
"Yasmine.." suara ayah mengalun terbawa udara memasuki gendang telingaku yang sedari tadi tertutup rapat karena lamunan,
Mataku yang awalnya tertuju pada tempe goreng di atas piring akhirnya mendongak ke arah suara di seberangku. Wajah murung ini pasti membuat ayah bertanya tanya, bagaimana nasib puterinya bisa menjadi serumit ini, dan dari tatapan ayah aku menangkap bahwa ia sangat prihatin terhadapku.
"makanlah dulu, nak. Tubuhmu butuh makan." pintanya dengan tulus, nadanya tidak memaksa namun seperti berpesan saja. Aku hanya mengangguk pelan, menjauhkan kursi dari meja makan dan berdiri. Tanganku terasa berat membawa piring kaca ini ke kamar.
"kasihan anak kita yah..." kudengar suara ibu mengalun setelah aku berbelok dari sudut ruang makan menghilang dari pandangan mereka. Namun aku tidak mendengar jawaban dari ayah. Langkahku terseret begitu saja menaiki anak tangga satu demi satu dengan malasnya agar sampai ke ruang pribadiku. Kuletakkan piring berat yang berisi nasi, tempe, sambel merah dan sayur sawi di atas meja kecil sebelum memasuki kamar. Mbok Lastri akan membereskannya nanti setelah jam makan siang usai.
Aku duduk di atas dipan setelah mengunci rapat pintu kamar, kunci yang masih bergemerincing di bawah gagang pintu itu adalah kunci cadangan terakhir yang aku simpan.
Tadi malam aku lupa mengunci pintu setelah masuk ke kamar, dan mungkin perkiraanku ayah mengambil kunci yang tertancap pada pintuku saat aku terlelap. Aku tahu itu demi menjagaku, sebab tiga hari yang lalu aku mengunci diri dan tidak ingin keluar sama sekali. Namun kali ini aku akan melakukannya lagi. Aku benar benar terpuruk saat ini, sejak hari dimana Firhan menghilang dari zona hidupku, aku ingin berhenti, aku putus asa terhadap kehidupan yang rumit ini.
Aku membuka satu demi satu lembaran keras album photo pernikahan kami, sampulnya berwarna biru, dengan hias bunga berwarna pink dan putih di tiap sisi sampul album ini.
Kuraba sebuah foto yang terbalut plastik tebal bening yang merekat melindungi foto itu, aku mengusap pipinya, membenarkan rambutnya yang di poni ke depan. Dengan badan yang terguncang di hadapan album biruku aku sesenggukan menangis, menata rambutnya atau kadang ingin mengacak acaknya hingga ia marah, namun itu adalah halu. Foto itu tetap terdiam, tersenyum mengaitkan jemariku yang telah terpasang cincin darinya.
Aku berharap dunia bisa berhenti.
Agar aku bisa leluasa mencarimu.
Menemukanmu apapun keadaannya.
Foto di lembar ke empat album biru ini sangat ceria, aku masih menampakkan tawa di depan kamera, memamerkan cincin pernikahan yang indah, melingkar dengan erat di jari manisku dan di jari manisnya. Matanya seolah mengatakan padaku kala itu, bahwa ia malu namun bahagia. Kami harus memaksakan muka kami bahagia, menghilangkan sejuta malu dan gugup bahkan salah tingkah di hadapan manusia.
Namun saat ini, aku merindukan tawa itu. Tawa yang seharusnya sudah terjadi saat ini menghias hariku yang penuh warna. Kehilangannya bagaikan merubah dunia menjadi gulita, membuat air berhenti mengalir, membuat suasana terburuk sepanjang masa.
__ADS_1
Dari album ini aku berkaca, bahwa bahagiaku hanya bersama Firhan. Bahagiaku ada saat bersanding dengannya. Aku akan melakukan apapun asalkan dia kembali, aku ingin dia hadir di sini, agar bisa ku pinjam sejenak bahunya, agar hilang rasa takut dan sedih yang bercampur aduk membuat hidupku sayu.
Bagai dunia ini tak ada musim panas. Mendung, tak ada cahaya. Muram seperti wajahku, gelap seperti ruang pribadiku yang tertutup tanpa ada satupun cahaya menyela memasuki kamarku.
Aku memeluk album biru ini, mengharap agar rasanya sama seperti saat dulu kau memelukmu.
Aku ingin tidur, kemudian terbangun dalam kondisi kau sudah ada di sisiku dan aku tahu bahwa hal itu adalah sia sia.
Aku akan menjaga album biru ini.
Senja sudah menempatkan posisi ingin segera beristirahat dan menggantikan gemintang di cakrawala yang mulai gulita.
Aku meraba album biru yang sedari tadi ku peluk dalam tidurku, mataku masih terpejam, aku masih mencari album biruku namun ia sudah tidak ada lagi di sisi ranjangku. Aku terpaksa membuka mata dengan berat. Di ujung sofa yang terletak di pojok kamar ia duduk dengan tegap, rambutnya sudah rapi dengan polesan pomade aroma kopi,, parfumnya yang khas memenuhi rongga hidungku, melihatku kebingungan ia langsung berdiri, mengambil lengaku dengan cepat dan wajahku menghambur dalam dadanya yang berdegup gencang. Air matanya di sembunyikan olehnya yang terus membelai lembut kepalaku memeluk erat tubuhku yang sudah sangat rapuh tanpa ada hadirnya sejauh ini. Aku mendongak menatap matanya yang juga memerah ingin menumpahkan semua kerinduan kami. Dia laki laki begitu tentu aku lebih parah darinya, aku wanita yang lemah hati. Tak sanggup untuk bertahan kuat lama lama.
"aku kangen." ucapnya mengecup puncak kepalaku berulang kali, aku mengangguk membalas pelukannya yang hangat.
"aku tidak bisa lama lama di sini. Aku di tuduh menjadi buron, dan tidak ada yang tahu bahwa aku datang kemar kamu dik. Aku rindu sekali."
"bagaimana bisa mas? Kenapa?"
"aku tidak bisa berlama lama, aku akan menjelaskan semua padamu aku janji sayang. Aku tidak bersalah. Ini hanya tuduhan." cium lembut Firhan di seluruh wajahku dan sedikit menekan saat ia mengecup lembut kening ku. Air matanya menggantung, aku menggapai tangannya, Firhan yang hendak berlari tertahan oleh jemariku yang mencengkeram kuat lengannya. Aku menggeleng memohon dan berlutut padanya agar tidak pergi apapun alasannya, ia menciumku sekali lagi dengan badan terguncang tak bisa menahan pilunya perpisahan dan pertemuan singkat denganku.
"aku mohon......" air mataku tak terbendung lagi, aku berteriak meminta tolong pada siapapun yang mungkin mendengarku agar ikut menahan Firhan supaya badannya tidak berdiri dan berlari meninggalkanku lagi.
Namun sia sia, ia lebih kuat dariku, dengan berat hati ia menolehku sebelum keluar dari kamar. Firhan pergi, aku menangis sebisa dan sekuat pita suaraku menghasilkan suara.
__ADS_1
Dag dag dag
"Yasmine..." suara ayah mengalun lagi, seperti saat ia memanggilku dengan nada yang sangat mengerikan karena ke khawatirannya padaku, beriringan dengan suara pintu yang di gedor dengan kencang, aku masih menangis, menyesali keadaan. Kenapa ayah baru datang setelah Firhan memutuskan untuk pergi.
Tidak! Aku yakin aku bermimpi
99% aku yakin ini mimpi, ini hanya bunga tidurku saja, namun aku merasakan bahwa pipiku terkena tetesan air mata, bantalku basah dan ayah nyata. Ayahlah yang menggedor pintu berulang kali dan memanggilku dengan geramnya sebab aku tidak kunjung membuka pintu.
Aku mengurung, lama tak terdengar suara di luar pintu kamarku.
Horden bergerak gerak, bayang bayang seseorang masuk dengan cara memanjat menggunakan tangga yang di senderkan menuju balkonku. Punggung angannya yang menghitam tersengat matahari dengan tidak sabaran membuka hordenku yang sedari tadi tertutup.
"ayah, ayah masuk dari pintu balkonku kan ayah? Kau tahu ayah Firhan melakukan hal yang sama dengan ayah. Firhan datang padaku dan dia......" kata kataku menggantung, aku sadar sepenuhnya bahwa aku menceritakan bunga tidurku pada ayah, mukaku menekuk mengikuti arahan dari air mata yang siap menetes. Ayah melangkah pelan menuju kasurku yang berantakan dengan buku buku dan album kenangan.
" besok kita ke rumah nenek ya. Ayah janji akan buat kamu bahagia nak..." ayah mengambil langkah lagi mendekatiku membiarkan kepalaku bersandar pada bahunya yang kokoh.
"kamu harus menjalani kehidupan dengan normal, bukan berteriak histeris setiap kamu tertidur. Bunga tidur kamu terlalu buruk nak."
Nasihatnya keluar menggema memantul di tiap dinding kamarku, aku terdiam lagi, tidak berbicara sepatah katapun pada ayah.
Seperti kejadian kemarin, ini kejadian ke tiga ayah datang ke kamarku karena mendengar teriakanku yang menyakitkan karena bunga mimpi buruk ku.
Aku hanya rindu.
Rindu ini membuatku membawamu dalam bunga tidurku.
__ADS_1
Yang aku inginkan kamu hadir dalam bunga mimpi yang indah bukan sebaliknya.
Jujur aku tidak sanggup