Long Distance Relationship

Long Distance Relationship
Part 15


__ADS_3

Didin merubah tempat untuk pertemuan karena ia rasa depot sedang tidak aman untuk membicarakan hal yang sangat rahasia ini. Didin memberi tahu Gilang dan memberi alamat dimana sebenarnya mereka akan bertemu. Semua juga salah Gilang sedikit lambat untuk menemui ayahnya.


Di depan kantornya Gilang memanggil tukang ojek untuk bisa mengantarnya. Di jalan, ponsel Gilang mendapatkan panggilan tak terjawab dari Emma ia melirik ke alrojinya dan ia sedang memastikan bahwa sekarang adalah jam makan siang Emma.


“Maaf sayang, aku hari ini benar-benar sibuk nanti sore setelah meeting bersama client aku telfon kamu lagi ya. Love you”


Dan Gilang memberi intruksi kepada tukang ojek untuk segera malaju dengan kencang, anak macam apa Gilang ini sudah membiarkan Papanya untuk menunggu lama.


Didin baru saja tiba di kafe itu dan segera bertemu dengan orang yang akan memberi tahu rencananya bersama anak sulungnya itu. Dengan gagahnya dan Didin berjalan menuju meja kasir dan memesan dua kopi sambil


mengatakan ingin bertemu dengan manager kafe ini dengan keramahan barista itu


menyuruh Didin untuk tunggu sejenak dan bisa sambil menikmati free cookie dari


seorang manager kafe.


Gilang sedikit terkejut saat sudah tiba di halaman kafe yang di maksud Papanya. Dengan muka yang masih terkejut ia mengeluarkan uang dari sakunya untuk membayar ojek dan memberikan helm kepada tukang ojek. Gilang tidak enak dengan teman-teman lain jika harus berkunjung kesini sebagai pembeli


belum lagi jika ketemu Bu Manager.


Gilang menelfon Papanya untuk meminta pindah tempat saja, di kafe sebelah juga masih bisa yang penting tidak berada di kafe ini. Betapa malunya Gilang jika nanti ia menjadi bahan omongan saat masuk nanti malam.


Tidak bisa di bantah Didin sudah terlanjur mengatakan kepada clientnya dan harus segera di bicarakan.


“Gilang....”


“Loh Lang kamu bukannya masuk malam kan untuk inventori lagi?” Gilang hanya nyengir dan tidak tahu harus menjawab apa dari sapaan teman-temannya itu. Ia terus berjalan dan sampai ke meja Didin.


“Untung clientnya belum datang” Didin meneguk es kopi yang ia pesan barusan. Dengan perasaan canggung Gilang mendesak Didin untuk segera mengatakan apa yang harus Gilang lakukan setelah itu Gilang bisa pergi dari tempat ini, ia merasa teman-temannya di balik counter sudah membicarakannya sambil tertawa nggak jelas.


TAP..


TAP...


TAP...


Suara sepatu perempuan terdengar jelas yang sebentar lagi tiba di meja Gilang dan Papanya. Gilang sibuk mengecek program di kantor Deni melalui ponselnya dan tidak seberapa menghiraukan langkah kaki itu. Didin yang sudah sangat menanti kehadiran perempuan itu.


“Maaf saya agak lama tadi masih ada urusan di office, boleh saya duduk?”


“Oh yaa tentu sihlakan Bu” Didin mempersihlakan duduk di samping Gilang dan anaknya itu hanya terkejut tidak bisa berkata apapun hanya bisa melihat managernya duduk dan meletakan notebook berserta isinya diatas meja.


Gilang membenarkan posisi duduknya dan memasukan ponselnya kedalam saku celana lalu mengikuti alur Didin yang entah akan di bawa kemana ini.


Perlahan Didin menjelaskan tentang maksud semua ini. Manager kafe ini adalah klient Didin yang sudah lama langganan membuatkan segala keperluan promosi kepada Didin dan sekarang Didin ingin Gilang yang mengerjakan hal ini. Dengan senyum yang malu-malu manager itu membokar status Gilang di kafe itu.


“Iyaa, maaf Pa Gilang nggk pernah cerita soalnya ini buat tambahan aja supaya masalah keluarga kita cepat selesai ya walaupun tidak banyak Gilang bisa menyicilnya sedikit demi sedikit” jelas Gilang sambil wajah yang tertunduk.


Yarin, nama manager kafe itu sangat mengerti kondisi keluarga Didin dan Yarin berencana untuk tidak memberi tahu kepada karyawan


lainnya tentang kerja sama ini. Gilang bisa mengerjakan ini dengan waktu yang


luang dan tidak udah mengkhawatirkan tentang upah.

__ADS_1


Dalam hati Gilang ini demi kebaikan keluarganya dan demi tujuan awalnya dengan Emma.


Tidak ingin lama-lama berada di kafe itu Gilang izin balik kantor duluan dan akan mempelajari konsep website yang akan dibuatnya berserta program lain sesuai surat perjanjiannya. Masih ada waktu untuk menghubungi Emma yang dari tadi selalu terabaikan oleh Gilang.


BERDERING...


Emma teralihkan dengan ponselnya yang menyala itu panggilan masuk dari Gilang. Ia tidak ingin Erik mendengar pembicaraan dan Emma memutuskan untuk keluar ruangan dan menerima panggilan suara dari kekasihnya.


“Sayang maaf...”


“Emang enak kalau makan siang di temani sama anaknya bos” sahut Emma langsung dengan ketus


“Ahaha sayang kamu lagi datang bulan?”


“Nggak usah basa-basi Lang, kamu tidak bisa di hubungi karena tidak ingin di ganggu kan makan siangmu sama Fio?” koridor yang sunyi seketika berubah menjadi gaduh dengan suara Emma yang lantang. Dari dalam ruangan Erik melihat Emma melalu jendela untuk memastikan jika itu suara Emma.


“Kok jadi bawa-bawa Fio si Em?”


“Trus apa lagi yang membuat kamu berubah seperti ini? Sesibuknya kamu Lang kamu tidak akan membiarkan ponsel kamu berada di luar jangkauan”


“Bisa nggak ini di bicarakan dengan baik-baik?”


“Lalu selama ini aku kurang baik sama kamu? Kamu tidak pernah mengerti perasaan aku yang hancur ini Lang, dan kayaknya semenjak kamu pulang cuma aku yang inginkan kamu sedangkan kamu?”


Gilang menenangkan dirinya dengan menghela nafas panjang sambil mengelus jidadnya dan memikirkan cara untuk tidak ikutan meluap emosinya. Gilang langsung mengakhiri panggilan suaranya dan bergegas untuk kembali ke kantor tanpa menunggu jawaban lainnya dari Emma.


Terlalu overthiking dan mengakibatkan perdebatan yang hebat diantara pasangan ini. Erik yang tak lepas pandangannya dari Emma sudah tidak sabar ingin memeluknya dan membawa di alam yang tenang tapi Erik bisa apa.


Kembali masuk kedalam ruangan dengan tegar bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa dengannya dan melanjutkan pekerjaannya.


Setelah semua pekerjaan Gilang selesai ia tidak langsung pulang kerumah, ia melanjutkan pekerjaan peruh waktunya, teman-teman Gilang sudah menunggu karena inventori segera di mulai. Gilang masih belum mengerti apa yang harus ia lakukan untuk masalahnya yang sekarang. Serba salah, jika ia membiarkan Emma dengan keadaan seperti ini itu akan membuat makin teriris


hatinya dan jika ia menghiarukan Emma kemungkinan besar Emma makin meronta


dengan segala emosinya.


...


Melihat ponsel yang tidak ada kabar dari Gilang, Emma terus bekerja menghabiskan malamnya dengan mengerjakan semua revisi dan contoh program. Tidak seperti biasanya ini lembur termalam yang dilakukan oleh Emma, melihat hal itu Exel tidak tega dengan temannya. Pukul sembilan lewat Exel


kembali ke kantor untuk menjemput Emma bersama Gebby.


Emma tertidur di meja kerjanya dengan keadaan meja yang sudah seperti kapal pecah. Gebby yang membereskan barang-barang Emma dan langsung membangunkan Emma untuk diajak pulang bersama. Satpam kantor sampai heran melihatanya ini tidak biasanya Emma pulang semalam ini dan biasanya di temani oleh Erik, jangan di tanya Erik kemana.


Di dalam mobil dengan mata yang masih sembab Emma meperhatikan jalanan yang biasa ia lewati bersama Gilang. Diatas motor Gilang dengan angin malam yang menusuk tubuh mereka masing-masing membuat sebuah tawa yang membuat mereka lupa jika ada angin malam yang menyakitkan.


Emma juga tidak tahu apa yang harus ia lakukan, fikirannya masih penuh dengan Fio dan Gilang. Jika semua ini tidak sanggup untuk Emma lalui pilihan berpisahlah yang harus diambil.


“Coba kamu tenangin dirimu dulu Em baru kamu kabari Gilang”ucap Gebby yang tidak tega melihat Emma merenung seperti ini.


“Xel.. Geb.. Turunin aku di kafe aja dong aku butuh ice chocolate”


“Kita bisa minum ice chocolate dirumah Gebby Em” buju Exel supaya tidak makin terjadi apa-apa

__ADS_1


“Aku butuh sendiri juga guys, nanti gausah jemput aku mungkin aku bisa telfon Papa” Gebby dan Exel hanya bertatap mata dan pasrah dengan permintaan Emma. Emma juga sedang lelah sekali dan ia harus bertemu


dengan ice chocolate.


Masih dengan wajah yang lusuh mata yang sembab, Emma turun di kafe yang kemarin ia datangi bersama Erik karena menurut dia disitu lah ice cholate yang paling enak padahal ice chocolate begitu-begitu aja rasanya.


Memilih tempat yang paling favorit, diujung yang ada stop kontak supaya bisa sambil mengisi daya ponselnya. Tidak tanggung-tanggung Emma memesan dua ice chocolate jumbo ditambah burger jumbo berseta free kentang yang jumbo juga. Type yang seperti Emma ini sebenernya membahayakan jika ia terus merasa stress merasa sakit hati bisa-bisa badannya berubah menjadi...


“Mbak, untuk kentangnya mohon di tunggu ya masih dalam proses penggorengan” pramusaji itu berdiri di hadapan Emma sambil menurunkan pesanan Emma.


“Oke Mas” jawab Emma dengan santai.


Seteguk ia menelan ice chocolate sambil merasakannya dengan memejamkan mata, tidak ada yang bisa nandingin ice chocolate di kafe itu. Kafe yang buka selama 24 jam dan tidak pernah sepi setiap malam selalu


mengadakan live music tapi malam ini tidak terdengar lagu yang berdendang.


Emma menatap kembali ponselnya berharap menanti Gilang menghubunginya.


*Ini pertama kalinya


aku merasa sangat jauh dari kamu


Ini pertama kalinya


aku sedang lelah tidak bisa memeluk kamu


Apa aku salah sudah


mengambil keputusan untuk melanjutkan hubungan ini


Apa aku salah terlalu


berfikir yang tidak-tidak dengan kamu.


Aku hanya takut, aku


tidak suka jika milikiku di ambil oleh orang lain dengan mudahnya dan kamu


luluh terhadapnya.


Ini yang kamu maksud


dengan hubungan berbeda. Beda dengan yang lainnya dan aku harus selalu


merasakan kesedihan ini.


Emma rindu Lang, Emma


ingin dekap Gilang dan jangan sampai terlepaskan. Jika harus berhadapan lagi


dengan hubungan yang seperti ini, aku tidak akan biarkan kamu untuk


melakukannya lagi. Kita, kita harus bersama dimanapun kamu dan aku berada*.

__ADS_1


Semua ia tuliskan di dalam note ponselnya dan setelah itu Emma menikmati makanannya lalu kembali pulang bersama Papa.


***


__ADS_2