LOCKDOWN A Love And Covid-19

LOCKDOWN A Love And Covid-19
Tamu dan cemburu


__ADS_3

"cemburulah, dalam cinta perlu cemburu untuk membuktikan kesetiaan, tingkahnya membuat kita faham, seberapa berharga kita dalam hubungan yang terjalin dengannya. Sebab banyak orang mengatakan bahwa cemburu adalah tanda cinta."


Malam semakin larut, setelah lelah melihat dunia luar saat malam aku merebahkan diri di atas kasur, kamarku menjadi lebih hidup dengan adanya Firhan di sisiku saat ini, banyak lagi inspirasi yang tercetak dalam benakku saat aku dan Firhan bersama sama menjalin hubungan cinta yang tak bisa ku gambarkan lagi keindahannya. Mataku menyapu pemandangan kamar yang hangat, horden biru muda yang bercampur putih, karpet bulu, televisi, balkon yang menyenangkan, terlalu banyak kenangan di kamarku, tempat tintaku tertuang untuk sebuah buku.


Banyak koleksi novel di dalam kamarku,aku menunjukkannya pada Firhan, suamiku dan ia tidak terkejut. Ya tentu saja, dia tahu latar belakangku dari profil singkat yang aku tulis di setiap lembar akhir karyaku.


"Aku suka karya Stephen Meyer, kata katanya menyentuhku. Kamu pasti tidak tahu kan..?" aku menjauh beberapa senti dari lengannya agar bisa melihat sekilas wajahnya, ku pikir dia akan pegal karena terlalu lama menjadi bantal kepalaku sebab dari tadi ia bentangkan lengannya di atas guling agar kepalaku bersandar. Setelah beberapa hari semenjak aku menjadi istrinya, kini rasa canggung itu tak sehebat dulu. Kami mulai terbiasa tanpa ada salah tingkah seperti awal awal.


"emm tidak siapa dia..?"


"Aku yakin kamu tidak mengenal karya karyanya, namun kamu tahu salah satu filmnya. Twillight series kamu tahu..? Ada New Moon kelanjutan dari twillight kemudian.."


"Eclips dan breaking down." lanjut suamiku


"nah kamu tahu rupanya..." ia tersenyum mendengar nada ejekanku.


"kemudian kamu tahu salah satu karya Habiburrahman el shyrazi?"


"kalau aku tahu, beri aku satu ciuman di pipi ya cantik." tawarnya membuat mulutku mengerucut.


"aaa bolehlah tak masalah." dustaku. Ini menjadi masalah bagi hatiku yang terus berdetak tak kondusif, namun aku menyukainya.


"ayat ayat cinta...? '' jawabnya dengan nada tanya memastikan.


" okkey selanjutnya aku akan menyebutkan judul bukunya, kamu tebak siapa penulisnya."


"kenapa tidak hadiah dulu. Tiap point pertanyaan satu ciuman kaaan.." rengeknya seperti anak kecil yang meminta permen coklat. Aku terkekeh pelan melihat bibir manyunnya yang manis.


"Sayang, nanti saja di akhir. Lagian aku gak mau buat soal tebak tebakan terlalu banyak. Kamu banyak untung nanti." jemariku mengelus rambutnya yang lembut


"baik. Siap nyonya Avecenna."


"Merantau Ke Deli, karya siapa..?“ tanyaku dan kali ini ia pusing memikirkannya.


" Coba kasih tau dulu lah ciri ciri penulisnya, masih muda, atau sudah tua, hidup atau sudah meninggal,di filmkan atau tidak.. "


Ia menawar lagi, Aku menggeleng kepala wajahku menampakkan api kemenangan.


"Asma Nadia." ucapnya ragu ragu aku terbahak.


"oh iyya ada aturan main ya bos. Kalau satu jawaban salah maka point yang sudah di dapat gugur." aku juri yang adil membuat ia uring uringan tak menentu, padahal hanya karena satu ciuman di pipi, seberharga itukah. Tanpa di minta pun aku mau menciumnya bahkan puluhan kali.


"Okkey aku yakin jawabannya Asma Nadia." tukasnya sambil menegakkan punggung mengikutiku duduk bersila


"teeet salaaah. Jawabannya silahkan cari di OK Google ya." aku menang untuk tebak penulis kali ini

__ADS_1


"siapa jawabanya." cup! satu kecupan mendarat di pipiku. Seketika jantungku bergetar menatap binar mata teduhnya yang manja, ia melingkarkan tangannya pada pinggangku membuatku tak bisa berkutik. Aku melirik ke arah ponsel yang berdering dan menyala. Azalea menelponku selarut ini, keningku berkerut membuat Firhan mengikuti pandanganku menuju ponsel disisi badannya.


"minta tolong ponselnya mas.." pintaku karena ponsel lebih dekat jika ia yang mengambilnya.


"ambil sendiri lah sayang.." guraunya namun tangan kanannya masih tetap meraihkan ponsel untukku.


"halo, kenapa neng tengah malam nelpon." ujarku berpura pura kesal setelah menggeser lingkar hijau di ponsel.


"Itu tau mbak, ada tamu di villa bawah, katanya sih temen sesama dosen suami kamu." ujarnya


Firhan merebahkan badannya, menempelkan kepalanya pada pahaku agar bisa ku usap lembut rambutnya.


"oh ya sudah gak masalah,sudah masuk ke kamar tamu kan..? Jam berapa dia datang..?"


Tanyaku pada Azalea aku menatap suamiku yang sibuk memainkan rambut ikalku yang tergerai ke depan.


"dari abis isya, ya sudah ya.. Aku juga tidur di villa nemenin tamu. Mana tau penyusup. Hahaha." Azalea mengakhiri teleponnya.


"kenapa yank..?" Tanya Firhan.


Muka kesalku tak mampu ku sembunyikan, batinku berperang argumen, sejak Azalea mengatakan ada seorang wanita jauh jauh datang dari Medan ke sebuah rumah di tepi hutan pinus hanya karena mencari Firhan. Oh yang benar saja, mungkin Firhan punya wanita lain sebelum menikah denganku, atau jangan jangan dia wanita yang di jodohkan dengan Firhan namun ia tolak. Atau dia saudara Firhan yang suka mendengar cerita Firhan sejak dia kecil. Namun wujudnya adalah wanita, kenapa tadi tidak aku tanyakan pada Azalea apakah wanita itu cantik atau tidak. Aah memang hatiku tak berhenti menyalahkan diriku sendiri


"hai.. Sayang.." ucapan Firhan membuatku tersadar dari lamunan, aku hanya menggeleng tak bisa mengungkapkannya.


" Tadi, ada tamu kata Azalea, dia wanita dan dia mencari kamu mas." uajrku lesu


" Aku tidak pernah mengenal wanita seumur hidupku kecuali ibuku, sepupuku yang juga dosen, kemudian kamu." jawabannya membuat aku mendongak, matanya berkata jujur wajahnya berkata tak ada dusta. Aku tersenyum membuat wajahnya yang tadi muram menjadi kelegaan.


" Atau haruskah kita memastikan siapa yang datang..?" usulku


" Tak usah, besok saja. Kita harus istirahat,besok setelah subuh saja ya sekalian jalan jalan ke bawah." jawabnya aku mengiyakan. Namun ada satu rasa yang mengganjal dalam hatiku jika tidak kupastikan malam ini, Firhan mulai memejamkan matanya yang sudah merah karena kantuk, aku pandangi wajahnya. Dia jujur aku yakin dia tidak akan mendustaiku, aku selalu berharap, bahwa keyakinan ini tidak membuahkan kekecewaan tentangnya. Tentang seorang lelaki yang kini terlelap di sisiku, seorang lelaki yang gemar membaca dan mengamalkan sunnah Nabi. Yang telah berani datang ke rumahku, meminangku dengan hamdalah dan memberikan padaku mahar terbaik.


Gamis pink babyku berpadu dengan jilbab pink dusty, di antara pohon pinus aku dan suamiku berdiri menunggu munculnya mentari yang indah saat cahayanya mengintip dari balik pohon pinus. Rasa penasaran dalam diriku belum terbayar sebelum melihat sosok yang mencari suamiku, pagi tak lagi meredup cahaya sedikit demi sedikit muncul menerangi dunia.


"langkahmu cepat sekali.." komentar suamiku melihat langkahku tak selambat saat berjalan bersamanya. Aku rasa tak bisa lagi untuk detik ini berjalan lambat, rasa penasaranku memuncak, terlebih saat langkahku sampai pada jalan menurun menuju ke arah Villa. Hanya ini satu satunya jalan menuju ke villa penginapan. Rumahku di himpit agrowisata pohon pinus dan villa garden milik ayah.


Aku melihatnya, sosok wanita yang berjilbab ungu muda dengan renda kecil di tiap sisi jilbabnya.


"Dia sepupuku yang dulu aku ceritakan." sergah suamiku menahan langkahku yang terburu menuju pada gadis berjilbab ungu.


Jika dia sepupu Mas Firhan lantas mengapa semalam dia mengaku sebagai teman.


"Kenapa kamu menahan tanganku mas..?" tanyaku bingung


"aku hanya ingin menunjukkan padanya bahwa ini istriku yang selalu kugandeng dengan tanganku. Yang akan selalu di sisiku. " jawabnya di sertai senyuman. Mulutku membulat kemudian tersenyum tanda aku setuju dengan jawabannya. Penasaranku terbayar, hanya sepupu. Namun bagaimana pun aku tidak mau suamiku berbaur dengan wanita lain, bukan keinginanku dan bukan harapanku mempunyai seorang lelaki yang mudah bergaul dengan banyak wanita.

__ADS_1


Nampaknya benar, cemburu itu tidak mengenal siapapun, baik itu tetangga bahkan saudara.


"dah lama kak? Sejak kapan kemari..?"


Tanya suamiku dari belakang punggungnya, nampaknya sedari tadi ia sedang menikmati pemandangan subuh di sisi teras villa garden.


Mendengar suara suamiku ia langsung menoleh.


"Omak buat kaget aja kau ni." jawab wanita di depanku dengan logat Medan yang sempurna membuat suamiku nyengir.


"semalam datang abis isya'.


Oh jadi ini rupanya istrimu.?"


"iyya istri awak yang super duper cantik. Yasmine Adelia nyonya Avecenna."


Aku mengulurkan tangan


"hai kak salam kenal, saya Yasmine Adelia."


Malas malas ayam ia menanggapi uluran tanganku dengan senyumnya yang agak di paksakan.


"Amrina." jawaban yang singkat untuk awal pertemuan. Aku agak terpukul namun aku yakin ini cukup ramah untuk orang Medan yang berbicara dengan orang Jawa.


Firhan memberikan waktu untukku dan kak Rina mengobrol, sehari setelah akad Firhan menyampaikan padaku bahwa salah satu keluarganya kurang setuju dengan pernikahan yang terlalu mendadak ini. Dan dialah orangnya, seorang wanita yang kini duduk berseberangan denganku berbatas meja bundar berisi vas bunga warna pink.


"kau gak nikah sama saudaraku gara gara mobilnya kan? Atau kau yang goda dia dulu?"


Ia bertanya dengan nada amarahnya, seolah tak bisa lagi di bendung. Namun aku telah menyiapkan hal ini, akan lebih sering telingaku mendengar ucapan biasa bagi kebiasaan orang Medan namun menjadi bentakan jika yang mendengar orang Jawa sepertiku.


"tidak, saya bukan wanita seperti itu." jawabku. Aku tak mampu menahan lagi, aku seret kakiku menjauhinya setelah aku meminta maaf karena tak bisa melanjutkan obrolan lagi dengannya. Aku meninggalkan Firhan yang sedang menuang teh di dalam villa. Aku biarkan dia dan saudaranya saling bicara.


Untuk pertama kalinya bagiku mendengar orang Luar Jawa berbicara, Aku merasa di bentak olehnya. Meskipun Aku tidak yakin apakah itu bentakan darinya atau memang logatnya.


Langkahku terhenti di halaman, aku menoleh kebelakang berharap Firhan mengejarku. Namun aku salah, mungkin Firhan butuh banyak ruang dan waktu untuk menjelaskan kepada saudaranya tentang niat baik kita membangun rumah tangga.


Bagaimanapun tetap saja aku cemburu membiarkan dia harus berdua dengan saudaranya.


Kenapa aku berlari menjauh dari villa jika Firhan tempatku bercerita ada di dalamnya. Kesalku dalam hati.


Aku selalu berharap keadaan akan membaik, keluarga besarnya menyetujui pernikahanku, sebab bagaimanapun di masa depanku dan Firhan akan menjadi masalah jika hal yang menyangkut ketidak setujuan di biarkan. Aku yakin itu, aku berharap hatiku kuat, Firhan memihakku.


"aku tahu kamu cemburu, aku sudah menyuruhnya pulang pagi ini."peluk Firhan dari belakang tubuhku, aku berbalik dan menumpahkan kesedihanku yang terpendam padanya. Semoga air mataku bisa mewakili perasaan takutku pada masa depan.


Namun bersanding denganmu, memeluk tubuhmu dan membiarkan air mata mengalir mambasahi bajumu membuatku nyaman. Dengan begini aku yakin bisa melewati permasalahan dimasa depanku bersamamu.

__ADS_1


__ADS_2