LOCKDOWN A Love And Covid-19

LOCKDOWN A Love And Covid-19
Episode kehilangan 2


__ADS_3

Kabut tebal menyambut kedatangan mobil kami, hari semakin sore membuat kabut menghalangi pemandangan cerah seperti yang ku lihat dalam memori terakhir dua tahun silam.


Di utara Kabupaten Batang,berada di titik kecamatan Blado desa Pagilaran tempat semua orang mengenal agrowisata gunung teh, tanah lahir ayah dan ibu. Semua orang di desa kecil ini bekerja di pabrik teh, mereka memanen pucuk teh setiap hari, di mulai saat matahari muncul, dan kabut kabut berlarian naik ke udara. Saat itulah wanita wanita di sini membopong sebuah keranjang besar di belakang punggung mereka yang sekuat baja, dengan jalanan yang berbatu kasar, seingatku dulu saat membawa sepeda kemari banku meletus tertancap batu yang tajam,namun masih ku lihat beberapa orang berjalan mengabaikan rasa sakit tanpa mengenakan alas kaki apapun. Mereka berbondong bondong menuju ke rumah, salah satunya aku kenal beberapa dari deretan mereka yang menyingkir saat mobil kami lewat adalah tetanggaku, klakson dari pak Parman menyapa mereka. Dengan sopan mereka membungkuk menghargai mobil kami yang memenuhi jalan kecil ini.


Rumah nenek berada di atas bukit, di puncak orang orang menyebutnya. Ayah membangun sebuah villa yang sering di sewakan untuk acara pernikahan orang di daerah Kabupaten Batang. Dan tepat di belakang villa puncak terdapat satu rumah yang sederhana, menghadap ke arah bukit bukit yang nampak muda kehijauan, mereka pucuk pucuk daun teh tanpa pestisida. Kami turun, rasa lelahku tidak seberapa namun lemas ini tidak bisa di pungkiri, kulihat sampah sampah makanan berserak di bawah kolong kolong kursi mobil.


"biar saya saja mbak yang bersihkan.." segan rasanya mendapat tawaran begitu dari pak Parman, namun karena kondisi badanku yang kurang nyaman aku mengiyakan tawaran beliau. Sederet bunga aster merah nampak menawan, di sisi bunga aster yang sedang merekah ada bunga alamanda yang menguncup, esok ia akan mekar, tak pernah absen ku lihat mawar merah yang tertata rapi. Pikiranku langsung tertuju pada wajah bersih dan teduhnya,kakak pertamaku yang sangat suka dengan dekorasi dan bunga,yang dengan bijaksana ingin tinggal di dekat nenek agar bisa menjaganya, meluangkan waktu sejenak untuk menghibur wanita tua yang umurnya sudah lebih dari setengah abad, nenek yang kini berusia 66 tahun masih sama seperti dulu, senyumnya melebar dengan ribuan lipatan di bawah tulang pipinya membentuk keriput. Rambutnya sudah memutih namun semangatnya untuk tetap mencari kehidupan tidak pernah berhenti. Namun aku tahu bahwa sudah lebih dari 4 bulan terakhir ia tidak lagi menjalani aktifitas mencari pucuk teh muda untuk di setorkan ke pabrik. Nenek memelukku dengan kerinduan yang tiada habisnya, berkali kali nenek menciumku, sama seperti saat aku menikah, ia tidak pernah bosan untuk mengecup pipiku.


"aku kangen nduk nduk.." jujur ia berkata sambil menepuk pahaku ketika kami duduk berdampingan. Matanya makin menyipit sekarang, kulitnya melipat,tidak seperti tahun lalu saat terkahir aku melihatnya di hari pernikahanku.


"halah halah,pasti nggowo jajan." komentar nenek saat melihat pak Parman menurunkan beberapa plastik dari tangannya yang di ambil dari bagasi yang penuh dan sesak.


"mboten nopo nopo buk (nggak apa apa buk). Cuma sedikit kok." jawab ibu sambil tertawa, entah apa yang di tertawakan olehnya, padahal tak ada satupun kelucuan di percakapan kami. Aku hanya bertukar pandang dengan nenek dan tersenyum.


Mungkin kakak sudah memberitahu nenek tentang mas Farhan yang menghilang, itulah sebabnya nenek sangat berusaha untuk tidak menanyakan apapun padaku sampai sampai kami bertiga terdiam. Hening


"mbak Nur kapan ke sini nek?" tanyaku setelah sekian lama kami mengamati memandang seluruh sudut rumah dan terdiam.


"sebentar lagi, pasti datang mbakmu. Dia kangen kamu katanya." logat nenek yang kejawen sangat terlihat. Ia melempar pandangan ke luar, ke arah matahari yang tenggelam, menyelami lautan awan tertutup kabut.


Waktu menjadi sangat lama berlalu, aku yakin ibu dan nenek tidak mau berbicara sebab takut keceplosan mengungkit tentang kepedihanku. Mau tidak mau harus aku yang memulainya, agar nenek tidak keberatan bertanya dan aku tidak keberatan untuk menjawab dan bahkan bercerita.


"mas Farhan belum bisa ke sini nek." mendengar suaraku ibu dan nenek menoleh ke arahku, aku menekan bibir dan tersenyum pada mereka. Aku melanjutkan


"padahal mas Farhan sangat ingin ke mari nek, tapi belum saatnya. Tanggal 6 maret lalu aku ke bandara, eh mas Farhan gak datang datang.." aku mencoba untuk tetap begini dan tersenyum tanpa ada genangan apa pun di pelupuk mataku.


Kuat kuat kuat semangatku pada hati yang sakit. Aku mengelus perutku, ada janin di dalam rahimku sekarang, aku tersenyum bahagia bukan lagi paksaan atau kedustaan. Aku ada untuk janinku dan untuk Firhan yang jauh di sana.


"iyo sudah, ndak opo opo tho nduk." jawab nenek kemudian tertawa, padahal tidak ada yang lucu aku adu pandang dengan ibu dan nyengir menunjukkan sebaris gigiku pada nenek.


Dingin di gunung teh lebih mencekat, berbeda sedikit dengan hutan pinus yang ku singgahi. Pemandangan setelah matahari terbenam hanya kabut tebal, ia menempel di udara menambah kegulitaan di saat malam menyapa. Hal yang paling aku benci adalah kegelapan,aku phobia dengan kegelapan, nafasku sering tersendat jika berada dalam kegelapan.


Setelah salat maghrib terdengar suara mobil dari luar, aku bisa menebak itu suara mobil mbak Nurhan, si dokter kalem yang sifatnya berseberangan denganku namun selalu dekat denganku. Teman, sahabat, kakak dan sosok teladan yang baik untukku,mas Abdurrahman dan Azalea. Kami selalu berbagi tawa saat musim mudik tiba, berkumpul di rumah ini.


Namun entah untuk lebaran kali ini, aku rasa covid akan menjadi alasan utama kami untuk meniadakan seluruh agenda keluarga besar di Pagilaran, tanah subur dan makmur.

__ADS_1


Mata kakak sembab, kabut tak menghalangi wajah muramnya yang memerah, seperti habis berteriak kencang. Ia memelukku dan terdiam begitu lama, kurasakan air matanya yang hangat merembes di kain babydoll yang ku kenakan.


"mana mama..?" tanya ia setelah puas memelukku, air mataku menggenang juga menyaksikan ia harus tersedu, yang aku pun tak tahu apa sebab tangisannya. Kakakku satu satunya orang yang memanggil ibu dengan panggilan mama, setengah berlari kakakku menghambur ke dalam.


Aku tersenyum kepada dua ksatria yang makin besar dengan langkah lucunya ingin memasuki rumah nenek.


"sini dulu dong, cium aunty.." pintaku. Aydin lelaki berambut lebat yang kini berusia enam tahun merajuk manja, memonyongkan bibirnya yang imut. Dan Fatih hanya menurut saja mengikuti perintahku


"onty onty, di pelut onty ada dede bayik..?" tanya Fatih, lucu sekali bibirnya melafadzkan kalimat O, bundarannya nyaris sempurna. Aku terkikik mendengar ucapannya. Aku berjongkok di hadapan Fatih, menatap wajahnya yang lucu dan mengemas kan.


"iyya, mau pegang dede bayik gak?" tawarku pada Fatih, ia bergidik merinding.


"enggak, jeyek." ucap Fatih dan berlalu menjauhiku dengan ejekannya. Aydin masih melamun melihat bunga bunga yang di tanam oleh mamahnya.


"papah mana mas Aydin?" berlagak seperti orang dewasa, ia sama sekali tidak menolehku dan hanya menjawab dengan santai


"kerja aunty.."


"mamah kenapa nangis mas?" tanyaku penasaran, aku mendekati ia yang sedang memainkan daun bunga mawar di teras.


kata kata Aydin menyambar lubuk hatiku, goresan sakit menjadi luka yang lebar, didalam hatiku yang hancur berkeping keping, lemas ingin berdiri, tak terasa air mataku menderas. Aku menghambur ke dalam,menangis tersedu bersama ibu, kakak dan nenek. Kami yang bukan orang tua mereka saja amat sangat kehilangan. Bagaimana perasaan om Rahman dan bulik Nuri sebagai orang tua. Allah menguji mereka dengan kehilangan dua penyejuk mata mereka dalam satu waktu.


Suasana menjadi sunyi, kesedihan menyelimuti kami, pak Parman tidak di izinkan pulang,sebab tidak ada laki laki di rumah ini, suami mbak Nurhan harus stand dirumah sakit, beliau ditugaskan khusus untuk menangani pasien positif covid.


Jam dinding menunjukkan pukul 09:00 malam, mata ini susah terpejam, suara isak tangis ibu masih ku dengar sekali sekali. Pandanganku mengawang ke langit langit kamarku yang terlindungi plafon bercat hijau muda. Aku menghembuskan nafas berat berkali kali. Mencoba untuk tegar dan tidak sedih secara berlebihan. Mengingat bahwa janinku butuh support dariku, kubiasakan untuk tidak terlalu menjiwai jika di hadapkan dengan kesedihan. Kehadirannya mampu meredam luka. Membuat energi semangat baru. Ponselku tidak bergetar sama sekali, entah karena notifikasi dari berita ataupun pesan dari sosial media. Aku curiga, handphone ku mati di tempat dingin begini.


Layar ponsel ku nyalakan. Ia masih menyala dengan baterai yang berkurang sedikit. Hanya saja daerah nenek minim sinyal. Pantas saja tidak ada satupun pesan atau panggilan bahkan spam berita pun tak sanggup muncul karena hanya ada sinyal edge di pegunungan.


Waktu berlalu,berteman kakakku dan dua tentara kecilnya kami berada di dalam satu kamar, kakak bercerita tentang banyak hal yang tidak ia ceritakan saat di telepon. Tentang rindunya, tentang suaminya, dan tentang covid yang mengguncang dunia.


Pembahasan kami melebar saat ia bercerita tentang satu virus dari wuhan ini.


"meskipun kematian Azalea dan Abdur karena kecelakaan. Ada baiknya mereka di makamkan menggunakan prosedur penanganan pasien covid." sela kakakku sambil menarik nafas panjang tanpa ku tanya kenapa ia kembali menjelaskan.


"sebab kita tidak pernah tahu, apakah mereka tertular ataukah tidak. Membawa virus atau tidak. Sebab kasus mereka sedang jalan jalan di kota besar. Dan di keramaian tidak bisa di pastikan tentunya siapa yang mengindap virus dan siapa yang membawanya." tukasnya seperti marah pada diri sendiri.

__ADS_1


Aku menghargai pendapat kakakku, ia dokter dan ia lebih paham tentang hal itu. Aku tahu sekarang betapa takutnya ia, jika harus di tinggalkan oleh suaminya yang berkecimpung langsung dengan dunia virus. Beberapa dokter di Indonesia telah gugur, mereka meninggal karena tertular virus dari pasien. Satu cerita yang membuatku menangis, seorang dokter istrinya tengah hamil anak anaknya masih kecil, ia melambaikan tangan dari gerbang, tidak berani mendekat dengan keluarganya demi menjaga. Dan ternyata itu menjadi perjumpaan akhir mereka. Sebab beberapa hari kemudian mereka di kabarkan bahwa si dokter positif covid, dan mngkarantia mandiri di rumah sakit, namun kondisinya makin buruk, ia masuk ke ICU dan meninggal.


Kematian yang paling menyedihkan adalah kematian karena dampak covid-19, jika pasien masuk ke ruang ICU maka sudah tidak ada harapan lagi kita bisa melihatnya. Proses pemandian hingga pemakaman di lakukan oleh petugas medis. Menyedihkan bukan?


Maka saat saat terkahir kita bersama pasien covid-19 adalah saat sebelum ia memasuki ruang ICU. Benar, itulah detik detik perpisahan yang menyedihkan. Air mataku menggenang teringat kisah nyata yang amat sangat sedih itu.


Suara-suara terdengar di luar, seperti orang berdatangan dan bercerita di luar sana. Nenek membuka pintu mempersilahkan beberapa tamu masuk ke dalam rumah agar menghangatkan diri di depan perapian. Aku tidak berani keluar dari kamar, entah karena takut atau karena terlalu banyak menonton film horor.


"aku jaga aydin sama Fatih saja." jawabku saat ibu menyuruhku dan kakak keluar dari kamar.


Lima menit berlalu, aku tidak tahan sendiri. Akhirnya aku keluar menuju ke ruang tamu yang ramai. Semua orang bercerita ria memecah kesunyian rumah kami yang dingin. Kecuali kami yang berduka, nenek melamun, kakakku menunduk, ibuku menitikan air mata berkali kali. Bulan ini akan menjadi sejarah pahit dalam keluarga kami, kami di uji dengan banyak kehilangan.


Suara mobil datang lagi, beberapa orang yang sudah terdiam dari cerita langsung menghambur keluar, kakakku berlari menerobos kerumunan, saat jenazah di keluarkan dari mobil putih nenek jatuh ke tanah, ia tak sadarkan diri,orang orang saling berteriak meminta bantuan, begitu juga dengan bulik Nuri yang berjalan tertatih di bantu tetangga rumah,derai air matanya tak berhenti dan ibu aku mendapatinya menangis kencang bersahutan dengan suara teriakan orang orang.


Aku memojok di sudut ruangan, memandangi dua tubuh beku yang tak bisa lagi berbicara.


Menelan ludah dengan sangat susah, terlalu banyak kisah yang sudah kita alami, aku tidak pernah menyangka bahwa mas Abdu dan Azalea akan mendahuluiku menemui Nya.


*Jika aku meninggal nanti


Apakah semua orang akan seperti ini?


Seperti yang ku saksikan di hadapanku


Nenek pingsan, ibu menangis, kakakku terdiam dan ayah serta om Rahman menatap kosong kedepan.


Dan suamiku, apakah ia kuat menemani masa masa itu?


Masa di mana aku akan menemui penciptaku.


Apakah ia juga akan merasa kehilanganku?


Mas Farhan kamu dimana?


Mas Abdu dan Azalea meninggal.

__ADS_1


Aku ingin mengabarkan hal itu*.


__ADS_2