LOCKDOWN A Love And Covid-19

LOCKDOWN A Love And Covid-19
Setelah Kamu pergi


__ADS_3

Hidupku di atas kebahagiaan sudah lebih dari cukup, kisah kisah yang sudah tercipta, orang orang yang kukenal, perlahan semua kesenangan itu akan meninggalkan dunia yang luas.


Aku belajar banyak dari sebuah kehilangan orang orang yang ku sayang. Bahwa bumi tetap beredar, matahari tetap bersinar dengan terang, bunga bunga tetap tumbuh, manusia masih tetap memperjuangkan kehidupan mereka, tidak ada yang berhenti di dunia ini kecuali keputus asaanku yang tenggelam seperti matahari menyelami awan di sore hari dan tidak ingin terbit lagi.


Jalan yang panjang sedang ku lalui, hanya saja dalam moment ini jalanan sangatlah terjal, banyak bebatuan yang membuatku terus berhenti di tengah jalan.


Sebab ini adalah jalan yang akan ku tempuh, aku memilihnya atas dasar kesadaranku yang perlahan tumbuh dalam nestapa. Aku belajar lagi untuk memulai semuanya dari awal, meskipun tertatih, meskipun tampak merangkak menapai jalan ini, namun aku harus tetap berjalan bukan diam dan meratapi semuanya. Aku yakin hamparan surga sangatlah luas, tak terukur dengan apapun, aku harus tetap hidup sebagaimana biasanya,untuk menjalani kehidupan tanpanya.


Ada om Rahman dan bulik Nuri yang juga sama sepertiku, aku mengaca pada mereka, mereka yang merawat anak mereka dari kandungan, membesarkannya, namun belum sampai keduanya menginjak jenjang pernikahan ajal sudah menghampiri keduanya. Kesabaran dan ketabahan om dan bulikku menjadi patokan utama bagiku. Sekarang semuanya berkumpul di rumah nenek, tetap mencoba untuk tertawa di tengah tengah kesedihan, merawat dan menjaga keutuhan persaudaraan yang tercipta.


"sudah di siapkan belum opornya?" tanya ibu sambil berteriak dari secreet garden. Sudah setengah hari nenek dan ibu sibuk merawat bunga sampai lupa waktu.


"proses.." jawab kakakku yang belum menyentuh sama sekali ayam yang sudah di sembelih om Rahman dan ayahku siang tadi.


"rendangnya..?" teriak ibu lagi.


"proses..." jawab bulik Nuri mengikuti kakakku, padahal mereka masih sibuk menonton drama korea the world of the merried yang belum juga usai.


Tidak sabar akhirnya ibu masuk ke rumah, geleng kepala sambil terus bergumam kesal namun sigap mengambil langkah untuk memasak. Tidak ada yang lebih enak dari opor buatan ibu, rendang masakannya bisa buat orang satu kampung ketagihan. Tak merasa berdosa dengan kompaknya kakakku dan bulik Nuri hanya mendongak dan kembali fokus pada layar tab masing masing, beginilah jika wifi tersambung di daerah yang minim sinyal seperi di kampung teh Pagilaran. Bahkan jika sudah menjelang buka puasa beberapa orang tua ramai di halaman rumah untuk menjemput anak anak mereka yang asyik berselancar internet dengan wifi yang di pasang ayah.


Aku bangkit, mengajak Aydin dan Fatih untuk menemaniku ke ruang tamu villa. Aku menjanjikan untuk membelikan es krim kepada mereka jika mau menemaniku, dan mereka menurut.


"mbak mbak, sama obil lemot." aku terkekeh, selalu saja Fatih menghiburku dengan polosnya mengeja kata.


"mobil remot..." ralatku ia mengangguk memamerkan giginya yang mulai menghitam keropos karena coklat dan permen.


Aku duduk di atas sofa putih, tempat ternyaman untuk menyendiri san bernostalgia bersama kenangan. Dua keponakanku sibuk dengan mobil mereka yang berserak. Mataku selalu mengawang dan melamun saat memandangi keindahan air terjun yang hampir mirip lukisan. Hari ini cuaca sangat cerah, semua keindahan dan warna memadu tersaji di depanku.


Perlahan aku meresapi keadaanku, bahwa setelah kamu pergi bumi tetap berotasi, angin tetap berjalan, semua manusia tetap bergerak mencari kehidupan.


Setelah kamu pergi, aku membiarkan waktu menghapus luka tersakit sepanjang hayatku.


Sebab semua orang tidak akan siap dengan perpisahan.


"Yasmine, ada tamu.." suara ayah mengalihkan lamunanku, aku beringsut dari sofa dan bergegas memakai pakaian rapi. Kulihat seorang laki laki berisi dengan baju koko ungu muda serta sarung tenun dengan warna yang sama.


"assalamualaikum kak.." sapanya padaku sambil meletakkan kedua tangannya di depan dada.


"waalaikumsalam warahmatullah.." aku menjawab sambil keheranan. Ayah tersenyum


"ini ustadz Muslih, pemilik yayasan Darr Sa'adah di Kabupaten Batang." ayah memperkenalkan padaku, aku mengangguk angguk mencoba mencerna lagi maksud kedatangannya.


"jadi begini, mbak Yasmine sedang mencari orang untuk menampung harta bukan? In syaa Allah yayasan kami siap." aku baru teringat tentang beliau yang ayah ceritakan beberapa hari lalu.


"iyya betul ustadz Muslih, saya sedang mencari orang untuk membantu saya mengalokasikan uang titipan almarhum suami. Kalau boleh tahu, ustadz sendiri menyalurkan dana lewat lembaga atau pribadi ya..?"


"kami bergerak di lembaga Lazis Daar Sa'adah, sudah dua tahun lembaga kami berjalan, alhamdulilah masyarakat antusias dan mengharapkan orang orang dermawan untuk menitipkan hartanya pada kami. In syaa allah kami salurkan kepada orang orang yang membutuhkan, tanpa tersisa sedikitpun. " paparnya padaku. Aku menggangguk, kemudian izin untuk mengambil semua harta yang di wariskan untukku dari Firhan.


" ATM ini berisi kurang lebih 4M, suami saya meninggalkan harta sebanyak itu untuk saya. Saya amanahkan kepada ustadz, kalau usulan saya pribadi 1.5M di gunakan untuk membeli Alat Pelindung Diri di berikan kepada tenaga medis di seluruh wilayah Jawa Tengah terkhusus rumah sakit yang menangani kasus Covid-19.

__ADS_1


2.5M untuk membeli bahan pangan serta kebutuhan bayi dan ibu hamil dampak Covid-19. Dan di tiap bingkisan berikan nominal uang secukupnya.


Saya dengar ustadz membangun pondok pesantren?"


" iyya mbak betul... "


" sisanya saya infakkan untuk pembangunan pondok pesantren, utamakan untuk membuat sumur terlebih dahulu ustadz ya, saya dengar pahalanya sangat besar jika membangun sumur untuk orang orang shalih. Semuanya saya infakkan atas nama almarhum suami saya Firhan Avecenna. Kata sandi ATM ada di dalam bukunya. " jelasku sambil memberikan ATM yang ku miliki.


"in syaa Allah dokumentasi penyerahan akan selalu kami upload di media sosial. Kemudian kami berikan foto serta ringkasan penyaluran uang secara jelas tanpa sisa."


"tidak usah ustadz, saya percaya sepenuhnya pada ustadz. Nanti jika lockdown ini selesai, saya masih ingin menitipkan beberapa perhiasan untuk pembangunan pondok pesantren in syaa Allah."


"maa syaa Allah, baik mbak.. Mudah mudahan Allah limpahkan pahala kepada mbak Yasmine dan keluarga."


"aaaamiiin aaaamiiin..". Ayah menimpali doa dari ustadz di hadapan kami. Sebelum akhirnya beliau pamit sambil membawa ATM itu.


Ada rasa syukur aku bisa meminta adik mas Firhan untuk membuka brangkas dan memintanya untuk mengirimkan uang itu lewat bank, aku tidak perlu menjanjikan apapun saat ustadz itu datang. Semoga menjadi ladang pahala untuk suamiku di alam kuburnya. Hanya dengan cara ini aku meluapkan rinduku padanya.


Waktu berjalan seperti sedia kala, tak pernah lagi terasa lamban berjalan. Sore menghampiri dunia yang makin tua, covid-19 belum mereda, Jakarta makin memburuk, beberapa kawasan di kota ini menjadi zona merah. Aku yakin setiap manusia punya cerita yang sama denganku, mereka sedang mengandung, mungkin ada juga yang baru punya momongan, namun suami mereka tertahan di perantauan karena lockdown wilayah yang terjadi untuk mengurangi penyebaran Covid-19. Sampai akhirnya maut menjadi pemisah antar hubungan mereka.


Rasa sakit dan kenangan itu bermunculan, membentuk goresan goresan luka terdalam, bahkan aku hampir ingin mengakhiri hidupku karena kabar itu.


Kematian yang paling menyakitkan adalah kematian karena covid, dimana keluarga tak bisa menyaksikan moment terakhir sebelum tanah menjadi penghalang, tak bisa memandikan untuk terkahir kali, tak bisa menyentuh atau mencium untuk terkahir kali,tak ada tetangga atau kerabat yang menemani, dan bahkan hanya segelintir orang yang mengurus, itupun orang orang medis yang bertugas untuk menangani covid.


Aku tidak pernah menyangka bahwa lelaki sebaik suamiku akan menjadi salah satu korban virus mematikan ini.


April


Juni


Juli


Agustus


Setelah kamu pergi, aku akan mencoba untuk berdamai lagi, aku akan banyak berdusta kepada semua orang bahwa aku bahagia, biarkan kedustaan ini menjadi hal yang sangat lincah ku lakukan demi semua orang di sekelilingku.


Tidak ada lagi harapan dalam Kehidupan ku masa kini, aku tidak pernah mencintai siapapun kecuali kamu.


Senyummu masih menghiasi malamku, dalam ruang mimpi kita bertemu dan bercanda seperti dulu lagi. Dengan itu aku sudah cukup bahagia. Bahkan rasanya aku tidak ingin terbangun dari tidurku agar bisa terus menerus menatap dan bertemu denganmu. Walau kadang saat terbangun ku dapati bening air mata membasah di pipi,aku bisa di katakan cukup bahagia.


Setelah kamu pergi, aku mencoba bangkit lagi. Hari hari yang kulalui memang tak semulus saat masih bersamamu, akhir bulan ini aku sibuk dengan kisah nyataku yang ku buat menjadi novel, aku mengirimnya di sebuah penerbitan novel ternama di Indonesia. Mereka menyukai karyaku dan siap membukukannya menjadi novel.


Setelah kamu pergi, beberapa bulan kemudian dunia kembali seperti semula, covid-19 menghilang tanpa jejak di muka bumi bahkan di berita, semuanya fokus menghadapi masa kini yang penuh dengan kehati hatian. Semua orang berhati hati dalam hal makan, kebersihan dan tentu menjaga jarak. Semua orang menjadi lebih bersih, lebih menjaga kebersihan tangan mereka, bahkan ku lihat semua tempat perkumpulan seperti halte atau bahkan mall mempunyai washtafle untuk memudahkan pengunjung mencuci tangan mereka. Jumlahnya bukan hanya satu atau dua melainkan lebih dari enam washtafle terpasang di mall. Awalnya kurang wajar, namun Indonesia mengambil banyak pelajaran dari virus corona dan lockdown itu.


Sekarang aku menjalani kehidupan yang lebih cerah, menyembunyikan kesedihan, bersanding dengan kesedihan yaitu teringat selalu olehmu. Tidak jarang aku membelikan oleh oleh untuk orang di rumah dengan jumlah yang lebih, aku selalu ingat denganmu.


Setelah kamu pergi, ayah berusaha mati matian untuk bisa pindah ke rumah nenek. Kami akan menjalani kehidupan mulai dari nol lagi, menjual rumah di hutan pinus, menjual villa di samping rumah, dan meninggalkan pemandangan yang tidak ada bosannya saat langit biru menetap di atas pepohonan rindang yang tinggi menjulang.


Namun karena ayah selalu tidak di izinkan pindah, ayah memutuskan untuk keluar dari dunia kerjanya. Ia makin sibuk dengan ibu mendekor secreet garden yang makin meluas seperti hutan. Ke depannya karya ayah dan ibu akan di jadikan tempat wisata. Dan pak Parman serta istrinya ikut serta berkumpul dengan kami di pegunungan teh Pagilaran. Rumah semakin ramai, om Rahman dan bulik Nuri juga berencana membangun pondok pesantren tahfidzul qur'an di Pagilaran. Tempat dingin cocok untuk menghafal, begitu pendapat om Rahman.

__ADS_1


Setelah kamu pergi, ayah selalu menemaniku berkunjung ke rumah mamah, aku baru melakukannya sekali, saat usia kandunganku memasuki usia 7 bulan. Aku mengunjunginya yang belum bisa bangkit dari depresi akutnya. Aku kirimkan makanan khas Jawa, aku berikan mamah murotal dan ku pasang di tiap sudut ruangan di rumahnya. Waktu itu aku sempat mengunjungi rumah kita, aku hanya mampir dan melihat lihat keadaan rumah, memandang sejenak lalu lintas yang kembali padat, seolah olah aku sedang menunggumu pulang kembali, aku hanya bisa tersenyum dan angkat bahu sambil menghembus nafas panjang panjang jika sudah menghayal lagi. Aku berkunjung ke rumah tanpa ku sengaja, sudah berbulan bulan terhitung sejak bulan puasa, sampai sekarang bulan agustus belum juga ada yang berani membeli flat kita. Ada yang sudah tertarik untuk membeli, namun takut kata mereka. Ada juga yang mentah mentah menolak membeli karena takut ada virus covid yang di tinggal olehmu, aku hanya bisa geleng kepala saat menanggapi pembeli.


Setelah kamu pergi, aku makin mandiri menghadapi keseharianku, tidak ada lagi tempatku untuk bermanja manja. Bagaimana menurutmu? Sudahkah aku terlihat kuat? Sudahkah aku menjadi wonderwoman ? Sudahkah aku menjadi pembohong sejati? Sekarang aku sudah jujur, tidak ada lagi kebohongan dalam tingkah laku yang ada padaku. Jika aku sedih aku akan terang terangan mengungkapkan pada semua orang di rumah agar mereka menghiburku, dan aku akan terus terang berbahagia jika kondisi hatiku tidak begitu kalut saat teringat tentangmu. Aku masih bersyukur kamu bisa menemani langkahku dalam sendiri, kehadiran kamu di khayalanku mampu menyemangatiku dan janin besar dalam perutku.


Setelah kamu pergi, aku selalu menyetir sendiri. Sama seperti saat ini sekarang aku akan pergi ke dokter kandungan untuk chek sebelum usia kandungan masuk ke bulan september, bulan terkahir anak kita di dalam rahimku.


"masih berkendara sendiri kak..?" tanya dokter Furqon, spesialis kandungan di Kota Batang.


"masih dokter, apakah berbahaya..?" ujarku takut, namun ia mengembangkan senyumnya.


"tidak, tidak ada yang berbahya. Selama tidak terlalu letih dan capek nggak masalah. Kaki nya gak bengkak kan?" tanya ia sambil memeriksa


"enggak dok. Alhamdulillah baik baik saja."


"okke berbaring, seperti biasa biar perawat yang mengecek kandungan kakak ya." ujarnya, matanya menyipit dari balik kacamata kotak yang ia kenakan karena senyumannya.


Semenjak aku periksa di sini, dokter Furqon membiarkan perawat yang memeriksa, beliau sangat menjagaku, bagaimana caranya agar aku tidak menampakkan auratku. Namun jika benar benar darurat seperti pekan lalu perawat kurang yakin dengan posisi janin, maka dokter Furqon yang menanganiku..


Dalam hatiku tidak terbesit apapun, jika mas Firhan mengetahui pun ia tidak akan memaksaku untuk untuk bersikeras mencari dokter wanita karena tidak ada satupun dokter kandungan wanita di sini. Kalaupun mau aku harus ke Pekalongan, dan tentu jarak tempuhnya lama.


"normal semua dok." lapor perawat kemudian dokter mempersilahkanku untuk mengambil resep di luar.


"kak Yasmine Adelia." panggil dokter Furqon menghentikan langkah kakiku yang hendak keluar dari ambang pintu, aku berbalik lagi.


"iyya dok..?"


"buku ini karya asli kamu ya..?" ia menunjukkan sebuah buku sampul jingga bertuliskan "pada senja yang membawamu pergi". Ia bertanya dengan nada yang tidak formal seperti biasa. Aku mengangguk biasa saja tidak ada raut bangga atau kagum dokter yang memeriksaku membacanya.


"ini kisah nyata atau hanya fiksi kak..?" dokter Furqon menjauhkan kursinya dari meja kerja sambil membawa buku itu mendekatiku.


"itu karya asli dokter. Kisah saya dan suami." ungkapku, sambil menimbang nimbang apakah aku akan telat ke plamedia Pekalongan untuk jumpa fans dan sharing tentang buku yang sekarang ada juga di tangan dokter kandungan ku.


"boleh saya minta tanda tangan..?" aku berusaha tidak menampakkan ke tidak sukaanku terhadapnya, namun bagaimanapun. Aku menyanggupinya dengan malas menuju ke tempat duduk dan memberikan tanda tanganku pada kertas di belakang sampul judul.


Aku segera pamit dengan sopan dan berlalu meninggalkannya setelah mengambil obat.


Aku kembali masuk mobil, kembali bercerita pada sosok kamu yang halu.


Begitulah hari hari ku setelah kamu pergi.


Penuh dusta dan sandiwara pada awalnya, namun kini aku mencoba terbiasa.


Jarak antara rumah sakit dan toko buku besar Flamedia tidak begitu jauh, tempat yang sangat bagus menurutku jika membangun toko buku yang berdekatan dengan rumah sakit. Dengan begitu pasien yang tidak sakit parah bisa membaca buku untuk menghilangkan kesuntukannya menunggu dokter untuk memeriksanya, atau sambil menunggu pulih sesekali berkeliling dunia,sebab lewat buku semua dunia bisa berkumpul bersama pembaca.


Aku sampai di depan halaman toko, kedatanganku membuat semua mata memandang, pandangan mereka nampak memelas bukan hanya kagum semata. Aku langsung duduk di kursi dan sebuah meja yang di sediakan untuk para pembaca meminta tanda tanganku. Novel Pada Senja Yang Membawamu Pergi sudah di cetak lebih dari 12 kali. Saatnya bergulat dengan pena dan coretan tanda tangan. Semua orang mengantri.


"waaah kak, aku salut banget sama kakak. Semangat ya kak." ucap seorang gadis malu malu setelah ku bubuhi tanda tangan pada buku yang ia beli. Aku tersenyum padanya.


Setengah jam menghabiskan waktu untuk duduk di atas kursi menjadi pekerjaan yang sangat melelahkan bagi ibu hamil yang sudah memasuki trimester ketiga, aku tidak sanggup lagi mengatasi antrian pembeli yang meminta tanda tangan. Apalagi baby boy ku di dalam perut sudah salto ria ingin mamanya memakan sesuatu. Aku meminta izin untuk pulang sebab kondisi tidak memungkinkan untuk tetap di sini. Akhirnya aku kembali lagi ke mobil, merobohkan senderan jok agar tidak terlalu tegak sambil ku hirup nafas panjang menikmati dinginnya AC yang makin dingin. Memesan go good di beberapa restoran terdekat dan memakannya sendiri, selalu begini yang kulakukan saat lelah melanda di usia kehamilan yang makin tua. Aku sudah memikirkan untuk ambil cuti diriku sendiri yang tak mau diam di rumah saja sejak berakhirnya Covid-19.

__ADS_1


Setelah mereda nyeri dan pegalku, aku memutuskan untuk pulang,dengan mobil merah maroon ku,warna kesukaan Firhan.


__ADS_2