
Dear lelaki-ku..
Aku menuliskan semua ini untukmu, untuk seorang lelaki yang telah memenuhi hidupku dengan tawa dan bahagia.
Dengan derai air mata kerinduan yang kulalui bersama tarian pena, aku hanya ingin meluapkan semuanya. Yang tersimpan dalam benakku, yang telah merenggut bahagiaku, hanya karena aku tak bisa berjumpa denganmu.
Malam hadir lagi saat ini, kemarin aku sangat berbahagia sampai susah tertidur sebab aku berpikir besok kita akan bersama lagi.
Dan malam ini aku kembali tak bisa memejamkan mata, aku susah tidur karena tidak bisa memelukmu malam ini.
Malam makin panjang, detik jarum jam menyeret dengan suara yang makin jelas ku dengar di keheningan malam. Di luar tak ada seberkas cahaya, gemintang tidak mau menghias cakrawala meskipun aku memohon dan meminta mereka untuk menemani malamku tanpamu setidaknya. Namun permohonanku belum terkabul malam ini. Mungkin besok sayang, saat kau datang ia akan berpencar di cakrawala.
Sejak aku memutuskan untuk meninggalkanmu di bandara kala itu, aku sempat ragu untuk melangkah. Namun aku egois, aku terlalu mementingkan perkataan seorang wanita itu, padahal semua perkataannya tidak ada yang benar sedikit pun jika ia berbicara tentangku.
Aku terlalu terbawa perasaan, aku ingin segera pergi dari kehidupanku di Kota Medan saat itu, hingga akhirnya ayah mengabarkan bahwa ia tidak baik-baik saja. Aku memutuskan untuk menenangkan diri, dengan cara yang salah yaitu meninggalkanmu. Andaikan aku memilih untuk tetap bertahan, dan bersabar sejenak untuk menunggu cutimu, atau aku lebih bersabar untuk selalu mengacuhkan perkataan saudaramu. Andai semua ku lalui bagai air mengalir, aku akan baik baik saja. Kau akan bersamaku saat ini. Tanpa ada penyesalan atas perpisahan yang tak ada ujungnya, atas perpisahan yang mengambang di atas cerita kita. Kita tidak pernah tahu kapan akan bertemu dan bersua seperti dulu lagi.
Namun aku mendapati kehidupan kamu baik baik saja, seolah ada dan tiadanya aku tak menjadi pengaruh dalam hidupmu. Tapi ternyata aku tidak benar dalam menilaimu, salah satu mahasiswi mu bercerita bahwa kamu sering murung tanpaku, tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaanmu.
Aku minta maaf telah meninggalkan kamu sendiri.
Aku terpuruk dengan kerinduan, selalu di hantui dengan kenangan, selalu di takut takuti dengan perasaan berupa kehilangan.
Aku yang meninggalkan kamu, namun aku juga yang takut kehilangan kamu.
Betapa perihnya luka sedangkan obat luka ini jauh, entah di mana.
Apakah kamu mengalami kesulitan malam ini?
Seharusnya kamu ada di bandara, sayang.
Seharusnya kamu datang bersama rombonganmu.
Lantas mengapa kamu menghilang, ponselmu mati dan tentunya tidak bisa di hubungi.
Sudahkah kamu menyuap makanan untuk pengganjal laparmu?
__ADS_1
Dimana kamu bermalam?
Atau adakah jadwal mendadak yang membuatmu harus menunda penerbangan kamu?
Lalu bagaimana dengan pesan terakhirmu yang mengatakan kamu sudah memasuki pesawat?
Bagaimana dengan janjimu untuk berjumpa denganku di bandara?
Malam ini aku terjaga.
Harusnya mataku sudah terlelap karena air mata.
Namun pikiranku memaksaku untuk merasakan pilunya hari ini.
Inginku tidur di bandara, untuk terus menantikanmu di kloter selanjutnya.
Aku belum sempat bertanya padamu, berapa masker yang kamu bawa, berapa ml hand sanitizer yang tersimpan di dalam ranselmu.
Sudahkah kamu melindungi diri di saat wabah mulai berkeliaran di muka bumi?
Mencemaskan kesehatanmu.
Aku hanya penasaran apa yang membuat ponselmu mati dan kamu tidak ikut penerbangan.
Dari rasa penasaran itulah yang membuat batinku tersiksa.
Sayang,
Masih banyak hal yang ingin aku ceritakan, masih ada banyak hal yang ingin aku sampaikan.
Kau tahu sayang?
Bunga lily yang aku pesan kini tergeletak di sisi pembaringanku.
Aku menatapnya seolah aku menatapmu.
__ADS_1
Aku tidak tahu kepada siapa lagi akan bercerita.
Lisanku lelah mengeluh, namun tidak dengan kata kata.
Aku sanggup bercerita lewat tarian pena.
Agar tertuang separuh masalahku, yang belum bisa di pertemukan denganmu.
Berteman malam yang sunyi, aku mengunci diri, membiarkan air mata menetes, aku meratapi keadaanku, yang selalu saja hambar tanpamu.
Jika aku tahu akan terjadi musibah seperti ini, tentu aku memilih tidak pergi ke tanah Jawa. Tentu aku akan memilih untuk selalu bersamamu, agar tidak ada yang terpisah tanpa kabar, agar kita selalu bersama setiap detik, setiap menit, dan di setiap jam yang berlalu.
Maaf aku selalu mengeluh saat jauh darimu.
Sungguh aku linglung saat ini, tidak tahu harus ku apakan keadaan.
Kumohon baik baiklah di sana. Aku tidak ingin hal buruk terjadi padamu.
Aku akan merasa sangat bersalah jika kamu terluka.
Bersama kesunyian, 6 maret 2020 tanpamu
Ku ulangi sekali lagi tulisanku pada lembar kedua, pada lembar ketiga, lembar ke empat dan lembar ke lima. Aku harap aku bisa terlelap dengan cara ini seperti biasanya. Namun aku masih tak bisa. Rongga dadaku semakin sakit saat selalu teringat tentang kisah kisah yang telah pergi. Ku sobek perlahan kertas yang telah padat dengan tulisan tinta, sebagian telah luntur karena air mataku yang menetes padanya. Aku lipat rapi, ku selipkan dalam amplop, surat tanpa alamat. Jika ku kirimkan pun petugas pos pengiriman akan bingung kemudian kertas kertasku akan berakhir di tempat sampah.
Alamat mana yang harusnya ku tuju agar surat ini sampai padanya. Aku masih tidak bisa mencerna. Sejauh ini kesadaranku seolah belum utuh untuk meresapi bahwa Firhan menghilang. Aku mengulang ulang kalimat itu dalam otakku yang tak bisa menerima keadaan. Hatiku menolak adanya pembenaran bahwa Firhan tidak ada lagi dalam hidupku. Kebas tanganku tak menjadi masalah saat ini, hatiku butuh ketenangan, oleh karena itu aku menulis. Namun hal tak wajar terjadi lagi. Seharusnya aku sudah lega saat menuliskan semua isi hatiku pada lembar putih bergaris ini,dan saat ini tak ada kemajuan. Kebiasaan lamaku tak bisa di aplikasikan pada momentku yang sangat pilu.
Aku mendongak, melihat jam yang terus bergerak dengan lambat, aku berharap subuh segera tiba, aku bahkan tidak bisa memejamkan mataku, aku sudah sangat ingin beristirahat namun pikiran ini menahannya selalu dan selalu. Keheningan yang tidak pernah lagi ku takutkan, tidak ada waktu untuk takut saat pikiranku melayang dan hatiku merindu. Mungkin aku tidak pernah sadar lagi bahwa aku menyalakan volume AC sangat dingin, seluruh tubuhku terasa membeku, aku meringkuk meniduri tumpukan kertas yang tak tahu kepada siapa hadusnya ku kirimkan semua tulisan yang tidak memiliki alamat itu.
Dalam sepi aku memanggil namanya,
Firhan Avecenna, sosok yang ku rindu, sosok yang menjadi tema dalam tulisan tulisanku.
Haruskah aku membuat novel untukmu? Agar kau baca nanti jika kita sudah bertemu? Andai aku bisa.
Aku ingin terlelap walau sesaat.
__ADS_1