Long Distance Relationship

Long Distance Relationship
Kabar Baik Dari Keluarga


__ADS_3

Rania berjalan gontai menuju rumah kos sepupunya. Dia masih tidak percaya dengan semua yang dia alami hari ini. Seandainya dia tidak ingat dan tidak perduli dengan keluarganya dikampung, mungkin dia akan mengajukan untuk berhenti bekerja hari ini juga. Tapi Rania berpikir ulang, dengan ijazah SMA sangat sulit baginya untuk mendapat pekerjaan. Dia percaya suatu saat nanti pasti dia akan mendapat keadilan atas apa yang terjadi hari ini. Rania tidak langsung masuk kedalam rumah, dia duduk diteras sambil terus merenungi diri. Dia tidak sadar bahwa ponselnya sudah berdering berkali-kali. Dia juga tidak menyadari kalau saudara sepupunya yang sangat mencemaskannya sudah berdiri disampingnya.


"Rania? Kamu sudah pulang, kenapa nggak langsung masuk? Kamu juga nggak jawab telpon dariku. Aku menelponmu berkali-kali tahu nggak si? Aku khawatir kamu kenapa-kenapa." Cecar saudara sepupunya, Nana.


"Oh, maafin aku Na. Aku nggak tahu kamu telpon." Jawab Rania sambil mengecek ponselnya.


"Gitu aja? Aku bicara panjang lebar kamu cuma bilang oh? Astaga, Rania! Aku sangat mencemaskanmu tahu nggak? Aku kira kamu nyasar kemana atau kamu kenapa-kenapa tapi dengan santainya kamu bilang seperti itu." Kata Nana bersungut-sungut.


"Iya deh aku minta maaf, aku tahu aku salah. Hari ini aku capek banget, Na. Warung makan ramai banget hari ini. Mulai dari siang sampai malam. Bayangin Na, ga da waktu istirahat sama sekali." Jawab Rania berusaha menutupi kekalutan hatinya.


Mereka berdua masuk kedalam rumah. Rania langsung masuk ke kamarnya untuk meletakan barang bawaannya kemudian pergi membersihkan diri. Tanpa Rania sadari, saudara sepupunya memperhatikannya sejak tadi. Nana juga menyapanya, tapi dia tidak menjawab sapaan saudara sepupunya. Rania langsung saja kembali ke dalam kamarnya setelah selasai membersihkan diri. Rania juga mematikan lampu kamarnya dan merebahkan tubuhnya yang terasa sangat lelah.


Sementara saudara sepupunya, Nana, merasa sangat khawatir melihat keadaan saudara sepupunya seperti itu. Dia hendak mengetuk pintu kamar Rania, tapi dia urungkan. Karena Nana tidak mendengar ada tanda-tanda saudara sepupunya masih belum tidur. Nana berpikir sejenak bahwa mungkin saja yang dikatakan Rania itu benar. Karena saat dirinya sendiri kelelahan, hal yang Nana inginkan ialah cepat-cepat membaringkan tubuhnya untuk mengistirahatkan semuanya. Tidak hanya tubuhnya yang Nana istirahatkan, tapi juga pikirannya.


"Mungkin seperti itu yang Rania inginkan saat ini, beristirahat." Gumam Nana sambil berjalan kembali ke kamarnya.


Keesokan paginya, seperti biasa Rania bangun awal untuk menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri dan juga saudara sepupunya. Rania tampan jauh lebih baik dari pada kemarin,dia tampak lebih ceria. Tanpa Rania sadari, saudara sepupunya, Nana memperhatikan gerak geriknya. Nana tersenyum melihat saudara sepupunya begitu bahagia pagi ini. Nana berjalan menghampiri Rania sambil tersenyum. Nana senang melihat saudara sepupunya sudah kembali ceria. Tidak murung seperti semalam.


"Waah! Kayaknya makanannya enak ni." Goda Nana pada Rania.

__ADS_1


"Kamu bisa aja, Na. Masakanku ya seperti ini dari dulu." Kata Rania sambil tersenyum lebar.


"Oh iya, kemarin kamu tanya nomor telepon mamah aku kan. Sebenarnya udah aku balas sms kamu, tapi mungkin kamu belum buka ponsel kamu. Jadi, ni aku kasih lagi." Kata Nana sambil menyodorkan secarik kertas yang berisi nomor telepon orang tuanya.


"Wah, makasih banyak yah, Na. Kemarin aku nggak sempat lihat ponsel. Sampai rumah juga rasanya capek banget, jadi langsung tidur . He he he." Jawab Rania dengan gembira.


Rania melanjutkan menyiapkan sarapan dengan sambil tersenyum sendiri. Hari ini Rania terlihat jauh berbeda dari hari kemarin. Rania lupa bahwa dirinya sangat terpuruk kemarin. Dia pun tidak memikirkan hal yang paling mengerikan dalam hidupnya itu. Dia seakan tidak peduli dengan ancaman dari supervisornya, Aning terhadapnya. Rania dan saudara sepupunya sarapan bersama sambil berbincang-bincang. Selesai makan dan bersiap, Nana segera pergi ke kantor untuk bekerja. Nana juga tidak lupa mengingatkan saudara sepupunya, Rania untuk menghubungi orangtuanya sebelum berangkat kerja. Rania pun mengangguk menanggapi perkataan saudara sepupunya.


Rania membereskan rumah setelah saudara sepupunya pergi. Selesai beberes, Rania bersiap untuk berangkat. Tetapi sebelum berangkat , Rania menghubungi tantenya. Rania ingin berbicara dengan orangtuanya. Rania sudah sangat merindukan orangtuanya dan juga adik-adiknya. Rania memencet nomor telepon yang diberikan oleh saudara sepupunya. Dia sudah tidak sabar ingin berbicara dengan orang- orang yang dia sayangi.


"Assalamu'alaikum, tante." Sapa Rania setelah sambungan telepon dijawab.


"Iya, tante. Ini Rania, tante apa kabar?" Kata Rania lagi.


"Alhamdulillah, tante sama om baik. Kamu sendiri bagaimana, Ran? Betah disana?" Tanya tante Desi.


"Alhamdulillah, Rania baik tante. Rania boleh bicara sama ibu nggak tante? Rania kangen sama ibu." Terang Rania.


"Boleh dong, sayang. Tunggu sebentar ya, tante anterin ponselnya ke ibu kamu." Jawab tante Desi.

__ADS_1


Selama berjalan menuju rumah orangtua Rania, tante Desi menanyaka banyak hal. Tante Rania juga bercerita banyak hal selama Rania tidak dirumah. Tante Desi juga bercerita tentang salah satu adik Rania yang menjadi juara kelas. Rania sangat senang mendengar kabar baik ini. Dia sudah tidak sabar ingin berbicara dan mendengar semuanya dari ibunya.


"Ran, ini tante udah sampai rumah kamu. Kamu bicaralah dengan ibumu." Kata tante Desi.


"Baiklah, Tante." Jawan Rania dengan singkat.


"Assalamu'alaikum, Ran. Kamu apa kabar?" Tanya Ibu Rania setelah menerima ponsel dari tante Desi.


"Wa'alaikum salam, Bu. Alhamdulillah Rania baik. Ibu sama bapak baik-baik saja kan bu? Rizki sama Rara juga baik kan bu?" Tanya Rania beruntun.


"Pertanyaan kamu banyak banget, Ran. Kami semua disini alhamdulillah baik-baik saja. Kamu nggak perlu khawatir." Jawab ibu Rania.


"Kata tante, Rara jadi juara kelas bu, betulkah?" Tanya Rania penasaran.


"Iya, benar. Ibu juga nggak nyangka Rara bisa jadi juara kelas, Ran. Ibu sama bapak bahagia banget." Jawab ibu.


Mereka terus bercerita satu sama lain. Rania juga menceritakan tentang pekerjaannya. Tapi, ada satu hal yang tidak Rania ceritakan pada ibunya. Rania tidak ingin orang tuanya mengkhawatirkannya, jadi Rania hanya menceritakan hal-hal yang baik. Termasuk tentang Pak Raditya Wijaya yang menurutnya sangat dingin, tapi sebenarnya Pak Raditya sangat baik hati. Hanya saja, Pak Raditya lebih menunjukan sikap dinginnya kepada siapapun.


Puas berbicara dengan keluarganya, Rania pun berpamitan karena sudah harus berangkat kerja. Dia berjanji akan sering menelpon ibu dan bapaknya yang berada dikampung halamannya. Rania menutup sambungan teleponnya dengan keluarganya. Tidak lupa Rania juga mengucapkan banyak terima kasih kepada tantenya yang sudah mengijinkan dia berbicara kepada bapak dan ibunya. Rania tidak berbicara dengan kedua adiknya karena mereka sedang pergi ke sekolah. Hari ini Rania merasa sangat bahagia, dia pun bergegas berangkat kerja.

__ADS_1


__ADS_2