
Makin hari tubuhku makin melemah, tak ada secercah cahaya kehidupan meskipun aku berharap aku hidup. Makan di atas kasur, ayah membacakan dongeng sebelum tidur padaku seperti anak kecil, keponakanku yang dulu ramai kini mereka lebih diam saat bersanding denganku. Terapi untuk janin kami lakukan, mulai dari musik klasik yang kudengar beberapa jam setiap hari dan lantunan al-qur'an sebelum aku tidur, semua usaha tidak membuahkan hasil. Aku masih sulit bicara, pikiran ini begitu kalut. Aku di hantui perasaan bersalah dan sedih yang tak bisa ku jelaskan pada siapapun. Bahkan hatiku tak bisa menjelaskannya.
"ayah, di lihat dari gejalanya,kemungkinan besar Yasmine mengindap mayor depresi. Kita usahakan untuk tetap membuat dia hidup kembali, kebanyakan orang yang mengindap mayor depresi merasa sedih dan tidak bisa bicara. Psikisnya terlalu kaget untuk menerima keadaan." dari balik selimut bulu yang tebal kakakku berkata, aku bisa mendengarnya meskipun ia bersuara sangat pelan. Aku ingin menghabiskan waktu ku untuk terpejam, mungkin ada keajaiban datang padaku, membawaku pada kebahagiaan di tengah bulan ramadhan.
" nak, ayah bawakan sayur sawi dan ayam goreng ungkep untuk kamu." Suara ayah mengalun lembut.
Aku masih menutup rapat mulutku, sebisa mungkin mengumpulkan tenaga untuk berbicara padanya, aku tidak mau semua terpendam dalam dadaku yang sesak. Kulihat nampan berisi ayam dan sayur hijau yang segar, aku tidak pernah lapar, tapi janinku butuh nutrisi untuk tetap bertahan di dalam.
Di bawah piring sebuah amplop tertindih. Sebuah surat, heranku dalam hati yang lemah.
Amplop berwarna biru muda yang mencuri perhatianku, dengan lemah ku ambil amplop berwarna biru muda tersebut, harusnya aku menjerit atau menangis detik ini. Namun semuanya sangat sulit kulakukan. Mataku mengeja satu demi satu nama pengirim yang tertera, sebuah nama yang ku rindu, sebuah nama yang menghidupkan semangatku, sebuah nama yang jiwanya menjadi separuh jiwaku. Mata ayah memerah, aku tersenyum pada ayah. Ayah menyerahkan amplop pertama dari Tiara yang di berikannya padaku satu pekan yang lalu saat aku terbaring di rumah sakit. Dua amplop dengan warna berbeda satu orang yang menulisnya, bisa kurasakan begitu lembutnya Firhan menuliskan namanya dan namaku di atas amplop biru.
"sudah saatnya kamu membaca semua." suara ayah tidak semangat lagi, mungkin ayah terlalu sedih melihat kondisiku. Padahal aku selalu ingin terlihat bahagia di depannya, namun sayangnya aku tidak pandai berdusta.
Ayah keluar meninggalkan ku dalam sepi.
Seharusnya malam ini cahaya rembulan menembus awan untuk menyinari bumi yang redup dan gulita. Aku membuka tirai, membiarkan udara malam masuk melalui jendela yang ku buka, dan cahaya lampu kamarku yang berwarna putih hangat menyorot keluar. Wajahku memantul pada cermin yang dingin, tubuh kurus, tulang selangka yang makin menonjol dari pekan lalu terkahirku melihat wajahku yang muram, lingkar hitam pun muncul di bawah mata sipitku dengan samar. Bibir pucat berwarna putih, rambut yang masih selalu tertata rapi.
Aku tidak peduli dengan penampilanku, aku beralih membuka amplop putih. Dengan berat hatiku saat melihatnya sekilas, bisa kubayangkan wajahnya yang menuliskan sepanjang ini untukku, Firhan bukan lelaki yang suka tulis menulis, namun ia mampu menuliskan sebuah kisah yang panjang, ada tiga lembar folio yang akan menemani malam sepiku.
__________________________
Teruntuk istriku tercinta
Yasmine Adelia, semoga selalu dalam lindungan Allah ta'ala
Aku tidak tahu harus memulai dari mana kisahku, aku sudah berjanji untuk bercerita padamu, mungkin ini saat yang tepat sayang. Aku ingin bercerita lewat tulisan pena.
Hari itu aku kalut sekali di bandara, aku panik dan juga marah. Aku khawatir kamu terlalu lama menungguku, dan aku tidak bisa berkutik.
Seharusnya saat 6 maret 2020 kita sudah berjumpa, kita sudah saling janji untuk bertemu di bandara Yogyakarta. Namun dik, musibah menimpaku, seluruh isi dompet, baju baju, dan juga ponselku hilang saat aku tinggal di masjid waktu transit di Jakarta. Aku benar benar menyalahkan diriku yang teledor saat itu. Aku tidak bisa menghubungi kamu, dan aku tidak bisa bertemu dengan mu.
Akhirnya aku melapor ke polisi bahwa aku kehilangan semua tanda pengenalku, namun aku tak punya se peserpun uang. Tak ada yang bisa ku andalkan, alhamdulillah aku masih bisa minum air keran di masjid, dan aku di tolong oleh bapak tua penjaga masjid.
Beliau memberikan separuh uang infak masjid untuk kita makan bersama, dan aku meringankan sedikit pekerjaannya.
Aku habiskan malamku dengan menangis, aku tidak bisa menahannya. Aku tahu ini ujian, dan ini ujian terberat sepanjang hidupku. Aku tidak bisa mengabarimu dan mengabari siapapun yang ku kenal. Setiap hari aku menulis nomor mu, namun tiga nomor terkahir sangat sulit ku hapalkan. Aku mencoba meminjam ponsel orang orang yang berkunjung ke masjid yang ku jadikan sebagai tempat tidur, namun setiap kali aku mencoba menelepon selalu bukan suaramu yang muncul. Aku salah dalam menulis angka, aku lupa tiga baris nomor ponselmu.
Begitulah hari hariku selama di Jakarta. Menekuni nomor demi nomor, tiga angka terakhir saja bisa mempengaruhi kehidupanku..
Saat aku yakin nomor kamu benar, rupanya jarang sekali ada orang ke masjid, sangat sulit mendapatkan orang yang mau berbagi ponselnya padaku yang tidak mempunyai identitas, namun beberapa orang meminjamkannya, aku mencari orang di luar masjid, seperti tukang bakso atau tukang siomay yang bisa ku mintai tolong untuk sekedar mendengar suaramu dan memintamu untuk menjemputku. Aku mendapatkan nomormu akhir bulan maret dik, kulihat wajahmu dan wajahku menjadi icon foto profil whatsaapmu, hatiku rindu sekali tidak sabar saat itu akan mendengar suara jernihmu yang manja. Tapi harapanku tidak terwujud, ponselmu tidak aktif dan aku memustuskan untuk mengirimu pesan. Aku hanya bisa berharap kamu membacanya.
Begitu hari hariku selama akhir bulan maret, aku mencoba menghubungimu, tapi whatsaap memberikan kabar memanggil saja, tidak berubah menjadi berdering.
Aku mulai cemas saat itu, aku takut terjadi sesuatu padamu tapi aku tidak bisa berbuat apa apa. Akhirnya awal bulan april aku meninggalkan masjid, mencari pekerjaan mulai payah di Jakarta, sebagian gang sudah di tutup tidak boleh di lalui, tidak ada pedagang kaki lima yang menongkrong di jalanan atau di depan sekolahan. Semuanya sunyi dan aku sadar bahwa wabah membuat semua orang kehilangan tugasnya. Apakah kamu baik baik saja.? Begitu batinku setiap waktu.
Karena tak ada satupun pekerjaan yang bisa ku tekuni, aku pergi ke bandara, aku punya keyakinan bahwa ada banyak teman dosenku yang sering transit di Jakarta, tapi kenyataannya bandara sepi sayang. Hampir hampir kakiku tidak bisa melangkah, kalau aku bukan laki laki aku sudah menangis di tengah kesibukan segelintir orang di bandara itu.
Sampai akhirnya Tiara bertemu denganku, dia mengenaliku dan dia berteman akrab dengan penulis cantik yang sangat ku rindu, aku penggemar beratmu istriku :)
Awalnya aku menolak ajakan Tiara, tapi pamannya datang dan membawaku ke rumahnya yang tidak begitu jauh dari bandara. Ada harapan besar, apalagi paman Tiara menjadi tukang parkir pesawat, aku ingin meminjam uangnya, aku ingin ramadhan bersamamu seperti tahun lalu, dan paman Tiara sanggup membelikanku tiket pesawat menuju Yogyakarta, dan kamu tahu sayang... Bandara sudah tidak lagi di Adi Sucipto, sekarang bandara berada di Kulon Progo, aku yakin kamu akan suka jika kita berfoto di sana begitu pikirku saat itu dik.
Tapi qadarallah, aku jatuh sakit. Aku menggigil, nafasku berat dan lebih parahnya lagi aku sulit bernafas, flu pun menyerang imunku yang lemah. Paman Tiara membawaku ke rumah sakit, aku di karantina dengan beberapa orang di sini.
Sayang..
Jangan khawatir, covid-19 bisa di sembuhkan. Tidak perlu mencemaskan keadaanku. Aku janji setelah karantina ini selesai aku akan pulang ke rumahmu, aku akan mengajakmu jalan jalan dan makan makan di sepanjang jalan Malioboro, in syaa allah.
Aku minta maaf membuatmu menunggu, membuatmu khawatir, ketahuilah aku sudah berusaha mengabarimu, namun belum berhasil juga.
Sayangku..
Doakan aku..
Aku butuh doa darimu..
Aku ingin sembuh dan berkumpul lagi..
Sampaikan salamku untuk ayah dan ibu..
Ceritakan kecelakaan yang menimpa kita..
__ADS_1
Aku mencintaimu selalu. Jangan nangis setelah ini, nanti cantik mu pudar kalau kamu sedih.
:)
______________________
Kuraba tiap tulisan yang ia tulis dengan lamban, aku tahu perlu waktu berjam jam untuk menuliskan semua ini untukku, di sela air mataku yang basah melunturkan tintanya, ku peluk erat kertas ini, aku berharap segera usai perpisahan yang ku alami. Aku sangat rindu.
Angin bergerak pelan, memberi kabar bahwa hujan akan datang, gemintang tak menghiasi langit malam, malam ramadhan yang sepi, kabut berhamburan terbawa angin mengisi ruang di luar tanpa dinding. Aku meraih amplop biru, surat keduaku dari Firhan yang entah kapan ia sampai, namun aku yakin ayah sudah membacanya. Lipatan kertas folio sudah berubah dari tataan semula. Aku mulai membacanya lagi.
____________________
Untuk istriku tercinta..
Cinta pertama dan terakhirku..
Assalamualaikum warahmatullah..
Aku mengaca pada keadaan, sudah saatnya aku menulis dan mengenang kisah kita pada lembaran putih ini yang akan ku penuhi dengan tinta perjalanan kita.
Kamu tahu dik? Aku meminta perawat untuk mencarikan amplop cantik warna biru muda kesukaanmu, dan aku meminta padanya untuk meminjamkan pena serta kertas yang sekarang sedang kamu pegang.
Aku sangat minta maaf jika membuatmu bersedih, membuatmu terluka, membuatmu sengsara.
Kamu ingat..? Awal perjumpaan kita yang sangat singkat? Kamu harus tahu, bahwa saat itu adalah saat yang sangat membuatku tidak bisa tidur. Aku ragu, satu malam suntuk aku bingung untuk memikirkan kata yang tepat untuk memintamu. Maafkan aku yang terkesan memaksa saat di dalam mobil. Aku berharap kamu selalu mencintaiku. Hari yang paling bahagia dalam hidupku, saat aku menjabat tangan ayahmu, memintamu untuk menjadi istriku di dunia dan di surgaNya. Saat paling bahagia bagiku adalah saat aku bisa menggenggam erat jemarimu, sambil mengecup dengan khidmat keningmu, hal luar biasa yang terjadi saat maghrib tiba setelah hari pernikahan kita adalah aku mencium mu. Mencium wanita cantik dan manis, kamu orang yang paling berharga dalam hidupku. Tidak ada kesempurnaan yang kulalui kecuali setelah aku membangun rumah tangga bersamamu, menjalani hari hari penuh kejutan darimu.
Selalu ku ingat, tak pernah ku lupa adinda.
Aku selalu ingat wajah manis mu yang memerah karena malu menatapku, agenda tahun madu yang kau susun begitu sempurna, menghilangkan letih saat selesai aku bekerja. Aku adalah lelaki yang sangat beruntung memiliki kamu.
Masih selalu terngiang di pelupuk mataku, tawamu, candaanmu, manjamu, senyum nakalmu, rengkuhan malammu, aku hanya bisa berharap, aku hanya mampu meminta, tidak ada permintaanku selain berjumpa denganmu..
Aku minta maaf mengabaikan kamu, aku hanya ingin menenangkan diri, memikirkan bagaimana caranya agar kamu dan keluargaku berdamai. Namun aku sadar sayang. Kesalahan tidak pada kamu. Kamu tidak pernah bersalah, dan kalaupun kamu bersalah itu semua murni karena aku, aku lah yang bertanggung jawab atas didikanmu, dan aku mencoba belajar bersabar atas ujian yang menimpa kita. Maaf kan aku yang tidak menahan langkahmu saat kamu pergi. Aku ingin saat ini kamu di sini, merawatku dan menjagaku, namun aku sadar sakit apa aku ini. Sakitku tidak boleh di besuk, tak ada satupun orang yang berjumpa dengan keluarganya.
Kamu tahu? Aku cengeng saat melepasmu di bandara kala itu. Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan padamu, harusnya aku menahan kamu, harusnya aku menarik mu dalam pelukanku lebih erat lagi.
Aku tidak pernah menyangka jika menatapmu di bandara Kualanamu adalah moment terkahir yang ku punya denganmu, namun tidak ku rasa. Aku begitu bahagia saat menatap ponsel bertuliskan memanggil dan ku dapati fotomu tersenyum. Aku selalu berharap kamu selalu tersenyum tanpaku sayang. Begitulah doa yang setiap lima kali sehari (minimal) ku panjatkan, aku selalu memohon pada Allah agar aku dan kamu di berikan kekuatan.
Kamu pelepur laraku, kamu penenang jiwaku, kamu adalah bidadari yang Allah kirimkan untuk menjadi penyemangat hidupku.
Boleh aku bernyanyi..? Aku teringat lagu almarhum ustadz Jefry al bukhori, lagu itu di cover bagus oleh Syakir Daulay dan Adiba Uje kamu harus mencarinya nanti setelah membaca surat dariku. Liriknya sangat bagus, aku terharu dan membayangkan bisa menyanyikan dihadapanmu.
Setiap manusia, punya rasa cinta
Yang mesti di jaga, kesuciannya.
Namun ada kala, insan tak berdaya
Saat dusta mampir bertahta
Ku inginkan dia yang punya setia
Yang mampu menjaga kemurniaannya
Saat ku tak ada ku jauh darinya
Amanah pun jadi penjaganya
Hatimu tempat berlindungku
Dari keheningan malamku.
Tuhanku merestui itu,
di jadikan kau pasanganku.
Engkaulah bidadari surgaku.
Tiada yang memahami segala kekuranganku
Kecuali kamu, oh bidadari ku
__ADS_1
Maafkanlah aku dengan kebodohanku
Yang tak bisa membimbing dirimu
Perawat mengabarkan padaku ada sebuah pesan dari kerabat yang membawaku ke rumah sakit ini, aku pikir itu Tiara dan benar dugaanku. Tiara mengirim surat yang di titipkan pada perawat, pada paragraf awal suratnya dia mengatakan alasan kamu tidak pernah aktif adalah karena sinyal, kamu pergi ke Pagilaran ternyata, aku juga terkejut mendengar kabar bahwa si Abdu dan Azalea mengalami kecelakaan yang menyebabkan mereka harus pergi. Namun pada paragraf ke tiga Aku merasa hidup lagi setelah keadaanku makin memburuk, ada energi yang membawa semangat baru untukku agar bertahan, Tiara mengatakan bahwa ia sudah menyampaikan surat pertamaku,dan dia mengatakan bahwa istriku hamil.
Sedang apa janin kita sayang?
Apakah kamu rajin membawanya ke dokter kandungan? Apakah ayah menemanimu ke dokter kandungan itu? Bagaimana detak jantung buah hatiku? Apakah dia sehat? Laki laki atau perempuankah dia? Aku sangat bahagia sekali mendapat kabar itu, aku sempat merasakan betapa bahagianya aku menjadi seorang ayah dari janin yang sedang kamu kandung.
Sayang, ini adalah lembaran terakhir dari surat yang ku tuliskan untukmu, jika kamu mendapati surat dari lembaran ini, maka jangan bersedih..
Tugasku yang singkat sebagai seorang laki laki telah usai, Allah telah memanggilku menghadap Nya, nyawa yang di titipkan dalam jiwaku telah di ambil olehNya. Mudah mudahan tidak berat hisabku, maafkan aku yang belum bisa menemani masa masa sulitmu dan membuat kamu murung sepanjang waktu, sungguh bukan itu mauku.. Aku ingin selalu bersamamu..
Sayang kamu ingat janji kita?
Kita saling berjanji untuk mencintai, kita meminta pada Allah untuk berjumpa di dunia dan juga di surgaNya, namun aku tidak mengapa, aku sangat ridho jika kamu akan menikah lagi setelah ini. Aku ingin kamu tetap bahagia, jangan terlalu meratapi kepergianku.
Sayangku, rawatlah anak kita, dari ia janin sampai ia dewasa.. Berikan hal hal positif untuknya, didiklah dia menjadi pribadi sepertimu jika ia perempuan, seperti ibunya yang manis, manja dan memahami siapapun di sekelilingnya, serta mampu menghadapi tekanan dunia yang makin tua. Jika dia sudah di lahirkan di dunia, aku ridho kamu menikah lagi, aku ridho kamu mempunyai suami lagi yang lebih baik dariku, anak kita butuh ayah untuk menggandeng tangannya saat hari pernikahannya nanti. Dan aku tahu, betapa sulitnya mendidik anak tanpa seorang ayah. Aku tidak mau kamu merasakan kesulitan itu.
Tugasku di berhentikan oleh Allah, selama kehamilan kamu, aku serahkan kamu pada ayahmu terlebih dahulu, kamu akan selalu menjadi istri yang terbaik sepanjang hayatku, bahkan saat ku hembus nafas terkahirku nanti, aku mohon doakan aku.
Aku selalu berharap membuang lembaran terkahir ini, cukup bagian awal saja yang kau baca. Namun kamu ternyata membacanya, dan bukan dariku kamu menerima surat pilu ini. Sudahlah aku tidak ingin kamu berlarut larut bersedih, aku hanya ingin kamu tau bahwa cintaku untukmu, satu sampai akhir hayatku, aku sudah berjanji untuk reuni bersamamu kelak di surga Nya. Berjanjilah menjadi pribadi shalihah, aku mencintaimu sayang.
Kamu tahu kata sandi brangkas yang tersembunyi di balik pigura kamar kita? Jika pandemi ini berakhir pergilah ke medan, mintalah ayah untuk menemani perjalanan kamu, aku memberikan semuanya padamu. Disana tersimpan lebih dari 4M dan emas emas murni. Aku menabungnya untukmu, untuk anak kita nanti.
Aku sudah memberikan untuk mama, jadi semua uang itu murni untukmu, mau kamu apakan aku tidak mmpermasalahkannya.
Simpan baik baik, infakkan sebisa kamu, aku sudah melaksanakan semua tugas tugasku sebelum pergi dari dunia ini.
Terimakasih banyak istriku, calon ibu untuk buah hatiku, kelak saat dia beranjak dewasa, ceritakan hal hal baik tentangku, sampaikan maafku padanya, tidak bisa menemaninya bermain, menggendongnya, atau mengantarkan dia sekolah. Sampaikan bahwa ayahnya sangat bahagia mempunyai sosok baik seperti bidadari.
Jaga kesehatan istriku sayang.
Aku ingin memperbanyak dzikirku, sampai nafas terkahirku, aku selalu berharap bisa meninggal dalam keadaan khusnul khatimah.
Aaamiin ya Allah.
Sekian :)
Wassalamualaikum warahmatullah
Ruang ICU yang sunyi, 16 April 2020
_________________________
Dan pada lembaran berikutnya sebuah berita lelayu dari pihak rumah sakit yang membuatku hampir tak bernafas.
_________________________
RSUP FATMAWATI
JAKARTA PUSAT
DENGAN SURAT INI KAMI MENERANGKAN BAHWA :
NAMA : FIRHAN AVECENNA
PADA :HARI JUM'AT 17 APRIL 2020
JAM : 04:06 WIB
TELAH MENINGGAL DUNIA KARENA DAMPAK PANDEMI COVID-19. DAN TELAH DI MAKAMKAN DI LAHAN KHUSUS HAK MILIK RUMAH SAKIT FATMAWATI DI TANGERANG.
SESUAI PROSEDUR YANG TELAH DITETAPKAN.
DEMIKIAN SURAT INI KAMI SAMPAIKAN, SEBAGAI PEMBERITAHUAN KEPADA PIHAK KELUARGA YANG BERSANGKUTAN.
TURUT BERDUKA CITA
PETUGAS COVID-19 RSUP FATMAWATI
__ADS_1
____________________