LOCKDOWN A Love And Covid-19

LOCKDOWN A Love And Covid-19
berita buruk di bulan Maret


__ADS_3

"sayang, kamu ingat ceritaku tentang virus corona yang pertama kali muncul di Wuhan akhir 2019 itu..?" tanya suamiku dari seberang telepon.


Dunia tak selamanya menempatkan kita di posisi atas, kadang kita harus berada di bawah agar merasakan getir pahit dan sempitnya dunia. Salah satu hal yang membuat kita dalam posisi atas adalah ketika kita bahagia,kita bisa tertawa, dan tersenyum lepas tanpa kendala, semua yang kita harapkan menjadi kenyataan. Dan satu hal yang membuat kita akan merasa di bawah. Yaitu ketika dunia tak berpihak pada kita, rencana yang kita susun rapi tak terjadi sebagaimana semestinya. Serta kabar buruk salah satunya. Hal itu mampu membuat kita merasa sengsara dan tidak bisa berfikir dengan jernih. Saat itulah kita sadar bahwa hidup ini perlu perjuangan, tak semulus jalan tol yang di bangun untuk mempercepat laju kendaraan. Kadang ada tangis dan kadang juga ada tawa.


Hari demi hari berlalu begitu cepat, baru ku dapati mentari hangat menyapaku dari ufuk timur tiba tiba satu hari terlampaui dengan lambaian senja yang berpamitan ingin menggantikan malam.


Sungguh bukannya aku tidak rindu


Hanya saja semesta akan lelah mendengar keluhan rindu ini padamu


Bulat keinginanku untuk berjumpa denganmu


Namun takdir berkata padaku dengan tenang


Sabarlah, jangan kau hitung hari agar semua terasa singkat.


Aku melakukan aktivitas yang tidak padat, terhitung sejak bulan Februari, jemariku terbentang dan kututup satu persatu saat mulutku ikut berbicara hitungan angka.


Sudah 18 hari aku di sini. Tidak menyangka, secepat ini aku menetap. Rasanya baru kemarin menangis dan tersedu ingin pulang, namun setelah ku jalani semua terasa singkat.


Tidak ada Firhan dalam hidupku selama 18 hari berlalu, tidak ada acara membuat sarapan untuknya, memakaikan dasi saat ia berangkat menuju kantor, tidak ada kecupan ringan di dahiku, tidak pernah lagi ku kecup punggung tangannya dengan khidmat, setelah ia pergi berkerja aku bersih bersih rumah, berendam dengan bunga mawar di bathtub selama 15 menit, setelah semua beres aku habiskan waktu di depan laptopku yang tergeletak aktif di balik jendela kaca lebar seolah di depanku ada lukisan hidup pemandangan kota Medan. kemudian saat sore selepas salat ashar dia pulang dengan membawa pancake durian favoritku.


Selama 18 hariku di sini, tidak ada lagi wajah yang bebas ku sentuh saat aku mau.


Aku rindu.


Telepon berdering, panggilan video whatsaap terhubung dengan wajah yang selalu tersenyum menghiburku dari teleponnya.


"hai zheyeenk.." sapaku sumringah terinspirasi kata kata dari Lucinta Luna dalam salah satu captionnya di instagram, mendengar suaraku begitu Firhan tertawa lepas, lesung pipi nya nampak dalam jika ia tertawa lebar begini. Membuatnya tampak manis.


"oooh hai hai.." tangannya melambai


"lagi apa..?" tanyaku


"lagi santai yank." jawabnya, kulihat wajahnya nampak berpikir, ia sedang mengingat apa yang akan di ucapkannya.

__ADS_1


"sayang, kamu ingat ceritaku tentang virus corona yang pertama kali muncul di Wuhan akhir 2019 itu..?" tanya suamiku dari seberang teleponnya.


"ingat, kenapa kah..?"


"sejujurnya aku agak khawatir kamu pergi ke Jawa. Pagi tadi presiden Jokowi mengumumkan secara resmi, katanya ada dua orang Indonesia yang sudah terpapar Corona. Aku yakin itu akan menjadi wabah."


Deg, hatiku seolah berhenti berdetak saat Firhan mengatakan Corona masuk ke tanah air Indonesia. Aku tidak membayangkan jika hal hal yang kusaksikan di Negeri Bambu akan terjadi di Indonesia.


"Sudah dua orang yang positif corona, di Depok tepatnya." lanjut suamiku.


"innalilahi wa inna ilaihi rajiun. Qadarallah wa maa syaa'a fa'ala." tukasku mendengar kabar buruk hari ini.


"tanggal berapa sekarang mas..?"


"sekarang tanggal 2 maret 2020."


"aku akan booking tiket pulang ya. Kamu bisa jemput aku..?"


"sayang.. Aku tidak di rumah sekarang. Aku sedang di Aceh. Ada kawanku yang menikah aku lupa mengabari kamu semalam. Aku minta maaf ya."


"oow. Kenapa mendadak sekali..?" tanyaku kecewa


"okkay.. Janji ya. Aku mau jemput kamu di bandara sendiri, kamu gak boleh larang aku." ujarku sewot


"iyya boleh, aku ambil penerbangan jam pagi tanggal 5 dan pesawat akan transit selama 5 jam di Jakarta. Jadi sampai di Yogyakarta kemungkinan jam 4 sore." jelasnya


"okkay, sayang yuk mampir ke Malioboro. Malam rame kuliner di sana..."


"siap nyonya, ya udah dulu ya, tu tengok mempelai udah siap siap mau kontes sakral."


Firhan memperlihatkan sepasang calon pengantin padaku, aku menggangguk mempersilahkan ia menutup telepon yang masih bersambung denganku.


Hatiku masih tidak tenang. Corona menyebar sangat cepat di Wuhan dan pastinya akan berlaku juga di Indonesia.


Allah aku tidak ingin begini

__ADS_1


Aku harap tidak terjadi penularan besar di negeri ini


Hampir hampir air mataku menetes.


Membayangkan saja tidak sanggup. Virus yang menyebar jika banyak orang berkerumun. Oleh karena itu sebagian besar wilayah Wuhan mulai mengunci kota mereka agar tidak banyak orang berkumpul dan berkerumun. Sebab kita tidak tau siapa di sekililing kita yang membawa virus tersebut. Bisa jadi jika dia mempunyai imun yang kuat, ia hanya membawa virus itu, kemudian jika lawannya memiliki imun yang lemah, dialah yang akan menjadi korbannya, virus corona ini menular lebih cepat jika seseorang batuk atau bersin kemudian kita ikut terkena hembusan udaranya, atau bahkan air liurnya. Virus ini mampu bertahan beberapa jam di benda benda tertentu. Oleh sebab itu, agar tidak menempel pada anggota badan, tim medis yang menangani kasus ini harus menggunakan Alat Pelindung Diri atau APD agar tidak tertular.


Ingatanku menjernih mengingat kakakku, Nur Hanifah. Dia seorang perawat di salah satu rumah sakit swasta tempat nenek tinggal.


Pikiranku melayang padanya, belum lagi aku harus memberi tahu ayah agar mengantisipasi penularan virus corona. Paling tidak ayah harus lebih sering memakai masker saat bekerja, dan rajin rajin mencuci tangan dengan sabun.


Aku bangkit dari sofa di kamar, membuka pintu lebar lebar, dengan gerakan kaki yang melangkah panjang aku langsung bertemu dengan ibu yang sedang sibuk merawat kaktus mungilnya di taman.


Ibu melihatku keheranan.


"aku mohon jangan keluar rumah." pintaku tiba tiba,ibuku dan juga mbok Lastri istri pak Parman juga ikut menoleh ke arahku.


"loh kenapaa..?" tanya ibu dan mbok Lastri hampir bersamaan. Aku duduk di samping ibu menjelaskan kabar buruk yang datang daru Depok. Sebab penularan virus ini sangat cepat.


"oooh coro coro itu mbak, yang ada di tv dari Cina..?" mbok Lastri mencoba menebak, dengan serius ia memperhatikanku dan menghentikan aktivitas menyapunya.


"iyya betul."


"coba ibuk telpon ayah, mungkin ayah sudah tahu kabar ini..?" mendengar arahan dariku ibu beranjak mengambil ponselnya di ruang tengah. Aku dan mbok Lastri menunggu keputusan dari ayah.


"kata ayahmu, iyya kita dirumah saja dulu. Nanti kalau memang dalam satu bulan ke depan penyebaran virus ini melesat sampai kota ini, kita pulang kampung ke Batang ya."


Ucap ibu setelah mengobrol dengan ayah.


"ayah juga sudah bilang ke mbakmu supaya pulang dulu akhir pekan ini." sambung ibu


"mudah mudahan mas Firhan cepat ke sini ya mbak yasmin.." ujar mbok Lastri iba sambil mengelus pundakku. Aku tersenyum dan mengangguk.


"3 hari lagi aku ke bandara, mas Firhan meminta aku untuk datang menjemputnya."


"alhamdulillah, senang ibu dengernya, kamu gak akan murung murung lagi."

__ADS_1


Aku harap demikian, aku tidak ingin lagi menangis dan menghabiskan air mata. Semua orang pasti pernah merasakan long distance relationship, LDR. Dan mereka di tinggalkan oleh suami mereka karena tertuntut pekerjaan. Sedangkan aku? Aku harusnya lebih bersyukur, masih banyak orang yang berpisah dengan suaminya bertahun tahun. Aku hanya hitungan hari.


Mudah mudahan sabarku tanpa batas.


__ADS_2