LOCKDOWN A Love And Covid-19

LOCKDOWN A Love And Covid-19
Sekedar harap


__ADS_3

Aku termenung di deretan kursi, tangan berat seseorang di letakkan di atas kepalaku menenangkan tangisku yang makin menderas, aku memeluknya.


"kenapa..?" tanya ayah mengelus pucak kepalaku, aku tidak memperhatikan berapa banyak pasang mata yang melihatku menangis detik ini. Tidak peduli lagi berapa banyak orang yang mendengarkan tangisanku yang meraung tertutup badan ayah. Yang aku rasakan hanya sakit dan sesak di dada. Aku kehilangan arah dan tujuan. Aku ingin berlari namun entah kemana. Aku merasa menjadi orang yang paling pilu di dunia ini. Aku mencoba mengatur nafas, meredakan tangis, kesedihan serta amarah pada diriku.


"Mas Firhan gak sampai di sini, nomornya nggak terhubung yah.." aku tumpahkan lagi banyak air mata hingga membasahi kemeja ayah yang berwarna putih.


"iyya, kita tunggu ya. Nanti dia pasti pesan tiket mendadak. Ponsel dia mati karena batrenya habis. Kamu tahu kan suami kamu sering lupa membawa charger..?" aku mendongak menatap mata ayah, aku masih tidak tenang, namun mata ayah benar benar meyakinkanku bahawa Firhan akan datang di kloter berikutnya.


"ayo beli makanan." ayah menggandeng lenganku, langkahku terseret memasuki cafe kecil milik Roti'O. Aroma kopi khas yang di suguhkan menyeruak memasuki hidungku.


Namun sungguh detik ini aku tidak tertarik dengan makanan kesukaanku satu ini.


Aku hanya ingin mendapat kabar darinya. Aku terlalu egois untuk sebuah kabar dari Firhan.

__ADS_1


Aku duduk dan ayah memesan roti untukku, kali ini aku memergoki wajah ayah yang iba. Ayah pandai sekali menyembunyikan masalah dan ketakutan. Aku hampir hampir tidak bisa membedakan mana yang jujur dari ekspresinya. Nampan berisi dua Roti'O klassik dan choco shake telah mematung di hadapanku dan ayah. Ayah menungguku menyuap namun aku juga menunggu ayah menyuap rotinya terlebih dahulu.


"dari Jakarta, telah mendarat." kata kata Jakarta begitu jelas di telingaku. Aku langsung berdiri meninggalkan jamuan yang telah kami beli. Aku melangkah panjang ke depan tempat penjemputan tamu. Masih proses pengambilan barang barang di bagasi, satu persatu penumpang keluar dari pintu utama penjemputan, aku menempati posisi terdepan di belakang batas garis penjemputan. Namun lagi lagi hanya wajah asing yang tertangkap oleh mataku. Aku tidak mungkin lupa dengan wajahnya,aku ingat tinggi badannya, aku ingat tubuhnya meskipun membelakangiku atau bahkan dari sisi yang jauh, aku hafal betul tentangnya. Sesekali aku menjinjitkan kaki, mencoba mencari cari apakah ia masih di dalam area pengambilan bagasi atau mungkin kah bagasinya terlambat sehingga dia harus menunggu terlebih dahulu.


Tak ada jawaban akurat yang mengelilingi kepalaku,semua hanya prasangka.


Sama seperti ayah, yang hanya menebak dari kebiasan Firhan yang lupa membawa charger.


Aku duduk lemas, akhirnya ayah keluar dari cafe Roti'O dengan membawa pesanannya untukku yang sudah dingin kurasa. Ayah ikut duduk di sampingku, sesekali ayah juga memastikan ponsel Firhan, namun setiap kali aku berharap jawabannya hanya sebuah gelengan kepala dari ayah tanda tak ada jawaban.


Sekedar harapan jika memang pada akhirnya aku dan Firhan tidak di pertemukan. Jadwal penerbangan dari Jakarta banyak, 6 maskapai akan datang beberapa jam lagi. Aku harap salah satu dari maskapai itu membawa Firhan padaku. Pengumuman bahwa pesawat baru saja landing dan dari Jakarta, aku beranjak lagi dari kursi dudukku. Mendongak lagi, menangkap wajah wajah lagi dan menyamakan dengan suamiku, namun tak ada. Ayah menyusulku berdiri setelah selesai dengan panggilan telponnya, ayah ikut memperhatikan beberapa penumpang yang berjalan di hadapan kami, tanpa ada satupun wajah Firhan Avecenna.


Detik berubah menjadi menit,dan menit berubah menjadi jam. Satu jam berlalu. Beberapa menit lagi akan menjadi titik penentuan bagiku dan ayah, mataku telah bengkak, menyipit karena terlalu banyak mengeluarkan air mata.

__ADS_1


Pengumuman terakhir pesawat mendarat di jam malam pukul 20:45.


Aku dan ayah juga mengamati satu demi satu penumpang yang tak ada satu pun menyerupai suamiku.


Hatiku sakit, pikiranku kacau, batinku menjerit dengan air mata. Aku tidak percaya jika harus pulang dengan tangan kosong. Apa yang terjadi pada Firhan. Siapa lagi yang bisa ku hubungi agar aku tahu keadaannya. Atau haruskan aku menyusulnya ke Jakarta. Namun akan lebih membingungkan lagi jika aku di sana. Dengan siapa? Sendiri? Tidak mungkin hal itu terjadi. Dan jika aku mengajak ayah. Bagaimana dengan pekerjaannya? Mencari orang di Jakarta adalah pekerjaan yang berat. Kota seluas itu yang merupakan pusat ibu kota Indonesia. Pikiranku terlalu buntu untuk berpikir lagi. Hanya sebuah denyut an yang terus terjadi seperti memukuli sisi kepalaku dengan batang kayu yang tumpul.


Padahal aku ingin bercerita, aku ingin mengucapkan banyak terimakasih karena telah menjadi penyemangat bagiku, aku ingin meminta maaf padanya karena meninggalkan ia sendiri di Medan selama setengah bulan lebih. Dan aku belikan ia buket lily hijau putih warna favorit nya agar ia mengerti ketulusan rasaku padanya yang tak pernah goyah dan berubah. Namun semuanya hanya sekedar harap, sekedar harap yang hanya terucap tak bisa aku praktikkan dalam dunia nyata ku. Semua harapan itu mulai berhamburan.


Di tengah warna warni gemerlapnya lampu kota, di saat semua orang mulai menjaga jarak aman agar terhindar dari corona. Harusnya detik ini kamuada di sisiku, namun kamu menghilang, entah kepada siapa aku harus bertanya. Apa yang terjadi jika Firhan benar benar terjebak di Jakarta? Aku berpikir dalam, begitu juga dengan ayah yang terdiam seribu bahasa di jok kemudi sambil memegangi kepalanya. Aku yakin ayahpun kebingungan dengan hal ini.


Aku menghela nafas berat, memandang dengan tatapan kosong ke arah luar jendela mobil ayah. Sambil terus berharap Firhan akan membalas semua pesan yang telah aku kirimkan. Di tengah jantung kota Yogyakarta, harapanku lenyap dan terbang bersama angin malam. Terlalu banyak harapan yang kubuat tentang Firhan. Ada ribuan harapan yang telah ku susun saat kita berpisah. Namun satu harapan utama menghilang membuat semua harapan yang berkaitan dengannya juga pudar.


Biarlah, aku ingin berdiam diri tak ingin hatiku berbicara lagi pada siapapun. Aku memilih untuk diam. Aku memilih untuk menunggu.

__ADS_1


Jika memang harapan ini sia sia maka aku akan membiarkannya juga.


Semua yang aku idam idamkan hanya sekedar harapan.


__ADS_2