
"Bandara ini akan menjadi saksi bisu. Aku pernah menatapnya dan jatuh cinta padanya lagi dan lagi"
Medan, February 2020
Kulihat matahari benar benar berada dalam puncak nya. Kota metropolitan nomor dua setelah Jakarta ini benar benar ramai sesak tak terkendali,terlebih saat mobil merah maroon suamiku melintas jalan keluar dari gerbang tol Helvetia,benar benar padat. Aku melirik jam tangan, chek in pesawat terakhir masih lama, 4 jam lagi. Sisa waktu inilah yang menjadi sangat berharga bagiku, beberapa hari terakhir aku selalu terjaga saat malam, air mataku terlalu banyak keluar hanya karena akan menjalani perpisahan dengannya. Aku bukan tipe wanita yang mudah melupakan kenangan, terlebih kenangan bersama suamiku selama satu tahun lebih 1 bulan.
"tak apa kamu harus pulang, ayah kan butuh kamu.." ucapnya saat aku ingin me refund tiket pesawat yang telah ku pesan beberapa hari lalu. Memang betul itulah ucapannya, namun hatinya berkata lain, sinar matanya tidak setuju harus berpisah denganku.
Mobil kami benar benar berhenti, dihimpit sebuah mobil avanza di belakang kami dan mobil sultan hyundai santa fee warna crem lembut di depan. Aku melamun menikmati dinginnya Ac mobil,suamiku sesekali melirikku,aku merasakannya.
"Macet kali yank."
Begitu komentarnya selalu saat kami melintas di jalan Helvetia ini, aku tersenyum simpul, menyembunyikan banyak kesedihan di hati. Namun aku tidak pandai menyembunyikan ekspresi untuk wajahku.
Ternyata sudah banyak daerah yang menjadi kenangan di sini,untuk waktu yang singkat satu tahun bersamanya,terhitung sejak 11 Januari 2019.
Pertemuan ku dengan Firhan di awal tahun 2019 membuahkan kisah yang luar biasa. Ia mengobati lukaku yang mengaga,kehadirannya untukku bagaikan bumi kering yang terkena tetesan air hujan. Dia penawar lukaku. Dia menghapus dukaku.
\*\*\*\*\*\*
"Kamu kapan mau nikah nduk? Katanya kamu pengen nikah?" Ucap ayah di sela sela makan malamnya. Aku tersenyum
"Belum ada yang pas yah,ada satu tapi jauh dari mata,dan belum tau siapa orangnya" ucapku ngawur kemudian melongos begitu saja. Ayah masih mengumpulkan nasi suapan terakhirnya.
"Kamu kan sudah sukses menulis buku pra nikah,orang orang heranlah nak kalau kamu sendiri penulis nya belum nikah." Ujarnya kemudian menyuap sesendok nasi terakhirnya.
Aku terkekeh kemudian membantah pelan dan sopan.
"Loh ayah,apa iya kalau kita mengajari orang praktek jenazah kita harus jadi jenazah dulu?"ayah tertawa
"Ya sudah memang kamu cerdas dalam urusan ngomong. Maa syaa Allah anak ayah."
"Oh iya besok jadi kamu ke UMSU (Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara)? Sudah di bookingkan tiket ?" Pertanyaan ayah membuatku sadar,besok ada bedah buku di luar Jawa. Di Medan tepatnya,kota terbesar nomor 3 di Indonesia.
"ya Allah aku lupa... "
Tepuk jidat untuk acara kali ini, tidak biasanya aku melupakan hal yang penting, semenjak aku menjadi public speaking aku tidak pernah melewatkan satu detik pun dari malamku sebelum tampil untuk latihan. Aku tidak bisa berkonsentrasi.
Malam kian larut,gemintang menemani malamku yang sepi.
Di sepanjang balkon aku terdiam menatap pohon pinus yang membisu. Tak menyentuh kertas berisi tulisan untuk acara besok. Di kursi panjang ini aku termenung sejenak,menikmati dinginnya pegunungan tempat lahirku, menikmati kopi dengan kue brownis buatan ibu untuk menemani lembur malamku.
Jam dinding di ruang tamu berdenting merdu. Saatnya mataku terpejam, kututup pintu balkon berhias renda putih dan biru muda kemudian terlelap begitu saja di atas kasur hingga subuh menyapa.
"aku berangkat sekarang ya ayah." Ujarku setelah memanasi mobil.
"ibu mana?" Sambungku setelah menyalami ayah.
"Nanti ayah yang pamitkan kamu ya,kondisi hati ibu sedang kacau melihat kamu terkenal" ujar ayah dengan senyum lebarnya. Aku menggangguk. Heran dengan sikap ibu, ibu tidak pernah dekat denganku dan jarang sepemikiran dengan otakku. Namun bagaimana pun aku tau ibu sangat menyayangi ku.
Aku berangkat dengan mobil jazz biru mudaku. Pak parman mengantarkan aku ke bandara Adisucipto Yogyakarta.
__ADS_1
Di Jawa Tengah yang ku singgahi ,hanya Bandara Adisucipto yang menyediakan penerbangan langsung ke Medan. Berbeda dengan bandara Adi Soemarmo di Solo dan bandara Ahmad Yani di Semarang yang mengharuskan penumpang transit di Jakarta.
"Mbak yasmin,ada titipan dari bapak." pak Parman memberikan amplop kepadaku.
Aku tau itu adalah uang. Kebiasaan ayah memberikanku uang saku,padahal aku sudah punya pendapatan sendiri meskipun tak seberapa.
Bandara ramai,kulihat sebagian dari mereka ada yang menangis memeluk saudaranya yang akan merantau barangkali. Ada juga seorang ibu dan anaknya melambai lemah penuh air mata di pipinya pada seorang laki laki.
Dan ada juga yang tertawa lepas menggendong anaknya yang berumur 4 tahun melepas rindunya. Bandara adalah tempat untuk menangis. Kutahu itu,ada yang menangis karena bahagia,ada juga yang menagis karena jeritan hatinya melepas orang yang dicintainya.
Langkahku sampai pada kursi nomor 5A pesawat dengan corak hijau muda Citilink. Deru pesawat nyaring terdengar,rintik gerimis tidak menghalangi penerbangan ini.
"Prepare for take off"
Ucapan pilot terdengar dari pengeras suara membuat deru mesin makin kencang,pesawat mulai berjalan mengambil posisi dan berlari dengan kecepatan maksimal kemudian mengangkat badan besinya meninggalkan landasan udara Yogyakarta.
Di sampingku seorang lelaki yang mungkin umurnya tak jauh dariku. Sekilas aku melihatnya.
"Ehm mbak ?" Sapanya sambil membenarkan kacamata.
"Ah iya mas ? Kenapa?"
"Mau ke Medan ya?"
"Sama dong. Kitakan satu tujuan." merasa aneh aku bertanya hal itu pesawat kan hanya ada satu rute nggak berhenti berhenti. Memang nya bus. Haha
"Saya mau pulang kampung,mau ambil cuti kuliah. " ia berkisah. Aku hanya iya iya saja mendengar ia berceloteh.
"suka baca ya..?" tebak ia, matanya mengedar dari pucuk kepalaku kemudian terpusat pada satu buku di bawah camera.
"sedikit."
"belum nikah ya? Mau gak saya jodohin sama seseorang?" pertanyaannya kali ini membuat aura marahku keluar. Mataku melotot sejenak memandang sengit ke bola matanya, aku tak menjawab kemudian ia teridam.
Mataku mengedar keluar jendela pesawat,diatas awan ini tak nampak satu pun atap rumah.
Pesawat sudah di jalurnya.
terkadang hidup ini tidak bisa di tebak dengan penampilan saja. Bahkan lebih banyak orang mengira aku sudah menikah hanya karena menulis buku pra-nikah.
Aku tertidur pulas selama 1 jam 55 menit. Penerbangan terlama yang pernah kulalui memakan waktu 2 jam 55 menit untuk rute Yogyakarta ke Medan. Pramugari memintaku agar memasang sabuk pengaman karena pesawat akan segera mendarat di bandara internasional Kualanamu Medan. Mataku beredar keluar jendela waktu setempat menunjukkan pukul 18.30 namun semburat jingga dari ufuk barat memantul dan memenuhi langit. Matahari akan segera pergi,keindahan senja nampak sudah menuju puncaknya. Warna keemasan berpadu dengan langit ungu dan memerah indah.
"Prepare for landing"
Pilot mengingatkan kami,pesawat miring sempurna kemudian mengambil posisi,perlahan pesawat mulai mendekati landasan. Kulihat lampu lampu di kota Medan dari ketinggian ini bagaikan ku melihat bintang di langit malam. Indah luar biasa.
Pesawat mendarat.
__ADS_1
"Selamat datang Sumatera Utara"
Mengenang masa itu memang tidak ada habisnya. Kadang kenangan indah itu tak selalu di abadikan dengan kamera. Cukup di simpan di dalam hati. Kemudian membekas untuk waktu yang lama, bahkan selama lamanya,sampai nyawa ada di ujung batasnya.
"Pertama kali aku melihat kamu di bandara ini, pak dosen"
Ucapku pada suamiku,ia tersenyum manis namun wajahnya lesu menatapku sebelum menempelkan kartu Brizzi di gerbang tol Bandara Kualanamu.
Pimmm pimmmm
Belakang kami sudah mengantri menyadarkan kami bahwa ternyata cukup lama kami beradu pandang.
"Baru saja aku memandang kamu,sudah tiga mobil mengantri di belakang kita. Bagaimana jadinya kalau aku mencium kamu. " ucap suamiku. Selera humor nya mulai lagi. Aku selalu membalasnya dengan tersenyum.
"Dulu saat pertama kali aku melihat mu dik. Dibawah sana" ia berkisah aku menatap keluar jendela.
"Kamu berdiri lama,aku pun berdiri lama. Hanya karena salah menyebutkan warna baju yang kamu pakai aku kesulitan mencari kamu. Dan lebih herannya lagi aku sudah melihat fotomu di Instagram kala itu, namun aku tidak mengenal wajahmu. Sebab yang asli lebih cantik dan anggun dari pada yang di foto." Ia memujiku,aku tersipu malu,kupukul lengannya.
"Haaa kan wajahmu memerah lagi" ia meledekku sekarang.
"Berapa lama lagi mas aku di sini bersamamu?" Tanyaku berusaha menyembunyikan air mata.
"Masih ada waktu 30 menit, aku bantu kamu chek in dulu,dan memasukkan tas ke bagasi. kamu bawa mobil ke parkiran bawah,cari yang dekat dengan lapangan udara ya."langkah panjangnya meninggalkanku.
Aku bergegas memarkirkan mobil tepat sesuai yang di inginkan suamiku.
20 menit lagi. Bandara yang sangat luas membuat langkahku harus di percepat. Saat kita akan memutuskan untuk berpisah seperti ini kadang waktu yang kita lalui makin cepat.
Seperti sekarang. Aku ingin menghabiskan waktuku berdua dengannya selalu.
Mata kami beradu pandang. Alis tebalnya,bulu matanya yang lentik,hidungnya yang mancung,badan tinggi nya yang atletis. Aku berlari menghambur dalam pelukannya. Air mataku tumpah. Sungguh aku akan merindukan suasana ini.
Aku akan rindu kota Medan dengan cuaca panasnya. Aku akan rindu kebersamaan dengannya. Aku akan rindu dengan humornya. Aku akan rindu dengan pelukan rangkuhannya menenangkan hatiku saat terluka. Aku akan sangat merindukan kebersamaan dengannya.
"Sssst tengok sini" ia memegang daguku agar mata kami bertatap.
"Aku akan segera menyusul kamu,gak lama sayang, gak apa apa .." ucapnya membuat kaki ini terasa lemas ingin bersimpuh ke bawah.
"selalu pakai masker aku mohon.." pintanya padaku karena akhir ini virus Corona merebak di berbagai negara, termasuk negeriku tercinta Indonesia.
Panggilan pertama pesawat citilink menuju Yogyakarta terdengar di telinga kami. Aku memegang erat tangannya. Hatiku ingin menjerit aku menatap matanya. Aku memastikan bahwa aku akan baik baik saja walau terpisah dengannya.
"Nanti lihat aku di samping mobil. Aku akan menghormati kepergian pesawat sampai tak terlihat dari mataku." Kali ini nadanya mulai tercekat di tenggorokan. Aku melangkah meninggalkannya.
Hatiku berkata lain.
Aku tidak tau apakah akan ada perjumpaan lagi setelah hari ini aku meninggalkannya. Ia melepas kepergianku dengan air mata yang tertahan di pelupuk matanya dan senyum yang hendak berubah menjadi tangis di wajahnya. Aku memasuki pesawat dengan pikiran yang mengawang..
Perpisahan selalu berakhir pilu.
Selamat Jalan Sumatera Utara
Bandara ini akan menjadi saksi bisu. Aku pernah menatapnya dan jatuh cinta padanya lagi dan lagi.
__ADS_1