LOCKDOWN A Love And Covid-19

LOCKDOWN A Love And Covid-19
Kau Pinang Aku Dengan Hamdalah


__ADS_3

"dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih,engkau meminangku semoga Allah berikan keberkahan atas kita."


"Jadi gimana yah? Ayah setuju?"


Tanyaku pada ayah setelah menceritakan alur kisah pertemuanku dengan Dosen Firhan. Muka ayah nampak serius menanggapiku begitu juga dengan ibu yang menatapku seolah matanya bergumam gadis kecilku akan menikah.


  "Ayah tidak keberatan dengan keputusan kamu. Ini juga bentuk ibadah. Semakin bagus kalau dipercepat pelaksanaan nya."


Jawaban ayah melegakanku.


  "Tapi lho nduk,Kamu baru saja menginjak kepala dua. Kamu teruskan dulu karirmu itu biar jadi orang sukses. Ndak! Pokoknya ibu ndak setuju kamu nikah mendadak gini!" Bantah ibu ngeri di sertai bentakannya yang menggelegar di tiap sudut rumah,aku dan ayah saling pandang,nyengir ketakutan.


  "Apalagi ibu ndak tau karakter dan sifatnya. Dia orang Medan lho. Ibu ndak mau punya menantu kasar !" Tambah ibu membuat kami terdiam.


"Lah orang ibu aja kasar" bisik ayah tak terdengar oleh ibu, kami diam sebab akan banyak cekcok jika usulan ibu di bantah.


 


"Assalamualaikum warahmatullah ..." Dari depan daun pintu yang terbuka muncul wajah om Rahman dan bulik nuri,ayah dan ibu begitu juga aku langsung berdiri menyambut mereka.


  "Ya Allah jauh jauh datang dari Boyolali. Ndak kabar kabar lagi dik ..." Ucap ibuku penuh rasa sesal.


  "Iyya,kenapa nggak kabar kabar. Ayo ayo duduk dulu silahkan." Pinta ayah,aku menyalami keduanya.


  "Tuh abi,wajah calon mantennya merengut." Komentar  istri pemilik pondok,bulik nuri. setelah aku menyalaminya.


  "Loh bulik tau dari mana ...?" Aku langsung menimpali komentar bulik nuri sebelum ayah dan ibuku. Kami bertiga heran.


  "Jadi,Firhan itu mantan santriku saat di Boyolali,aku kenal betul dengannya. Kemarin aku dapat kabar,mas. Bahwa dia mau menikah dengan ponakanku si yasmine adelia. Maa syaa Allah !! Yo kagum. Yo seneng hatiku.!" Ujar om Rahman sambil menepuk pundak ayah.


  "Nah inilah yang sedang kami bahas dik." Sahut ayahku


  "Jadi seperti apa karakternya? Dia kasar..?" Bulik nuri bertanya pada suaminya,om Rahman. mewakili rasa penasaran ibu dan juga aku.


  "Kalau orang baru mengenal dia,banyak yang tidak percaya kalau dia dari Medan. Dia santri yang shalih saat di pondok. Bahkan setelah lulus kemudian mengambil beasiswa sampai menjadi dosen,dia tidak lupa dengan pondok. Kemarin dia menelepon katanya mau main ke Boyolali setelah melamar gadis yang dia suka. Setelah om tanya siapa gadis itu. Eh ternyata kamu orangnya." Om Rahman memulai ceritanya hatiku bergetar lagi.


  "Dia orang yang penyayang,bukan orang sembarangan,dia begitu mandiri,jarang ada lelaki seperti dia. Bukan om melebih lebihkan dia loh ya. Hanya saja kalau kamu punya keyakinan yang sama dengan Firhan, menikahlah dengannya. Jarak kalian terpaut 6 tahun,itu ideal dalam usia pernikahan. Yo tentu kamu lebih tau tho ? Lah wong kamu itu pembicara pra nikah." Sambung Om Rahman. Kulihat mata ibu,wajahnya berubah menjadi kelegaan setelah mendengar penjelasan dari om Rahman.


  "Iyya,mau kami begitu dik rahman. In Syaa Allah kami sambut hangat niat baiknya. Nanti kamu juga bantu bantu ya di sini,hitung hitung untuk menjadi penerima tamu." Jawab ayahku.


  Aku terkesima dengan skenario Allah yang tak pernah kusangka sangka. Ibu adalah orang yang keras kepala dalam pendapatnya. Sampai sampai aku khawatir tak bisa mewujudkan asa yang kupendam setelah hati terluka. Luka yang ku pulihkan sebab kecewa pernah berharap kepada manusia,di kecewakan dengan janji yang selalu saja di ingkari. Namun doaku dan keyakinanku berkata jika memang aku dan Firhan berjodoh pastilah akan selalu di mudahkan oleh Nya menuju pernikahan. Ya semoga.


  "Karena dia orang jauh,tidak mungkin rasanya bolak balik Yogyakarta ke Medan. Nanti suruhlah dia menginap di rumah pohon di dalam taman wisata samping rumah." Usul ayah


  "Iyya tak apa. Nanti ku suruh Abdurrahman untuk menemani dia." Jawab om Rahman

__ADS_1


  9 januari tiba.


Pagi ini embun mulai menghilang sebab cahaya mentari yang hangat datang.


Cahayanya menembus melewati batang batang pohon pinus yang meninggi ke atas. Tadi malam gemintang menemani cakrawala bersama angin lembut yang menembus horden horden pintu balkon yang selalu kubuka lebar.


Semua orang di rumah sibuk menata makanan untuk tamu istimewa yang akan menjadi bagian dari keluarga bani hayyena,nama keluarga besarku dari pihak ayah. Ku genggam bunga mawar putih yang tergeletak di pojok kamarku. Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku pagi ini.


  "Masuk ..."kataku setengah berteriak agar si tamu mendengar suaraku.


  "Wiiih maa syaa Allah,adikku mau nikah." Ucap Abdurrahman, lelaki dengan baju koko warna biru tua dan celana panjang warna hitam berdiri di ambang pintu. Dia adalah sepupu sesusuanku,anak pertama om Rahman,aku mahrom dengannya. Aku hanya menimpali nya dengan senyuman.


  "Kamu jangan khawatir. Dia orang baik kok. Aku adik kelasnya 2 tahun." Ujarnya tanpa aku tanya.


  "Loh aku kan nggak tanya. Siapa yang tanya hekk"jawabku sambil menjulurkan lidah. Aku melangkah ke balkon dan mas Abdur mengikuti langkahku.


  "Halah nduk nduk. Hatimu kuwi lo yang tanya." Aku hanya tersenyum.


  Iyya benar hatiku bertanya tanya. Tentang siapa dia,kenapa ia begitu yakin bahkan dalam waktu  yang sangat singkat pasca aku berada dalam satu mobil dengannya. Ia tak pernah tahu keseharianku. Ia tak pernah tahu kriteriaku. Ia tak pernah tahu apa yang aku suka dan apa yang aku mau. Namun dengan gagah, tenang dan santai ia berkata dia ingin mampir kerumahku. Jika mungkin mampirnya sekedar silaturahmi,jantungku tak mungkin se berdebar ini. Ia berkunjung untuk melamarku,mengajakku menjadi belahan jiwa baginya. Dan dengan keyakinan yang tak pernah aku miliki sebelumnya aku tiba tiba terdiam, aku mau menjadi istri untuk masa depannya.


  Sebuah mobil datang memasuki pekarangan rumah kami. Aku dan mas Abdur di balkon memandangi mobil tersebut. Sebagian orang keluar di ambang pintu bawah. Tak lama seorang lelaki keluar dari dalam mobil avanza putih itu,kemudian di susul dua orang lainnya,salah satunya aku kenal. Seorang lelaki berkacamata,yang selalu membenarkan letak kacamatanya saat hendak berbicara denganku. Detak jantungku berdetak lebih cepat dari sebelumnya,melebihi cepat langkah kaki jenjangnya, melebihi kecepatan desiran angin yang menerpa ku.


Pandangan dari mata lentiknya tidak mengarah padaku yang jauh lebih nampak dengannya dan senyum lebarnya memamerkan gigi yang tersusun rapi ia tujukan untuk keluargaku yang menyambutnya di depan ambang pintu. Dia sama sekali tidak mendongak untuk melihatku di atas yang begitu terhipnotis dengan senyumnya.


Sampai sampai aku tak sadar mas Abdur meneriaki ku.


"Enggak. Aku di sini saja."


  Perasaanku tidak bisa seperti sedia kala. Tidak bisa se santai dulu sebelum aku menumpang di mobilnya. Dan bahagiaku tak pernah seindah ini,tak pernah ku rasakan bahagia melebihi bahagiaku mendapat tamu sepertinya.


  Dengan hati hati aku menuruni anak tangga,kulihat mereka masih bercakap ria menikmati hidangan dan tertawa.


Beberapa detik kemudian detak jantungku berdentum lagi,sayup indah kudengar lantunan suaranya yang jelas berbicara..


Sebelumnya ia memintaku untuk ikut serta dalam moment ini, berteman bulik nuri aku menyeret kakiku yang dingin untuk melangkah kemudian duduk di seberangnya dalam satu lingkar cengkrama di atas karpet warna ungu muda.


Seperti biasa ia tampak tenang,seolah mengubah canggung menjadi senyum renyah.


  "Assalamu'alaikum warahmatullah.


Bismillah..Innal hamdalillahi nahmaduhu wanasta'inuhu Allahumma shalli wa sallim ala sayyidina Muhammad wa ala Alihi wa ashabihi ajma'in saya datang kemari untuk menjalin silaturahmi,langkah kami telah sampai pada rumah bapak, di iringi kalimat tasbih dan takbir saya ingin meminta putri bapak sesuai ajaran islam. Bilamana bapak berkenan maka Alhamdulillah segala puji bagi Allah dan jika bapak menolak maka Allahu Akbar Allah Maha Besar,Allah berhak mengatur takdir terbaik untuk hamba Nya." Untaian katanya menyentuh hatiku,sampai sampai air mataku menetes, tak mampu ku bendung lagi,aku tertunduk dalam bahagiaku.


"Wa'alaikumsalam warahmatullah. Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kasih sayang di muka bumi ini. Wahai ananda Firhan, kami menerima lamaranmu, persiapkanlah dirimu menjadi bagian dalam keluarga kami. Atas nama Allah yang Maha Rahman kami memohon keridhoan dari Allah,kami tidak meminta sesuatu melebihi yang engkau punya. Kami serahkan sepenuhnya kepada putri kami untuk andil berbicara." Jawaban om Rahman membuat semua mata tertuju padaku. Aku sering menghadapi semua orang dan aku tak pernah canggung dengan itu,namun detik ini aku hanya tertunduk untuk lima detik lamanya sebelum angkat bicara.


"Saya ingin menjadi wanita yang mulia,saya tidak meminta banyak dari antum. Berilah apapun itu, jadikan mahar sebagai penghargaan terbaik untuk saya." Ucapku di iringi kata Alhamdulillah dari semua lisan yang hadir di sini. Ia memandangku sekilas kemudian tertunduk lagi,barulah aku tau ia gemetar mendengar jawaban dariku.

__ADS_1


"Baik in syaa Allah 11 Januari bagaimana? Semua sepakat ?" Tanya ayahku kepada pihak calon suamiku. Mereka menyetujuinya. Kulihat binar mata bahagia ada di pandangan kami yang hadir di sini,ada sontak tak percaya dan terkesan mimpi aku di lamar dengan cara yang luar biasa.


Subhanallah,Allahu Akbar!


Tepat 2 hari lagi aku akan menjadi seorang istri.


 


  Gerimis turun dengan syahdu menemani malam yang panjang. Tirai melambai mengikuti angin yang berebut masuk kedalam ruang kamarku yang hangat, tumbler warna warm white yang ku pasang merantai mengelilingi bunga putih makin indah saat meliuk terkena angin. Sebentar lagi aku akan menjadi hari yang selalu ku tulis dalam karyaku. Khayalan yang kulandasi ilmu,tentang aku yang tak pernah berkerut kening jika membayangkan aku mengenakan gaun putih dengan Henna yang terukir ditangan,dan buket bunga yang indah. Aku mengimpikan menikah muda,aku ingin menikah di usia muda. Aku siapkan diriku jauh sebelum aku mengenalnya,hingga aku harus mengumpulkan karya,merangkai kata dalam satu baris kalimat tentang cinta,aku rasa dengan cara itu aku mampu meyakinkan keluargaku. Bahwa aku siap menjadi seorang istri untuk lelakiku. Entah sudah berapa lama air mataku menetes memohon pada Nya,berapa kali aku menjadi anak kecil saat malam menuju sepertiganya. Dan tak lagi terhitung aku memohon pada Allah agar aku tidak kecewa dengan keputusan yang telah aku tetapkan dalam hati kecilku. Dan istikharah cintaku terjawab oleh Nya,Ia mudahkan langkahku untuk menikah di usia muda. Aku tersenyum memandang ke luar,gerimis mereda.


Aku ambil iPad ku yang tergeletak di atas meja kopi. Sekedar memilah dan memilih baju pengantin untuk menemani begadangku. Padahal seharusnya aku sudah terlelap dalam mimpi,aku keluar kamar menuju balkon. Mataku menatap ke arah seberang yang berkilau.


Ayahku adalah seorang dinas pariwisata,alasan ayah tinggal di dekat tempat wisata agar mudah memantaunya. Begitu saat kutanyakan padanya mengapa kita tidak pindah ke daerah perkotaan. Sudah lama aku tidak melihat lampu itu menyala,jembatan dengan lampu Tumblr itu mengarah ke rumah pohon di tengah hutan pinus,tempat Firhan sekarang menetap untuk sementara.


Iyya aku sadar itu sangat indah.


"Nduk ..." Suara lembut ibu mengagetkanku. "Iyya buk .." aku reflek berdiri dari tempat duduk yang aku hadapkan ke arah rumah pohon. Nyengir dan salah tingkah berpadu.


"Kamu masih penasaran sama dia ya.."


Ibu mengikutiku duduk di balkon.


"Aah enggak, aku cuma liat liat aja."aku mengelak namun kegugupanku menandakan aku berbohong, berbohong bukan bakatku. Ibu berdehem kencang.


  "Beli gaun saja usul ibu atau kamu ingin menyewanya ..?"ucap ibu tiba tiba. ia sama sekali tidak menatapku yang sedang memiringkan diri menghadapnya. Aku mengikuti cara bicaranya.


"Menyewa mungkin.." tangan ibu yang dingin meraih punggung tangan kananku.


  "Nak.. menikah kan cuma sekali semur hidup. Beli saja,nanti kamu bisa mewariskannya ke anak cucu atau bahkan mantu perempuan kamu."ucap ibu


  "Apa tidak sayang bu,aku menyayangkan jika hanya karena acara sehari itu menghabiskan puluhan juta." Keluhku


  "Iyya ibu tau itu. Tapi untuk sekarang biarkan ayah kamu mewujudkan impiannya. Kamu satu satunya anak perempuan yang akan kami nikahkan. Biar ayah yang mengatur pernikahan kamu. Sebab kami sudah mengatur keuangan untuk hari bersejarah dalam hidup kamu."


Ibu membelai kepalaku dengan lembut, hampir hampir aku ingin menangis merasa terharu.


"Ibu juga sudah lama menyiapkan gaun itu,sejak buku pertama kamu di terbitkan. Mudah mudahan kamu suka."


Aku memeluk ibu tak ada satupun kata yang keluar mewakili rasa terimakasih ku pada wanita yang sudah setengah abad umurnya


Hari bersejarah ini ...


Hari dimana ia meminangku dengan hamdalah, mungkin ia sama denganku, aku membaca karya Mohammad Fauzil Adhim seorang jurnalis yang menangani masalah parenting dan pendidikan anak. Semua yang aku lalui hari ini mengikuti buku tersebut.


Ia meminangku dengan hamdalah

__ADS_1


Aku tak akan melupakannya.


dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih,engkau meminangku semoga Allah berikan keberkahan atas kita


__ADS_2