
Aku ingin kamu datang saat ini.
Aku rindu pelukan dan ciuman hangat darimu
Mendengar deru nafasmu
Gemuruh terdengar pertanda hujan akan segera terjun dari langit menuju bumi, sengaja ku buka lebar lebar pintu kaca balkon agar aku masuk angin. Beberapa hari setelah aku melamun dan mengenang masa lalu aku tidak pernah lagi sakit sakitan. Terlalu indah untuk di lupakan. Dan permasalahan keluarga antara aku dan Firhan tidak ada, Firhan tetap menjadi suami yang terus membelaku, dengan caranya sendiri ia meluruskanku jika aku bersalah, ia tidak pernah mengekangku, namun aku tahu diri. Aku bukan wanita yang dengan mudahnya menyapa seorang lelaki, kecuali Ardian. Teman TK ku di kampung nenek.
Angin menghempas horden tipis yang menggantung menghias pintu kaca. Memang benar, kadang angin membuat terbang dedaunan kadang juga membuat terbang kenangan.
Angin ini mirip dengan angin sore saat bulan Januari 2019,tepatnya saat aku dan Firhan melakukan hooney year perdana setelah satu pekan kami tinggal di Medan. Di sebuah perumahan, flat yang terlalu mewah bagiku, di suguhi dengan pemandangan kota Medan yang berkerlip saat malam dan kendaraan yang mengantri di lampu merah cahayanya seperti tumblr jika di lihat dari lantai 23, flat kami tinggal.
Perjalanan panjang seperti dari rumah nenek menuju ke Bandara Adi sucipto, memakan waktu lima jam. Kami tiba di parapat pukul 03:00, butuh waktu satu jam jika di tempuh dengan kecepatan maksimal. Jagung bakar mempesona di cuaca berkabut seperti sekarang. Tak perlu AC mobil jika melintas jalan pegunungan menuju ke Danau Toba, kubuka kaca lebar lebar,dingin sangat terasa begitu tangan ini di lambaikan keluar jendela. Aku sangat bahagia hari ini, menikah dengan orang yang baik hati, mengerti tentangku, perhatian, dan selalu melakukan hal sederhana namun membuat aku jatuh cinta. Sebab cinta memang sederhana.
"cantikku kenapa rupanya senyum senyum.."
Ia menoleh dengan tatapan yang sangat ku sukai.
"aku bahagia jadi istri kamu, meskipun kamu dan aku gak saling kenal."
Ia tersenyum lebar menatap lurus kedepan. sepanjang perjalanan tangan kami bertautan, menikmati alam, dengan iringan lagu lagu jadul namun mengena di hati. Seolah dunia berpihak pada kita jika kudengar lagu gigi 11 januari.
"aku lah penjagamu, aku lah pelindungmu.." Firhan mengikuti alunan musik yang kami dengar.
"sayang, ada mau strawberry dimana kita bisa belinya..?" tanyaku
"emmm kita kelewatan kalau mau beli strawberry." sesalnya karena tidak menawarkan buah buahan yang tergantung di sepanjang jalan Berastagi.
"emmm okay gak masalah... Pulangnya beli ya." pintaku
"siap nyonya. Tapi satu pekan lagi loh sayang kita pulang. Kita kan mau happy happy di hotel." matanya mengedip padaku dengan jailnya.
Kebiasaan manis yang tidak bisa kulupakan. Memang satu makhluk Allah yang aku kenal bernama Firhan ini selalu membuat pipiku merah karena malu.
Jalanan yang kami lalui makin berkelok, sesekali kami berpapasan dengan truk truk besar dan beberapa mobil pick up yang membawa sesuatu tertutup terpal biru.
"kamu tau gak truk di depan kita bawa apa..?" tanya suamiku membuatku mengamati apa yang ada di dalam truk tertutup rapat dengan terpal biru tersebut. Hampir tidak ada celah dan tidak terlihat apa yang di bawanya.
"ikan.." jawabku ngawur suamiku terbahak
"haha coba tebak lagi, kalau ikan kok di tutup terpal begitu, matilah." protes suamiku yang paham tentang ikan, sebab dia anak pemilik tambak alam terbesar di kampung.
"ya deh nyerah, gak tahu adik."
"coba tengok tu, yang gantung gantung di bawah lampu sen."
Aku melihat wortel dan daun bawang bergerak ke sisi kiri dan kanan membuat ku terbahak.
"oalah itu isinya.. Hahaha
__ADS_1
Sayang aku baru tahu loh." jawabku terheran heran. Membuat ia tersenyum bangga.
"sayang, lihat ke arah kanan.." pinta suamiku.
Aku hampir tak percaya pemandangan Danau Toba mulai muncul, sebagian permukaan air nampak tenang, danau ini benar benar luas lebih dari yang aku bayangkan saat masih duduk di sekolah Dasar. Aku juga tidak menyangka bahwa aku akan menginjakkan kaki serta membiarkan mataku melukis tiap sudut pemandangan yang kami lalui. Beberapa monyet bergelantungan dan bertengger di pembatas tebing memperhatikan tiap kendaraan yang melintas di sampingnya, lucu melihat monyet monyet di sisi jurang ini. Kadang ada yang tergopoh berlari sambil membawa bayi mungilnya di depan, ada juga yang nampak tua seperti kepala sukunya,dan ada juga yang berlari menjauhi kerumunan makanan yang berhamburan, mereka akan mengambil makanan yang kami lempar setelah mobil kami pergi. Hanya beberapa monyet saja yang dengan santai mengambil makanan tanpa takut kepada manusia. Yeah tipe monyet berbeda beda.
Jembatan tua terakhir kami lintasi, kerumunan monyet mulai menghilang, senyumku masih terus mengembang, aku tidak bisa berhenti untuk tersenyum jika bersanding dengan Firhan.
"kamu suka monyet yank..?" tanya Firhan sambil menepikan mobil kami di sisi jalan.
"suka. Aku suka dengan semua hewan."
Jawabku antusias, berharap di daerah ini ada kebun binatang yang mirip dengan Taman Safari agar Firhan membawaku ke sana.
"kenapa kemarin kamu lari liat cacing.."
Bulu bulu halus di tanganku sontak berdiri mendengar kalimat itu, aku merinding.
Aku mendesah kesal,seperdetik menahan nafas agar tak lagi ku ingat hewan yang sangat sangat yeah aku akui membuatku takut sampai lari terbirit birit seperti seorang yang melihat penampakan hantu di kamar mandi.
"okkay hewan itu tidak untuk di pelihara sayangku.." aku berusaha tak menyebut nama hewan itu ohh aku merinding.
"hewan apa sayang.." Firhan menggenggam jemariku, wajahnya mendekat membuatku terpikat, aku maju mendekatinya juga, hingga deru nafas hangatnya yang wangi bisa kurasakan dari kedekatan kami.
"pak jangan parkir di sini.." suara tukang parkir membuat kami sontak menarik diri. Tukang parkir itu tersenyum dan nyengir. Mungkin dia melihat kejadian beberapa detik yang lalu.
"ooop okkay pak, kami cuma mau foto itu tu tulisan Danau Toba dari sini nih pak. Abis tu kami mau ke hotel." jelas panjang lebar suamiku, sepertinya ia grogi sehingga mengatakan yang seharusnya tidak ada dalam kalimatnya yang santun.
Terbahak lelaki muda itu pergi meninggalkan mobil kami. Aku dan Firhan saling pandang, ia mengangkat bahu dan tersenyum kikuk melihat tingkah tukang parkir tersebut begitu juga denganku yang terus menahan agar tidak terbahak, efek malu yang berlebihan menjadi lucu.
Firhan memundurkan mobil, mata tajamnya menoleh ke arah spion dan maju memasuki kawasan perhotelan.
Satu dua tiga dan banyak hotel yang ber jejer di satu jalan kecil yang hanya muat satu mobil ini. Suamiku masuk ke tempat parkir, dengan tulisan besar di depan teras bertuliskan Laura Hotel & Resort. Dengan baju ketat warna hitam, celana jeans warna crem membuat sempurna sosok di hadapanku yang dengan santainya mengambil dua koper di dalam bagasi mobil. Ia tersenyum, matanya yang kadang jail, manis, dan sesekali menggodaku penuh aura bersembunyi di balik kacamata coklatnya.
Aku berjalan di belakangnya, mengamatinya mengambil kunci kamar. Pelayan hotel meminta izin untuk menemani kami berdua, memperkenalkan sudut sudut hotel bintang empat di Danau Toba.
"ini pintu utama balkonnya bapak, selamat menikmati pemandangan biru ketika anda membuka horden kamar seperti ini. Atau tunggu sampai matahari menguning, anda dan pasangan anda bisa menyaksikan di atas ranjang yang sudah kami sediakan dengan tataan yang luar biasa menghadap ke arah pemandangan danau Toba."
Tiap langkahnya dan penjelasannya yang cepat ku jawab dengan membulat O tanda aku paham.
"kolam renang, kami batasi tentunya agar ikan emas tidak masuk ke dalam area ketika anda dan pasangan berenang."
Tunjuk wanita muda berbaju adat batak pada kami sambil memamerkan keindahan kolam renang di balik kaca bening.
"untuk fasilitas seperti sabun, handuk dan alas kaki tentu boleh di gunakan serta gratis dan bisa di bawa pulang." tambahnya, kulihat expresi suamiku memutar bola matanya. Tanda ia bosan, matanya berbicara pergilah pelayan. Aku terkikik memperhatikan tingkahnya yang tak menatap pelayan di depan kami.
"selamat istirahat bapak ibu.. Jika ada keluhan atau kebutuhan lainnya kami siap melayani anda. Kami sediakan telpon paralel hubungi kami di *23 untuk pertanyaan lainnya." ia undur diri sambil menutup pintu.
Mataku menyapu melihat pemandangan spektakular dan luar biasa. Kolam renang biru, seolah bersambung dengan danau Toba yang tak ada habisnya di pandang mata.
__ADS_1
Suamiku membereskan beberapa pakaian kedalam lemari, dan aku sibuk mengamati pemandangan indah ini.
Suara pintu di ketuk, tak lama aku dan suamiku saling pandang. Aku nyengir tandaku tak mau beranjak dari atas sofa empuk yang menghadap ke televisi.
Akhirnya suamiku mengalah, ia ambil langkah panjang membukakan pintu, satu menit berlalu suamiku kembali masuk kedalam kamar kami. Sambil tertawa kegelian
"kenapa yank..?" heranku
"apa yang ditanya dia..?"aku sambung karena suamiku hanya tertawa saja
"ada tawaran, kalau mau beli ****** ada di loby hotel." suamiku terbahak lagi. Aku merinding geli di buatnya.
"aku beli satu." lanjutnya membuat mataku terbelalak, melihat ekspresiku ia makin tertawa.
"enggak sayang.. Grogi kali adik dengar kata kata itu..."
"ah grogi..?! Enggak ah." bantahku
"iyya percaya kok.. Ngomong ngomong bantuin lah sayang..." nada manjanya keluar lagi, malas malas ayam aku berdiri, ia menyambut kedatanganku ke depan almari yang terbuka dengan ciuman.
Ia peluk tubuhku dan mendekapku dengan kehangatan.
Matahari mulai memasuki peraduannya. Seolah menyelami danau vulkanik terbesar di Indonesia satu ini. Kami di suguhi pemandangan luar biasa untuk menyambut malam cerah. Angin dingin menyapu kulit kami yang tidak tertutup selimut tebal, angin yang membuat tubuh kami ingin selalu berdekatan.
"kamu janji akan mencintaiku, meskipun kelak fisikku berubah..?" tanyaku pada Firhan yang selalu mendekapku dalam pelukannya saat kami berbaring di atas ranjang.
Ia mengecup keningku dengan khidmat.
"tentu sayang.. Kamu satu satunya wanita yang aku tunggu selama hidupku." jawabnya disaat matahari perlahan menyelami lautan dengan cepatnya. Aku meraih pipi Firhan, ia sambut uluran tanganku dengan ciuman.
______
Ciuman itu masih saja terkenang olehku. Waktu yang sangat singkat, kenangan yang tak pernah lekang oleh waktu.
Perpisahan ini membuatku merana, aku sadar sekarang bahwa serumit apapun permasalahan keluarga, aku harus menghadapinya, bukan berlari darinya.
Aku ingin kembali, sepertinya sudah cukup baik untukku.
Hal yang paling menyedihkan dari suatu perpisahan adalah masih banyak hal yang belum kita lakukan bersama.
Aku ingin kamu datang saat ini.
Aku rindu pelukan dan ciuman hangat darimu
Mendengar deru nafasmu
Selamat malam Firhan
Aku mencintaimu
__ADS_1
Baik aku terjaga atau saat aku terlelap
Hanya kamu.