
Sudah hampir satu jam kami berada dalam mobil dengan melihat pemandangan hujan yang turun dari cakrawala, biasanya jika kami lalui dengan kecepatan 60KM/jam,kami akan sampai hanya dalam hitungan menit, sekarang satu jam hampir berlalu dan kecepatan masih begini begini saja, aku menghargai keputusan ayah untuk menjagaku dan janin ini serta aku bukan pribadi yang mudah bosan.
Ayah menepi memasuki sebuah halaman besar, di samping rumah minimalis terdapat bangunan dengan neon box warna putih kuning bertuliskan
"dr. Yusniwati sp.Og spesialis kebidanan dan kandungan"
Aku melihat sekeliling, ayah sudah ngeloyor terlebih dahulu keluar dari mobil untuk memastikan apakah dokter kandungan akan buka praktik hari ini, perawat keluar dari dalam ruangan setelah beberapa kali ayah memencet bel, dengan ramah ia mempersilahkan ayah masuk terlebih dahulu.
Aku menelan ludah dengan berat, sambil kuhirup nafas banyak banyak, suasana di sini sangat asri melebihi pemandangan rumahku yang notabene nya adalah pemandangan alam dan bukit pinus. Di halaman rumah dokter Yusniwati tidak ada satu pun pohon pinus, namun tata letak dan desain taman membuat pengunjung seolah olah berada di hutan bunga. Banyak jenis bunga bunga yang merambat di luar, luas taman mungkin tiga kali lebih besar daripada rumahnya dan klinik tempat praktiknya. Ayah mengetuk jendela,membuatku menoleh ke arahnya.
"yuk langsung masuk, ayah sudah daftarkan kamu." ucap ayah dari luar jendela yang sudah ku turunkan.
aku makin grogi, rasanya ingin pulang ke rumah, sebab yang aku tahu beberapa dokter kandungan galak dan tegas dan kedua sikap itu bertolak belakang dengan hatiku yang mudah terluka, aku berusaha menghilangkan bayang bayang negatif dan menyelipkan kalimat "galak itu demi kebaikan janinku" berkali kali di dalam pikiran. Kakiku menginjak halaman depan teras klinik ini, dengan berat kakiku melangkah, seperti di gelayuti batu batu besar rasanya. Suhu AC seketika menempel pekat di kulit saat pertama kali masuk dan menutup pintu kaca yang bening, pemiliknya pasti rajin membersihkan. Sapaan ramah dari wanita muda yang menjaga lobi pendaftaran mengalun begitu saja seolah tak terdengar. Aku memandangnya sekali lagi.
"ih Yasmine"
"Irma ya."
Secara spontan dan bersamaan kami mengucap nama, ia melangkah mendekatiku dan mendekap gemas aku pun memperlakukan dengan cara yang sama, seperti akhir perjumpaan kami di SMP kala itu.
"ayah, ini Irma teman SMP ku dulu."
Aku memperkenalkan pada ayah
"oooh iyya iyya." ucap ayah seperti paham tak paham, ia fokus dengan ponselnya. Irma menuntunku untuk duduk di kursi empuk menghadap ke lobi pendaftaran.
"aku enggak nyangka kamu ketemu lagi sama akuuuh." kulihat bibirnya mengerucut manja, sama seperti dulu saat ia berbicara vokal U ia akan mengikut sertakan bibirnya membentuk huruf itu.
"samaa aku juga, sejak kapan kamu bekerja di sini?"
"jalan dua tahun ini." aku mengangguk, gemas rasanya ingin mencubit pipi tebal Irma yang tidak pernah berkurang.
"eh timbang berat badan dulu yuk." pintanya, dan aku membuntut di belakang tubuh Irma.
Timbangan digital berwarna hitam metalic ini ku pijaki selama beberapa detik hingga muncul beberapa angka.
"36,2 kg. Okke sudah." ujar Irma dengan kalem kemudian menuliskan angka tersebut di sebuah kertas seperti melayani pasien lainnya. Aku terheran heran melihat perubahan sikapnya. Geleng geleng kepala rasanya mendapati ia begitu.
__ADS_1
Irma asyik bercerita tentang kehidupannya, dia bahkan tahu aku sempat menjari public speaking dan menulis buku buku. Sembari ia bercerita hatiku masih terus berpikir, bagaimana kalau Irma bertanya di mana suamiku. Hmm aku sibuk memikirkan jawaban itu sampai tidak terdengar lagi ucapannya. Langkah sepasang sandal rumah terdengar memantul, tap tap tap dengan cepat langkah itu mendekati kami. Irma mengakhiri ceritanya yang tak tahu apa, dan dia tidak menanyakan dimana suamiku. Mungkin sudah menjadi peraturan bagi penghuni rumah praktik ini, supaya tidak menanyakan pasangan jika mereka tidak membawanya.
Hatiku bergetar lagi, ada getaran takut, khawatir, dan nervous. Aku selalu begini jika di hadapan dokter, semua jenis dokter. Di mulai dari dokter anak yang memeriksaku jika aku demam, kemudian dokter gigi yang selalu siap mencabut gigiku, dan sekarang dokter kandungan. Senyumnya mengembang begitu aku masuk bersamaan dengan Irma, aku meminta ayah agar menunggu di luar saja.
Duduk di hadapannya terasa duduk di depan jaksa, aku seperti baru saja terperangkap setelah mencuri dan di mintai pertanggungjawaban, mungkin sekarang mukaku sangat pucat.
"Yasmine Adelia ya.." tanya bu dokter, bola matanya berpapasan denganku, aku hanya mengangguk.
"umur berapa mbaknya..?"
"saya 21 tahun 4 bulan dokter."
"okke silahkan rilex,berbaring di ranjang sana, kita lihat perkembangannya melalui USG ya."
Aku mengikuti arahannya yang ramah, tidak seperti dugaanku. Namun entah kelanjutannya. Biasanya dokter akan marah jika terjadi kesalahan yang di sebabkan pasien sendiri, aku merasa bersalah sebab mentelantarkan tubuhku tidak menyentuh makanan dengan sempurna. Sekelibat pintasan pikiranku bertanya tanya
apakah janinku baik baik saja..?
Langkahku tertuju pada layar televisi yang sudah di hubungkan dengan komputer, sebuah gambar yang asing, gelap namun terang, setelah sebuah benda menyentuh kulit perutku bagian bawah, gambar di layar mulai bergerak mengikuti, aku belum mempelajari fungsi alat yang di pegang bu dokter, dengan seksama aku melihat ke arah layar televisi.
"wahh tuh dedeknya masih sangat kecil, terbungkus selaput."
"itu pak yang lebih besar, pinta bu dokter pada ayah." ku lihat ayah langsung mendongak ke arah layar komputer di depan ranjang tempat aku berbaring.
"bapak mau punya cucu, selamat." ayah tersenyum bahagia mendengar hal itu, sama bahagianya denganku. Ini akan menjadi moment terbaik nomor dua dalam hidupku setelah berjumpa dengan Firhan .
Aku tidak sanggup membendung air mata, aku biarkan mengalir semau yang di inginkannya, suara detak jantung janinku yang sangat sehat, berdegup terdengar olehku yang sangat sumringah, melodi terindah yang pertama kali ku dengar, musik terbaik yang memberikanku kehidupan.
Firhan pasti sangat bahagia jika ia mengetahui hal ini, dia pasti akan berulang kali mencium keningku karena rasa cinta dan bahagianya.
Aku dan ayah pulang, senyumku beredar sepanjang perjalanan pulang yang mengasyikkan. Seasyik ku tahu bahwa kandunganku sudah memasuki usia 14 minggu jika di hitung sejak hari pertama haid terakhir. Rinai gerimis tersisa, hujan tak sederas tadi, seolah olah semesta mengetahui bahwa hatiku sangat membuncah bahagia, ia pun menghadirkan langit yang cerah di sertai rinai gerimis.
Pelangi membentang di ujung kota, mewarna melingkar bagai senyuman manusia yang tidak mengenal kata sengsara.
"yasmine.." ayah membuka suara memanggilku seperti ada yang ingin di bicarakan olehnya. Sedari tadi kami hanya diam di dalam mobil, aku sibuk dengan diamku yang berbicara, mungkin begitu juga dengan ayah yang tidak jauh beda dengan ku.
"iya.." jawabku menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"ayah punya keputusan dan ayah harap kamu tidak perlu menimbangnya lagi, ini demi masa depan kamu dan janinmu." ia menoleh sebentar ke arahku dengan wajah seriusnya, kemudian kembali lagi menatap jalanan yang sepi. Aku menggangguk, aku yakin ayah melihat anggukan ku dari sisi mata kirinya.
Ia berdehem seperti memilih kata yang pas untukku.
" ayo kita pindah, kita harus ke rumah nenek. Kamu tidak perlu bertanya kenapa kepada ayah ataupun ibu. Kami ingin badan dan pikiran kamu sehat. Bukannya ayah tidak percaya bahwa kamu baik baik saja. Ayah hanya takut suatu hari nanti kamu akan teringat dengan Firhan, dan hal itu tentu... "
" akan mempengaruhi kehamilanku.." sambungku tersenyum, aku mencoba meredam ke khawatiran ayah dan semua orang di rumah. Aku tersenyum saat ayah memandangku dengan ramah.
"aku tidak masalah, selama ini baik untukku dan juga janin ini."
"dan juga, kita akan lebih aman jika hidup di desa. Sebab covid telah beredar ke mana mana. Ayah akan mengurus surat pindah ke Kota Batang seperti dulu."
"apa ibu nggak keberatan yah? Nanti ibu sakit kalau teringat dengan almarhum mamas." sela ku mengingat kisah ibu yang depresi hebat saat tinggal di Batang. Di samping itu aku pun masih mengkhawatirkan, bagaimana jika Firhan pulang ke rumah dan aku tidak ada. Aku panik dengan hal itu, satu satunya alasan aku tidak ingin pindah dari bukit pinus adalah aku akan tetap menanti Firhan kapanpun dia datang.
"ibu tidak keberatan, ibu yang mengusulkannya sejak awal bulan maret lalu. Dan untuk Firhan, ayah akan terus berusaha membantu kamu. Jangan khawatir tentang rumah kita di sini. Nanti ayah pinta pak Parman dan mbok Lastri untuk menempatinya."
Aku terdiam sejenak, kehembus nafas panjang. " aku ikut keputusan ayah."
****
Aku menata kamar, ini akan menjadi perjumpaan akhir ku dengan seluruh kenangan di tiap sudut dan ruang ruang kosong di dalam rumahku.
Dua koper besar sudah di angkut ke dalam mobil, setelah sarapan aku akan segera meninggalkan rumah pinus tempat yang sangat aku cintai. Banyak kenangan di sini, namun aku setuju dengan pendapat ayah bahwa kadang kita akan merasa tertekan jika tinggal di dalam rumah yang penuh dengan kenangan. Aku sudah berdamai, namun aku menghargai keputusan ayah.
Sarapan ku lahap dengan semangat, tiga cintaku sedang menyerap nutrisi lewat makanan yang ku telan,buah buahan air putih aku tidak pernah meng alpakan mereka.
Ayah harus tetap tinggal, ayah harus mengurus beberapa pekerjaannya yang tertumpuk sebelum berpindah menuju kota cinta ayah dan ibu. Di mobil hanya ada aku, ibu dan pak Parman sebagai sopir.
Kali ini aku tidak secengeng dulu, aku harus lebih kuat agar tidak mempengaruhi kondisi kehamilanku. Aku menyapu semua pemandangan, semua bayangan dan kenangan ada di dalam pandanganku, aku menyimpan semua itu di dalam album hatiku, mataku pernah memandang sosok tampan yang keluar dari mobil dengan gagahnya, aku pernah duduk di ujung halaman saat akad akan di laksanakan, aku pernah di gandeng oleh Farhan menyusuri jembatan panjang, ciuman pertama di saat senja dan malam malam penuh cinta. Satu pekan bersama Firhan terlalu menyenangkan, aku tak bisa melupakan hal itu, sampai kapanpun aku rindu.
"sudah siap semuanya? Tidak ada yang tertinggal?" tanya ayah dari balik kaca mobil yang separuh terbuka.
"lo nantinya kan kalau ada yang ketinggalan ibuk minta ayah antarkan to." protes ibu dengan nada cintanya, begitu ucap ayah saat aku tanya kenapa ibu selalu menanggapi pertanyaan ayah dengan protesan. Katanya nada cinta.
Kadang begitulah cinta, hanya pasangan kita yang dapat mengaguminya. Disaat orang lain menganggap kurang bagus, hina, jelek, namun pasangan kita akan mengatakan itu adalah hal yang luar biasa. Pandangan orang lain dan pasangan kita berbeda.
Selamat jalan hutan pinus, selamat tinggal rumahku, selamat tinggal balkonku, selamat tinggal semuanya. Akan aku pastikan bahwa aku pulang, dan aku masih ingin berharap pulangku kemari karena kedatangan tamu, seorang tamu yang kini menghilangkan jejak langkahnya. Perlahan mobil meninggalkan pekarangan rumah yang penuh sesak dengan tumbuhan pinus yang tinggi, pemandangan ini tak akan aku dapatkan di kebuh teh Pagilaran, tempatku tinggal nanti.
__ADS_1
Aku ucapkan selamat tinggal dalam hatiku kepada semua orang yang mengenalku tiap mobil melaju melintasi tempat tempat yang aku singgahi, warung langgananku, buket handmade Tiara yang sudah tertutup, jalanan halus. Haruskah aku ucapkan selamat tinggal juga kepada sebuah pohon? Aku akan merindukan suasana ini. Dan aku berharap tidak kecewa dengan sebuah keputusan dari ayah.