
Aku masih menyusuri jalanan yang mendadak longgar, mobilku terus melaju membelah jalanan yang mulai sepi saat memasuki kawasan hutan jati yang rimbun. Area yang sangat aku benci jika bolak balik dari pagilaran menuju pusat kota. Alih alih ku nyalakan murotal karena selalu teringat hal hal mistis yang kerap di alami pengendara. Mulai dari hal yang remeh seperti sekelibat bayangan, atau bahkan di panggil panggil, dan lebih banyak kasus mereka meminta untuk menumpang di tengah jalan kemudian alamat yang di tuju adalah pemakaman. Aku bergidik ngeri, melewati dan menyusuri hutan rimbun dengan jalan berkelok, tepat di sisi kananku adalah jurang dalam,dengan pembatas tebing yang sudah reot karena banyaknya kecelakaan. Aku berusaha mengalihkan suasana agar tak terlihat seram seperti film film horor. 5 km aku harus menyusuri kawasan jati ini agar sampai ke pemukiman warga. Butuh kecepatan penuh jika ingin segera sampai. Namun aku memilih untuk santai saja, dengan kehamilan besarku dan tendangan mungil dari kaki janinku yang merengek ingin momy-nya segera merebah di atas kasur, membuatku harus berusaha tenang setenang mungkin agar tidak terjadi detak jantung yang abnormal,dan tegang karena ketakutan.
Hujan turun dengan derasnya, membuat kawasan hutan jati makin gelap, awan hitam menggantung di atas langit, petir berkali kali menyambar,kilatannya seperti flash kamera yang menyambar wajahku. aku terus membesarkan volume murotalku sambil sesekali ku lafadzkan ayat ayat yang dulu pernah ku hapal,meskipun pada hakikatnya suara hujan tidak terlalu terdengar oleh telinga, namun mataku semakin tajam saat berada dalam cahaya yang kurang terang. Aku mendengus kesal saat kulihat amper jarum bensinku melewati tulisan empty, sejurus kemudian tak ada waktu untuk membuat mobilku terus berjalan, setelah berkali kali menyendat karena berusaha mengikuti tekanan pedal gas yang ku injak akhirnya ia mengucapkan "good bye" dan mobil berhenti di terowongan, seperti sebuah lorong alam yang terbentuk dari kayu kayu tua yang masih berdiri tegak dengan daun daunnya yang lebat dan rimbun. Hujan, petir dan angin aku benar benar ingin menghindar dari hal ini. Belum genap satu tahun sejak tragedi pohon tumbang, sekarang aku di hadapkan lagi dengan hal yang sama, lebih tepatnya episode mungkin. Menoleh ke kiri dan kanan pun tak merubah keadaan, sebab derasnya hujan membuat semua tak kasat mata, hanya percikan air hujan yang terus berjatuhan, syukurnya aku sudah berusaha meminggirkan mobilku sebelum ia berhenti total. Aku mengambil ponsel, dengan baterai seadanya aku akan mencari pertolongan terdekat, kakakku mungkin sedang melakukan perjalanan pulang sekarang. Nada panggilan tersambung, aku menunggu untuk mendengar suaranya berbicara dari balik genggam teleponnya.
"halo,apa dek..?" sapanya, suaranya mudah di tebak ia sedang ada kesibukan dan seolah olah aku mengganggu waktunya. Aku mengecilkan volume murotal.
"mbak, bensinku habis, aku kejebak di KM 3 hutan jati setelah pasar."
"nanti mbak telpon lagi ya, ada pasien darurat, kamu sabar dulu biar mbak telpon ayah."
Ia langsung menutup telepon, lagi lagi ayah yang harus membantuku. Tiba tiba hening, hanya suara hujan yang samar namun dengan jelas kutahu betapa kasarnya ia jatuh ke permukaan aspal hingga memantul lagi.
Mungkin ini akan menjadi satu episode akhir yang menegangkan bagiku, satu episode yang akan menjadi akhir dalam kehidupan yang singkat ini.
Pikiranku yang mengawang belum usai, dalam hitungan detik yang sangat singkat kurasakan bagian belakang mobilku di hantam dengan benda besar kecepatan tinggi, aku yang sudah memasang handrem tidak bisa menahan beban kencang dari arah belakang,bersamaan dengan jok mobil yang terdorong ke depan hingga menjepit perut besarku meskipun aku sudah berusaha menahannya dengan tangan, air mataku bersimpuh bahkan untuk menjerit bukan saat yang tepat sebab suara derasnya hujan mengalahkan lengkingan jeritan sakitku menahan beban di belakang, namun aku tetap menjerit sebisaku. Masih sempat kurasakan cairan hangat darah merembes, janinku... Detak jantungku.... Dan ku rasakan pecahan kaca menempel di tiap kulit wajahku yang mulai perih. Air mataku bercampur dengan air hujan yang menderas, ia masuk melalui kaca yang pecah terbentur pohon tua di hadapanku, bisa ku cium aroma daun, lumut dan air hujan, sampai sampai aku tak mencium bau darah yang sering membuatku mual,aku masih berharap pohon tua tidak tumbang.. Mulutku terkunci, dan perutku kaku, kedinginan mulai merambat dari ujung kakiku. Aku teringat dengan satu percakapanku dengan Firhan saat masih pengantin baru, saat saat indah bersamanya, ia menjanjikan untuk terus menjaga cinta yang akan kita bina. Dengan senyum manis yang ia gulung menjadi simpul yang berkharisma ia berkata.
"aku mau jatuh cinta sama kamu berkali kali, aku udah minta sama Allah untuk pertemukan aku di dunia, Allah mengabulkan permintaanku, semoga Allah juga mengabulkan permintaanku untuk berkeluarga denganmu di surga Nya."
Seketika air mataku mengalir di tengah rasa sakit yang ku rasakan, aku di bopong di keluarkan dari jerat jerat rasa sakit ini.
"sayang bangun, aku mohon bertahanlah.." suara lembut, seperti es yang mencair saat di dekatkan dengan api, tangannya yang dingin membelaiku setelah ku tahu ia bersusah payah mengeluarkan aku dari jepitan jok yang di tumpu sebuah truk besar bermuatan pasir.
Mataku berusaha menangkap keadaan yang baru saja kualami, mobil yang ringsuk di tabrak truk, dan mobilku tidak bisa menahan sampai akhirnya menabrak pohon tua yang kokoh. Hujan terasa memukul mukul wajahku yang mendongak ke arah suara yang sangat ku kenal. Air mataku menderas melihat Firhan yang masih sama seperti dulu, ia memelukku erat erat dan selalu berusaha membangunkanku padahal matakuu sudah terbangun. Ia mengenakan pakaian yang sama saat mengantarkan aku ke bandara. Aku ingin bertanya apakah ia baik baik saja. Apakah ia terluka karena kecelakaan ini. Bagian mana yang terasa menyakitkan, aku ingin tau.
"sayang liat mata mas, ayo fokus fokus...". Suaranya mengalun lagi, namun ia kalut, aku tidak melihat air matanya jatuh karena sejak tadi air hujan sudah membasahi tubuhnya, ia sangat tampan saat hujan, beberapa bulir air hujan turun dari ujung rambutnya yang rapi, aku bisa mencium aroma green tea dari sampo favoritnya. Berkali kali tangan kekarnya menepuk nepuk pipiku yang tak bisa tersenyum. Bahkan makin terasa sangat menyakitkan jika menyadari banyak percikan kaca pecah yang menempel di wajahku, mungkin beberapa masih menancap tajam di dalam. Aku ingin sekali tersenyum melihatnya, sejak terkahir kali di bandara kualanamu kami saling berpelukan. Sejak terkahir ia menciumku, sekarang ia melakukan lagi, ia menciumku berkali kali sambil terisak. Kini aku tau ia sedang menangisiku. Aku ingin sekali bicara, sekuat tenaga ku kumpulkan, ku mainkan bibirku yang kelu untuk tersenyum dan ia menatapku dalam, seperti kebahagiaan kita bisa di pertemukan.
Aku terhenyak, suamiku Firhan Avecenna. Aku kembali mencerna, sekelibat otakku di penuhi dengan kejadian kejadian yang sudah ku alami, kepergianku ke Jawa, kenangan masa lalu ku dengannya karena perpisahan kami,janjinya yang tidak di tepati, kedatanganku ke bandara namun ia tidak datang, pindah ke rumah nenek, kedatangan tiara, kabar bahwa Firhan positif Covid, dan berita kematiannya. Dadaku seolah berhenti berdetak, aku yakin semua ini adalah halusinasiku, semua mungkin khayalanku yang makin memburuk meskipun aku terlihat baik baik saja. Hujan tiba tiba mereda, berangur angsur terdengar banyak teriakan yang samar di tengah gerimis yang masih tersisa dari dahan dahan yang segar. Langkah langkah kaki manusia membuat Firhan berlari ketakutan, meninggalkanku di tengah kekacauan yang melanda, saat itulah aku makin yakin semua semu, kedatangannya hanya khayalan belaka. Aku hanya bisa melihat langkah langkah yang terus berlarian menghampiriku, mobil mobil berhenti, kendaraan berhenti, saat aku mendongak aku hanya ingin berbisik dalam pelanku. Laa ilaaha illa Allah... Laa ilaaha illa Allah..
Tak ada kekuatan lagi. Aku tak bisa merasakan sentuhan manusia.
-----------------------
Lorong ruang UGD mendadak ramai, beberapa orang menjadi saling pandang dan mencari cari apa alasan sebuah keluarga menjerit histeris mengantar sebuah mobil ambulans rumah sakit. Semua orang menatap iba melihat kain selimut bersimbah basah air hujan dan darah yang terus menderas. Perut buncit dari wanita itu menandakan ia sedang hamil tua, itulah yang membuat semua mata pengunjung dan pihak rumah sakit mengarah padanya.
"Yasmine Adelia, pasien umur 21 tahun meninggal akibat kecelakaan lalu lintas, janinnya tidak bisa di selamatkan pada hari jum'at pukul 04:03 ketika di larikan ke rumah sakit."
Ucapan seorang dokter dan segera di catat di atas lembar surat pernyataan.
Teriakan ibu, nenek yang pingsan mendengar kabar itu, ayah yang menangis kehilangan.
Langkah panjang dokter Nur Hanifah menuju ruang UGD ia percepat, ia baru saja selesai menangani pasien kecelakaan dan ia sangat terkejut mendengar kabar duka bahwa kerabatnya meninggal akibat kecelakaan. Langkah wanita muda itu terhenti di depan ranjang rumah sakit yang penuh dengan simbahan darah, beberapa dokter dan perawat menunduk, turut berduka cita. Air matanya mengalir, di peluknya erat erat sambil di usapnya wajah Yasmine Adelia yang tersenyum namun tak lagi bernyawa.
Dunia guncang, beberapa wartawan sempat hadir menjejal ruang UGD rumah sakit yang sudah di penuhi beberapa penggemar Yasmine, Yasmine menekuni dunia penulisan sangat wajar jika penggemar bukunya akan berduka cita atas meninggalnya Yasmine yang mendadak.
__ADS_1
Banyak orang yang tidak menyangka, padahal baru tadi siang ia duduk di kursi Flamedia untuk memberikan tanda tangan dan nasihat kepada pembeli bukunya, baru tadi pagi ia chek up kandungannya pada dokter Furqon.
Sekarang dokter Furqon nampak linglung, ia hempaskan pukulannya berkali kali pada tembok rumah sakit yang kokoh.
Kepergian Yasmine menjadi kisah pilu, banyak orang yang menyadari bahwa ia wanita baik, banyak pihak mendoakan semoga ia di berikan tempat terbaik di sisi Nya. Semua orang menjerit kehilangan, di atas kelabu dunia yang mulai beranjak malam, mobil jenazah membawanya ke pemakaman.
Berita terkini muncul di pemberitahuan layar ponsel, satu persatu orang mulai tau kabar duka yang telah mengguncang seluruh penggemar tulisannya di seluruh indonesia.
Yasmine Adelia, penulis kisah nyata "pada senja yang membawamu pergi" meninggal dunia
Yasmine Adelia, penulis cantik Asal Yogyakarta meninggal akibat kecelakaan
Tertabrak truk besar di tengah hamil tua, Yasmine Adelia meninggal dunia
Penulis meninggal pasca jumpa fans. Nitizen : "kita nggak nyangka!"
Pada hari jum'at siang tadi, sosok penulis ayu Yasmine Adelia meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan. Polisi mengabarkan bahwa kecelakaan ini terjadi sekitar pukul 03:00 dimana hujan sedang turun sangat deras.
Pengakuan dari kerabat korban, ia menyatakan bahwa Yasmine kehabisan bahan bakar saat hendak melakukan perjalanan pulang dari acara jumpa fans. Sebelum jumpa fans ia menyempatkan diri untuk bertemu dengan Dokter spesialis kandungan di rumah sakit swasta.
"dia sudah minta tolong untuk minta jemput, tapi saat itu saya sedang menangani operasi mendadak di rumah sakit, jadi saya menelepon ayah untuk menjemput dia." ujar (NH,27 th) kakak kandung korban saat di mintai keterangan.
Polisi menjelaskan bahwa kecelakaan ini terjadi akibat curah hujan yang terlalu deras dan juga kesalahan dua kendaraan tersebut.
Kematian korban di sebabkan karena pendarahan hebat akibat tekanan jok mobil yang tertabrak truk sehingga menyebabkan janinnya tak bisa di selamatkan. Pendarahan hebat itulah yang menyebabkan sosok penulis Yasmine Adelia kehilangan nyawa.
Hal ini tentu mengguncang segala pihak, terlebih saat dokter kandungan langganan Yasmine Adelia mengaku bahwa ia sempat bersimpati dan ingin berterus terang akan melamar Yasmine Adelia setelah ia melahirkan. Namun ternyata kabar duka justru mendahului rencana dokter muda tersebut.
"sejak awal saya suka dengan banyak kebaikan dia, dan saya sering menyinggung bahwa saya ingin main ke rumahnya." uajrnya di sela air mata.
Banyak orang yang menyayangkan kepergian Yasmine Adelia, pasalnya wanita muda kelahiran Yogyakarta ini sudah banyak di kenal publik karena tulisannya yang menggugah masa. Ia meninggal tepat saat hari jum'at sama seperti sang suami Firhan Avecenna yang meninggal pada hari Jum'at karena terpapar virus Covid-19 pada beberapa bulan lalu saat mereka berpisah.
Oleh karena itulah Yasmine menuliskan sebuah kisah tentang kehidupan pahitnya yang ia lalui dengan sabar lewat bukunya yang berjudul "Pada Senja Yang Membawamu Pergi"
Selamat tinggal Yasmine Adelia, kami akan mengenang namamu sebagai panutan terbaik wanita yang tangguh..
"yah ayah.. Coba lihat tulisan ini..." teriak kakak Yasmine dari kamar, tangannya menggenggam sebuah buku berwarna biru, langkah lemah ayah yasmine sampai di kamar villa, tempat Yasmine tidur saat masih hidup.
Terlalu banyak kenangan tentang Yasmine bagi mereka, tiap langkah, tiap sudut ruangan rasanya masih ada kebersamaan keluarga dengan Yasmine Adelia.
Ayah menggapai lembar buku yang di temukan oleh kakak Yasmine di atas meja hias, di dalam kamar Yasmine yang selalu wangi dan rapi. Aroma kamarnya membuat ayah kembali melemah bersimpuh air mata.
Mungkin begini rasanya Yasmine saat di tinggal oleh suaminya, ujar ayah dalam hati saat mengelus dengan khidmat tiap tulisan yang ada di atas lembar biru miliknya.
__ADS_1
_______
Suppose I go
Andai aku pergi,aku tidak pernah tahu kapan kematian akan datang, sepertinya aku sudah lama berkenalan dengan langkah langkah kematian. Sama seperti dulu saat aku hampir tertimpa pohon tua sebelum halte bus saat hujan menyapa. Sejujurnya aku menghindari hujan. Aku ingin menghindar dari kematian. Namun apalah aku yang di cipta dari tanah untuk kembali ke tanah.
Aku harap aku sudah menunaikan amanah yang sudah Firhan berikan untukku semenjak kepergiannya.
-donasi untuk perawat dan medis dampak covid.
-infak ke lembaga pesantren.
-donasi untuk fakir miskin dan dhuafa.
Semuanya sudah alhamdulillah, aku sangat bersyukur bisa menjalankan semua yang aku mau demi kebaikan Firhan.
Selanjutnya untuk masa depanku, aku harap setelah aku meninggal ada salah satu kerabatku yang membaca tulisan ini.
Terlebih ayahku, ayah aku selalu berharap kamu membaca tulisanku.
Untuk ayah, aku minta maaf meninggalkanmu dalam sendiri. Ada kakak dan ada ibu yang menemanimu, dan juga ada Aydin dan Fatih yang akan selalu menghiburmu.
Ayah..
Aku harap ayah selalu di berikan umur yang panjang, aku titip hartaku untuk kepentingan ummat. Aku titipkan seluruh gaji penulisan karya karyaku untuk pondok pesantren. Sedekahkan uang itu untuk pondok milik ustadz Muslih yang setiap bulan ku kunjungi.
Jadi ayah, sebetulnya aku sudah mendirikan penerbitan buku di pusat kota, ayah hanya perlu memantaunya saja. Mereka cukup lihai dan aktif dalam menulis serta mengembangkan minat baca. Kedepannya seluruh royality dari perusahaan itu akan di bagi menjadi tiga. 50% untuk kemakmuran pekerja, 25% untuk biaya hidup ayah dan keluarga, 25% lagi sedekahkan atas namaku..
Aku benar benar beruntung jika ayah menemukan tulisan ini..
Maafkan aku ya ayah, aku belum bisa menjadi anak yang baik, terimakasih sudah menjadi lelaki yang baik untukku, trimakasih sudah menjadi lelaki terbaik sepanjang hayatku.
Aku sangat bersyukur sekali bisa hidup dan bertahan sampai sejauh ini.
Jangan terlalu lama bersedih, aku akan selalu ada untuk kalian. Aku bangga punya ayah yang hebat. Sampaikan salam maafku untuk ibu, maafkan aku yang tidak bisa akur dengannya. Maafkan aku yang baru bisa berbicara dengannya baru baru ini.
Untuk kakakku apapun yang terjadi jangan menyalahkan keadaan. Aku tidak mau kakak terlalu bersalah, aku masih belum tahu kenapa menuliskan semua ini. Ini hanya firasat dari dalam hatiku, bahwa aku hidup tidak lama lagi.
Ayah..
Firhan pernah berjanji untuk bertemu denganku di surga. Maka ayo kita berjanji bersama sama agar seluruh keluarga kita reuni di surga juga.
Sebab dunia ini singkat ayah, akhirat selama lamanya.
__ADS_1
Aku mencintaimu.