
Albert tersenyum menatap wanita yang begitu istimewa di hatinya itu kini terlihat wajah merah Shelitz.
"Adik mu sangat baik. Apa kamu memaksanya untuk bersikap demikian?" Tanya Shelitz berusaha mencari sebuah jawaban.
"Tidak. Sayang kamu sendiri pasti bisa melihat ketulusan di matanya bukan?" Shelitz mengangguk mengiyakan seb3lum akhirnya seseorang datang dengan pakaian yang serba mewah dan berkelas di ikuti oleh empat pengawal.
"Hai Keenan" sapa Albert ya Keenan adalah sahabat dekat dari Albert dan mereka baru bertemu setelah dua puluh tahun lamanya.
Keenan dan Albert adalah sahabat masa kecil dan mereka seakan tidak terpisahkan dulu saat mereka berpisah Albert ibu Albert tengah mengandung Suer.
Perbincangan mereka berjalan sangat baik dan seperti sebuah reuni mereka berbincang tentang masa lalu dan sekarang.
Sesampainya di rumah Suer langsung membuka buku yang dulu sempat dirinya baca berulang ulang.
Kaisar pertama Lin merupakan seorang Kaisar yang paling berpengaruh dalam sejarah peradaban dikarenakan di tangannya mencapai masa keemasan kerajaan. Kaisar Lin Dong merupakan kaisar yang penuh dengan kontroversi dikarenakan dirinya mengangkat sebuah patung emas berwajah seorang wanita cantik menjadi permaisuri sekaligus Ratunya.
Berdasarkan beberapa sumber patung tersebut adalah isteri Kaisar yang tiba tiba saja menghilang dan cinta abadinya. Dengan hal itu semua wanita dan pejabat menjadi sangat segan terhadap beliau yang begitu mencintai isterinya.
Kaisar Lin adalah seorang Kaisar yang tidak memiliki penerus dan singgasana akhirnya di berikan kepada sahabat sekaligus panglima-nya Lin San. Saat beliau meninggal akhirnya kekaisaran di pimpin oleh Kaisar baru mereka yaitu Lin San.
Kaisar Lin Dong meninggal pada usianya ke 40 tahun dengan masa jabatannya selama 15 tahun.
Perlahan Suer meneteskan air matanya isak tak dapat dirinya bendung rasa rindu itu menyesal menyayat hatinya. Dirinya merasa tak akan mengubah apa apa di dunia itu tapi ternyata salah.
"Lin Dong..." isak Suer memanggil nama itu sebelum akhirnya pintu perpustakaan terbuka dan nampak Albert yang sudah kembali.
"Suer. Kamu Kenapa?" Tanya Albert terkejut. Namun jawaban yang di berikan Suer hanya menggeleng. Ukiran kayu yang sedari tadi di genggamnya tidak menimbulkan apapun.
"Suer. Apa kamu tau Keenan?" Tanya Albert.
Suer mengangguk bagaimana dirinya tidak tahu nama itu Kenan adalah pria yang berada di atas sang kakak yaitu si no satu.
"Dia melamarmu" Suer melotot mendengar itu. Meski dirinya tidak tahu rupa Keenan namun hatinya sudah menjadi milik orang lain.
"Lantas?" Tanya Suer berusaha menyudahi tangis rindunya.
__ADS_1
"Aku menerimanya" jawab sang kakak. Suer melotot.
"Apa? Kakak menerimanya tanpa bertanya terlebih dahulu padaku. Apa kau gila kak" Suer berteriak dan berdiri dari tempat yang semula dia duduki. Ukiran kayu yang di genggamnya menjadikannya kekuatan dan menggenggamnya erat.
"Suer, tidak ada pria yang lebih pantas denganmu selain dia. Mengertilah" Suer melotot air matanya kembali jatuh dan sungguh pilu.
"Aku membencimu kak. Pergi!" Teriak Suer dan ukiran itupun bercahaya.
Suer tersenyum pahit.
"Kak bila ini pilihan mu maka lakukanlah namun aku punya pilihan sendiri. Selamat tinggal kak." Suer bersumpah tidak akan kembali dalam hati. Sebuah burung aneh yang ternyata penggabungan empat elemen itupun akhirnya keluar. Albert terpaku menatap apa yang terjadi sebelum akhirnya Suer berlari namun di tarik Albert dan dengan paksa Suer berontak dan menghilang lenyap begitu saja.
Albert terpaku kini agaknya penyesalan tengah menantinya. Albert tidak tahu dimana kini Suer berada.
Suer perlahan membuka matanya sekan terjadi sebuah dejavu kini Suer berada di sebuah tandu. Namun ada sedikit perbedaan matahari nampak berwarna jingga dan sebuah siluet indah menerpa sebuah wajah di sampingnya yang kini tengah tertidur.
"Apa kabar?" Bisik Suer menatap pria itu.
Perlahan Lin Dong membuka matanya dan mengerjakannya berharap apa yang dilihatnya kini bukanlah mimpi.
Dua orang manusia yang terpisah waktu itu kini bersama kembali Suer merasakan pilihannya tidak salah dan kedatangan Suer bagi Lin Dong merupakan sebagai anugrah luar biasa.
Ada perubahan pada wajah Lin Dong yang nampak lebih bersih dan sedikit menua.
"Kamu masih sama dan cantik" bisik Lin Dong. Suer tersenyum dan kembali memeluk Lin Dong.
"Aku merindukanmu" bisik Suer membuat Lin Dong menguatkan pelukannya menyatukan hati mereka.
"Aku sangat merindukanmu Suer" air mata keduanya tidak dapat di tahan lagi air mata rindu dan bahagia kembali mengalir dan bermuara pada kebahagiaan.
"Yang mulia kita sudah sampai di kerajaan Dieng" sebuah suara pengawal menghentikan aktifitas rindu mereka dan membuat Lin Dong salah tingkah melihat pakaian yang di kenakan Suer yang memang sedikit terbuka.
"Kerajaan Dieng?" Tanya Suer memastikan. Sebuah anggukan di berikan Lin Dong sebagai jawaban.
"Aku punya hadiah istimewa untukmu." Bisik Lin Dong. Lin Dong melepaskan jubah Kekaisaran yang semula di kenakannya mengenakan jubah itu pada Suer.
__ADS_1
"Pakaiannya terlalu terbuka" bisik Lin Dong mendengar itu Suer hanya tertawa.
Semua pengawal terkejut saat tiba tiba Lin Dong keluar dan mengangkat seorang wanita mungil nan cantik dari keretanya.
Lin Dong dan Suer berjalan menuju sebuah istana dan sudah di sambut be berapa pelayan dan seorang pria tua dan isterinya.
"Yang mulia" semua orang menunduk termasuk dua orang itu Suer terdiam memperhatikan Lin Dong. Semua orang akhirnya kembali berdiri setelah di persilahkan oleh Lin Dong.
"Aku perkenalkan pada kalian. Ini isteriku Lin Suer" semua orang kembali mengangguk dan bersujud Suer yang sudah biasa hanya menunduk tidak bersujud seperti itu menjadi kikuk.
Kaki Suer yang mulus dan hills serta jari jari kaki yang tidak di cat menampakkan kecantikan tersendiri membuat beberapa pria di sana menelan ludah.
"Yang aku minta sudah di selesaikan?" Tanya Lin Dong semua orang merunduk dan orang tua tadi akhirnya berkata.
"Sudah yang mulia" sebuah senyum terukir di wajah Lin Dong.
Nampak kain merah menutupi sebuah benda yang di bawa beberapa pengawal membuat Suer mengangkat alisnya penasaran.
"Lihatlah itu hadiah yang aku siapkan untukmu" Suer mengangguk dan menarik kain merah yang menutupinya. Suer menutup mulutnya melihat benda itu dan kembali berbalik menatap Lin Dong.
Sebuah patung dua orang manusia yang di ketahui adalah patung Suer dan Lin Dong nampak jelas dengan emas dan hiasan berlian dan mutiara.
"Suka?" Pertanyaan itu lolos dari bibir Lin Dong mungkinkah patung emas ini yang di maksud oleh Shelitz.
Dan katanya hanya ada satu patung dan hanya patung Suer saja namun ternyata bersama dengan patyng-nya ada juga patung Lin Dong.
"Suka, dan luar biasa." Ucap Suer semua orang di sana akhirnya bernafas lega.
"Baguslah. Bawa patung ini ke istana dan tempatkan di Istana Utama" Suer terdiam dia ingin sekali memeluk Lin Dong kembali namun tidak karena kondisi mereka yang tengah menjadi pusat perhatian.
Seorang pria nampak diiringi beberapa pengawalnya memasuki ruangan tersebut.
"Hai kak" sapa pria itu dan kembali pria itupun tertegun saat melihat seseorang yang berada di belakang Lin Dong.
"Kakak ipar?" Tanya pria itu dan akhirnya Suer tahu siapa orang itu. Ya dialah Lin San.
__ADS_1
Bersambung...