LOCKDOWN A Love And Covid-19

LOCKDOWN A Love And Covid-19
Lockdown


__ADS_3

"menurutmu seberapa parah wabah di negeri kita sekarang...?" dengan mengawang aku bertanya pada dunia yang mulai mendung. Padahal perkiraan cuaca hari ini akan panas, kita sudah memasuki bulan april, dan puasa jatuh di salah satu hari di bulan april, hal itu menunjukkan bahwa musim panas akan tiba.


Satu hari lagi puasa 2020 tiba, ramadhan di depan mata. Bertepatan dengan tanggal 23 april 2020 namun hari ini hujan sudah bersiap siap akan terjun ke tanah.


Wabah pasti ada, dalam islam agama yang ku anuti menjelaskannya. Bahwa wabah pasti datang di muka bumi selama seratus tahun sekali. Dan wabah akan di angkat dari muka bumi ketika musim panas tiba, dan musim panas ummat islam jatuh pada bulan ramadhan, banyak juga yang membuat post post instagram tentang harapan mereka agar Covid-19 terangkat dari muka bumi saat ramadhan tiba. Aku memiliki harapan yang sama dengan mereka.


Kota kota terkunci, PSBB di terapkan, anak sekolah di liburkan, sebuah kejenuhan yang hakiki. Tidak sepertiku,aku tinggal dan hidup di rumah yang melatar belakangi pemandangan dan agrowisata. Itu rumahku dan tidak ada alasan orang lain melarangku pulang ke rumah. Pun demikian kejenuhan pikiran masih saja ku rasakan, kesepian padahal banyak orang di sekeliling ku,merasa sendiri padahal aku duduk ria bersama keluarga.


Aku memutuskan untuk tidak membaca surat yang di titipkan kepada Tiara. Aku akan menemuinya sendiri, aku akan men supportnya dan memberikan dukungan. Aku ingin Firhan sembuh. Aku ingin dia tahu bahwa aku hamil dan anakku butuh dia sebagai ayahnya.


Setiap kali aku teringat tentangnya, setiap itu juga air mataku mengalir tiba tiba. Rasa yang hadir di dada berkecamuk dengan pikiran yang berlarian mencari jalan keluar terbaik untuk masalah ini. Namun hasilnya selalu nihil di dalam hidupku. Aku tidak bisa berfikir jernih. Bodohnya aku yang selalu berfikir tentang kematian dan kematian tentangnya.


Aku belum siap dengan hal itu..


Sakit sekali, sama seperti luka kulit yang di beri cairan alkohol berulang kali tiada henti.


Sudah lima hari aku memulihkan keadaan janinku yang ikut syok saat tahu keadaan ayahnya. Aku belajar membangkitkan lagi asa dan kehidupanku yang sempat runtuh. Kulihat ponselku untuk memastikan sekali lagi apakah hari ini genap hari ke lima. Aku benar, sudah enam hari aku mengistirahatkan tubuhku pasca kabar buruk menghampiriku pagi itu.

__ADS_1


"boleh aku ke jakarta menemui Firhan..?" tanyaku pada kakakku yang sedang menjejalkan sepotong tempe ku mulut Fatih. Kulihat matanya berapi api, tatapan yang sangat negatif.


"ayolah, kamu harus sadar, dan jangan egois."


Nada kakakku melonjak sedikit dari normalnya. Jiwa dokternya keluar begitu mendengarku ingin ke Jakarta. Aku menunduk memeluk kedua kaki yang ku angkat ke atas sofa.


"sekarang pikirkan kesehatan kamu dan juga bayimu, di luar sana corona sangat banyak, dan kamu tidak pernah tahu siapa yang mengindap virus ini. Di tempat tempat umum sangat banyak kamu tau? Itulah alasan utama kenapa negara lain mengunci kota mereka, lockdown." nadanya ia buat se datar mungkin meskipun ada bagian bagian tertentu yang ia tekan. Aku hanya diam, aku pasang sikap acuh padanya. Aku akan meminta pak Parman untuk menjemputku saat kakakku berangkat kerja. Aku sudah memesan tiket untuk tanggal 25 maret, aku tidak akan me-refund tiket yang sudah ku pesan tentunya. Hatiku terus bergumam tak jelas, aku dan kakakku saling diam, tak ada yang berbicara.


Ramadhan kali ini akan menjadi ramadhan terburuk sepanjang sejarahku, tidak ada Firhan. Tidak ada acara memasakkan bubur kacang hijau kesukaannya, atau membuat kue pisang favoritnya. Aku akan ke Jakarta. Aku meyakinkan kalimat itu berkali kali agar tumbuh keberanian dalam diriku.


Malam ini jangkrik berorkesta dan berkolaborasi dengan katak yang bermain dengan nadanya memecah kesunyian malam di pegunungan teh Pagilaran. Genangan genangan air di lubang tanah penuh terisi air menangkap bayangan lampu putih dari luar.


Tak perlu lagi berkendara jauh jauh ke kota, meskipun sinyal tidak sebanyak dan se stabil saat di kota namun ini cukup membantu.


Beberapa notifikasi bermunculan, nada dering yang ku atur menunjukkan dari berita. Aku selalu menyalakan notifikasi berita, sudah beberapa hari aku tidak membuka berita apapun, mengisi kekosongan waktu sambil menunggu nyala bara api membesar ku ambil tab ku yang masih menyala.


Mataku terfokus pada berita paling atas yang di upload oleh website CNN. Sebuah tulisan di cetak dengan bold mewakili isi dari berita.

__ADS_1


Mulai 24 April 2020 per 00:00 pesawat di larang membawa penumpang.


Tanganku bergetar, kubaca ulang dan ku baca lagi,berita yang berkaitan dan ternyata bukan rumor semata. Semua media menayangkan hal itu, hal yang bisa mencegah langkah panjangku untuk menjemputnya. Bandara di tutup, penerbangan penumpang tak di izinkan, semua transportasi umum baik darat, laut dan udara beehenti beroperasi. Sebagian lockdown, mengunci kota mereka agar mereda wabah yang melanda negeri kita.


Aku memutar kepala berinisiatif untuk naik mobil ke Jakarta, namun janinku....


Ku hempas tabku ke arah sofa, dengan keputus asaan terbesar setelah semua usaha akan aku coba namun sia sia dan semuanya tersusun dengan rapi serta menunjukkan ada sebuah skenario baru, bahwa aku dan Firhan tidak bisa lagi bertemu.


Ku tutup mukaku rapat rapat untuk menguatkan diri. Salah satu harapan dan doa terbaik adalah Firhan harus sembuh. Dengan begitu ia bisa kembali bersua denganku setelah penerbangan dibuka.


Aku mohon...... Hatiku sakit sekali


"kamu kenapa...? Sakit Yasmine..?" nada panik yang keluar dari mulut kakakku hanya bisa kubalas dengan gelengan ringan.


Aku tidak lagi hidup, bagaimana caranya aku bisa menghidupkan kehidupanku jika cintaku terbaring sendiri di sana.


Aku kembali mengurung diri, mata sembapku makin menyipit, aku tidak bisa berfikir apa apa. Sebuah pena dan kertas yang kusediakan untuk menulis hanya menghasilkan coretan coretan kasar tanpa tulisan, harapanku hanya janin ini.

__ADS_1


Aku tidak ingin membayangkan bahwa Firhan sedang terluka saat ini, aku ingin dia baik baik saja. Aku mohon menghilanglah pikiran aneh dalam otakku. Berkali kali pintu di gedor dari luar. Mengalun suara suara orang di sekeliling ku secara bergantian. Ada ibu yang menawarkanku untuk merawar bunganya, kakakku yang meminta untuk menjagakan dua tentaranya, nenekku yang menyuruhku makan, dan dua keponakanku dengan ketukan tangan mungilnya berbicara ingin mengajakku bermain. Tak ada kekuatan bagiku untuk menjawab semua suara.


Diamku sudah mewakili semua keadaan yang sudah ku alami. Akan lebih baik jika aku sendiri, aku benar benar tak ingin punya kehidupan. Cita citaku melebur bersamaan dengan sebuah kabar duka, kenanganku menari nari di depan mataku. Aku meringkuk pasrah di atas lantai granit yang dingin.


__ADS_2