Lin Suer

Lin Suer
Mengubah sejarah


__ADS_3

Cahaya itu kembali mengeluarkan giok dan Suer tersenyum haruskah dirinya kembali berbohong terus dan terus. Mungkin inilah siksaan yang telak bagi seorang Lin Dong seorang Kaisar di masa depan. Tidak ada keraguan di hati Suer karena di bandingkan dirinya harus bersaing dengan ratusan orang demi seorang lelaki dan menyakiti ratusan orang dirinya lebih baik menghilang.


"Dan aku juga bodoh karena aku sudah mencintaimu Lin Dong" ucap Suer lirih giok itu mulai pecah menjadi serpihan emas. Suer berdiri dan bersamaan dengan cahaya itu yang mulai mendekatinya Suer pun melompat dan menghilang sekejap mata.


Lin Dong terpaku menatap kejadian yang baru saja terjadi di depan matanya air mata mengaliri pipinya mengingat kata kata terakhir yang di ucapkan oleh Suer. Dirinya terasa remuk dan hancur bersama kepergian Suer mungkin selamanya harinya akan merasakan hal yang sama.


Sesampainya Suer di dunianya tak ada yang berubah di sana hanya waktu yang sudah menunjukkan pagi. Suer melihat ponselnya yang tergeletak di atas meja waktu yang sama hanya berubah jam saja. Suer terperanjak saat ketukan pintu terdengar dari arah luar dan suara sang kakak terdengar sangat cemas.


"Suer keluarlah dan sarapan bersamaku. Suer.." Suer terdiam dirinya kini sudah merasakan cinta dan cinta memang sangat menyakitkan bila tidak bisa dimiliki. Mungkin bila dirinya terus keras kepala kakaknya akan merasakan hal yang sama seperti dirinya kala itu.


Suer menatap ke arah cermin dan tersenyum pahit. Dirinya bergegas mandi dan berganti pakaian suara ketukan itu terus berlangsung dan segala cara bujuk rayu di lakukan oleh Albert.


Suer melangkah mantap ke arah pintu dan terlihat sang kakak yang sangat tidak baik baik saja di sana.


"Suer maafkan aku. Dan bisakah kita bicara?" Suer mengangguk mempersilahkan kakaknya masuk. Tidak lupa dirinya menyembunyikan terlebih dahulu ukiran kayu dan ta kecil yang tidak sengaja terbawa olehnya ke dunia itu.


"Suer, bisakah.." Suer menghembuskan nafas kasar dan menatap kakaknya. Albert dapat melihat tatapan yang berbeda dari adiknya.


"Aku setuju kamu menikah kak. Aku tidak marah padamu." Sebuah senyum nampak merekah di pipi Albert entah apa yang sudah terjadi pada adiknya namun Albert sungguh merasa bahagia dengan apa yang dirinya dengar saat itu.


"Benarkah? Sungguh?" Albert berusaha menangguhkan ucapan adiknya dan memastikan apa yang dia dengar tadi bukan hanya ilusi.


"Ya kak. Untuk apa aku berbohong pada pria gila seperti mu. Mana sarapanku dan pergi sana. Ganggu orang tidur aja" omel Suer membuat Albert terkekeh dan mengacak acak rambut Suer yang masih basah.


Albert meninggalkan Suer dan membiarkan Suer sarapan sendirian di kamarnya. Suer sangat ingin tahu apa yang akan terjadi pada Lin Dong selain karena dirinya mengambil jurusan sejarah di kampusnya dirinya juga sangat suka dengan pelajaran itu.


Suer menatap jam dan sudah saatnya dirinya berangkat ke kampus. Suer di antar sang kakak dan mulai melakukan hidup normalnya.

__ADS_1


Beberapa hari berlalu dan hari itu adalah hari sial bagi Suer karena rengekan dari kakaknya yang meminta Suer bertemu dengan calon isterinya membuat Suer kini harus di kerubuni oleh para penata rias.


Suer pasrah. Tidak ada jalan lain kala itu dirinya akan bahagia bila melihat sang kakak bahagia. Setelah kepergian orang tua mereka inilah pertama kalinya Suer melihat cahaya kebahagiaan menyinari sang kakak.


Dengan gaun yang sangat cantik Suer dan Albert nampak tengah menunggu seseorang. Kini mereka berada di sebuah restoran bintang lima.


Nampak dari kejauhan sosok wanita cantik menghampiri mereka. Dengan sumringah Albert menyambut wanita itu dan menarik kursi mempersilahkan perempuan itu duduk.


"Suer ini Shelitz calon istri kakak" mendengar itu Suer langsung mengulurkan tangan dan menyambut kedatangan wanita itu.


"Hai kak. Aku Suer" nampak senyum manis mengembang di wajah Shelitz dan menerima uluran tangan itu dengan senyum mengembang.


"Halo Suer. Aku Shelitz" melihat mata Shelitz kini tahulah Suer mengapa kakaknya bisa jatuh hati.


Sorot mata Shelitz yang hangat dan penampilan sederhananya mampu membuat Suer terpana. Mata Shelitz biru dengan rambut kecoklatan nampak sekali percampuran darah timur dan barat.


"Suer sekarang mengambil jurusan apa?" Tanya Shelitz dengan mata berbinar.


"Sejarah" jawab Suer singkat. Suer menatap Shelitz yang nampaknya menunggunya kembali bersuara.


"Menurutku sejarah itu unik dan sangat menentukan masa depan" lanjut Suer.


Shelitz mengangguk setuju dan mulai kembali bertanya.


"Sejarah kekaisaran mana atau Kerajaan mana yang menurutmu sangat menarik?" Suer terdiam mendapatkan pertanyaan itu.


"Kekaisaran Lin." Shelitz terdiam dan menatap mata Suer dalam dalam.

__ADS_1


"Apa karena permaisuri sekaligus ratu kerajaan itu bernama sama yaitu Suer?" Suer terperanjak dirinya tidak pernah tau bila raja Lin memiliki permaisuri.


"Permaisuri?" Melihat keterkejutan Suer, Shelitz menjadi sedikit bingung.


"Ya pendiri kekaisaran Lin itu sangat kasihan. Menurut sejarah yang aku baca dari buku The Story of Lin. Kaisar Lin mengangkat Ratu sekaligus permaisuri tanpa sosok wanita itu" jelas Shelitz.


Suer menelan Ludah mendengar itu. Benarkah apa yang di katakan Shelitz. Namun menurut buku yang sama yang pernah Suer baca Kaisar Lin adalah seorang buaya.


Suer terdiam sejenak sebelum akhirnya tersenyum dan mengalihkan pembicaraan.


"Kakak bekerja?" Tanya Suer dan nampak raut wajah Albert berubah dan terlihat tegang.


"Ya. Aku guru di sebuah taman kanak anak." Suer tersenyum dan menatap kakaknya. Mungkin sinilah yang di takutkan oleh kakaknya mereka yang berasal dari kalangan atas dengan darah bangsawan yang mengalir pada tubuh mereka membuat sang kakak was was tentang pekerjaan Shelitz.


"Kamu luar biasa kak. Aku kurang menyukai anak-anak tapi aku kagum pada orang orang yang bisa d3kat dengan mereka. Anak anak adalah mahluk istimewa." Papar Suer membuat raut wajah Albert berubah menjadi lebih santai.


"Oh ya kak sejak tadi sebenarnya perutku sedang tidak enak dan sekarang bolehkah aku pamit pulang duluan?" Shelitz tersenyum saat mendengar bagaimana Suer begitu menghargai dirinya.


"Tapi nanti ada.." belum selesai Albert berucap Suer sudah pamit dan menundukkan wajah dan setengah badannya memberi hormat sebelum akhirnya pergi.


"Suer tunggu!" Saat berada di ambang pintu Shelitz menahan Suer.


"Ya?" Tanya Suer berbalik dan menatap Shelitz.


"Lain kali bisakah kita bermain di taman kanak anak. Aku yakin setelah kamu bertemu mereka kamu akan mengubah pandanganmu" Suer tersenyum dan mengangguk.


"Baiklah kak" Suer akhirnya keluar dan di ruangan itu akhirnya hanya tersisa dua orang saja yaitu Shelitz dan Albert.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2