari Lin Dong aliyas Keenan merasa ngeri.


Bersambung...


__ADS_2