LOCKDOWN A Love And Covid-19

LOCKDOWN A Love And Covid-19
Episode kehilangan 1


__ADS_3

Pepatah Jawa mengatakan "witing tresno jalaran soko kulino" cinta itu tumbuh karena terbiasa. Terbiasa tinggal bersama, terbiasa tidur bersama, terbiasa bercerita. Dan kamu tahu? Kebiasaan itu terlahir dari keterpaksaan . Maka selagi belum menjadi cinta, jangan pernah putus asa. Begitulah aku yang belajar mencintai suamiku.


Namun setelah kita mencintai, kita akan semakin ketakutan, kita takun dengan satu hal berupa kehilangan. Tidak mungkin kita melepas sesuatu dengan mudah jika kita telah memlikinya dan memberikan kedudukan terbaik di hati kita. Begitulah resiko orang yang saling mencintai, sedikit banyaknya mereka pasti takut dengan satu hal bernama kehilangan.


Telepon bergetar di atas dasbor mobil yang ku tumpangi, aku lihat sekeliling yang sepi. Aku mengangkat telpon dari Firhan.


"sayang, sebentar lagi aku masuk pesawat."


Lapor Firhan padaku


"alhamdulillah, semoga perjalanan lancar ya. Di sini hujan. Di Medan hujan atau enggak mas?"


"panas kali di sini. Untungnya udah masuk ruang tunggu. Nanti kalau udah ada panggilan, ya langsung masuk ke Pesawat." jawab Firhan


"di sini hujan deras mas... Sebentar ya.."


Aku menyingkirkan telepon dari dekat telingaku. Juru parkir menungguku membukakan jendela setelah ia ketuk tiga kali dengan pelan kaca mobilku.


"iyya pak kenapa..?" tanyaku pada juru parkir yang mengenakan seragam orange tertutup jas hujan plastik warna hijau menerawang.


"ngapunten (maaf) mbak.. Mobilnya ndak boleh berhenti di sepanjang jalan ini nggih."


Dengan berhati hati dan sopan ia berkata dan menunjuk rambu rambu jalan dengan jempol kanannya dan tangan kiri yang di sangga pada tangan kanannya,aku mengikuti arah jempolnya di sisi kiri jalan. Dilarang parkir 100 meter ke depan. Aku tersenyum padanya.


"oalah iyya pak.. Saya majukan mobil saya."


Jawabku,ku keluarkan uang dua puluh ribu dari tas.


"untuk jasa parkir sedikit pak, mudah mudahan berkah."


Beliau menerima dan berlalu meninggalkanku.


Ku hidupkan lagi mesin mobil menjauhi sepanjang jalan 100 meter dari tempatku berhenti tadi. Sambil ku hubungkan bluetooth ponsel dengan mobil agar bisa mendengar suamiku berbicara lagi.


" halo yank.. Halo.. " ujarku namun tidak ada lagi jawabannya.


Sedih sekali rasanya belum memberikan pesan padanya untuk membaca doa dan banyak berzikir selama perjalanan meskipun aku tahu,dia akan melakukannya tanpa kuperintah. Firhan terlebih dahulu berpamitan padaku lewat pesan whatsaap yang sudah ia kirimkan 4 menit yang lalu.


"Pesawatnya akan segera berangkat, aku harus mematikan ponsel. Aku selalu ingat pesan kamu kok sayangku.. Sampai jumpa di bandara nanti 😘."


Ucapnya dengan emoticon kiss bye.


Aku hanya bisa senyum senyum sendiri menanggapinya, aku balas dengan menggunakan pesan suara.


"aku tunggu kamu.. Aku cinta kamu mas."


Hujan makin deras, angin menghamburkan rintik hujan membuatnya menari nari di udara.


Aku tetap harus melanjutkan perjalananku. Pelan saja nggak usah kencang kencang, ucapku pada diri sendiri. Sebuah guncangan hebat dari bawah tanah kurasakan, aku injak rem dalam, begitu juga dengan kendaraan lain hingga terdengar decitan rem serta suara gesekan ban dan aspal. Sedikit gemetar tanganku, gempa bumi mungkin atau tsunami batinku sambil menunggu apa yang terjadi, hujan sangat lebat namun beberapa orang nekat keluar dari kendaraan mereka, beberapa warga pemilik toko juga ikut keluar, kemudian serentak mereka menoleh ke arah belakang mobilku. Aku ikut menoleh, namun hujan terlalu deras membuat mataku tak mampu menangkap objek di belakang sana, yang aku lihat hanya hujan yang masih menari kesana kemari di ombang ambingkan oleh angin.


Aku membuka jendela mobil di sisi kiri kemudi ku.


"ibuk buk.. Ada apa buk..?" tanyaku pada seorang ibu ibu pemilik warung yang turut penasaran dengan getaran yang terjadi beberapa menit lalu, daster batiknya melambai terkena angin dan beberapa cipratan air hujan yang deras, ibu itu mendekati jendela mobilku yang setengah terbuka.


"pohon tua tumbang mbak.." ucapnya membuatku lemas, aku linglung ketika ibu itu berlalu meninggalkanku memegang setir mobil. Agak gugup, aku buka jendela mobilku, kepalaku mendongak keluar dari dalam mobil dengan susah payah menoleh kebelakang, membiarkan jilbab biru mudaku menjadi penampung air hujan yang kasar. Aku tidak melihatnya dengan jelas membuatku tak sabaran sehingga aku memutuskan untuk keluar. Di tengah hujan deras, di bawah kolong langit yang gulita, aku hampir saja terjebak dalam kematian. Kulihat pohon tua tempatku memarkirkan mobil tadi telah tumbang menghalangi jalan, tiang listrik yang berada di seberang jalan pun ikut tumbang tertimpa beratnya pohon tua. Kalaulah Allah tidak mengirimkan juru parkir! Rasanya uang dua puluh ribu terlalu kecil untuk seorang lelaki tua yang Allah kirimkan untuk menyelamatkan nyawaku. Aku melamun, hampir tak bisa kubedakan apakah ini air hujan yang mengalir di wajah ku ataukah air mata.


"mbak, nanti sakit. Sini masuk warung dulu.."


Pinta wanita berdaster batik yang tadi kusapa dari dalam mobil, masih lunglai dan melamun aku hanya mengikuti ajakan tangannya yang menggandeng lenganku, ia berikan setengah bagian payung lusuhnya agar meneduhi tubuhku yang sudah basah kuyup dengan air hujan.

__ADS_1


Aku hampir saja berhadapan dengan kematian, Allah masih menyelamatkan aku di sini. Aku tidak bisa membayangkan jika seandainya aku mengabaikan juru parkir tadi dan asyik mengobrol dengan Firhan. Tak henti henti mulutku bergetar membuat gigiku bergemeltuk karena kedinginan, padahal bukan waktu yang lama aku mematung di sisi mobilku tadi.


"nggak apa apa mbak. mbak takut nggih..?" tanya ibu tadi, tangannya membawa nampan berisi segelas teh panas kemudian di berikan untukku. Aku menggangguk tak mampu menyembunyikan air mataku.


"saya hampir saja tertimpa pohon tadi buk.."


Kugenggam gelas berisi teh panas itu sejenak.


"saya hampir meninggal....Kalau tadi tidak ada bapak bapak yang menyuruh saya menyingkir dari bawah pohon itu. Saya..."


Aku tidak mampu melanjutkan perkataanku, sedih dan bersyukur serta terharu detik ini aku masih hidup, aku di izinkan untuk berjumpa dengan suamiku nanti.


" iyya ibuk ngerti mbak. Alhamdulillah mbak punya banyak nyawa. "ujar ibu ini menepuk bahuku lembut. Istilah punya banyak nyawa berarti Allah masih memberikan kesempatan hidup, begitulah orang daerah kami menyebutnya.


Aku sempat kecewa tidak bisa mendengar suara Firhan karena mengikuti arahan juru parkir untuk memajukan kendaraanku, namun dalam hitungan lima menit kemudian aku lebih bersyukur daripada rasa kecewa. Dan mungkin aku akan lebih kecewa jika aku tidak memindahkan kendaraanku.


Teh mulai hangat perlahan, aku meminumnya. Kulihat jam dinding yang menggantung di atas televisi di warung ini menunjukkan pukul 09:30, sudah saatnya aku bangkit dari tempat dudukku. Aku meminta izin untuk ganti baju, sebab bajuku basah kuyup terkena pasukan air hujan.


"mbak, ternyata ada orang yang ketimpa pohon tadi, ibuk pergi sebentar ya." setengah berteriak ibuk itu mengatakan padaku dari depan pintu kamar mandi.


"iyya buk, terimakasih ya, saya mau pamit."


Ucapku namun tak terdengar jawaban sedikit pun, aku mengintip dari celah pintu kayu ternyata beliau sudah berlalu meninggalkanku. Hatiku berdentum keras jika mendengar kabar buruk tentang kematian. Mungkin karena aku terlalu banyak menonton film horor, seolah olah mayat yang sudah meninggal sedang menungguku di depan warung ini dan mengatakan ingin berpamitan terlebih dahulu. Aku merinding bergidik dan setengah berlari menuju ke depan.


Aku yakin ibu tadi tidak mau jika kuberikan uang, aku menaruh lembar biru di atas meja, tepat di sisi gelas kosong yang tadi berisi teh panas.


Aku berlalu tanpa menoleh ke belakang, hujan mereda, hanya rinai lembut yang masih beberapa kali menetes di atas permukaan kainku. Aku melaju mencoba melupakan kejadian beberapa waktu lalu, mencoba memutar musik yang Firhan simpan di flashdisk kecilku dan mengikuti jalanan panjang melewati tiap perkampungan di Yogyakarta, kota seni, kota budaya, kota gudeg dan kota istimewa. Begitulah julukan kota ini.


Satu jam tiga puluh menit berlalu, aku masuk kedalam area bandara Adi Sucipto Yogyakarta, suara alarm tanda kereta api akan lewat berbunyi, sebentar lagi kereta akan melintas. Aku hanya mendongak sebentar, tak mau berlama lama memperhatikan kereta api yang melaju dengan cepatnya.


Tepat di depan masjid Baitul Hidayah di kompleks pemarkiraan mobil aku terhenti. Seharusnya Firhan sudah landing untuk pukul 11:00 ini di bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta, namun tidak ada jawaban setelah ia matikan ponselnya sedari tadi. Aku mencoba memanggilnya melalui whatsaap selalu bertuliskan memanggil, tidak berubah menjadi berdering. Waktu salat tiba, aku bernajak dari kursi kemudi ku meregangkan badan setelah satu setengah jam duduk.


Aku mengambil langkah panjang memasuki masjid ini.


"ini kak Yasmine..?" suara serak basah dari sosok wanita berjilbab pink memperhatikanku membuat aku mendongak ke arahnya.


"penulis yang waktu itu datang ke UMSU bukan..? Istri dosen Firhan..?" lanjutnya meyakinkan


"iyyaa betul, siapa ni..?" tanyaku sambil mengulurkan tanganku ke arahnya. Ia duduk di sampingku pada akhirnya.


"ini awak -baca saya- lho kak. Yang dulu sebelum kakak masuk mobil kita ngobrol tentang dosen Firhan." aku menerka nerka mengingat wajah satu tahun lalu.


"ooh maa syaa Allah Laras ya."


"oh ya Allah aku di ingat penulis." ujarnya semangat sambil memegang pipi cubby nya dengan kedua tangan.


"ada acara apa kamu disini.?"


"itu kak, mau ke rumah paman. Sekalian jenguk kakek, sudah sepuluh tahun nggak ke Jogja."


Aku baru tersadar bahwa gadis di depanku sudah menikah di akhir semesternya, detik detik skripsi akan bersama suami tentunya.


Gadis mancung berkulit sawo matang kecoklatan ini menceritakan banyak kisah tentang rumah tangga yang di bangun olehnya dan suaminya. Berbekal buku yang ku tuliskan untuk pembaca, dan Laraslah salah satu dari sekian orang yang mengamalkan isi buku ku. Aku terenyuh mendengar kisahnya dan bersyukur bisa menginspirasi banyak jiwa.


"ah kak sudah dulu ya." ujarnya berpamitan setelah sosok berkaca mata dari seberang pintu memanggilnya.


Aku menghela nafas berat berulang kali, perasaan makin mengganjal namun aku tidak bisa mengungkapkan pada siapapun.


Bahkan untuk meng klik tanda panggil untuk ayah pun aku tidak mampu melakukannya.

__ADS_1


Aku hanya menatap kesana kemari seperti orang yang tidak punya tujuan. Hatiku cemas, namun aku tidak tahu betul seperti apa bentuk kecemasan itu. Dan aku juga khawatir, namun aku tidak tahu tentang apa khawatirku.


Mungkin saja karena getaran pohon tumbang tadi, aku ingin berlari namun tak tahu harus kemana.


Ponsel menyala, dengan cepat aku mengambilnya, senyumku pudar. Ternyata bukan sebuah jawaban dari Firhan melainkan ayah yang mengirim pesan untukku.


Aku makin murung, menatap sayu layar ponsel.


"ayah.." panggilku dengan nada kurang bersemangat dari seberang telepon.


"iyya nak.. Ada masalah..?"


"enggak, tadi hampir saja aku tertimpa pohon tumbang di dekat halte bus yah." ceritaku


"ayah ke situ ya, kamu ada di masjid kan..? Ayah susul kamu sebentar lagi." tanpa meminta persetujuanku ayah langsung mematikan telpon kami.


Satu jam, dua jam, tiga jam berlalu dengan sangat lambat. Aku tidak bisa mengucap sepatah kata pun detik ini, cuaca cerah setelah hujan deras tadi mengguyur dari pagi sampai zuhur. Notifikasi muncul, bukan lagi dari Firhan. Dari ayah, dia mengatakan bahwa kendaraan mogok dan macet efek dari pohon tua yang tumbang.


Aku menghela nafas berat untuk ke sekian kali dengan berat, sakit sekali rasanya.


Waktu berlalu, seharusnya Firhan sudah sampai dan menginjakkan kaki di sini.


Aku mencoba menghubungi nomornya namun tidak aktif, semua sosial media miliknya pun demikian.


"pesawat udara citilink dengan nomor penerbangan QZ-741 dari Jakarta telah mendarat."


Mendengar pengumuman tersebut aku segera menuju ke tempat penjemputan, lima menit, sepuluh menit dan lima belas menit berlalu aku hanya bisa berlalu lalang memperhatikan tiap tiap penumpang yang keluar setelah masing masing membawa barang bawaan mereka. Tak ada Firhan di antara semua kerumunan penumpang dari Jakarta. Aku mengambil langkah panjang, mencoba menghubungi nomornya yang masih juga belum tersambung.


"pak pak.. Mohon maaf bapak naik pesawat citilink dari Jakarta..?"


"iyya betul."


"sebelumnya dari Medan?"


"iyya betul." jawabnya lagi.


"oh baik pak terimakasih."


"oh iyya pak sebentar sebentar.."


Aku menghentikan laju strollernya. Ia pun berhenti lagi dan menolehku


"tadi waktu di Jakarta bapak telat terbang..?"


"iyya tadi kami menunggu sekitar ada tiga penumpang kalau gak salah yang masuk terkahir sebelum pesawat mau take off."


"oh iya iya makasih pak."


Ia berlalu dan langkahku makin lama makin lemas saat berdiri. Aku masih mencoba menghubungi nomor Firhan,meskipun berulang kali jawabannya "nomor yang anda tuju sedang tidak aktif."


Aku masih berusaha berjalan, tapi aku tidak bisa lagi memendam air mataku yang perlahan mulai cair karena suasana hatiku.


Aku gagal bertemu dengannya hari ini.


Aku akan menunggu sampai dia datang, mungkin dia ketinggalan pesawat, bisik hatiku menguatkan


Namun aku terlalu terbawa perasaan, selalu saja tidak bisa berfikir secara positif jika di hadapkan dengan hal hal seperti ini.


Bodohnya aku yang selalu menyiksa diri dengan ketidak tegaran, terlalu lemah. Aku hanya bisa mengumpat dalam hati.

__ADS_1


Dua kloter tiba lagi, aku hampir putus asa untuk terus berjalan kesana kemari menatap beberapa wajah asing,bukan suamiku.


Aku termenung di deretan kursi, tangan berat seseorang di letakkan di atas kepalaku menenangkan tangisku yang makin menderas, aku memeluknya.


__ADS_2