
"Apa kamu sungguh sungguh dengan ucapanmu de?" Suer mengangguk pasti dan tidak memperdulikan ucapan kakaknya lagi.
Keenan memeluk Suer di hadapan Albert dan itu sungguh membuat Albert kian memanas, dirinya berpikir bila hal yang tidak dia harapkan pasti akan terjadi.
"Aku rela bila kalian menikah lebih dahulu." Celoteh Albert membuat Keenan tersenyum.
"Benarkah? Tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri aku tidak akan membuat ulah selama kamu belum bertunangan." Keenan menjelaskan keinginan dan tekadnya.
"Tapi setidaknya aku harus punya data yang jelas dengan hubungan kalian, bagaimana bila adikku tiba tiba hamil dan kau tiba tiba menghilang. Begini Nan aku mengusulkan bila kalian sebaiknya melakukan legalitas pernikahan terlebih dahulu. Setidaknya kalian bisa menikah dalam pencatatan sipil." Keenan tersenyum, Suer mengangkat wajahnya seakan merasa sesuatu yang tidak wajar dalam senyum Keenan itu.
"Aku memang kemari untuk itu. Dan mengantarkan ini." Keenan memperlihatkan dua buah buku di hadapan Suer. Suer sedikit terkejut saat menatap buku tersebut namun dirinya merasa sudah siap jiwa raga untuk itu sehingga tidak perlu melakukan persiapan terlalu banyak. Selain karena dulu Suer sudah pernah menjadi seorang isteri meski di dunia lain tapi setidaknya itu sudah cukup untuk dirinya bersiap untuk hal semacam itu.
"Ini?" Suer membuka buku kecil itu kemudian tersenyum menawan.
"Jadi jangan kabur dariku sayang." Keenan kian mempererat pelukannya sedangkan Suer masih memandang buku nikah itu.
"Bagaiamana kamu melakukan Ini?" Keenan tersenyum hendak menjelaskan apa yang sudah dirinya lakukan di belakang Suer.
"Kamu ingat saat aku mengambil data diri di kamarmu waktu itu?" Suer menjawab dengan anggukan. "Saat itu tekadku sudah bulat untuk mengarungi masa depan bersamamu, aku langsung melakukan pendataan dan dengan beberapa bantuan aku akhirnya bisa mendapatkan ini. Jadi secara legal sekarang kamu milikiku." Sudah lama dirinya ingin melakukan itu, ingin membuat Suer menjadi miliknya seutuhnya dan dirinya tidak perlu takut lagi menyentuh apapun pada diri Suer. Namun dulu Keenan merasa belum waktunya dan sekarang adalah waktu paling tepat untuk dirinya melakukan semua itu.
Albert yang memperhatikan itu kian menjadi risau di tambah usia Suer yang belum menginjak 20 tahun. Albert seperti seorang ayah yang akan di tinggal puterinya dan akan di bawa pergi oleh menantunya.
"Keenan bukankah ini terlalu cepat?" Albert akhirnya mengeluarkan unek uneknya. Sejak tadi kara kata itu Albert tahan namun pada akhirnya keluar juga.
__ADS_1
"Mengapa? Aku dan Suer saling mencintai dan aku melakukan ini juga demi kebaikan kami. Kamu sebagai kakak sebaiknya mendukung kami bukannya seperti itu." Keenan yang juga memiliki adik perempuan merasa bila posisinya sebagai kakak apa yang dirinya lakukan saat itu sama sekali tidak salah.
"Oke, cinta? Keenan usia Suer baru 19 tahun dan Kamu." Suer mengangkat alisnya memangnya kenapa, meskipun dirinya masih berusia belia namun dia merasa sudah siap untuk menjadi isteri.
"Kak, mengapa kamu mempermasalahkan usia di antara kami? Aku tidak keberatan dengan keputusan suamiku." Suer menegaskan statusnya kini dengan menekan kata suamiku.
"Kamu tahu, usia Keenan sudah seusiaku kan?" Suer mengangguk karena saat melihat foto masa kecil Keenan sudah jelas bila Keenan dan Albert sebaya.
"Kamu sudah tahu?" Suer kembali mengangguk kini nampaknya Albert benar benar kalah telak dari Keenan. Albert tidak menyangka bila Suer akan mengetahui hal itu begitupun Keenan yang mengira itulah yang akan menjadi faktor pemisah antara dirinya dab Suer.
"Kak, cinta kami tidak memperdulikan usia yang ada, waktu yang kami jalani dan jarak yang membentangpun kalah, kak aku tahu kamu merasa khawatir tapi bukankankah dulu kakak juga yang mengatakan bila aku akan baik baik saja bersama Keenan?" Akhirnya kekalahan Albert benar benar telak. Dirinya sekan mendapatkan Dobel Kill saat itu.
"Ah baiklah, aku harus berangkat ke Shanghai sore ini. Besok Suer menyusul dengan Keenan." Suer mengangguk patuh. Ada sesuatu yang aneh dari kepergian Albert saat itu yang sama sekali tidak di ketahui oleh Suer sedikitpun namun melihat langkah sang Kakak, Suer merasa sesuatu yang besar tengah di rencanakan pria itu.
Keenan berangkat menuju kediaman Shelitz dan menjemputnya menuju ke tempat di mana mereka akan melakukan pesta besar itu. Albert menjelaskan semua hal yang terjadi pada Shelitz.
Sedangkan di kediaman megah itu Suer dan Keenan tengah menikmati kebersamaan mereka, tidak ada penghalang di antara mereka berdua dan para pelayan yang berlalu lalalngpun menganggap dirinya tidak melihat apa apa. Sebelum pada akhirnya Keenan dan Suer menuju kamar Suer.
...****************...
Malam tiba mereka sekan tak ada lelahnya bergelut dengan rasa haus dan kasih bercampur birahi dan peluk yang tiada henti. Pagi tiba dan saat itulah Suer bisa merasakan tubuhnya yang benar benar terasa ringsek.
"Pagi sayang.." Keenan nampak membawa sepiring makanan dan memperhatikan Suer yang baru saja bangun.
__ADS_1
Rambut Keenan nampak sudah basah dan kimono yang membalut tubuhnya masih bisa mempertontonkan dada atletis pria itu.
"Aku mau mandi dulu." Suer meregangkan tubuhnya dan ngilu yang begitu luar biasa dirinya rasakan di daerah kewanitaannya dan pinggangnya yang terasa berdenyut denyut.
"Ayo!" Keenan mengangkat Suer ke kamar mandi dan nampak di kamar mandi tersebut Keenan sudah mempersiapkan bathtub yang terbuat dari petrified wood yang harganya bisa mencapai Rp 14,7 miliar itu.
"Sejak kapan bathtub ini ada di sini, bukankah ini maha karya yang di Dubai itu?" Keenan mengangguk mengiyakan dirinya memang tidak perhitungan terhadap segala sesuatu, kelopak mawar nampak terhampar di atas air dengan aroma mewangi dalam air itu.
Suer yang memang sudah tidak mengenakan apa apa sejak semula langsung Keenan biarkan di atas air sebelum akhirnya tubuh Suer menghilang perlahan tertutup kelopak mawar.
"Terimakasih." Senyum nampak terukir di wajah Keenan dan sebuah kecupan mendarat di kening Suer.
"Apapun untukmu sayang." Suer sungguh bahagia mendengar itu dadanya berdetak amat cepat.
Keenan kembali membuka pakaiannya dan bersama Suer dirinya kembali memeluk wanita yang kini sudah sungguh sungguh dirinya cintai.
"Suer apa perut mu bisa langsung bersisik bayi?" Keenan bertanya seakan berharap hal itu akan terjadi.
"Aku tidak tahu, mungkin juga bisa tapi mungkin juga tidak. Aku sungguh sungguh tidak tahu." Suer merasakan nafas Keenan yang kembali terasa berat.
"Aku kurang berusaha bila tidak berhasil." Mata Suer kembali membelalak saat tangan nakal itu kembali menggerayami tubuhnya.
Bersambung...
__ADS_1