LOCKDOWN A Love And Covid-19

LOCKDOWN A Love And Covid-19
Langit Biru Rasa Abu Abu


__ADS_3

"naak, ibu panggil panggil kamu loh dari tadi.."


Gertak ibu dari belakang punggungku, aku bangkit dari duduk dan lamunanku. Aku melihat binar wajah ibu yang meredam amarah, ku tahu dari garis garis wajah dan alisnya yang bertautan. Ibu tidak pernah untuk mencoba tenang denganku, setiap kali terjadi goresan di dalam hatiku, penyebab utamanya adalah murni dari perkataan wanita di hadapan ku ini. Kadang aku bergidik keheranan, kenapa aku tidak bisa dekat dengan sosok ibu seperti yang lain. Ibu selalu berseberangan dengan pendapat ku, bahkan untuk bercerita atau sekedar curhat saja sangat sulit rasanya. Tidak seperti kebanyakan wanita dan remaja lainnya. Aku lehih condong dengan ayah, tidak ada kecanggungan antara aku dan ayah,bahkan setelah aku menikah, aku tidak pernah segan untuk bercerita tentang rumah tangga yang bangun dengan Firhan.


"oh iya maaf buk, aku nggak fokus.." jelasku padanya hati hati.


"belum sarapan kamu tho..? Atau mau sarapan di kamar biar ibuk ambilkan.." ibu cukup perhatian kali ini, namun aku tidak menjamin beberapa detik ke depan mungkin akan menjadi amarah baginya.


"aku kenyang.." dustaku, pandangan ku alihkan ke arah langit sudah lama sekali aku berdiam diri disini. Hanya karena langit biru membuatku terkenang akan semua kisah. Langit biru terlalu banyak menyimpan cerita yang tak bisa ku pingkiri selalu menari didalam salah satu ingatanku, kadang dari ingatan itu membuatku ingin diam, di setiap hari yang cerah, saat awan enggan menghias cakrawala, saat itulah langit biru sangat mempesona, namun bagiku sebiru apapun langit di atas jika hatiku sakit, jika rindu di dalam dadaku berkecamuk maka tidak ada lagi warna dalam duniaku, semuanya gelap, semuanya redup, dan seperti mendung.


Iya langit memang biru, namun bagiku ini abu abu, langit tidak cerah, ia muram dan tidak bisa membuat hatiku bangkit dari kesedihan yang terasa menyakitkan. Mataku mengawang lagi, entah untuk ke berapa kali aku tidak bisa mendengarkan apa yang di ucap lawan bicaraku. Aku tidak ingin berbicara pada siapapun hari ini kecuali dengan Firhan, suamiku.


Egois, iya rasanya begitu. Aku terlalu memikirkan apa yang ada padaku dan seolah tidak peduli dengan keadaan Firhan sendiri tanpaku. Kini aku bisa merasakan betapa beratnya ia hidup sendirian tanpaku.


"astagfirullah hal azhim..." teriak ibu memekik telingaku


"kenapa buk..?" ucapku reflek dengan nada marah.


"kamu itu yang kenapa!Ada orang ngomong aja sampai gak denger. Iya jiwa kamu di sini tapi pikiran dan hati kamu di Medan." ucap ibu kesal kemudian berlalu meninggalkan aku sendiri di balkon.


Tik.. Mentes lagi air mataku, aku rindu dengan hawa panas di sana, aku rindu berkeliling melihat gedung di sepanjang sisi kanan kiri jalanku. Aku rindu kebisingan, aku rindu bercakap ria dengan teman teman batakku. Aku rindu semua cerita yang pernah terjadi di antara aku dan Firhan. Dan aku rindu saat saat menjadi seorang istri untuk Firhan, memasak untuknya, mendengar pujian darinya, ingin bersimpuh dan meringkuk di dalam tubuh hangatnya yang harum, ingin memeluknya sampai terlelap.

__ADS_1


Aku mendesah, mencoba menghilangkan bayang bayang tentang keseharianku yang sudah tidak bisa lagi terjadi detik ini.


Seterik ini matahari bersinar, dalam waktu yang cukup lama aku mematung di balkon.


Namun bagiku dunia yang benar benar cerah ini nampak seperti bohlam lampu berenergi dua watt. Tak ada satu pun cahaya yang hadir, dunia ini terasa gelap tanpa cintanya. Dan aku tidak tahan dengan hal ini. Mungkin aku harus kembali ke Medan namun aku tidak tahu harus bagaimana. Rasa sakit hatiku masih menganga,dan aku mencoba menyembunyikan semua. Aku yakin Firhan tahu bahwa sepupunya, kak rina menyimpan rasa tak suka padaku, banyak rumor dan banyak gosip di kalangan keluarga,aku selalu di kucilkan saat bergabung dengan saudara saudara Firhan.


Tidak banyak yang membenciku, hanya karena Kak Amrina terlalu sering memprovokasi lambat laun sikap orang orang berubah padaku, hanya ada ibu dan ayah mertuaku yang tidak pernah mempercayai omongan kak Amrina, dan terakhir yang aku dengar langsung dari telingaku dengan mudahnya ia mengatakan aku berselingkuh dengan teman mas Firhan.


Aku merasa tidak sanggup menerima semua, aku takut semua orang mempercayai omongan kak Amrina.


Dering telepon berbunyi, dengan semangat aku meraih telepon yang tergeletak di atas kursi panjang tempatku mematung sendirian.


Mas Firhan meneleponku, aku merasakan kehadiran langit yang mulai nampak biru bukan abu abu.


Seberat ini perpisahan, aku tidak sanggup menghadapi kehidupan tanpamu suamiku.


Langit biru di kotaku, namun aku menatapnya bagai warna abu abu


"kenapa..? Coba cerita ke mas dulu." pintanya


"aku kangen kamu mas.." lebih tepatnya aku sakit hati karena di gertak oleh ibu. Maaf aku berdusta lagi.

__ADS_1


"iyya sabar ya sayang. Mas berusaha pulang secepat mungkin. Di sini masih banyak kerjaan sayang.." ucapnya padaku, dengan kata yang persis dan sama.


Alasan itu hampir selalu terngiang di telingaku, tidak berubah sama sekali, setiap hari yang ku ungkapkan hanya rindu dan rindu dan ia hanya menjawab seperti itu, mungkin pekerjaan lebih utama dari pada aku yang merindukannya. Otakku terlalu sensitif saat kepalaku mendidih begini.


Hatiku bergemuruh, aku terdiam seribu bahasa tak lagi berbicara, semenjak berpisah dengannya aku banyak memendam marah dan emosi. Aku takut aku akan melukai hati lembutnya. Namun aku sudah tidak tahan lagi dengan segala gerak geriknya, dimataku saat ini semua orang salah.


"jangan diem dong yank.. Kamu kalau marah makin cantik loh.." ujarnya


Yaaah aku meredam emosiku, tak sepanas tadi hawa di dalam tubuhku. Aku mencoba menerima yang ada. Dan banyak yang sama sepertiku, mereka berpisah dengan suami mereka karena tertuntut pekerjaan. Terlebih ini adalah keputusanku untuk pergi dari sisinya.


" adik minta maaf ya mas.. " ujarku


" iyya gak masalah, mas minta maaf juga ya kalau ada banyak hal yang gak bisa mas turuti saat ini. Mas janji akan cepat menghampiri kamu dan menjemput kamu pulang ke rumah kita."


Kami akhiri telepon siang hari ini. Sedikit rindu terbayar, namun berakhirnya telepon membuatku merasa dalam kegelapan lagi.


Terkadang aku merasa bodoh terlalu mencintai seseorang, sering kali Firhan ingatkanku agar tidak berlebihan dalam mencintai, dan aku sedang berusaha untuk tidak terlalu mencintainya. Sekedar harapan kecil yang sangat besar nilainya jika aku bisa melakukan hal itu.


Aku melangkah masuk ke dalam kamar setelah azan zuhur terdengar mengalun dari kampung di bawah bukit tempat aku berteduh.


Aku berharap aku segera bangkit dari keterpurukan ini.

__ADS_1


Kembali menatap langit biru rasa biru bukan abu abu.


__ADS_2