LOCKDOWN A Love And Covid-19

LOCKDOWN A Love And Covid-19
Honey year


__ADS_3

"cinta adalah iradah tuhan, dikirimnya ke dunia supaya tumbuh. Kalau dia terletak di atas tanah yang lekang dan tandus, tumbuhnya akan menyiksa orang lain. Kalau dia datang kepada hati yang keruh dan kepada budi yang rendah, dia akan membawa kerusakan. Tetapi jika dia hinggap di hati yang suci, dia akan mewariskan kemuliaan, keikhlasan, dan ketaatan pada ilahi."


Pesan Buya Hamka dalam salah satu karyanya yang melegenda, kemudian dari sebuah karya itu di filmkan oleh sutradara di Indonesia, akhir kisahnya yang menyedihkan membuat air mata berlinang. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, mengingat kisah itu membuat kepalaku geleng geleng, aku tidak ingin memiliki riwayat cinta yang sedih, aku tidak mengharapkan itu. Dari cerita itulah aku belajar untuk selalu terbuka untuk mengakui cinta dan menghargai waktu, berpikir sebelum bertindak agar aku tidak menyesali keputusan. Paling tidak aku ingin mengukir hal hal yang indah saja saat bersama dengan suamiku.


"nduk, kok melamun kamu.." mendengar suara ayah aku langsung mengedipkan mata.


Ibuku dan juga suamiku memperhatikanku setelah mendengar suara ayah mengomentariku.


"ah iyya ada yang aku pikirkan tadi." jawabku kemudian melahap semua nasi di atas piring.


"yah, kemungkinan 2 hari lagi saya akan membawa Yasmine ke Medan,kalau ayah mau, boleh ikut bersama kami untuk berkeliling Sumatera Utara." suamiku menatap mata ayah, ayah terdiam beberapa detik menghentikan gerakan sendoknya di atas piring kaca. Mungkin pikir ayah hal itu akan terjadi, sebab suamiku adalah dosen dan dia harus kembali pada pekerjaannya.


" emmm tentu, kamu bisa bebas membawa Yasmine kemana pun kamu mau. Dia sudah menjadi hak kamu nak." jawab ayah kemudian melanjutkan makan malamnya. Ayah tidak menatapku sama sekali, biasanya tiap suamiku berbicara ayah selalu menoleh padaku seolah meminta penjelasan. Namun kali ini ia memahami dengan sempurna maksud Firhan untuk membawaku ke Medan.


" ayah dan ibu tidak akan mengganggu bulan madu kalian." tambah ibu membuat kami saling senyum.


Tempatku di besarkan, tidak ada istilah keramaian setelah waktu menunjukkan pukul 20.00, jika sudah berganti menjadi 20.01 maka semua penghuni rumahku terlelap dan sebagian lampu di padamkan. Namun aku berbeda, mataku selalu terjaga jika jarum pendek belum melewati angka 10 malam.

__ADS_1


Berbeda dengan tempat suamiku, bahkan pukul 03.00 saja masih ada orang berjualan martabak bangka, begitu cerita suamiku.


Dua malam tersisa untukku menghabiskan waktu di rumah ini, aku bahagia akan menyewa flat di salah satu bangunan tinggi di kota Medan. Namun aku juga berduka, sebab aku akan meninggalkan semua kenanganku di sini. Aku tidak bisa memungkirinya dan air bening ini selalu keluar dari sudut mata dengan derasnya tanpa ku minta. Aku benar benar tidak berbakat untuk menyembunyikan kesedihan.


"kamu keberatan tinggal jauh dengan orangtuamu..?" tanya Firhan iba melihatku meringkuk di atas kasur berlinang air mata, aku sambut pertanyaannya dengan pelukan.


Aku hanya bisa menggeleng. Aku tidak siap berbicara, bukan aku tidak mau hanya saja aku terlalu mengkhawatirkan ibu dan pekerjaan rumah lainnya, meskipun ada istri pak Parman yang siap membantu ibu, namun akan berbeda bagiku menyikapi semua ini.


"Aku istrimu. Aku siap mengikuti jejak langkahmu, aku yang akan menemani kamu, membuatkan sarapan untukmu, dan kamu adalah imamku baktiku untukmu sekarang bukan dengan orangtuaku lagi." berat sekali bibirku mengucap kata orang tua, aku akan pergi meninggalkan ayah dan aku tidak pernah membayangkan hal itu. Aku berharap hadirnya suamiku bisa menjadi sosok ayah, teman dan juga sahabat bagiku dan kini ia mulai membuktikannya dengan merengkuh tubuhku serta mengusap rambutku pelan..


Dagunya di tempelkan di ujung kepalaku, setengah jam berlalu dan aku mulai tenang, air mataku perlahan surut dengan sendirinya, dan aku mendongak melihatnya, memastikan apakah ia tertidur atau terjaga.


" kamu marah mas..?" tanyaku, ia tersenyum


"aku nggak boleh marah, dan aku nggak pengen marah sama kamu."


"aku bukannya gak mau, cuma aku sedang menyiapkan hatiku untuk hal itu. Mungkin ini akan menjadi perjalanan panjang untukku,mas. Aku bahagia sungguh separuh hatiku bahagia, namun setengahnya lagi aku bersedih." ceritaku hampir hampir akan menitikan air mata lagi

__ADS_1


" iyya, aku paham sayang. Gimana kalau gini aja... "firhan memutar otak memikirkan sejenak apa yang hendak ia ucapkan.


"kamu jangan menganggap kita pindah, anggap saja kita akan bulan madu. Namun aku rasa bulan madu kurang, sebab aku yakin satu tahun ke depan akan terasa manis jika bersamamu. Bolehkah jika nama acara kita tahun madu..?" ucapnya tanpa rasa bersalah membuatku terbahak..


" tahun madu ahaha.. " terlalu aneh namun aku menyukainya. Aku setuju dengan hal itu, berkurang rasa sedih dalam hatiku jika aku mendoktrin diri seperti yang di ucapkan suamiku tadi. Yeah tahun madu, bukan lagi hooneymoon namun akan menjadi hooney year bagi kami.


Dua hari berlalu sangat singkat, keberangkatan ke Medan akan terjadi dalam hitungan jam, mata ibu sendu, tatapan ayah masih normal namun ia sering melamun dua hari ini di atas jembatan menuju ke rumah pohon. Aku yakin ini akan baik baik saja meskipun semua mata kami sembab karena air mata. Aku menyapu pandangan seluruh rumahku sampai ke atap atapnya. Aku tidak ingin menangis, sepanjang perjalanan menuju bandara hatiku kalut, mulutku terkunci, kebahagiaan dan kesedihan ini menyatu dengan sempurna.


Di bandara internasional Adi Sucipto Yogyakarta aku memeluk mereka, sebelum panggilan terakhir masuk pesawat aku puaskan diriku menatap wajah ayah dan ibu.


Ibu menangis, matanya merah dan masih banyak lagi stok air mata untuk satu pekan kedepan untuk ia keluarkan, wanita ini selalu saja begini ketika di hadapkan dengan bandara dan perpisahan. Aku saling gantian dengan Firhan, aku salami ayah dan aku memeluknya ia hanya diam, namun lingkar merah di kedua matanya dan nafas yang ia tahan menjelaskan semuanya.


"nanti kalau kami sampai akan langsung kami kabari.." ucap suamiku mencoba untuk menenangkan mereka berdua. Aku berpaling, aku tak sanggup untuk menatap dua orang yang paling aku cintai, yang telah merawat dan membesarkanku.


Air mataku tumpah membasahi jilbab orange yang kukenakan. Suamiku menggandengku, menjauhi batas akhir pengantar, sebelum aku berbelok kupandang ke arah orang tuaku, jika tidak ada satpam di depan pintu itu mungkin mereka akan mengantarkanku sampai pesawat menghilang dari landasan.


Aku tersenyum sebelum menghilang dari pandangan kedua orang tuaku. Dengan senyum ini aku memastikan aku baik baik saja, dengan senyum ini aku memastikan bahwa aku akan hidup bahagia, dan dengan senyum ini aku ingin tampak sudah dewasa, bukan gadis cengeng yang masih manja, meskipun aku belum bisa. Di hadapan lelaki yang jaraknya lima tahun lebih tua dariku aku menangis, dialah yang kini menjadi penghiburku, menghapus air mataku, dan ia berjanji akan membuat aku bahagia.

__ADS_1


__ADS_2