
5 maret 2020
Hari bersejarah, hari terindah, hari bahagia, hari senyuman, hari tertawa. Aku masih bingung untuk menamai hari ini,yang pasti kebahagianku dan rasa semangatku begitu memuncak luar biasa, sore nanti hilang rasa
khawatir dan takutku, sore nanti akan hilang kesedihanku, sore nanti orang yang selalu hadir dalam khayalanku akan menginjak pulau jawa.
Mobil biru mudaku terjual, ayah memutuskan untuk menjual mobil kesayanganku sebab tidak ada yang memakainya selama aku tinggal di Medan. Iyya tentu saja, aku sudah memikirkan hal itu sejak awal aku mengangkat kaki akan meninggalkan rumah ini. Aku tahu bahwa ayah tidak akan sempat untuk sekedar memanasi mesin mobilku atau membawa si biru mudaku yang cantik berjalan jalan. Ayah sangat sibuk tentunya, dengan seragam PNS yang rapi, selalu terlambat 5 menit hanya karena terjebak macet, dan selalu membawa beberapa pekerjaan ke rumah pohon sebab ketiduran di ruang kerja. Sampai sampai aku mengusulkan padanya agar meminta izin kepada bapak Bupati agar jadwal kerjanya di ubah menjadi malam. Sebab ayah bisa berpikir dengan jernih dan fokus jika bulan sudah menggantikan posisi matahari di langit yang luas ini. Begitulah ayah si rambut keriting yang selalu memanjakan yasmine Adelia, aku.
"bawa beberapa makanan ya, air minum dan juga handuk." ujar ibu sambil membopong tote bag.
"ibu taruh di jok belakang kamu."
Belum sempat ku jawab karena mulutku masih menyimpan air minum yang tertahan di tenggorokan ibu sudah tergopoh berjalan ke depan. Ibu satu satunya wanita paling tua di sini, umurnya sudah setengah abad, ibu sangat menyayangi Firhan, seperti anaknya sendiri. Tentu ibu sangat menyayangi dan memberi banyak perhatian kepada suamiku, sebab ibu telah kehilangan seorang lelaki dalam keluarga kami. Dia anak ibu yang kedua, ia meninggal saat umurnya masih kecil, kelas satu Sekolah Dasar. Tentu banyak kenangan yang sudah terlukis antara kakakku yang telah meninggal dengan ibu. Yang aku tahu begitu, oleh karenanya ayah memutuskan untuk pindah lokasi kerja, menjauh dari kenangan dan kisah kisah yang sudah terlukis, menjauh dari nenekku di Batang, tepatnya di bawah pegunungan teh Pagilaran.
Setelah itulah ayah memulai semua kegiatan barunya, ayah mengambil S2 di jurusan kehutanan, merintis kemudian mengajukan surat pindah dari Kota Batang menuju Dinas Budaya dan Pariwisata Yogyakarta. Ayah menjaga hutan, alam, dan seluruh tempat wisata di Kota Budaya ini. Saat ayah sukses aku lahir ke dunia 20 tahun yang lalu. Aku hanya mendapatkan manisnya saja. Tidak kenal perjuangan atau susah payah merintis kehidupan. Begitulah aku, nasib putri bungsu.
"Jangan lupa bawa payung, mana tau hujan nanti."
Jika ibu sudah mengingatkan tentang payung, tandanya tidak ada lagi pesan yang akan di sampaikan olehnya. Aku tersenyum pada ibu dengan sumringah, aku tampakkan bahagia ini, aku tidak ingin ibu tau bahwa aku selalu terpuruk selama berpisah dengan Firhan, namun karena aku tidak pandai dalam berdusta aku selalu ketahuan.
Aku beranjak dari ruang makan menuju ke dalam mobil, mengirim pesan untuk Firhan, mengabarkan padanya bahwa aku akan mulai meninggalkan area rumah menuju ke bandara Adi Sucipto Yogyakarta.
Sebuah emoticon love dikirim untukku.
Hatiku berdebar, tidak sabar ingin segera memeluknya dan kembali menjalani kehidupan seperti sediakala, saat aku tertawa, dan bahagia menjadi istrinya.
Cuaca yang cerah mendadak tertutup awan abu abu, aku bahkan lupa membawa payung karena terlalu fokus membawa laptop dan hardisk berisi puluhan film agar aku tidak suntuk nantinya jika ternyata ada kemungkinan pesawat telat mendarat.
Jalanan menurun sudah usai, aku meninggalkan kawasan bukit pinus dan melaju ke jalanan datar, pusat perbelanjaan masyarakat di bawah bukit yang aku singgahi.
__ADS_1
Mungkin semua orang tahu, hanya Bani Sayyaf-lah satu satunya rumah yang tinggal di perbukitan, dan sebuah villa di sisi rumah kami yang sangat ketat penjagaannya, jika ada pasangan yang akan menginap mereka harus menyerahkan bukti surat nikah terlebih dahulu, jika tidak ada maka tidak ada penginapan untuk pasangan itu. Namun berjalannya waktu, beberapa pasangan cukup menunjukkan foto pernikahan mereka,tidak payah lagi membawa buku pernikahan.
Lampu sen ku nyalakan ke kiri, tak ada mobil di belakangku, namun bagaimana pun ini adalah peraturan yang sudah menjadi kebiasaan, aku tidak mau mengalami kecelakaan atau memakan korban hanya karena lampu senku tidak menyala, dan lebih tepatnya aku tidak ingin mempunyai kenangan buruk di jalan raya. Toko bunga langgananku masih tertutup, mungkin 5 atau 10 menit lagi mereka akan buka,aku putuskan untuk menelpon Firhan. Satu kali dua kali bahkan tiga kali sampai akhirnya toko bunga milik gadis yatim itu terbuka sedikit demi sedikit. Mungkin Firhan sedang mandi, pikirku singkat dan meletakkan telepon di dasbor.
Jendela mobil kuturunkan perlahan, mata sipitku menyelinap di antara dua kaca yang sengaja tidak ku buka lebar lebar, gadis berambut ikal itu langsung mengenaliku dan menghampiri mendekat ke mobil yang terparkir tepat di depan toko bunganya.
"hai kak, mau ambil pesanan ya.." sapanya ramah, aku menurunkan kaca mobil lebih lebar lagi.
"iyya, bagaimana sudah jadi tiara..?"
"sudah, mudah mudahan kakak suka. Sebentar ya."
Tak lama ia muncul dari ambang pintu di antara bunga bunga hias yang mengelilingi dan memenuhi tokonya. Buket besarku ia bawa dengan dua tangannya yang kurus, padahal aku sangat berharap ia bisa melupakan kenangan buruknya di masa lalu.
Malangnya gadis itu, ia tersenyum ramah namun menyembunyikan sejuta masalah.
"ini kak.." ujarnya membuat lamunanku buyar.
"Tiara diskon 50% jadi 150 ribu saja kak."
"loh enggak gitu lah Tiara, kakak bayar penuh okkay."
Tanganku merogoh tas yang tergeletak di samping kursi kemudiku, aku sodorkan uang 100 ribu tiga lembar, dengan berat hati rasanya ia menerima, aku tau dari mimik wajahnya yang sedang merasa bersalah, padahal ia tidak sedang meminta minta.
" sayyang, itu hak kamu loh.."
"Tiara sampai bingung mau kasih kakak balasan apa kalau gini." jawabnya penuh kebingungan
"sebentar ya kak, tunggu bentar.."
__ADS_1
Berlari ia menuju ke dalam tokonya kemudian bergegas lagi menuju ke samping pintu mobilku sambil membawa buket mawar biru berpadu dengan putih susu yang ia buat dengan kain flanel.
"aku mohon jangan di tolak, kakak sudah banyak mendengar ceritaku, dan kakak bisa buat aku kayak Tiara yang dulu lagi."
Aku tersenyum menanggapinya, aku ulurkan tanganku menggapai buket mawar biru yang indah itu. Dari tangannya yang kreatif bisa menghasilkan kebahagiaan untuk orang di sekitarnya seperti aku. Sebab aku orang yang selalu menyerah jika harus berurusan dengan kerajinan tangan dan seni.
"kak, kemungkinan aku tidak akan di sini lagi. Aku akan pindah ke Jakarta besok. Di sana ada paman, kakak dari almarhum ayah. Kebetulan paman berkerja di bandara, jadii yaaa aku mencoba untuk membuka buket di dekat sana." ucap Tiara membuatku merasa tersentuh luar biasa, tidak menyangka ini akan menjadi akhir pertemuan kita setelah 3 tahun saling kenal.
"Ya Allah.. Betul kamu meninggalkan kota ini..?" tanyaku meyakinkan Tiara. Senyumnya tulus dan ia mengangguk. Aku memahami bagaimana hidup Tiara setelah ayahnya meninggal, tentu bukan hal yang mudah di usia yang masih sangat belia harus hidup sebatang kara. Hanya kenangan yang tersisa jika Tiara tetap di sini dan itu akan memperburuk kesehatannya meskipun nampak baik baik saja.
"ya sudah, jadi anak baik ya, jadi sholihah."
Aku mengeluarkan hadiah dari dalam mobil untuknya, aku tidak menyangka jika hadiah ini akan menjadi hadiah perpisahan untuknya.
"itu jilbab, warna kesukaan kamu hijau daun pisang, warnanya cerah mudah mudahan kamu suka."
"makasih kakak...." ucap Tiara. Aku tersenyum menjawabnya.
"jangan lupa selalu pakai masker, banyak virus akhir akhir ini, semoga kamu sehat selalu.." sambungku
Setelah berpamitan dengan Tiara, aku kembali memacu kecepatan mobil, meninggalkan sosok manis penjaga Toko Bunga warisan ayahnya. Tiara gadis yang baik, sekarang umurnya 18 tahun. Setelah mengalami masa masa sulit saat ayah dan ibunya bercerai ia melampiaskan kekesalannya dengan jalan yang rumit, ia banyak berkenalan dengan lelaki hidung belang, sampai pada akhirnya ia harus kehilangan mahkota yang harusnya ia simpan dan ia jaga. Aku bertemu dengan Tiara dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, aku menyayanginya, aku yakin dia akan berubah, dia pribadi yang baik, dia keluar dari jalur karena pelampiasan saja. Aku yakin hati kecilnya masih murni dan tentu ia ingin bahagia. Tiara mengaku padaku bahwa dia ingin berubah seperti dulu lagi. Dan aku berusaha meyakinkannya.
Namun sesal Tiara menjadi berkepanjangan, sebab mantan pacar Tiara membuat Tiara harus kehilangan satu satunya lelaki terbaik di dunia,ayahnya. Hal itulah yang membuat Tiara kadang menangis dan hampir depresi, ia terlalu merasa bersalah. Dia menganggap bahwa mantan pacarnya membunuh ayahnya lantaran tidak terima di putus olehnya.
Langit gelap berubah menjadi hujan, aku berhenti sejenak di bawah naungan pohon yang usianya mungkin puluhan tahun, nampak sangat tua dari batangnya yang melebar. Memandangi hujan yang menempel mesra di kaca mobilku, sambil menunggu teleponku bergetar tanda Firhan memanggilku.
Doaku kali ini, mudah mudahan Allah berikan yang terbaik untuk hidup Tiara yang kesepian, kemudian Allah pertemukan aku dengan suamiku dalam keadaan sehat.
Hujan, menderaslah..
__ADS_1
Sederas rinduku padanya.
Sederas ingatanku tentangnya.