
"emm mbak, sejujurnya lagi gak baik baik aja. Aku cuma gak yakin tapi tiga hari terakhir ini aku mual, beberapa kali perutku kram hebat, juga aku sensitif sekali mencium bau bawang goreng, bau parfum dan lebih mengejutkan lagi aku telat menstruasi.
Apa aku hamil?" tanyaku memastikan pada seorang dokter pribadiku yang jauh di sana.
"Iyya ya dek, tahun ini kamu waktunya hamil. Kamu beli testpack dulu okke. Ya walaupun mbak yakin kamu hamil, tapi mbak sarankan kamu beli testpack dulu."
Aku mengakhiri telepon,dan meletakkannya asal di atas ranjang, saat ini ada dua rasa dalam hatiku setelah mendengar jawaban dari dokter pribadiku. Pertama aku bahagia, tentu! ini adalah saat saat yang aku nantikan jika hasil dari testpack adalah positif. Saat dimana aku harus menjadi seorang ibu, dimana semua wanita mengidam idamkannya. Aku sangat bahagia sampai sampai tersenyum sendiri detik ini. Dan kedua, aku sedih, aku terpukul dengan keadaan, hidupku yang tak pernah tahu kabar darinya membuat diri ini dipandang sebagai seorang janda. Iyya seperti janda.
Aku mencari cari testpack digital yang di beli oleh Farhan saat bulan januari lalu, saat kami sudah memutuskan bahwa awal januari kami tidak akan menggunakan alat pengaman apapun saat berhubungan. Dan aku tidak menyangka akan terjadi secepat itu. Lebih cepat dari yang aku bayangkan. 99% tanda kehamilan muncul, hanya menunggu hasil dari testpack digital yang sudah kupandangi lekat lekat dengan kedua mataku yang perlahan mulai buram. Terlalau lama aku melotot memandangi benda berwarna putih di depan Kamar mandi kamarku.
Seiring berdebarnya jantung hatiku yang makin membuatku menjadi panas dingin dalam penantian. Dan Alhamdulillah, subhanallah, Allahu akbar! Aku hamil.
Aku berjalan dengan perasaan haru biru menuruni anak tangga dengan sangat hati hati. Ayah yang pertama kali aku temui, ia menangkap senyum girangku untuk pertama kalinya setelah tiga pekan lamanya dalam kemurungan. Ia sedang duduk di atas sofa sambil membaca, awalnya hanya bola matanya yang melirik ke arahku, namun akhirnya wajahnya juga ikut mendongak memperhatikan langkahku dan senyum sekaligus air mata yang menetes.
"aku hamil..." aku menunjukkan testpack digital yang bertuliskan positif pada ayah. Ayah kaget dari ekspresi badannya yang tersentak, serta merta ia menggapai testpack yang aku berikan dan membenarkan letak kacamatanya yang selalu ia kenakan. Alih alih ia juga ingin memastikan tentang ucapanku sebelumnya.
" Subhanallah... Anak ayah hamil." ucapan ayah dengan mata merahnya yang hampir berubah menjadi bening air mata, suara ayah terlalu menggema membuat langkah semua orang di dalam rumah menghambur ke arah ruang tamu.
"apa tho? Apa tho..?" ibu menyusul dengan mata bengkaknya karena menangisiku tadi. Di ikuti dengan langkah mbok Lastri, tangan mbok Lastri masih membawa pengaduk nasi tanda ia pergi saja dari pekerjaannya. Aku tersenyum bahagia menatap semua orang di dalam ruang tamu ini.
Seketika ibu meraih testpack digital itu dari tangan ayah, menatap wajahku dengan kasih sayang dan iba bercampur bahagia. Mbok Lastri langsung menghambur memelukku, air matanya berlinang. Saat ini aku sadar, banyak orang yang Allah titipkan untuk mengasihiku dan mencintaiku.
Dianatara rinai hujan pekat di luar kaca jendela yang tertembus oleh pandanganku, disaat kebahagiaan menjadi kehangatan bagi kami di sini, akan ada anggota baru yang meramaikan rumah di tengah pohon pinus.
__ADS_1
Saat aku rasakan ada kehadirannya, saat aku tertawa dan bahagia seperti ini semua orang di rumah ini ikut serta merasakannya bersamaku. Aku merasakan adanya kehidupan lagi setelah energi cinta datang, sebuah anugerah dari Sang Maha Rahman, Allah titipkan segumpal darah dalam rahimku.
Mulai detik ini semua orang di rumah siap untuk menjagaku. Ayah selalu siap mengantarkan aku kapanpun aku mau pergi dan kemanapun arahnya, ibu bekerja sama dengan mbok Lastri untuk selalu menyiapkan menu makan yang sehat nan bergizi dan aku bertugas untuk menjaga janin serta hatiku agar lebih tabah, berdamai dengan keadaan. Di sinilah aku merasakan adanya energi keikhlasan yang luar biasa, berulang kali Allah tegaskan dalam Al-qur'an bahwa Allah selalu bersama dengan orang yang sabar. Artinya Allah akan mendengar keluh kesah mereka, selagi mereka tidak berputus asa tentu Allah akan berikan yang terbaik untuk hamba Nya.
Siapa lagi yang akan mencintai hamba jika bukan Allah..
"sudah telepon mbak Nurhan belum..?" tanya ibu padaku, Nurhan adalah nama singkatan kakakku yaitu Nur Hanifah. Aku menggangguk ragu.
"tadi sebelum test aku tanya dulu sama mbak Nur buk." jawabku
"ooo ya sudah nanti biar ibuk kabari lagi."
Ibu mengangguk saling bertukar pandang dengan ayah, mereka duduk di kursi tamu yang panjang di sebelah timur. Masih tak percaya karena terlalu kagum dan bahagia.
Mudah mudahan Allah berikan kesehatan untuk janinku.
"ai tentu, sekarang? Biar ayah siap siap." dengan semangat ayah bangkit dari duduknya. Biasanya jika ia bangkit dengan cepat dari duduk akan terasa sakit tulang belakangnya. Namun kali ini, ia regangkan badannya ke kanan dan ke kiri sambil tersenyum tanpa ada sakit.
"eee semangatnya si ayah. Gak sakit yah langsung berdiri cepet gitu? Biasanya aduh aduh.." merasa heran, ibu ikut protes, mulutnya mengerucut seperti anak kecil.
Ayah hanya tertawa saja sambil mengedip jahil. Aku teringat dengannya lagi namun segera kutepis rasa rindu itu.
"aku siap siap dulu ya." aku pamit melangkah ke atas.
__ADS_1
"apa baiknya kita ganti tangga Yasmin pakai lift yah?" suara ibu mengalun terdengar telingaku, aku terkikik mendengarnya. Sampai begitu pedulinya ibu terhadapku dan juga janin ini.
Tak apa nak, ada mama untukmu dan keluarga yang akan menjaga kita berdua.
Kutatap lekat pantulan tubuhku di depan cermin dingin di pojok kamar. Tulang selangka ini begitu menonjol karena kurusnya badanku, tanganku makin kecil, aku seperti manusia yang tidak berdaging. Kecuali senyum pucatku yang manis, mataku tertuju pada bagian perut ku yang masih ramping, belum percaya jika aku hamil, namun aku menyadari bahwa aku hamil. Sungguh perasaan yang luar biasa.
Aku kenakan gamis biru muda berenda putih di bawahnya dan jilbab pink kesukaanku. Perpaduan warna favorit, gamis ini yang telah menjadi sejarah cintaku. Sebuah kisah yang indah. Aku mengambil nafas panjang, memperhatikan sekali lagi letak jilbabku dan melangkah keluar menuju mobil yang sudah menderu di hangatkan. Ayah sudah siaga di dalam sambil menyetel beberapa musik yang asing di telingaku.
"sudah siap..?" ayah memastikan ku, aku tersenyum padanya dan mengangguk.
Perlahan ayah menginjak pedal gas, tanpa menambah kecepatan seperti biasanya. Kulihat jarum di speedometer hanya berdiam di kecepatan 20 sampai 30 KM/jam. Tidak kurang dan tidak lebih. Suara musik baru di mobil ayah tersambung dari Bluetooth handphone miliknya.
"musik klasik, bagus untuk janin.." ayah bergumam tanpa menoleh. "trimester pertama juga tidak boleh mengendarai mobil terlalu kencang, khawatir jika ada lubang nanti malah bahaya untuk janin." lanjutnya lagi membuat alisku benar benar naik sebelah dengan herannya. Kemudian Aku hanya tersenyum dan memahami hal itu.
"iyya bagus, lebih bagus lagi lantunan al-qur'an yah, jika janin ini bisa menghafal kalam Allah pastinya kita akan lebih bahagia. Sebab ia akan menyelamatkan kita dari jurang neraka." jawabku membuat ayah merasa kikuk, perasaan ayah sangat dalam sekali, sama seperti aku, salah satu sifat warisan yang aku miliki darinya, terlalu menjadi pribadi perasa. Padahal aku sudah berusaha untuk tidak menyakitinya dan berhati hati dalam menyusun kalimat.
"akan ayah matikan.." ujarnya sambil menekan tombol off di depan hand rem. Ayah berusaha menyembunyikan kekecewaan pada raut wajahnya dengan tersenyum padaku.
Selesai kami menuruni sepanjang jalan bukit yang berkelok hujan kembali menyerbu bumi dengan derasnya, wiper di depan kaca kami bergerak cepat mengusap air hujan yang menghalangi pandangan ayah.
Hujan masih stabil tanpa angin, rinainya cukup deras namun tidak disertai dengan kilatan petir, langit tidak segelap tadi pagi. Dan ayah tidak menambah kecepatannya justru ia mengurangi sampai jarum panjang itu berhenti di angka 10,sangat lambat untuk lebih berhati hati.
Aku merasa bersyukur detik ini, berita kehadirannya sangat membuatku bahagia. Aku tidak pernah berusaha untuk melupakan Farhan, dialah satu satunya lelaki yang wajahnya terlukis dalam benakku saat aku terlelap maupun saat aku terjaga, sifat baiknya tak bisa membuatku dengan mudah melupakannya. Dan aku pastikan tidak akan pernah melupakannya. Kita pernah bersaksi di hadapan semesta untuk kembali bersua di surgaNya. Aku tidak akan menyalahkan siapapun detik ini, aku pun tidak akan marah kepada siapapun atau berusaha melupakan yang telah terjadi, karena semua yang kuusahakan hanya akan berakhir sia sia jika aku menantang semua. Aku akan mencoba berdamai dengan keadaan. Sebuah energi terbaik disaat kita tak punya harapan adalah kita harus yakin bahwa semua pasti ada hikmah yang dapat kita petik. Bukan sekarang, mungkin besok, mungkin lusa, mungkin juga beberapa tahun yang akan datang atau mungkin di surga. Kita akan mengenang bahwa kita pernah bersabar semasa hidup di dunia.
__ADS_1
Ya.
Berdamai dengan keadaan.