
Sarapan Emma pagi ini ia lakukan di dalam mobil sambil memeriksa beberapa dokument untuk di presentasikan hari ini, jika tidak ada
halangan program yang selama ini Emma buat bersama Erik dan rekan-rekan lainnya
bulan depan akan launching maka dari itu hari ini Emma dan yang lain akan presentasi kepada atasan mereka. Emma yang bertugas untuk membuat materi presentasinya dan pagi ini ia memeriksa ulang materinya.
Semalam ia baru saja melakukan panggilan video bersama kekasihnya, mungkin sekarang akan menjadi rutinitas dan membuktikan apa yang selama ini Emma percayai.
“Pa.. Nanti kayaknya aku pulang sama Exel deh kalau nggak aku naik taxi aja”
Brugh!!!
Emma menutup pintu mobil Papanya dengan lumayan kencang dan terburu-buru masuk ke dalam kantor sambil membawa laptop dan dokument lainnya. Meeting di mulai pukul depalan pagi dan Emma tiba di kantor pukul setengah delapan masih ada waktu lah untuk merias wajah Emma yang buluk di pagi itu.
“Selamat Pagi Pak..” sapa Emma saat cheklock di HRD terlihat diruangan tersebut sudah banyak sekali orang-orang yang berjas dan berdasi rapi sedang berbincang dengan atasan lainnya. Erik datang menyusul Emma yang sedang mengantri dibelakang untuk absen pagi.
“Emm...” sapa Erik
“Pagi Rik.. aku ke ruangan duluan ya”
Erik terlihat begitu bingung dengan Emma mengapa ia terburu-buru sekali. Pertama kalinya Erik melihat Emma dengan wajah polos tanpa polesan make up.
PESAN BARU DITRIMA
“Pagi sayang, mau liat muka cantiknya Emma”
Emma juga tidak menghiraukan pesan masuk dari kekasihnya. Rencana Emma semalam ia harus datang lebih pagi dari biasanya supaya Emma bisa memeriksa kembali dengan teliti, rencana yang berbalik dengan kenyataan.
“Aku percaya sama kamu ya tentang materinya” ujar Erik yang sudah duduk di kursi kebesarannya sambil memberikan Emma susu kemasan lagi
“Hmm, tenang aja ini aku memang belum sempat dandan aja jadi kesannya terburu-buru”
Erik membuka laci meja kerjanya hari itu memang begitu penting, presentasi bersama atasan dan menuntut semua karyawan untuk berpenampilan rapi. Walaupun banyak yang bilang seorang IT itu jika bekerja tidak usah
rapi-rapi yang penting ia bisa menghasilkan semua karya itu sudah lebih dari cukup.
Polesan terakhir yang di gunakan oleh Emma ada lipstick hari ini ia ingin memakai warna yang sedikit mencolok supaya ini menjadi warna harinya yang semangat untuk Emma. Kali ini Emma meminum susu kemasan dari Erik biar makin semangat untuk pertama kalinya ia dan team presentasi.
Waktu zaman awal-awal ujian semesteran Gilang lebih suka memberi coklat untuk Emma, memang riset membuktikan mood perempuan lebih meningkat saat memakan coklat. Beres dandan Emma masih belum membaca pesan Gilang.
“Ini gimana si”
“Hahaha kamu gak bisa pakai dasi Rik?”
“Dulu zaman aku sekolah dasinya dibenerin temen aku”
Emma mendekat kearah Erik untuk membenarkan dasi Erik. Terulang lagi, tatapan mata Erik begitu dalam untuk Emma jantung Erik berdegup kencang. Dengan perlahan dan penuh kesabaran Emma membenarkan dasi Erik
“Udah cakep...” Emma masih membenarkan baju Erik
“Kamu cantik Em..” perkataan yang murni keluar dari mulut Erik saat berhadapan langsung dengan Emma.
Suasana tegang itu terjadi diruangan meeting. Senior-senior satu divisi Emma tidak perlu meragukan keahliannya Emma semua sudah teruji saat magang kemarin begitu juga dengan Erik ia juga sangat percaya dengan Emma. Sebelum memasuki ruangan meeting Emma sempat membalas pesan Gilang dan
mengirimkan fotonya sambil membawa berkas dan laptop yang akan ia presentasikan
hari ini. Gilang membalasnya dengan emoticon kiss untuk mewakili semua yang ada di diri Emma hari ini.
...
Berbanding terbalik dengan Gilang, hari ini ia sedang santai di kantor semua meeting bersama investor dan client sudah ia bereskan di minggu lalu dan sekarang saatnya bekerja santai di kantor. Dalam bebrapa minggu kedepan Gilang mendapat projek yang lumayan besar dan Deni menyerahkan semuanya kepada Gilang pekara apapun itu Deni menyerahkan kepada Gilang. Upah tidak seberapa tapi pekerjaan tidak terhingga.
Suara langkah itu terdengar lagi Gilang sudah bisa menebak siapa yang akan datang ke mejanya tidak sedikitpun Gilang menghiraukan.
“Aku mau bicara sebentar sama kamu”
Hanya dibalas dengan lirikan yang tajam sama seperti saat pertama bertemu dengan Emma tapi kali ini berbeda ini bukan Emma yang ingin berbicara dengannya.
Minggu lalu saat Fio ikut dengan Gilang dan Deni untuk meeting bersama client, Fio selalu membuat Gilang merasa sangat tidak nyaman. Fio sadar jika semua itu terus ia lakukan ia tidak akan pernah bisa untuk
__ADS_1
mendapatkan Gilang tujuan Fio datang menghampiri Gilang untuk merayu lebih manja
Lirikan Fio tertuju kepada ponsel Gilang yang masih membuka foto Emma.
“Beruntung banget ya pacar kamu bisa milikin kamu”
“Mau kamu apa?”
“Bisa tidak nanti kita makan malam, terserah mau makan dimana?” Tidak ada jawaban dari Gilang ia terus melanjutkan pekerjaannya. “Semua itu mudah, seperti aku membalikan fakta dan berkata yang tidak fakta kepada Papaku”
Gilang mengernyitkan dahi selalu tidak beres jika berurusan dengan keluarga Deni. Gilang menggeser kursinya dan sedikit menghadap kearah Fio lebih dekat dari sebelumnya
“Aku tidak akan pernah takut dengan apapun yang kamu perbuat”
Kembali Gilang menatap layar laptopnya dan tidak menghiraukan anak sulung Deni yang selalu semena-mena ini. Gilang sudah merasa
sejak awal makan malam dirumahnya jika Fio ini memiliki maksud lain untuk mendapatkan
hatinya, jangan harap itu tidak akan pernah terjadi.
Fio meninggalkan meja Gilang dengan muka kesal dan Fio tidak akan biarkan ini terjadi bagaimanapun Gilang harus luluh kepadanya.
Kembalinya Gilang menatap layar laptopnya ia tidak sengaja melihat sebuah lowongan pekerjaan dengan paruh waktu. Pekerjaan yang mudah ia hanya sebagai pelayan minuman di salah satu kafe yang baru saja buka.
Semua ini tidak bisa diandalkan jika terus-terusan bergantung dengan Deni, bukan masalah gaji kenyamanan dalam bekerja perlu di utamakan. Setelah ia baca berulang kali waktu dalam pekerjaan itu sangat
fleksible dan tidak menuntut banyak waktu. Sambil berjalan Gilang akan memikirkan bagaimana bisa bicara dengan Nita dan mempercayai anak bungsunya ini
untuk bisa bekerja sendiri tidak di bawah naungan Deni.
...
Sedikit tertunda karena ada client yang belum datang jadi masih ada waktu untuk Emma mempersiapkan dirinya saat presentasi disana. Saat selesai merias wajahnya tadi, Emma yakin jika semua materi ini sudah benar tidak ada yang terlewat semua sudah menyakinkan Emma untuk hal ini.
Erik yang duduk di barisan nomer dua dari depan terus memperhatikan Emma dan membayangkan kejadiaan saat Emma membantu memakaikan dasi untuknya. Perempuan secantik Emma mana boleh bersedih ia sangat berhak untuk bahagia. Senyum tawa Emma dengan senior lainnya juga Erik perhatikan apa lagi dengan warna lipstick yang ia kenakan sekarang.
“Belum di mulaikan?” Exel tiba dan langsung duduk di samping Erik
“Ihh temen aku yang presentasi”
“Kamu nemu temen dimana si Xel?”
“Maksud kamu?” Exel kebingungan dengan pertanyaan Erik
“Kok bisa punya temen secantik Emma” Exel terkejut, bisa-bisanya Erik berkata seperti itu. Ini tidak bisa di biarkan Erik harus tau
yang sebenarnya
“Ahaha, dia memang pintar merias wajah Rik aslinya juga buluk banget dia”
Erik melanjutkan menatap Emma yang penuh energik di pagi hari itu. Dunia begitu indah dan Erik tidak akan pernah takut guntur akan
datang saat mempercayai senyum Emma yang bakal mengelahkan segalanya.
Tarik nafas dalam-dalam memulai presentasi dengan sambutan yang penuh hormat di hadapan para client dan para atasan, ini bukan sekedar presentasi seperti waktu di kelas ini menyangkut semuanya. Semua mengikuti dengan hikmat dan mulai memahami apa yang di katakan oleh Emma tampaknya semua menyukai presentasi Emma.
Tetapi, tiba-tiba...
“Sebentar...” ada yang mencela presentasi Emma.
“Ada yang perlu di tanyakan Pak?” Emma memberhentikan presentasinya itu
Wajah rekan Emma telihat begitu tegang saat mengetahui isi presentasi yang makin tidak sesuai dengan pembahasan program yang akan di buat dan tidak biasa di terapkan oleh perusahaan. Emma membuat materi seolah program ini dapat di gunakan secara tidak berbayar dan semena-mena justru semua itu
berbanding terbalik.
Admin Wijaya Group langsung menghampiri Emma yang sedang presentasi lalu memberi jeda terlebih dahulu disana tidak ingin client atau investor mengetahui kesalahan yang fatal ini.
“Emma, kamu tidak baca pesan di grup semalam?” Fella berbisik kepada Emma
__ADS_1
“Loh memang kan Mbak, ini program akan di lakukan untuk menggalang dana sebuah panti social?”
“Emma itu program yang mana? Ini kita akan buat apa si kamu ngerti?”
“Ya itu kan untuk menggalang dana itu” Emma mulai terbata-bata saat menjawab
“Emma, ini untuk kita serahkan kepada mentri perekomonian dan ini berbasis berbayar kenapa di materi presentasi kamu jadi seperti ini?
Hal yang tidak terduga terjadi pada Emma, semalam ia yakin jika hari ini adalah presentasi tentang program itu. Wajah Emma penuh dengan keringat yang bercucuran, semua orang di ruangan itu sedang membicarakan Emma lebih-lebih membicarakan hal perusahaan yang tidak konsisten
“Sebentar, ini kalian serius tidak untuk membuatnya kenapa jadi berubah seperti yang di kesepakatan?” celetuk salah satu client
“Gini, maaf atas kesalahpahamannya ini semua bisa di perbaiki kok” jawab Fella dengan tegas
“Lagian dana yang digunakan mana mungkin sepenuhnya dari investor lalu perusahaan ini tidak mengeluarkan sepersen pun?”
Ruangan mulai gaduh semua orang menyerang admin Wijaya Group
dan bahkan membuat Emma panik dan tidak sanggup untuk menghadapi ini. Emma
menyesal kenapa tidak membaca pesan itu semalam Emma asik melakukan panggilan
video bersama Gilang. Begitu yakin Emma untuk presentasi hari ini semua tentang
program yang akan di donasikan, ia kembali memeriksa ponselnya untuk memastikan
jadwal di agendanya.
“Kok bisa salah si Emm?” Erik tiba di sebelahnya untuk membantu memeriksa presentasinya. Yang hanya di lakukan oleh Emma adalah menggigit jarinya serta wajahnya yang semakin panik
...
Kantor Gilang terlihat aman, Deni dan anaknya sedang tidak ada di kantor. Saat makan siang Gilang menyelinap untuk pulang dari kantor lebih awal, tidak akan berfikir panjang bagaimana nantinya jika Deni mengetahui hal ini yang menjadi fikiran Gilang sekarang bagaimana Gilang bisa bekerja paruh waktu.
Di dalam kafe itu terlihat begitu ramai makanan dan minumannya juga terlihat begitu enak. Gilang membayangkan jika datang ke tempat itu bersama Emma dan pacarnya itu pasti sudah sibuk mengambil gambar mereka berdua jadi teringat saat pulang kampus yang tiba-tiba Emma rewel minta di temani makan pizza di kafe dekat kostnya Gilang.
“Selamat datang mau pesan apa?”
“Maaf Mbak denger-denger lagi dibuka lowongan pekerjaan paruh waktu ya?”
“Ohh iya Mas, emm gini Mas tunggu dulu nanti ada mananger kafe ini menghampiri Mas”
“Ohh gitu baik Mbak”
Pekerjaan Gilang di perusahaan Deni bisa saja dilakukan diluar kantor sambil menunggu manager kafe Gilang sesekali mengerjakan codingan untuk program yang akan datang supaya semua ini cepat selesai dan bisa
menemukan jalan keluarnya.
“Permisi..” perempuan cantik menghampiri Gilang
“Yaa?”
“Tadi kata karyawan saya ada yang mau melamar pekerjaan paruh waktu?”
“Ohh iyaa itu saya Bu”
“Saya manager cabang cafe ini. Seperti yang Mas lihat disini memang begitu ramai dan saya memang memperlakukan sistem karja paruh waktu supaya pekerja disini tidak begitu di beratkan”
“Yaa, saya rasa memang bagus seperti itu Bu”
“Kalau boleh saya tahu Mas sedang bekerja atau tidak?”
“Ehhmm... Ya, saya bekerja tapi seperti freelance si Bu”
“Heemm sangat bisa kalau seperti itu. Saya bisa lihat data diri kamu?”
Gilang menganggap pekerjaan dengan Deni ini tidak begitu penting itu semua hanya sebuah gimick yang ia ciptakan untuk membuat Mamanya merasa tenang. Mulai detik itu juga Gilang bisa bekerja di kafe tersebut. Sebisa mungkin Gilang tidak akan menceritakan hal ini dengan siapa-siapa termasuk kekasihnya karena ini semua akan membuat Emma menjadi tidak tenang disana.
Upah di kafe ini memang tidak begitu banyak tapi setidaknya ia bisa menutupi semua hutang Mamanya dan bisa mencari pekerjaan lain.
__ADS_1
***