
Sebelas Januari bertemu
Menjalani kisah cinta ini
Naluri berkata engkaulah
Milikku ..
-song by Gigi
Dalam hidupku..
inilah saat yang sangat aku nantikan.
Menjadi milik seseorang.
Untuk di jadikan kebanggaan dalam hidupnya
Detik ini aku paham..
Bahwa cinta itu kadang hanya di perjuangkan dengan keyakinan dan ketertarikan
Jika kedua belah pihak yakin dan saling tertarik pasti mereka akan membangun cinta dengan cara Nya yang tidak di sangka sangka
Dingin subuh mencengkeram kulitku, meskipun jaket tebal made in korea selatan ini kukenakan, masih saja hawa dingin ini menembus ke tulangku. Tak ada kesunyian di rumahku selama satu malam ini. Satu malam terakhir sebelum aku menikah.
Semua orang menyiapkan acaraku dan segala kebutuhan yang tidak pernah ada dalam awanganku sebelumnya. Dulu aku mengimpikan pernikahan yang sederhana,hanya dengan gaun putih yang aku sewa dan tidak ada pelaminan di pernikahanku. Cukup makan makan,kemudian mengundang faqir miskin di daerahku. Sebab dalam buku referensi ku, walimah itu bukan mewah dalam pelaminan melainkan mewah dalam makanan yang di sedekahkan kepada kaum faqir. Namun bagaimana pun aku akan menghormati permintaan ayah,sudah aku usulkan untuk menambah porsi makanan yang akan di pesan untuk para tamu.
Mataku menghujam pada sebuah gaun warna biru muda,warna favorit sejak aku masih kecil. Warna yang tidak mencolok,anggun dengan lapisan kain brokat yang pastinya yah aku mengangkat bahu,sangat mahal gumamku lirih.
Cuaca sangat bersahabat dengan hari besar, hari bersejarah dalam hidupku. Well aku tau bahwa ini akan menjadi perbincangan,aku yakin orang orang akan saling berkomentar di belakang punggungku jika mengetahui umurku baru genap 20 tahun dan aku memutuskan menikah di usiaku yang baru saja menginjak kepala dua. Dimana gadis gadis di usiaku sedang pusing dengan tugas tugas campus mereka yang menggunung,atau pusing membuat soal untuk para murid bagi mereka yang bekerja di sekolahan. Hari ini akan ada 1800 tamu undangan,aku harap aku tidak melakukan kesalahan di depan tamu ayah,harapan kecilku untuk hari bersejarah ini.
Kuseret kaki menuju ke balkon,tempat paling nyaman dalam hidupku,di sinilah aku menuangkan kata demi kata untuk sebuah karya yang membawaku pada dunia yang baru,lewat karya itu banyak lembaga mengundangku untuk menyampaikan ilmu,dan perantara karya itu bisa dibilang, aku bertemu dengan calon suami ku. Langkahku berhenti,dari atas sini kulihat dekorasi yang sangat sempurna. Aku tidak menyangka bahwa pesta pernikahan ini bertema outdoor. Bahkan dalam 99% khayalan yang ku ciptakan dalam dekorasi ini adalah sebuah pesta adat jawa beserta baju kebaya dan keris yang di selipkan di sarung batik suamiku. Oh membayangkannya saja membuatku terkikik sendiri. Bunga lily putih,bunga gardenia,dan bunga mawar terangkai sempurna,bunga melati tak luput dari dekorasi,namun aroma lemon grass entah dari mana begitu menyatu dengan aroma bunga. Mungkin parfume tambahan pikirku sejenak. Mataku berpendar menuju jembatan yang berkilau,sontak jantungku tak santai lagi, aku rasa aku benat benar gugup untuk hal ini.
Aku memastikan bahwa aku harus baik baik saja dan tidak tersandung saat akan menyalami suamiku nanti.
"Mbak yasmiiiin ..." Suara melengking itu datang dari belakang punggungku,aku mengenalinya. Azalea adik mas Abdurrahman putri kedua bulik Nuri dan om Rahman yang sudah makin dewasa. Aku tersenyum lebar memandangnya dengan gamis panjang warna pink mengkilat,sama seperti kain yang di gunakan untuk menutupi kursi kursi tamu di halaman. Namun aku tak sanggup mengatakan,jika mulutku berkata demikian mungkin dia akan mendiamkanku selama yang dia mau.
Setelah ia memelukku dengan badan besarnya ia duduk, mulutnya mengerucut manja.
"Nggak usah tanya kenapa deh."
__ADS_1
Ujarnya padaku aku terkekeh pelan.
"Ya udah,maunya apa..?"
"Aku nggak nyangka kamu nikaah,kamu ninggalin aku dong,terus aku sama siapa?" Sekonyong-konyong pertanyaan beruntut di tujukan padaku.
"Samaaa ... Mau nggak tuh di rumah pohon ada orang impian kamu." Godaku padanya
"Siapa memangnya tho..?"
"Keponakan calon suamiku.." Azalea menahan mulutnya namun tak kuasa,ia tertawa hingga kulihat badan besar nya terguncang karena tawanya.
"Haaaa haaaaa hahaha yang pake kacamata itu yak..?" Ia berusaha menghentikan tawanya aku yakin itu, semua orang di halaman mendongak ke atas termasuk kulihat salah satunya ada Firhan. Aku harap orang orang tidak mengira bahwa itu adalah ledakan tawaku,oh jangan aku mohon.
"Iyya..ihhh diam kamu nduk orang orang liatin kita lho.."pintaku yang langsung di iyakan oleh sosok berkulit sawo matang di hadapanku.
Aku mendesah,lega rasanya bisa menyaksikan orang tertawa hingga membuat kecanggungan,debaran,panik, bahagia, sumringah,dan takutku menghilang sejenak.
"Itu tuh tema alam,bunga bunganya dipasang bin di rangkai sesuai permintaan calon suami kamu." Ucap azalea.
"Oh iya kah..? Yang mana..?"
"Tempat untuk akad nikahnya."
"Terus apa coba......." Sambung Azalea kata katanya menggantung kemudian ia nyengir
"Tempat cincin nya tu bagus banget,kalau aku liat liat calon suami kamu tuh mbak,dia anak alam,makanya di desain kayak alam pernikahan kamu." Tebak Azalea sambil tertawa.
Iyya benar apa yang Azalea ucapkan,sosok yang saat ini berdiri bagai pak mandor yang menyuruh anak buahnya menata tiap sudut acara ini benar benar anak alam. Nampak dari pesta outdoor yang ia siapkan,konsep yang dia miliki di satukan dengan impian ayah. Hanya tempat mengambil makan yang tertutup,mungkin khawatir jika tiba2 makanan tekena air hujan sebab cuaca kadang bisa berubah sewaktu waktu.
Perlahan mentari meninggi,hangatnya belum sepenuhnya menghilangkan kabut yang mengudara,namun jelas kulihat ia terburu buru meninggalkan area dekorasi yang sudah perfect. Langkah jenjangnya setengah berlari menuju ke rumah pohon. Jasa henna dan jasa make up wedding datang membuatku harus menyiapkan diri. Kubasuh kulitku dengan air wudhu,meminta pada Allah agar dimudahkan dalam acara ini.
"Oh cantiknya anak ibuuu ..." Puji ibu dari luar pintu sembari menuntaskan perjalanannya menuju ke kamarku.
"Kamu benar benar cantik hari ini.."sambung ibu hampir menitikan air mata memegang tanganku
"Oow aku pun... "Ucapku parau
"Ooh tidak tidak,anak ayah tidak boleh menangis." Suara ayah muncul dari ambang pintu kamarku. Aku makin terharu sekaligus berdebar, sejak kemarin aku berusaha menyembunyikan khawatir dan bahagiaku yang berubah menjadi gemetar namun detik ini setelah aku di rias sedemikian rupa aku tak bisa untuk menyembunyikan hal itu lagi. Aku tak bisa membuat irama dalam jantung ini melambat walau sesaat.
Di bawah naungan mentari saat dhuha,teriring tasbih dan tahmid agar selalu membasahi bibirku.
__ADS_1
Kerabat berkumpul,aku berseberangan dengan sosok yang sudah rapi dengan kemeja biru muda kalem dilapisi dengan jas hitam panjangnya. Hanya ia yang jelas dalam pandanganku.
Hanya dia yang membuat air mataku hampir jatuh namun kutahan. Detik ini aku benar benar melihat bahwa ia tak setegar kemarin,di balik senyum yang ia kembangkan ada guratan takut dan khawatir, aku yakin dia gugup saat ini harus berhadapan dengan ayahku hanya berbatas meja seukuran setengah meter agar nanti tangan keduanya menyatu.
Aku mendesah.
Aku gugup luar biasa,kulihat tanganku gemetar,jika aku membuka mulut mungkin gemeletuk gigiku akan terdengar bertautan. Padahal aku tau mentari sudah setinggi tombak,hangatnya sudah dirasakan oleh semua orang,sering ku lihat mereka menyeka keringat yang ada di dahi. Kecuali aku,aku tidak merasakan ada cahaya hangat di sini. Aku seolah demam panggung. Mendadak dingin semua yang ada dalam diriku.Aku tidak lagi memperdulikan apa yang di bicarakan oleh orang orang di belakang punggungku. Aku hanya mampu menyemangati diri bahwa aku baik baik saja meskipun nanti semua mata akan memandangku.
Tes tes satu dua
Percobaan mic membuat debar jantungku tak terkendali,ibu menggenggam jemariku.
"Lihat calon suami kamu .." pinta ibu.
"Jangan gugup,kamu harus tenang nanti dia tenang." Sambungnya. Entah penelitian dari siapa dan dari mana ibu mengatakan hal itu namun aku menuruti perkataannya,aku menatap matanya,ia menoleh kemudian tersenyum padaku,sedetik aku merasakan darah mengalir deras menuju wajahku,aku yakin wajahku akan merah padam detik ini.
Kulihat terjadi percakapan diantara ayahku,Firhan dan bapak penghulu.
Ayah menyalakan mic kemudian mengulurkan tangannya kepada Firhan,aku menatapnya selalu dari seberang sini.
"Wahai ananda Firhan Avecenna bin Fauzan Avecenna saya nikahkan engkau dengan putri kami Yasmine Adelia,dengan mahar seperangkat alat sholat dan perhiasan emas senilai 15 gram tunai." Ucapan ayahku di sambut olehnya
"Saya terima nikahnya Yasmine Adelia binti Abdullah Sayyaf dengan mahar tersebut tunai."
SAH!
Dalam hitungan detik air mataku tak mampu terbendung lagi disela senyum dan tawaku.
Hanya hitungan detik aku resmi menjadi nyonya Avecenna.
Ia tersenyum bahagia menatapku,ibu menuntun langkah pelanku menuju padanya yang sudah berdiri di bawah naungan sana.
Ia tersenyum padaku,aku ulurkan tanganku ia menyambutnya,ku kecup punggung tangannya sebagai bukti ketaatanku, aku menatapnya dan satu ciuman mendarat di puncak kepalaku tanda ia siap menjadi penanggung jawab atasku, kini semua tanggung jawab ayah telah di serahkan sepenuhnya kepada suamiku.
Aku menyalami tamu,meskipun sepenuhnya aku ingin terus bersanding dengan suamiku.
Firhan Avecenna
Aku telah menjadi istrimu sekarang.
Berbekal keyakinan yang tidak pernah aku miliki, kini aku resmi menjadi permaisurimu.
__ADS_1