LOCKDOWN A Love And Covid-19

LOCKDOWN A Love And Covid-19
Kedatangan Tiara


__ADS_3

Hari terus bergulir, waktu menyeret dengan pelan namun hari demi hari mulai berganti.


Jam, menit, detik mampu menggulingkan matahari dan bulan pun mengambil alih posisinya di langit yang luas.


Siang malam berlalu, dengan stok makanan di kulkas, serta nenek dan ibu yang rela turun gunung menemaniku di perumahan besar kakakku yang membelakangi pantai sigandu.


Aku menghela nafas dengan berat berulang ulang. Sesak dadaku saat lagi lagi aku harus kehilangan sebuah jejak tentang suamiku. Setelah semua nomor ku interogasi setiap hari, namun hasilnya tak sesuai dengan keinginanku. Mereka selalu menjawab dengan kalimat "tidak tahu, saya belum ketemu lagi." dan sejenisnya. Padahal aku berharap ia akan menghubungiku lagi dengan nomor baru. Pikiranku nyaris kosong lagi. Ingin melakukan suatu hal namun tak pernah yakin akan melakukan apa untuk tetap berusaha. Dua pekan aku menetap di rumah kakakku, dan setiap dua hari sekali ibu membesukku. Kulihat jam dinding besar yang tertempel di tembok menunjukkan pukul 08:30. Aku menunduk lagi melihat ponselku yang masih terdiam, ku bedakan notifikasi pesan dan notifikasi berita. Agar tak lagi berbunga bunga saat sebuah nada meraung dari ponselku, kemudian saat ku buka ternyata bukan siapa siapa. Hanya notifikasi baterai lemah minta untuk di isi sama seperti perutku.


Dengan malas ku seret kaki menuju dapur, membuka stok makanan dan sayuran di kulkas kemudian menyajikannya dalam bentuk lauk pauk. Nomor nomor penting tertempel di depan kulkas kakakku, lebih tepatnya nomor nomor makanan. Banyak kulihat, ada Rocket Chiken, Quick Chiken, Sop Iga, Nasi Sedepan, Catering Bu Nurul, Es Buah Bahagia, Meeby Kitchen. Aku hanya mengernyitkan alis sebelah setelah membaca semuanya, tak ada satupun yang menggugah laparku untuk memencet nomor nomor yang terpampang agar mengirim makanan ke rumah ini. Kuselesaikan sarapan pagiku yang sangat telat.


Selagi menunggu suara dering telepon, langkahku berjalan ke sana kemari tak menentu. Ku ambil sapu dan memulai untuk menggiring debu debu halus yang menempel di lantai,mencuci dua piring yang baru saja ku pakai, dan piring bekas makan malamku.


Setelah ku lihat semua titik rapi, aku justru lebih bingung. Apa yang sebaiknya ku lakukan. Harapanku selama dua pekan di sini adalah mendengar suaranya, menyuruhnya agar segera ke bandara dan aku akan menjemputnya di bandara untuk ku bawa kemari. Namun tidak ada satu pun tanda tanda Firhan mencoba memanggilku lagi. Setelah berpikir puluhan kali, aku memutuskan untuk memberi kabar pada mama. Ku siapkan hatiku dari segala kemungkinan buruk yang akan terjadi jika aku mengabarinya dan mengatakan bahwa Firhan belum juga tiba di jawa bersamaku. Aku mengurungkan niat,menggeleng tak mampu membayangkan jika hal itu terjadi.


Kini sendiri di sini


Mencarimu tak tahu di mana


Lagu Ifan seventeen menjadi momen terbaik saat sendiri, atau mungkin lagu virzha yang berjudul tentang rindu..?


Aku beranjak dari sofa berdiri di samping kaca besar untuk kulihat lebih jelas panorama pantai yang nampak membiru dari lantai dua.


Gemuruh terjangan ombak pada pasir nyaris tak terdengar terhalang jarak yang membentang. Sepertinya aku harus kembali kerumah,tak ada pilihan lain yang bisa kulakukan saat ini selain menunggu.


Setiap salat ku panjatkan doa, meminta agar ia tetap ada dan selalu baik baik saja. Dengan kabar yang ia kirimkan padaku lewat nomor nomor baru yang terlewat kubuka. Aku tersenyum dengan terpaksa, dari pada menangis dan melipat wajah muram ada baiknya menangis sambil tersenyum.

__ADS_1


Dengung dengung suara muncul dari lantai bawah. Keramaian mulai terdengar saat suara dua bocah kecil pemilik rumah berteriak keras sambil tertawa menggema. Langkah mereka makin dekat dan ada satu suara yang baru. Bukan hanya ada ibu dan juga kakakku,namun ayah juga datang, dan juga gadis berkulit sawo matang, senyum sumringah menampakkan baris gigi rapinya, ia nampak sempurna dengan jilbab hijau yang menutupi rambut ikalnya. Langkahnya berlari lari kecil menghampiri ku, aku beranjak dari sofa, dengan rasa kagum, rindu, syok dan juga bertanya tanya.


"Tiaraaaa..." aku memeluk tubuhnya yang mulai berisi.


"Ya Allah kakak. Sekarang justru kakak yang kurus." komentarnya padaku. Rasa penasaranku makin melonjak saat kulihat wajah wajah keluargaku tak se ceria saat mereka membesukku hari hari lalu,apalagi ayah. Seharusnya ia sudah menyapaku atau bertanya tentang kondisi calon cucunya yang sedang ku kandung. Namun semua orang terdiam, memlih berdiri di ujung anak tangga sambil berbicara entah apa. Aku lebih fokus pada mulut Tiara yang masih bercerita perjalanan perdananya menggunakan pesawat ke Yogya.


"apa yang membawa kamu ke sini Tiara..?" aku bertanya tak Sabaran, mendadak ekspresi yang sangat tak terduga muncul. Tiara sangat memaksakan senyumnya. Ia lebih dewasa sekarang, dari auranya nampak kini ia lebih berdamai dengan kenangan pilunya. Namun ia seperti membawa sesuatu yang aku tak bisa menebaknya. Mencoba merangkai agar tersambung menjadi alur cerita pun tak pernah berhasil. Kita sama sama bertukar pandang iba. Dia bingung daei mana akan berucap dan aku bingung apa berita yang ia bawa.


Tiara menarik panjang nafasnya seolah didalam paru parunya tak banyak stok udara.


"kak, ada banyak hal yang ku lalui di Jakarta." ucapnya sebagai pendahuluan, namun aku yakin bukan itu intinya. Aku bisa merasakan ada hal lain yang membawanya padaku. Satu hal yang membuatku tak ingin ber tele-tele.


"tentang Firhan..?" selaku dengan berat menyebut nama itu sebelum ia melanjutkan pembukaannya. Kulihat matanya tertunduk menatap lantai granit di bawah lututnya yang tertutup rapat. Ia berpikir keras seperti tersangka yang ketahuan bersalah, hanya perlu menjelaskan alur ceritanya namun sangat sulit.


"kenapa..?" paksaku padanya,ku tahu nadaku terkesan tak santai lagi. Sikapku mencerminkan seolah olah aku adalah detektif yang sedang menginterogasi tersangka. Tiara makin tertutup mendengar ucapanku, aku mendesah.


"suami kakak bertemu denganku, dia tinggal di rumah paman, aku yang meminta paman untuk menjemput suami kakak yang selalu tidur di masjid bandara."


Aku mencerna kalimat demi kalimat yang mengalun cepat dan di tangkap oleh telingaku, aku panik, aku takut dan aku belum memahami semuanya.


"bisa jelaskan padaku Tiara..? Aku.. Aku tidak paham." nadaku parau tercekat, mataku berkaca kaca,semua orang di ujung anak tangga mulai medekatiku.


Tiara mendesah, ia memutar pandangan mencari kata yang tepat sepertinya. Tiara berucap dengan hati hati saat ia memulai untuk bercerita. Sebuah cerita yang tak bisa langsung di terima oleh otakku.


"waktu itu aku bertemu dengan salah satu temanku yang sedang melakukan perjalanan dari Makassar ke Lampung, kebetulan pesawat yang di tumpangi olehnya transit di bandara Jakarta. Aku berpapasan dengan kak Firhan, suami kakak. Awalnya aku ragu,betul aku sangat ragu. Sebab aku tahu bahwa kakak akan menjemput suami kakak di bandara sewaktu pesan buket di tempatku. Aku yakinkan sekali lagi dan ternyata benar dia. Aku pernah melihatnya sekali saat pesta pernikahan kakak dan beberapa foto yang kakak post di instagram aku samakan dengan wajahnya. Dan memang dia Firhan suami kakak. Kak Firhan menolak tinggal di tempatku, aku yakin dia takut jika hanya ada aku di rumah. Akhirnya aku menyuruh paman untuk membujuknya. Baru dua hari dia tinggal di rumah, dia jatuh sakit kak. Aku dan paman benar benar tidak tahu apa sebabnya. Demamnya tinggi, dia juga mengaku bahwa nafasnya sesak. Paman membawa kak Firhan ke rumah sakit, dan kami sudah tidak di izinkan untuk membesuknya. Untuk kehati hatian, pihak rumah sakit melakukan rapid test, sebab gejala gejala Covid-19 mulai muncul dari kak Firhan dan hasilnya suami kakak positif Covid-19. Aku dan paman di isolasi selama dua pekan terakhir, itu sebabnya aku baru bisa kemari.. Maaf kak.. "

__ADS_1


Aku menggeleng pelan, kakakku yang duduk di sebelahku nampak sangat jauh sekali, sejauh mataku memandang lautan lepas yang tak berujung, tulangku lemas, nafasku mendadak sesak dan aku linglung seketika.


Ada kehancuran mendalam yang ku rasakan saat ini. Ada sebuah kepedihan yang sangat luas memenuhi dadaku, pedih ini melebihi cairan alkohol yang di teteskan pada luka menganga. Air mataku bersimpuh, berulang kali kurasakan kakak mengguncang tubuhku, suara suara makin ramai, pandanganku kabur dan terasa tubuhku melemas ke pangkuan kakakku. Sayup sayup namun sangat ramai ku dengar suara suara panik. Ayah membopongku dengan kedua tangannya, kakakku mengusulkan agar membawaku ke kliniknya. Aku mencoba membuka mata, terasa silau matahari yang sudah meninggi mengenai mataku dan aku terpejam, tak lagi mendengar apapun.


"kita tunggu beberapa jam lagi, dia pingsan karena syok." suara kakakku terdengar memantul, aku mendengar desas desis orang di sekeliling tempatku berbaring. Bunyi humidifier dan aromanya yang menyeruak memenuhi paru paruku, aku sadar mungkin sekarang aku berada di rumah sakit.


Aku membuka mata dengan berat, kulihat kakakku sudah membawa alat yang tak asing lagi, alat pendeteksi detak jantung janin. Kami semua menyimak, ingin melihat kondisinya.


Detak dan iramanya seolah menjadi semangat saat keterpurukanku berada dalam batas maksimal. Janinku normal, aku hembus nafas panjang dengan perasaan lega namun berdusta. Aku memandang satu persatu wajah di sekelilingku, ada ayah, ibu, nenek dan kakakku.


"mana Tiara..." aku panik, khawatir ia akan pergi meninggalkanku di sini.


"Tiara ada di luar." jawab ibuku..


Aku meminta Tiara untuk datang di sisiku. Ia melangkah panjang mendekatkan badannya pada ranjang yang sedang ku baringi.


"terimakasih Tiara sudah bertemu dan menolong suamiku." dengan berat ku sebut kata suami, hatiku terasa lebih sakit. Ada cabikan dan luka parah di dalam rongga dadaku. Ada sesal yang bercampur dengan kesabaran. Tiara memberikan sebuah amplop warna putih yang ia ambil dari tasnya.


Aku meraih kertas itu kulihat nama Firhan Avecenna di tulis dengan huruf tegak bersambung yang indah..


"berulang kali kak Firhan meminjam HP ku tapi, tak ada riwayat apa apa. Dia selalu memandangi HP ku saja. Aku yakin dia ingin menghubungi kakak."


Aku seka air mataku.


Kedatangan Tiara membuat hatiku hancur,aku linglung di buatnya.

__ADS_1


Kedatangan Tiara secara tiba tiba ternyata membawa kabar buruk bukan kabar bahgia.


__ADS_2