
"Ku ingin saat ini engkau ada disini
Tertawa bersamaku seperti dulu lagi
Walau hanya sebentar tuhan tolong kabulkan lah, bukannya diri ini tak terima kenyataan..
Hati ini hanya rindu.."
"suara kamu bagus soalnya menggema, coba nyanyi di luar, jeleknya kelihatan." komentar kakakku dengan lancarnya bagai kereta api, aku sudah terbiasa dengan hal itu. Asyik ku dengar dengan earphone lagu favoritku tadi.
Seharusnya lagu itu di tujukan untuk mama, namun setiap ku dengar lagu itu, ingatanku langsung tertuju pada Firhan, Aku hanya rindu.
Bulan maret yang sangat pilu berlalu, dunia tetap berputar, orang orang masih dengan aktivitas mereka meskipun ada seseorang yang kami sayangi pergi. Air mata sederas apapun tidak akan mengubah keadaan, takdir tetaplah takdir. Hanya saja dengan menumpahkan air mata, ada sejuta kelegaan dalam hati, ada banyak stok udara yang bisa di hirup lebih banyak, tidak sesak. Di awal musim panas ini aku masih sama seperti bulan lalu, aku menjadi pribadi tertutup, tak pernah berbicara kecuali seperlunya, padahal aku sudah berusaha untuk kembali seperti dulu, namun sia sia. Semua telah berubah, semua tentangku yang aktif, ramah, supel hilang begitu saja sejak Firhan menghilang dari kehidupan ini.
Aku menghela nafas dengan berat.
Kakakku melirik dari balik ponselnya yang berdekatan dengan wajahnya.
Suara dua ksatria mungil yang sedang bermain pedang api imajinasi mereka membuat ribut suasana. Itulah sebabnya aku selalu mengenakan earphone saat kedua tentara kecil itu beraksi dengan khayalan mereka yang asyik.
Alisku terangkat, bahasa isyarat yang sangat tepat untuk bertanya kepada wajah cantik di balik ponsel yang sedari tadi melirikku.
Terjemah dari isyarat itu adalah "apa liat liat" dengan nada yang sewot. Namun kakakku kembali fokus lagi dengan ponselnya. Barulah aku tersadar bahwa ia tidak serius dalam melirikku, dia hanya berpikir keras dan kebetulan aku lah yang ada di seberangnya.
Mataku tertuju pada kaca besar dan panjang menggantikan posisi dinding, semenjak tidur di villa puncak belakang rumah nenek, aku lebih suka untuk duduk di dekat lubang perapian, di atas sofa putih dengan bulu tebalnya yang menghangatkan kaki menghindarkan siapapun yang duduk di atasnya dari dinginnya pegunungan teh Pagilaran. Dari kaca besar yang bening, kubuka lebar lebar tirai putih ke sisi sisi kacanya, hingga nampak seperti sebuah lukisan nyata pemandangan bukit bukit di luar villa yang berjajar dan sesak di penuhi tumbuhan teh. Dan keindahan puncak yang aku sukai ketika duduk di sofa atau mematung di dekat kaca adalah panorama air terjun yang begitu kelihatan saat musim panas tiba, jika musim dingin tentu pemandangan seindah ini akan tertutup kabut tebal. Hawa dingin tetap merasuk ke sela sela pori dan selalu mencoba untuk membekukan tulang tulangku agar nyeri.
"mbak.." aku memanggil kakakku yang asyik bermain ponselnya.
Aku yakin ia tidak bisa berkirim pesan, ada guratan kecewa dan lesu di wajah anggunnya yang seputih bengkuang. Aku dan kakakku sama sama putih, hanya saja putihku tidak sepertinya, putihku lebih condong ke warna langsat. Ia bermata lebar dengan bulan sabit di atas matanya, sedangkan aku bermata sipit. Ia mempunyai bulu mata yang lentik, sedangkan aku tidak.
Kakakku tidak bisa berbicara di depan umum sedangkan aku lawan dari sifatnya. Meskipun demikian aku dan kakakku akrab dan tak pernah membeda bedakan tentang kami.
Aku ingat ucapannya semalam, bahwa ia merasa sangat menyesal pergi dari keramaian rumah sakit, seolah olah ia tidak mau berbaur dengan virus yang sudah tersebar ke mana mana. Baru baru ini satu orang positif di wilayah Kabupaten Batang.
Kakakku tidak menjawab, ia hanya menengklengkan kepalanya ke sisi kiri membiarkan ponselnya tetap mematung di tangannya. Sangat muram ia malas untuk berbicara.
"memangnya ponselmu ada sinyal..?" tanyaku lagi padanya, mungkin mengawali pembicaraan lebih baik daripada sama sama terdiam di sofa dengan pikiran yang selalu beterbangan. Pancinganku berhasil akhirnya ia membuka suaranya.
"enggak ada lah. Kita di pegunungan, meskipun tempat kita paling tinggi, tempat kita sangat sulit di masuki sinyal." dengan lambat jelas dan malas ia menjawab pertanyaan yang aku pun sudah tahu jawabannya.
Akhirnya kita kembali fokus dengan kesibukan yang aku pun tidak pernah mengerti jenis kesibukan apa untuk dua orang seperti kami. Ia dengan ponsel dan galeri fotonya. Aku bersama ponselku dan musik musik perpisahan yang pilu.
Aku rasa kakakku merasa tidak nyaman jika terus terusan di sini. Namun ibu menuntutnya untuk berada di rumah selama pandemi. Aku tahu perasaan ibu, bagaimana khawatir yang ia rasakan saat putrinya harus berkecimpung di dunia kesehatan, menolong banyak orang, dan harus berhadapan dengan virus yang tak kasat mata. Jika virus terlihat tentu banyak orang akan menghindarinya. Andai ada teknologi baru yang menciptakan kacamata pendeteksi covid.. Hmm khayalanku selalu berlebihan, mungkin karena aku sudah menjadi korban khayalan kartun doraemon kesukaanku. Aku memutar otak mencari cara agar kakakku bisa kembali ke dunia medisnya, dan aku bisa ke kota untuk menghidupkan notifikasi handphoneku yang nyaris tak pernah berbunyi kecuali hanya alarm di setiap subuh.
"mbak, yuk ke rumah sakit. Biar aku yang membujuk ibuk." mendengarku berucap dengan antusias kulihat matanya berbinar binar. Ia mengangguk dengan semangat.
"gimana caranya..?" tanya kakakku sambil menurunkan kakinya yang sedari tadi ia peluk.
"gampanglah. Aku tahu kok kamu kangen sama pasien." ujarku. Aku melepas earphone yang menutupi lubang telingaku. Aku ngeloyor meninggalkan kakakku, teringat sesuatu yang penting akhirnya aku berbalik.
"tapi ajak aku ya. Nanti ku jaga aydin sama si Fatih." negoku tanpa meminta persetujuan.
Langkah langkah kecilku mulai mencari ibu. Mudah saja meminta izin dengannya. Kulihat ia sedang sibuk memupuk bunga bunga baru di secreet garden yang sudah di sulapnya seperti hutan yang indah dan teduh. Ibu meminta izin nenek untuk memindahkan tempat menjemur baju ke tempat yang lebih terang dan terpapar matahari, meskipun tak sempurna. Jarang sekali menjemur pakaian dalam waktu satu hari langsung kering, pun ketika kering tiba tiba kabut datang menyelimuti dan pakaian menjadi dingin serta lembap. Aku tidak menyangka bahwa tempat jemuran lama akan berubah menjadi tempat pencuci mata, ibu susun bunga bunga aster dan lily air berjajar dengan bunga alamanda yang tersusun acak namun cantik. Bonsai bonsai mahal yang ada di rumah Yogyakarta berpindah ke Pagilaran. Ayah yang membawa bonsai itu kemari dengan menyewa sebuah mobil truk untuk memindahkan pohon raksasa itu dari halamanku dulu.
"ibuk..." aku memanggilnya dan duduk di atas batang pohon yang sudah di oplas menjadi tempat duduk taman. Ibu membenarkan kacamatanya yang sudah melorot ke hidung sambil berhenti dari aktifitasnya sejenak saat menolehku.
"hmm..." ia hanya bergumam dan berganti memupuki bibit aster yang mungil.
"ini kan udah bulan april, dan cuacanya lumayan cerah, aku mau ke kota ya. Mau lihat perkembangan tiga kesayanganku di dokter kandungan." aku tersenyum manja padanya saat ia melihatku, tatapan ibu galak sekali jika sedang sibuk, seperti orang yang tidak bisa di ajak dialog saat sedang fokus terhadap pekerjaannya.
" mau sama siapa memangnya..?" tanya ia kemudian setelah beberapa detik terjeda untuk berpikir.
"mbak Nur mau antarkan, dan juga pakaian Aydin, Fatih habis di sini."
"memang cucuku yang dua itu sukanya main basah basahan sampai baju habis, memang gak pernah paham anak kecil tu, namanya pegunungan itu panasnya enggak maksimal, jemuran numpuk sampai gak ada lapak untuk jemur." ibu justru mengomel mengomentari dua keponakanku. Aku memutar bola mataku. Bingung apa yang akan aku ucapkan lagi jika ibu tidak mengizinkanku pergi dengan kakak.
"ya sudah, hati hati ya. Jangan salaman sama orang, di pakai maskernya, pakai hand hand itu.." pinta ibu kemudian membuatku menghela napas lega.
"hand sanitizer buk.." ralatku pada kalimatnya yang membingungkan. Ibu meringis saja seperti seorang yang masih muda. Banyak orang yang tertipu dengan wajah ibu yang tampak muda dengan kulit bersihnya yang putih. Hanya beberapa lekukan di pipinya yang sedikit terlihat ketika ia tersenyum lebar. Setiap orang yang baru mengenalnya akan mengira ia berusia 40 an padahal ibu sudah setengah abad lebih tiga tahun hidup, aku selalu berharap ibu di berikan umur yang panjang. Aku tidak pernah dekat dengannya, dan baru baru ini aku dekat karena ayah tidak ada di dekatku. Ayah tidak di izinkan pindah ke Kota Batang, tentu kami sedih mendengarnya. Meskipun berulang kali ayah memastikan bahwa ia baik baik saja.
__ADS_1
"toh ada bu Lastri sama pak Parman." begitu jawabnya saat kami khawatir ia akan kesepian. Ayah yang tangguh, aku mencintainya dan sekarang aku belajar dekat dan mencintai ibu.
"heh kok melamun, sana siap siap." tukas ibu sambil menyenggol badanku.
Aku angkat kaki dan kembali menuju villa tempat kakakku sedang menghangatkan badan di depan perapian. Kusampaikan padanya bahwa siang nanti kita bisa ke kota, dia akan menemui suaminya yang jarang pulang ke rumah kemudian sibuk dengan beberapa pasiennya dan aku akan melakukan pemeriksaan pada kembarku kemudian sibuk dengan ratusan atau bahkan ribuan notifikasi pada ponselku. kulihat matanya benar benar bahagia saat ini,ia memainkan senyumnya padaku dan melompat lompat seperti anak kecil. Aku yakin ini akan membuat kelegaan padanya walau sebentar.
"kamu harus berusaha bahagia, belajarlah bersikap bahagia luar dan dalam." ujar kakakku dari belakang kemudi sambil merangkul kedua buah hatinya yang nampak pucat ketakutan. Kebiasaan buruk dua keponakanku jika ada orang lain selain ayah dan ibunya yang membawa kemudi mobil.
Aku tersenyum, mata kami bertatapan sekilas lewat kaca mobil.
"aku sedang berusaha.." ucapku pelan dan jelas.
"iyya. Mbak tahu.. Bagaimanapun kamu sudah lebih hebat dari bayangan kami. Ayah dan ibu sempat bingung dan cemas memikirkan kamu jika terus menerus menyendiri." jawab kakakku sambil melempar pandangan keluar jendela mobil.
Lalu lintas tidak padat, jalanan longgar, sekolah sekolah di liburkan, banyak orang yang mulai mengaku jenuh berada di rumah mereka, toko toko yang biasanya terjejal sesak oleh pembeli nyaris tak terlihat hari ini.
Pengumuman social distancing dari pusatlah yang membuat orang orang menjaga jarak, keluar dengan menggunakan masker untuk menutupi hidung dan mulut mereka, dan sekian persen orang orang memilih untuk tetap tinggal di rumah. Hanya saja hati ini sangat miris dan iba untuk melihat dan membayangkan orang orang yang tidak bisa untuk tetap di rumah saja karena tertuntut pekerjaan, mereka yang menjadi tulang punggung keluarga, anak anak yang bisa kelaparan saat satu hari saja ayahnya tidak bekerja. Seperti yang ku lihat di perempatan lampu merah ini, bapak tua dengan masker lusuh yang harusnya di cuci, memandang ke sana kemari ke arah jalanan yang tak ada satupun pejalan kaki. Aku tidak tahu persis apa yang ia rasakan saat ini, dimana mungkin isi dopetnya kosong sama sekali,dan ia akan kebingungan ketika wajah polos anak anaknya menanti di rumah. Air mataku menggenang dan langsung ku seka sebelum jatuh ke pipi.
"aku juga kasihan kadang jika melihat nasib orang orang di bawah kita."
Ucap kakakku yang ternyata sedari tadi memperhatikanku dari pantulan kaca mobil.
Aku tersenyum menoleh ke belakang, melihat dua orang yang tadi pucat dan ketakutan sedang tertidur.
Aku kembali meneruskan perjalanan, tak lama kami sampai di tujuan, kami berhenti di depan rumah sakit swasta tempat mas Abbas, suami kakakku bekerja, kami menunggu di dalam mobil dekat pintu UGD. Sosok berbadan gempal mancung dengan jas putih yang menyelimuti baju biru keluar dari pintu UGD, matanya menyorot pada mobil kakakku, ia tersenyum bahagia sekali. Kakakku langsung keluar, tanpa sentuh, tanpa berjabat tangan, rindu di bayar dengan saling pandang dan komunikasi. Tak jauh beda dengan video call whatsaap. Bisa bicara, bisa melihat, tak bisa menyentuh. Tak lama kemudian mereka jalan beriringan mendekati mobil, jendela belakang ku buka lebar lebar agar nampak dua buah hati mungilnya yang tidur di jok.
"ibu hamil nyetir." ledeknya sambil tersenyum
"ibu hamilnya kuat dong." balasku meledeknya. Ia kembali memandang ke arah belakang melihat kedua putranya.
Aku tahu dari mata mas Abbas ia ingin sekali menyentuh kedua anaknya, sangat rindu tentunya selama satu pekan tidak pernah berjumpa. Apalagi di desa nenek yang jauh dari komunikasi modern, apalagi sinyal.
Aku menghela nafas panjang. Merasakan betapa beratnya perjuangan kedua kakakku, mereka pahlawan terbaik untuk masa seperti ini. Kakakku berpamitan, kulihat air matanya mengambang di pelupuk matanya yang cepat cepat ia seka dengan punggung tangannya. Aku tidak mau melihat pemandangan itu, aku buang pandanganku jauh jauh untuk mengalihkan hal tersebut.
Pintu mobil di banting ringan setelah kakakku masuk ke dalam, sekarang ia duduk di sampingku, membuang muka agar tidak terlihat kesedihannya. Dia diam selama perjalanan dan aku tahu dia bersedih.
Kudengar berkali kali getar ponselku tiada henti, aku yakin lebih dari seribu notifikasi yang masuk. Aku menginjak gas dalam agar cepat sampai di perumahan kakakku.
"belok kanan, ke kiri terus lurus dan sampai."
Google map saja akan pelan pelan jika berbicara, namun ia justru berbicara ngerocos secepat kilat tanpa jeda, titik ataupun koma.
"yup kita sampai.." ujarku membuat kedua mata kecil itu terbuka dengan berat terpapar matahari yang menyengat. Malas malas ayam mereka masuk ke dalam, kakakku tetap di mobil untuk segera pergi ke rumah sakit tempat ia bekerja. Kulambaikan tangan setelah mobil berlalu.
Langsung ku ambil ponsel yang sedari tadi bergetar di saku. Notifikasi berita kubuka lebih awal, semuanya tidak berubah,covid-19 makin merebak, terutama di jakarta ibu kotaku yang terkenal dengan tanah abangnya.
Dan negara yang paling parah dengan jumlah pasien terbanyak adalah italy, aku menghembus nafas berat berulang kali. Kubuka whatsaap dengan beberapa pesan tanpa nama. Panggilan demi panggilan tak terjawab dari nomor yang tak tau siapa, kebanyakan seorang lelaki dan lebih banyak lagi wanita, ku buka satu persatu foto profil whatsaap mereka, namun aku tidak mengenalnya sama sekali, atau bahkan pernah bertemu. Aku membuka pesan yang masuk dua hari yang lalu tepat pada tanggal 3 april 2020, kubaca berulang kali pesan dari nomor asing tersebut.
'' ini aku Firhan dik, kamu tidak pernah aktif. Sudahkah kamu membaca pesan pesanku."
Aku tidak mampu menahan air mataku, ku pencet tombol dial memanggil, hingga berubah menjadi berdering. Aku harap pemilik ponsel ini bisa memberikan kabar terbaik untukku.
" halo... "ucapku parau, hatiku penuh harap meminta agar suara yang mucul adalah suara yang saat ini aku rindukan.
" halo... "jawab seseorang yang asing dari seberang.
"pak maaf, dua hari lalu ada yang pinjam ponsel bapak..?" aku benar benar berharap, air mataku jatuh, suaraku berubah.
"iya betul neng,laki laki." nada sunda fanatik keluar dari suaranya menjawabku.
"bapak tau dimana orang itu pak..? Boleh saya bicara pak..?" aku meminta, lebih tepatnya memaksa pada kalimat terakhirku.
"wah punten neng, bapak teh nggak tau."
"oh ya sudah pak. Terimakasih.."
Harapan yang pernah hilang, semangatku yang pernah pudar, kegelisahan yang sedikit terbayar. Aku bahagia namun aku perlu mencarinya. Aku benar benar rindu, aku ingin bertemu. Kuseka air mata yang jatuh berkali kali.
Satu persatu pesan kubuka, totalnya saat ku baca ada 9 pesan dan di tiap nomor itu sudah memanggilku sedikitnya empat kali.
__ADS_1
Aku mulai membaca satu persatu, mulai dari tanggal 24 maret 2020 tepat satu hari setelah aku tiba di rumah nenek. Sesalku, umpatanku, dan semua jenuhku pada jiwa ini. Jiwa yang tidak sabaran. Andai aku bersabar sedikit untuk tetap tinggal di Yogyakarta. Dan tidak menetap di desa kecil tanpa sinyal. Aku ingin menggertak namun ku tahan.
**24 maret 2020.
09:22
"dik,kamu tidak menjawab telepon. Ini aku Farhan. Aku minta maaf baru mengabarimu sekarang. Aku meminjam ponsel seseorang. Aku janji akan pulang. Aku terkena musibah. Dan ada banyak cerita yang ingin kusampaikan padamu. Kamu baik baik saja kan? Aku mohon jangan khawatir. Aku laki laki 😊"
(+628399921365)
25 maret 2020
20:24
"dik,kamu tidak menjawab telepon lagi. Apakah ponselmu mati? Kenapa? Apakah kamu baik baik saja. Aku akan berusaha datang ke rumah. Aku janji. Sehat sehat istriku."
(+6282653251222)
26 maret 2020
11:01
"dik,aku masih berusaha untuk mendengar suara kamu, aku harap kamu online saat ini. Bukankah ini jam onlinemu? Aku akan mencari orang baik lagi untuk ku pinjam ponselnya. Aku minta maaf istriku, ponselku menghilang 😢"
(+62813347621)
27 maret 2020
07:05*
"dik. Ponselmu kenapa? Apakah kamu sengaja mematikannya? Aku selalu berharap kamu baik baik saja. Maaf memenuhi pesanmu dengan ketidak pastian. Aku janji aku akan bercerita padamu nanti."
(+6285223450980)
28 maret 2020
17:45
"nomormu tidak pernah aktif lagi, aku minta maaf ya belum bisa datang. Aku mencoba mencari pekerjaan sementara ini."
(+6285788901231)
21:20
"kamu kenapa istriku? Kamu sakit kah? Aku minta maaf terlambat mengabarimu. Aku bertemu dengan orang baik lagi yang mau meminjamkan ponselnya untukku."
30 maret 2020
07:45
"doaku tidak pernah berhenti. Aku berusaha agar bisa bertemu denganmu. Maaf karena hanya nomormu yang aku punya hafal. Aku tidak bisa meminta bantuan keluarga di Medan. Aku mohon aktifkan ponselmu"
"maaf membuat banyak spam di kotak masukmu ya dik. Mas kangen sekali."
(+62894457632**)
Ku seka air mata yang terus menerus mengalir, hatiku sakit, aku sangat menyesal.
Siapa lagi yang akan ku tanya sekarang.
Suamiku
Pastikan kamu baik baik saja di sana
Agar aku tidak menyesali semua keputusanku.
******
Bumi terus bergerak mengelilingi matahari membuatnya harus tenggelam dalam awan awan yang terbias cahaya kuningnya yang mempesona. Aku masih terus menunggu, sesekali ku lihat dua tentara kecil yang sudah kelelahan sampai akhirnya tertidur di lantai.
__ADS_1
Kupandangi gemuruh ombak yang tak terdengar karena ketebalan kaca dan dinding. Dari lantai dua yang sangat luas bersama panorama pantai yang membentang di depan mataku. Aku masih merasa dunia sangatlah sempit. Aku memutuskan untuk tinggal di sini. Di rumah kakakku yang dekat dengan pantai sigandu. Aku akan menghabiskan hari hariku untuk kembali menunggu nomor nomor baru. Aku yakin suatu saat nanti akan ada nomor baru lagi.
Aku akan menunggu nomor nomor baru muncul di notifikasi ponsel ku.