
"Biru langit ini akan menjadi saksi
Bahwa ada sebuah kisah yang akan segera dimulai."
Aku lupa dengan niatku kembali ke tanah lahirku. Aku bagaikan orang asing disini. Padahal aku kenal dengan mereka. Ada kakakku,ada keponakanku yang lucu,bahkan ada ayah dan ibu yang membesarkanku.
Setiap ku ayunkan langkahku menginjak sudut ruang dirumah ini yang ku ingat hanya wajahnya,senyumnya,bahkan kenangan singkat ku dengan Firhan di sini.
Aku lupa tujuanku.
Kenapa aku disini. Untuk apa aku menjauh darinya seperti ini.
Langit membiru,hari ini bukan hari libur,tak ada satupun wisatawan yang berkunjung ke hutan pinus bahkan semenjak aku disini.
Ayah mulai sembuh,mungkin sakitnya karena rindu denganku.
Namun bisa juga karena lelahnya mengurus pekerjaan kantor yang membuat ayah lembur dari pagi hingga matahari meredup di ujung barat.
Aku duduk di ayunan kepompong yang baru di beli oleh ibu. Ibu sengaja memasang ayunan ini di balkon kamarku untuk sejenak me refresh pikiranku saat penat. Begitu katanya sebelum aku bertanya kenapa. Hangat mentari mulai merasuk di sela sela pori kulitku,aku rindu berjemur.
Sudah tiga hari aku hanya berdiam diri menatap horden pintu menari nari,tak ingin melangkah ke bawah,bahkan selama tiga hari itu aku di sediakan makan oleh mbok Lastri,istri pak Parman sopir keluargaku. Dengan baik hati beliau antarkan makanan masuk ke kamarku di lantai atas.
Berangsur awan putih menghilang,birunya langit di pegunungan ini memekarkan ingatanku. Tentangnya,seorang lelaki yang aku rindu di setiap jam, menit dan detikku.
******
Langit mempesona,secerah ini suasana alam menyambut kedatanganku dari Medan pasca bedah buku pra-nikah di UMSU.
Hatiku berdentum keras sejak keluar dari mobil merah maroon didepan bandara. Kadang langkahku menjadi gemetar,dan pikiranku mendadak tak beraturan. Berawal sejak kedatanganku di bandara internasional Kualanamu. Sopir yang di tugaskan untuk menjemputku menuju campus hijau itu terjebak macet. Jalanan tak bisa di lalui. Dan saat itulah seorang dosen muda kebetulan sedang di area bandara untuk menjemput keponakannya. Aku diberi tahu team yang mengadakan acara ini bahwa acara akan ditunda besok karena efek macet dan meminta izin untuk memberikan nomorku pada dosen Firhan. Pak dosen menghubungiku terlebih dahulu lewat pesan WhatsApp yang ia kirimkan.
-saya Firhan yang menggantikan sopir menjemput kamu
Kamu di mana ?
+Sy didepan parkiran.
- okay,pakai baju warna..?
+Biru muda,jilbab pink.
Lama sekali aku menunggunya.
Duduk di stroller kemudian berdiri lagi lebih lama. Barulah telepon berdering setelah kakiku merasa di hinggapi oleh semut semut.
Aku kesemutan dan dia baru nelpon astaghfirullah. Batinku
"Assalamualaikum,dimana ya kak?"
Tanya ia to the point.suaranya renyah dan familiar di telinga ku.
"Saya di depan parkiran pak"
Kulihat seseorang juga sedang melakukan panggilan telepon di seberang ku. Seorang lelaki berbadan tinggi atletis,berkemeja crem coklat yang sedari tadi wara wiri di depanku,di sampingku,dan di belakangku.
"Tapi saya gadak nampak cewek pakai baju biru jilbab pink" tukasnya sambil menatap mataku dari kejauhan. Aku tertuju pada pakaian yang aku pakai.
Astaghfirullah!!aku pakai gamis crem jilbab coklat.
"Ya Allah. Iya pak maaf saya lupa saya pakai baju crem coklat" aku tertawa dia langsung mematikan ponselnya kemudian mengambil mobil merah maroon HR-V dan menuju ke arahku.
"Biar saya saja yang ..." Aku termenung belum selesai berbicara ia sudah terlebih dahulu mengangkat koper dan tasku ke dalam mobilnya.
__ADS_1
"Saya saja." Singkat ucapannya,ia tersenyum simpul.
Setelah aku memasuki mobil betapa kagetnya,terbelalak mataku melihat lelaki yang tadi duduk di sampingku saat di pesawat ternyata satu mobil lagi denganku.
"Loh mbak ini lagi.." ujar lelaki itu,lagi lagi ia membenarkan kacamatanya berframe coklat tua itu ketika memulai pembicaraan.
"Loh kok kamu lagi!?"
"Aku keponakannya. Ih rupanya kamu yang buat aku lama menunggu di parkiran ya." ujarnya. Aku nyengir memutar bola mata.
"Kalian saling kenal ? Atau satu campus?" Tanya Dosen itu sambil menggerakkan jari telunjuknya.
"Ooo enggak2 kita cuma sempat duduk satu baris di pesawat tadi."jelasku agar tidak terjadi salah paham.
Aku tidak mau orang menganggap aku kenal dengan lelaki. Sebab aku tidak suka berteman dengan lelaki.
Perlahan mobil yang kami tumpangi berlalu meninggalkan area bandara. Suasana hening hanya sesekali mata lentiknya beradu denganku ketika ia melihat ke belakang melalui kaca di depannya. Sedangkan keponakan dosen Firhan sudah terlelap sejak keluar dari tol bandara.
"Saya minta maaf ya pak,saya gak perhatian sama pakaian saya. Seingat saya tadi pakai biru muda dan pink" aku memulai pembicaraan karena hening di sepanjang jalan tol.
"Iyya saya juga minta maaf gak perhatian."
"Suaminya gak ikut kak?"
Oh Allah ini untuk ke sekian kalinya orang mengira aku sudah menikah.
"Saya masih single pak. Haha yaa bapak orang ke sekian yang mengira saya sudah menikah."
"Oh ya Allah. Saya kira sudah menikah."ujarnya malu
"Tapi kenapa karya karyanya ...."
Ia melanjutkan,kata katanya menggantung sambil garuk garuk kening.
"Ooh ya bagus. Saya juga suka. Boleh kak saya simpan nomornya? Saya ingin memperkenalkan acara ini ke beberapa teman dosen saya di Aceh" ujarnya
"Iyya boleh,dengan senang hati pak" jawabku kegirangan.
"Kenapa bapak nggak ada logat logat medannya ? Bapak bukan orang medan ya ?" Tanyaku heran,kulihat ia melihatku dari kaca depan.
"Iyya 3 tahun saya menjadi dosen di UMS. Dan desember tahun kemarin saya pindah ke UMSU karena alasan pribadi."
"Oooh" bibirku membulat
Setengah jam berlalu aku di berhentikan di depan pintu masuk hotel OYO di kawasan Deli Serdang.
"Jazakumullah khairan pak.."
"Waiyyaki ..." Ujarnya. Mobil merah maroonnya perlahan maju,aku berbalik badan namun klakson mobilnya berbunyi dua kali menandakan aku harus berbalik lagi ke arah mobilnya.
"Iyaa ??"
"Emm kepulanganmu,saya minta izin untuk antar kamu ke bandara ya besok siang. Semoga sukses untuk acara kamu." Ia berlalu tanpa meminta persetujuan dariku.
Aku mengangguk sendiri,melangkah gontai,pikiranku terus di hantui rasa heran terhadap sikap dosen tadi. Jika boleh bertanya,aku ingin tau sudahkah ia menikah,sudahkah ia memiliki seseorang di dalam kehidupannya. Namun itu terlalu jauh. Hanya doaku yang mendekatkan dan meyakinkan.
Sejauh apapun jarak jika ia jodohmu maka Allah akan mendekatkan
Malam ini aku akan tidur dengan nyaman, kemudian bersiap siap untuk acaraku.
Satu jam berlalu kuhempaskan selimut,kesal. Hatiku berdentum kencang,sampai sampai aku khawatir besok acara tidak berjalan lancar hanya karena aku grogi. Astaghfirullah... Allah aku mohon kuatkan hatiku.
__ADS_1
Aku menatap langit langit kamar yang kusinggahi,warna dinding crem bercorak batik salur ini mengingatkan aku pada ayah yang sangat suka memakai batik. Aku berusaha memalingkan pikiranku sejernih yang aku bisa. Aku terlelap karena aku lupa bagaimana cara tidur yang nyaman dan tenang. Pikiranku mulai terusik karenanya. Hingga bunga mimpi yang kusulam menjadi tak beraturan.
Selamat pagi Kota Medan!
Hawa panas ini berbeda dengan hutan pinus di tematku. Setiap kali langkah ini berdiri tidak pada tempat ber AC keringat mulai bercucuran. Kulihat jam tangan menunjukkan pukul 08.05. sopir yang di utus untuk menjemputku datang,15 menit menuju campus hijau UMSU.
Bedah buku ini bersifat umum. Untuk laki laki dan juga perempuan. Semua sudah berkumpul di auditorium. Setidaknya pagi selepas dhuha pikiranku menjadi agak fresh.
Tak terasa waktu berlalu. Kulihat waktu tersisa 20 menit. Saatnya tanya jawab.
"Baik,karena sudah habis materi yang saya sampaikan,dari kakak kakak atau abang abang yang mau bertanya saya persilahkan. Kalau pertanyaan kalian mudah in syaa Allah saya jawab. Kalau pertanyaan kalian sulit jawaban saya singkat saja. Allahu a'lam bish shawab,Allah yang lebih Tahu jawabannya." Semua audience tertawa.
kulihat seseorang menggunakan kemeja panjang biru muda mengangkat tangannya.
"Saya ingin bertanya..." Suara itu membuatku mencarinya,benar dia! lelaki dengan kemeja biru muda,pak dosen yang mengantarkanku kemari. Satu satunya dosen yang mengikuti acaraku. Aku tersenyum mempersilahkan beliau bertanya .
"Jika kita jatuh cinta,dan kita sudah menjaga diri, istikharah pun sudah kita lakukan. Bagaimana cara kita mengungkapkan cinta kepada wanita itu agar dia tau bahwa kita ingin bersungguh sungguh menikahinya ?"
Dia bertanya dengan penuh keyakinan menanti jawaban. Di iringi sorakan riang dari mahasiswi cieee. Setelah suara sunyi baru ku jawab
"Datangi orang tuanya. Nyatakan kalau anda ingin menikahi putrinya." kemudian kulanjutkan
"Sebab pernikahan itu bukti cinta seorang lelaki untuk wanita, bukan dengan gombalan,bukan dengan janji.jangan mengaku cinta kalau masih di ajak ke ruang kemaksiatan,jangan mengaku cinta jika tidak berani mendatangi orang tuanya. Buktikan cinta dengan menghalalkannya.!" Jawabku.
Kudapati ia tersenyum, wibawanya nampak dari cara ia berbicara dan berkomunikasi terhadap lawannya. Siang yang begitu panas mendadak menjadi dingin bagiku
Aku menutup acara ini.
Setelah berbincang bincang dengan beberapa mahasiswi aku memutuskan undur diri,pesawat akan berangkat pukul 13.00. mobil merah maroon sudah menungguku,lelaki yang menggunakan kacamata hitam itu mempersilahkan aku masuk. Aku ragu melangkah,bagaimana mungkin aku melakukan hal yang aku larang? Aku tidak berani untuk berdua saja di dalam mobil dengan lelaki asing.
"Ada keponakanku didalam,tidak hanya kita berdua" seolah memahami isi hatiku ia meyakinkan langkahku agar memasuki mobilnya.
Mobil melaju. Aku terdiam menikmati pemandangan kota Medan dari jalan Tol menuju ke bandara.
"Boleh aku berkunjung ke rumahmu ?" Dosen Firhan membuka mulutnya berbicara. Aku meyakinkan apakah dia berbicara padaku.
"Saya !?" Tanyaku kaku
"Iyya,jika berkenan aku ingin melamar kamu dekat dekat ini."
"Haaa iyya bang ?" Keponakan Dosen Firhan lebih terkejut mendengar penuturannya. Aku mengigil didalam mobil ini. Bahkan pandangan ini kuarahkan ke jendela agar tidak bertatap dengannya melalui kaca spion didepannya.
"Kalau kamu punya keyakinan denganku menikahlah denganku,jika kamu ragu denganku silahkan berbicara yasmine adelia."
Aku tak mampu berbicara aku terdiam dan aku mengiyakan ajakannya. Aku yakin dengan keputusan yang aku buat. Lima menit lamanya aku terdiam....
"Tolong tinggalkan alamat rumah kamu. In syaa Allah 6 januari aku akan terbang ke sana."
"Nanti saya kirim lewat WhatsApp." Ucapku gemetar menanggapi kenyataan.
Kadang cinta memang hanya butuh keyakinan saja, tanpa istikharah pun jika sudah muncul keyakinan di dalam hati sudah cukup. Sebab yang aku tahu, cinta itu tentang keyakinan dan ketertarikan
Takdir cintaku akan segera dimulai jika Allah meridhoi.
Biru langit ini akan menjadi saksi
Bahwa ada sebuah kisah yang akan segera dimulai.
__ADS_1