
Jika memang ini adalah taqdir..
Aku bisa apa :)
Hari hari berlalu begitu saja, matahari selalu bersembunyi di balik pekatnya awan mendung padahal hari sudah berada dalam puncaknya, seolah semesta juga memahami gelapnya isi hariku tanpa kehadiran sebuah cinta. Tidak ada yang mengalami kemajuan, semua bertambah buruk seiring berjalannya detik, menit, dan jam yang mengubah siang menjadi malam dan malam kembali pada siang. Dunia terguncang dengan wabah yang makin menjalar kepada siapapun, tak memandang usia, tak kenal orang miskin atau pun kaya, dan dari golongan darah apapun. Virus terlalu buta untuk memilih,dia akan siap hinggap kepada siapapun tak terkecuali aku.
Peduliku bukan untuk masalah corona yang mengubah namanya menjadi covid-19, sebuah singkatan baru yang di keluarkan baru baru ini, reinkernasi dari corona yang makin menyemarak memenuhi kota kota besar di Indonesia. Korban mulai berjatuhan, beberapa tenaga medis tak pulang ke rumah mereka, meninggalkan anak dan istrinya di rumah demi melayani masyarakat yang berdatangan dengan kasus positif pandemi covid-19. Kasus yang awalnya hanya dua orang positif merebak menjadi puluhan per hari, dan aku tidak bisa membayangkan hal buruk lainnya, aku mencoba mengalihkan pikiran burukku untuk peduli dengan banyak manusia detik ini. Peduliku pada satu nama yang entah sekarang di mana ia berada, usaha kecil hingga usaha yang besar sudah kulakukan seperti menyebar fotonya di sosial media, hingga ayah yang rela memberikan segepok uang untuk petugas bandara agar selalu sigap jika menemukan sosok lelaki yang hilang begitu saja, suamiku. Bahkan ayah sempat memikirkan untuk menyebar selebaran gambarnya di tiap pohon sepanjang kota Yogyakarta,tentu aku melarangnya. Sebab Firhan tidak hilang di kota Yogyakarta, melainkan di Jakarta, feellingku.
Teriakan histeris mama mertuaku yang sangat menyayangi Farhan makin terngiang di saat aku sendiri, bahkan tanpa ku pinta suara itu selalu menari nari di dalam syaraf otakku yang hampir pecah karena frustasi.
Aku mengabarkan pada mama tepat saat aku mengurungkan diri, tiga hari setelah aku linglung di bandara.
Layar tabku menyala, aku melirik dengan malas, tak pernah hatiku membuat harapan bahwa tab menyala adalah tanda ada sebuah pesan dari Firhan. Dugaanku benar, nyala tab hanya notifikasi dari berita yang baru baru ini aku baca untuk menghilangkan rasa khawatir ayah dan ibu. Sebab aku sudah memutuskan menolak ajakan mereka untuk membuat ku tenang di rumah nenek, sejak kejadian mimpi buruk dan teriakan tangisku saat terlelap membuat ayah berpikir untuk membawaku jauh dari bukit yang berisi seluruh kenangan ini. Mataku memandang tab, jariku bergerak ke atas menurunkan slide bacaanku. Namun pikiranku mengawang, menari, berkhayal, ketika tidak ada orang yang memperhatikan tingkahku aku mulai tersedu, aku menangis, dan akhir akhir ini menjadi sebuah keasyikan sendiri bisa menangis di bawah rinai hujan, tidak ada yang tahu dan mengerti selain aku, si pemilik air mata.
Aku tidak ingin begini, dan aku perlu memahami kondisi, berbagai hal positif yang ku tuang dalam argumen otakku hingga terjadi perdebatan sengit di dalam batinku, kemudian bertengkar hebat di dalam pemikiranku antara kubu positif dan kubu negatif. Disaat kubu positif didalam benakku menyahut dia baik baik saja,kubu negatif menjawab dengan nada amarahnya "bagaimana dia baik baik saja di musim pandemi seperti ini?!" Kubu positif selalu kalah dalam perang argumen yang terjadi dalam diamku, kubu negatif selalu menang mewakili seluruh keadaan yang tercipta, sebuah alur yang rumit dalam drama kehidupanku, sebuah alur yang tak bisa kutebak apa endingnya.
"kamu sudah selesai baca berita?" wajah ibu muncul dari belakang seiring dengan kalimat tanya yang ia utarakan untukku,langkahnya menyusulku duduk memandang pohon pinus yang lembap dan dingin. Ibu tersenyum, namun senyumnya terlalu di paksa untuk wajah sedih yang ada di tiap lekuk lekuk tulang pipinya, terlalu dusta jika wajah itu tersenyum bahagia, ibu menangis, aku tahu dari sisa butir bening yang tersangkut di bulu mata tipis dan warna merah mengelilingi putih matanya yang menyala. Perasaan itu makin dalam saat mata kami saling bertemu, ia memandang dengan tatapan melas kepadaku, ada tangis yang dia paksakan menjadi senyum, aku berpaling dari tatapan ibu. Aku selalu mencoba baik baik saja di hadapan wanita ini, ayo aku mohon jangan menangis, ujarku dalam hati. Aku masih tidak menanggapi pertanyaan ibu tentang berita yang ia tanyakan usai ataukah belum. Aku terlalu takut untuk bersuara, semakin aku bersuara, semakin ada tekanan dari dalam relung hatiku yang sudah pecah. Namun bagaimanapun aku harus memaksakan hal itu.
__ADS_1
"aku selalu membaca kok buk, aku nggak sedih lagi." aku berbohong lagi, namun semakin sering kata itu ku ucapkan semakin terdengar meyakinkan. Perlahan aku pandai berbohong. "oh aku mohon ibu jangan menangis begitu..." pintaku padanya, aku ingin marah detik ini. Aku berusaha agar terlihat tegar namun ibu justru menampakkan kesedihannya di hadapanku, tidak tahukah dia bahwa kesedihanku lebih banyak dari yang ia punya.
"sudah buuuk, aku mohon." tidak tahan rasanya melihatnya meraung dengan tangisan pedihnya, nada tangisannya sangat menyedihkan, membuat hatiku perih, hingga dengan lancar air mataku keluar. Tak kunjung berhenti dari tangisnya, ibu memutuskan untuk mengalah dan menjauh dariku.
Begitulah ibu akhir akhir ini, ia kasihan terhadapku, dan juga khawatir atas suamiku, kita sama sama khawatir. Baik itu keluargaku atau keluarga Firhan sendiri. Dan aku tahu, tentu semua orang akan menyalahkan ku karena telah membuat Firhan datang ke Jawa. Lagi lagi aku masih menyalahkan tentang keputusanku, jika saat ini ada Firhan dan ia mendengar penyesalanku pasti ia akan berujar.
"ya udah gak apa apa itu juga udah berlalu kok." sifat sabar yang luar biasa ada padanya. Namun di saat saat seperti ini mampukah ia untuk bersabar? Aku harap begitu denganmu dan aku bisa meniru.
Beberapa tetesan air langit jatuh ke puncak kepalaku pelan, sebentar lagi pasti akan turun hujan, seharusnya bulan maret sudah memasuki musim panas. Namun sejak hari dimana aku hampir saja tertimpa pohon, beberapa hari berikutnya menjadi muram, semuram wajahku saat ini.
Aku menggigit bibir, mencoba berpikir dengan keras, apakah aku hamil? Tanyaku dalam hati yang rapuh ini, desiran dan degupan jantungku meningkat, kuraih ponsel memanggil sebuah nama yang tertera di ponselku call *my sist.
"assalamualaikum*..."
Ujarku menyapanya dengan penuh kerinduan sebab satu tahun lebih kami tidak bersua, ia jauh di Kota Batang, tempat nenek.
"waalaikumsalam, mbak sibuk gak..?"
__ADS_1
Aku menanyakan aktivitasnya, tentu akhir akhir ini ia akan sibuk sebagai seorang dokter.
"alhamdulillah ada waktu dek, kamu apa kabar..? Subhanallah kangennya mbak sama kamu..."
"uwuwu aku sehat, aku selalu bahagia di sisi ayah dan ibu saat ini. Aku pun kangen kamu mbak, kapan kapan aku main ya. Semoga wabahnya cepet pergi biar kita bisa jalan jalan lagi."
"kamu gak ikut Azalea main sih, dia udah apel dulu malahan. Huuuu" ejek kakakku dari seberang aku hanya bergumam saja sambil tersenyum, sebab aku tahu lawan bicara akan tahu jika kita berbicara sambil tersenyum.
"ibuk sering nangis. Beliau khawatir kondisiku. Pasti ibuk juga cerita ke kamu kan..?"
"iyya, ibuk cerita dek.." ujar kakak dengan nada yang sangat perhatian denganku. Suara yang menemaniku sepuluh tahun lamanya.
"kamu harus kuat yaaa, kamu gak boleh putus asa. Sekarang yang terpenting untuk kamu adalah mencoba untuk terus sehat supaya bisa mendoakan suami kamu." aku mengangguk meskipun aku tahu kakakku tidak melihat anggukanku. Beberapa detik kemudian aku tak tahan lagi, rasa mual ini hadir lagi.
"emm mbak, sejujurnya lagi gak baik baik aja. Aku cuma gak yakin tapi tiga hari terakhir ini aku mual, beberapa kali perutku kram hebat, juga aku sensitif sekali mencium bau bawang goreng, bau parfum dan lebih mengejutkan lagi aku telat menstruasi.
Apa aku hamil?" tanyaku memastikan pada seorang dokter pribadiku yang jauh di sana.
__ADS_1