
Suasana sudah ramai musik juga sudah terdengar sangat kencang, satu ruangan restaurant sudah di booking oleh Nabila untuk makan malam ulang tahunnya. Emma menarik nafas panjang dan menghembuskan pelan-pelan ia berusaha membawa suasana disini dengan tenang dan sementara ia mematikan ponselnya terlebih dahulu.
Mengambil tempat duduk dan menunggu pramusaji datang menghampirinya untuk menawarkan makanan dan minuman. Tidak begitu mewah sangat terkesan sederhana. Moment ini sangat mengingatkan Emma saat sedang hadir di acara pesta ulang tahun teman kuliahnya dulu bersama Gilang.
“Aku pengen nanti acara ulang tahun ataupun lamaran mau dibuat sesederhana mungkin Lang”
“Banyak pilihan yang mewah Emm kalau terlalu sederhana juga jelek kayak sepi gitu”
“Enggak sayang, liat deh bunga yang di taruh di sini aja keliatan mewahkan karena mereka satu tapi banyak”
“Hmm jadi mau yang kayak gini?”
“Iya lahh, tapi lebih bernuansa putih”
“Yaudah kumpulin uang dulu ya”
“Nanti bisa pakek uang bersama sayang”
Emma tersadar dari lamunannya setelah teman-teman SMA Emma duduk di sebelahnya. Lama sekali mereka tidak berjumpa dengan duduk di samping
kanan kiri Emma mereka mengenang semua masa SMA yang kata orang itu indah, kata
Emma juga.
“Kerja dimana kamu Emm?”
“Di Wijaya Group”
“Itu kan perusahaan terkenal disini Em”
“Iyaa aku masuk disana gara-gara magang jadi di rekrut kembali gitu”
“Trus kamu masih sama Gilang?” celetuk teman Emma yang tidak punya dosa itu. Emma diam dan hanya senyum sambil berkata
“Masih kok” Emma juga tidak akan membiarkan orang lain tahu tentang hatinya yang rapuh itu, tamu bisa datang ke hatinya dan dengan cepat menggantikan posisi Gilang.
“Emm kasih tips LDR dong, aku mau LDR juga tapi masih ragu”kondisi yang makin tidak kodusif membuat Emma harus beranjak dari tempat duduknya dan berlari ke toilet setelah mendengar pertanyaan dari temannya itu. Semua tidak bisa di fikir dengan nalar yang normal kenapa teman-teman Emma bisa mengatakan hal itu dengan sesuka hatinya tanpa memikirkan perasaan Emma
terlebih dahulu.
Dengan dada yang mulai sesak Emma mengambil air mineral dari pramusaji yang sedang membawa minuman di troly. Semua tentang Gilang masih bersangkutan di dunia ini apalagi dengan keadaan seperti ini.
BRUGH!!!
__ADS_1
Hampir saja Emma jatuh yang tidak fokus memeperhatikan jalan saat menuju toilet. Ia di tolong oleh seorang laki-laki yang tubuhnya sangat harum dengan jas yang rapi, tidak tampak jelas wajahnya karena mata Emma sudah penuh dengan linangan air mata.
“hati-hati kalau jalan” Emma di bantu untuk berdiri
“Terima kasih”
“Emma?” suara lelaki itu yang tidak asing bagi Emma sambil mengusap linangan air matanya.
Lelaki harum dan berjas rapi itu tidak lain adalah Erik. Bagaimana bisa Erik datang ke acara ini juga, Emma yang mengingat kembali Erik bukan teman SMAnya ataupun teman SMA Nabila lalu kenapa ia bisa ada disini.
Erik mengulurkan tangannya untuk mengajak Emma bergandengan tangan dan masuk ke dalam ruangan itu kembali. Erik sudah paham dengan linangan air mata Emma, yang di fikiran Erik rekan kerjanya ini sedang mendapat hantaman pertanyaan yang menyakitkan baginya.
Erik berbisik kepada Emma jika ini sebuah ujian yang harus Emma hadapi, jangan menghindar selamanya kamu akan menjadi orang yang lemah dan makin menyakiti dirinya sendiri.
“Ini acara teman kamu, enjoy aja Em ada aku disini”
“Kamu kenapa bisa datang kesini juga?”
“Nanti aku jelaskan, sekarang hargai dulu acara teman kamu ini” Erik mengerluarkan sapu tangan dari saku celananya dan berusaha mengusap sisa air mata di ujung mata Emma.
Mata indah Emma tidak pantas untuk dipenuhi dengan air mata, Erik berusaha merasakan indah matanya Emma dan sedikit memandangnya lebih dalam. Sangat terasa dan bisa terlihat dengan jelas untuk Erik jika Emma sekarang sedang bimbang dengan hubungannya.
Tak perlu lama lagi, mereka masuk ke ruangan itu dan tidak di sangka malah membuat tamu-tamu Nabila menjadi salah fokus untuk memperhatikan Erik dan Emma. Erik adalah rekan kerja Nabila dulu, mereka sangat dekat saat di kantin kantor suka bertukar fikiran segala hal mereka bicarakan
dan berkat Erik juga Nabila sekarang lebih dekat dengan rekan divisi Erik dulu.
Semua pandangan berlalu saat pembawa acara akan memulai acara yang di dahuli dengan doa. Erik duduk di samping rekan kerjanya dan itu membuat Emma lebih tenang dan tidak merasa takut akan pertanyaan yang sebentar lagi akan di tanyakan oleh teman SMA nya.
Dalam fikiran Emma sudah tertanam jika sepulang dari ini ia akan memperbaiki lagi hubungannya dengan Gilang. Memang ini harusnya dihadapi bukan untuk di hindari. Menghilangkan fikiran buruk tentang kekasihnya dan membayangkan masa depan bersama Gilang. Melihat teman SMA Emma sudah ada yang menggendong bayi mungil mengingatkan Emma tentang janji Gilang untuk meminangnya setelah semua sudah Gilang capai. Ke bimbangan Emma masih terlihat jelas.
Foto bersama pun berlangsung, banyak teman-teman Emma dan rekan kerja Erik yang melakukan foto bersama dengan yang punya acara. Mereka saling mengucapkan dan bernyanyi bersama. Memang sangat bahagia jika benar-benar ada Gilang disini, Emma bisa memperkenalkan Gilang kepada
teman-teman SMA, Emma juga bisa membanggakan untuk kehidupan mereka
selanjutnya.
...
Sama dengan Gilang. Ia sedang di hadapkan banyak client dan rekan kerja Deni yang membanggakan anak sulungnya bisa membawa kekasihnya. Gilang berusaha mengela dan membenarkan pernyataan tersebut tapi Fio malah kegirangan dengan pernyataan Gilang adalah kekasihnya.
Enggan jika terlalu lama bergandengan dengan Fio, Gilang melarikan diri ke sebuah suduh ruangan sambil meminum segelas minuman yang sudah disediakan disana. Ia juga sedang membayangkan jika Emma hadir disini.
Gilang mencoba memeriksa ponselnya untuk mengharapkan ada pesan dari Emma dan setidaknya malam ini ia bisa melihat wajah cantik Emma wajah lelah Emma. Hembusan nafas Gilang mewakili perasaannya malam itu. Pasrah dan terus memanggil Emma di dalam hatinya.
__ADS_1
“Saya sepertinya pernah melihat kamu” lelaki setengah tua menghampiri Gilang yang sedang termenung
“Ohh melihat dimana Bapak?” tanya Gilang dengan santun
“Kamu anaknya Didin?”
“Didin Hermawan maksud Bapak?” Gilang tanya balik
“Iyaa... Sekarang kamu sudah besar ya”
“Ya yang seperti Bapak lihat”
“Kamu beneran pacarnya Fio?”
“Saya harap Bapak benas-benar percaya sama saya. Fio hanya anak bos saya dan tidak ada hubungan yang spesial Pak” Gilang berusaha meyakinkan orang tersebut
“Deni orang yang licik rekan kerjanya disini banyak yang tahu sifat aslinya tapi mereka berusaha enjoy aja” Gilang terdiam dan
memperhatikan Deni dari kejauhan. Tidak hanya dia yang memandang Deni seperti
itu.
“Salam untuk Papa kamu yaa, dari Faisal”
“Baik Pak, nanti saya sampaikan pasti Papa senang”
“Iya iya, saya tinggal dulu ya” Gilang hanya menggukkan kepalanya. Deni sudah begitu terkenal dengan kelicikannya Gilang tidak akan membiarkan ini terjadi makin lama.
...
Mereka sedang di hadapkan dengan situasi serupa tapi tak sama. Bertemu dengan banyak orang membicarakan tentang kisah cinta mereka masing-masing. Melihat di sekitaran hubungan seseorang yang sedang mesrah-mesrahnya dan tidak ada masalah dalam hubungan seseorang tersebut.
Emma akan mengurungkan niatnya untuk mengakhiri hubungannya. Ia tidak boleh kalah dengan Fio, selepas acara ulang tahun Nabila pun Emma akan menghubungi Gilang melakukan panggilan video dengannya dan semua akan baik-baik saja.
Erik mencoba mengantar Emma pulang tapi ia menolak ia sudah cukup terima kasih di malam ini yang sudah menguatkannya sudah berani menghadapi kenyataan. Di halaman restaurant ada beberapa teman Emma yang belum kunjung pulang, terlihat aneh mereka sedang berbisik dengan teman lainnya dan
terus memandangi Emma.
Emma harap tidak ada kejadian apapun di malam ini. Dengan sabar ia menunggu jemputan dari Exel dan Gebby yang baru saja pulang dari makan malam berdua. Helaan nafas Emma menanyakan sampai kapan ia bergantung dengan Exel dan Gebby.
Setibanya Exel di halaman restaurant, temannya itu terkejut melihat Erik juga berada di sebelahnya lagi-lagi Exel nggak habis fikir kenapa Emma tidak mau pulang dengan Erik. Tidak meninggalkan sepatah katapun Emma
masuk kedalam mobil Exel dan meninggalkan halaman restaurant.
__ADS_1
Teman Emma masih berdiri disana dan seolah masih membicarakannya. Emma tidak peduli Emma lelah dengan semua ini jika di izinkan Emma ini mengambil cuti dan beristirahat dirumah.
***