
Keenan tidak pernah menyangka seorang Suer akan mengatakan hal semacam itu, mungkin benar kata pepatah semakin berisi padi maka dia akan semakin menunduk. Contoh kini terpampang nyata di hadapannya Suer tidak pernah merasa malu akan dirinya.
"Apa aku juga bisa bertemu keluargamu?" Keenan bertanya dengan sedikit ragu ragu. Suer tersenyum simpul ada sebuah kehangatan dari pertanyaan itu.
"Tentu saja, mengapa tidak? Aku akan membawa mu ke tempat tinggal kakakku nanti dan kita juga akan bertemu orang tuaku ke pemakaman. Jangan kecewa ya, aku memang seorang yatim piatu. Di dunia ini keluarga yang aku miliki satu satunya hanyalah kakakku." Keenan mengangguk faham, dia mengecup kening Suer dan menatap bola mata indah itu.
"Baiklah, apa kakak mu akan menerimaku?" Keenan memang benar benar merasa kacau saat itu, dirinya berpacaran dengan Suer yang merupakan adik sahabatnya sendiri Albert, dan bila Suer tahu mengenai usianya apa dia akan terkejut.
"Ya, dia akan menerima mu dengan baik." Suer agak ragu dalam hati namun dirinya berusaha menguatkan diri dan semoga apa yang dia rencanakan tidak melenceng.
Suer dan Dinda di antar oleh Keenan untuk pulang karena memang waktu sudah begitu larut malam, mereka melewatkan hari hari selanjutnya dengan sangat baik. Banyak hal yang mereka ketahui antara satu sama lain hingga akhirnya hari minggu tiba, Suer dan Keenan sudah bersiap berangkat menuju tempat orang tua Keenan berada.
Suer kagum dengan pemandangan sepanjang jalan yang sangat asri, sama seperti zaman dulu. Orang orang menggunakan sapi dan kerbau untuk berkendara dan hanya ada beberapa sepeda motor yang melintas dan itupun sudah di modifikasi karena memang jalan yang cukup terjal dengan bebatuan.
Keenan membawa sepeda motornya kesana Suer awalnya ragu di tambah dirinya yang jarang duduk di kursi roda dua itu membuatnya sedikit takut. Karena saat terakhir dirinya menaiki sepeda motor bersama Albert dirinya dan Albert terjatuh sehingga membuat kakinya terluka dan bagian pergelangan kakinya terkilir dan membiru hingga beberapa hari.
Keenan meyakinkan Suer bila semuanya akan baik baik saja, dan merekapun sampai di depan sebuah rumah dengan gaya sederhana dengan berbagai ornamen ukiran dari kayu Jati dan Sendok Keling nampak menghiasi bagian depan rumah itu.
Keenan memarkirkan sepeda motornya, seorang pria lewat dengan memanggul sebuah cangkul dengan pakaian basah pria itu bertanya kepada Suer.
"Punten Neng, nuju ngantosan saha nyalira didie?" Suer terdiam tidak mengerti. Keenan yang akhirnya datangpun tertawa melihat Suer yang tidak tahu harus berbicara apa.
"Jih, atuh A Keenan, Oh jadi kadie sareng A Keenan?" Keenan tersenyum lembut.
__ADS_1
"Uhun kang, kaleresan caroge teu tiasaeun nyaur Sunda." Orang itupun mengangguk faham.
"Waah si AA tos nikah meni teu ngondang ngondang, sien parasmanan di seepkeun sugan." Keenan tertawa mendengar celotehan itu dan akhirnya seorang wanita keluar dari rumah yaitu Bu Putri.
"Wah, Suer cantik sekali." Suer tersenyum dirinya menundukkan kepala namun dengan cepat Bu Putri langsung memeluk Suer hangat. Suer awalnya terkejut namun dirinya bisa merasakan kehangatan Bu Putri yang seakan akan terasa pelukan ibunya sendiri.
"Ayo masuk, Bapak sudah nunggu dari pagi sampe gak mau diem dia." Keenan tertawa, memang di antara semuanya yang paling antusias menyambut Suer adalah Pak Lin.
Suer di ajak masuk ke dalam rumah yang nampak begitu sederhana itu namun begitu terasa nyaman sejuk dan damai, dirinya melihat beberapa foto dan kaligrafi china yang membuat Suer terpana.
"Waah ini Suer ya?" Pak Lin nampak ingin memeluk Suer namun dengan cepat di hentikan Keenan dan menarik pria itu kebelakang.
"Jangan asal sentuh Pak Tua, Suer miliku!" Tegas Keenan, Suer tertawa melihat sifat posesif yang terdapat pada diri Keenan.
"Hai anak muda, dia itu calon menantuku apa salahnya aku memeluknya?" Pak Lin tak ingin kalah rupanya.
"Suer tidak perlu mendengarkan mereka, sekarang Suer pasti lelah. Ibu sudah membuat beberapa cemilan dan teh hangat, ayo!" Suer mengangguk mendengar ajakan Bu Putri.
"Apa mereka selalu seperti itu Bu?" Bu Putri berpikir dan menggeleng.
"Tidak terlalu sering juga, mereka akan saling bersaing dan menjatuhkan saat bermain catur dulu. Tapi bila mereka sedang serius mereka tidak pernah seperti itu." Suer mengangguk faham, selain itu Suer juga melihat dari ayah dan anak itu nampak tengah menumpahkan rasa rindu mereka dan itulah cara mereka melakukannya.
"Apa Suer merasa nyaman disini?" Bu Putri bertanya saat melihat Suer seakan mendapatkan kedamaian.
__ADS_1
"Ya Bu, seolah oleh Suer tengah berada bersama dengan keluarga Suer." Suer menyentuh dadanya merasakan kehangatan yang seakan melebur memenuhi sanubarinya.
"Suer, kami ini keluargamu sekarang mengapa harus seolah olah? Ibu sangat senang kamu kemari." Suer tersenyum dan mengangguk.
Perkumpulan keluarga itu terjadi begitu harmonis dan saat sore hari Suer dan Keenan memutuskan untuk pulang kembali ke kota karena keesokan paginya Suer harus Kuliah dan Keenan harus bekerja.
Pak Lin dan Bu Putri melepaskan keduanya tidak lupa mereka memberikan beberapa oleh oleh untuk Suer, Suer benar benar seakan pulang ke rumahnya.
Kini Suer dan Keenan berada di bawah langit senja dengan warna jingga kemerahan, nampak burung burung beterbangan seakan membelah langit yang sebentar lagi akan menghitam.
Kota sudah nampak di pupuk mata perjalanan tiga jam yang mereka lalui cukup membuat tubuh Suer lemas, Keenan menangkap itu dengan baik.
"Mau berhenti dulu? Disini ada tempat asik buat nongkrong. Mau coba?" Suer terdiam dirinya tidak pernah melakukan hal semacam itu sebelumnya.
"Aku ikut saja." Keenan tersenyum lembut, wajah Suer terasa memanas saat Keenan menghentikan sepeda motornya di sebuah tempat yang tidak sunyi tapi juga tidak terlalu ramai.
"Mau bubur manis?" Suer mengangguk dan menikmati langit yang nampak menua. Keenan memesan dua mangkuk bubur hanjeli istilah orang sana.
Seorang pria nampak mendekati Suer dan berdiri di sampingnya, Suer terkejut melihat pria yang begitu tiba tiba itu. Suer celingukan mencari Keenan yang semula tengah memesan makanan.
"Nona kamu mencari siapa?" Pria itu bertanya dengan lembut, Suer enggan menanggapi.
"Nona sepertinya kamu sendirian, aku bisa menemanimu." Suer masih belum menanggapi dan masih mencari sosok Keenan.
__ADS_1
"Nona?" Suer berbalik menatap pria itu, wajahnya lumayan tampan namun Suer tidak suka dekat dekat dengan pria itu.
Bersambung...