Long Distance Relationship

Long Distance Relationship
Part 12


__ADS_3

Kejadian malam itu membuat hari libur Emma menjadi terganggu hampir seharian ia tidak keluar kamar dan hanya memandangi baju Gilang yang masih berserak di lantai. Biasanya jika hari libur seperti ini Gilang dan Emma suka melakukan aktivitas olahraga ditaman kota bersama kalau ditaman kota


mereka sudah merasa bosan mereka berpindah di sebuah lapangan olahraga umum.


Biasanya Gilang sudah tiba di depan rumah Emma sambil memberikan senyuman manis ala Gilang di pagi hari, setelah izin kepada orang tua Emma pergi bersama Gilang hingga jam makan siang terkadang Emma juga suka mampir ke kostnya Gilang untuk istirahat sejenak.


Pacaran itu tidak harus dengan melulu jalan ke mall nonton beli ini itu, terkadang hubungan juga harus dibawa keluar dari zona itu. Terkadang juga teman-teman mereka suka iri melihat cara mereka berpacaran semua bisa mereka lakukan bersama-sama dan dari mereka selalu bisa mengimbangi hal itu.


Itu kenapa Emma bisa sesedih ini ketika mendengar suara Fio yang berada di dalam kamar Gilang. Gilang tidak pernah menceritakan siapa itu Emma hanya tahu saat mendengar Nita menyebut nama Fio. Fikiran Emma masih kalut tidak tahu bagaimana bisa membersihkan semuanya ini disisi lain ia masih terbayang dengan presentasi itu dan harus bertanggung jawab untuk membenahi semuanya.


Sangat benar jika hari libur kali ini digunakan untuk Emma berdiam diri dikamar sambil memutar lagu sedih dan beberapa lagi favorit Emma dan Gilang. Orang tua Emma sangat memahami keadaan anak semawata wayangnya ini ia membiarkan Emma untuk menenangkan dirinya sejenak.


...


“Loh Lang... hari libur gini kamu mau kemana?”


“Ada urusan kerjaan Ma” Gilang sedang bersiap untuk bekerja paruh waktu di kafe kemarin ia mengambil hari libur untuk tetap masuk kerja supaya ia bisa dapat upah tambahan. Dengan kaos polos celana levis dan sepatu conversnya ia bersiap di depan sepeda motornya.


“Bukannya kemarin Pak Deni bilang pekerjaan kamu bisa dikerjakan dirumah?”


“Tapi buat Gilang tidak bisa Ma udah lah Mama nggk usah terlalu percaya atau bergantung sama dia sampai kapan Mama akan begini?”


“Lang Mama ini nggk bisa..”


“Gilang tahu Ma, Gilang yang akan membayar semua hutang Pak Deni tanpa harus berurusan dengan dia”


Suara motor Gilang terdengar begitu keras ia melaju dengan begitu kencang sampai kenalpot motor Gilang mengeluarkan asap. Nita mencemaskan tentang hutang-hutangnya hanya Gilang sekarang yang bisa ia andalkan, Nita tidak ingin terus merepotkan Wanda apalagi sebentar lagi Wanda mau lahiran


“Ma.. Mama..” Didin yang sibuk mencari Nita kepenjuru rumahnya sambil membawa ponselnya dengan pose kacamata baca yang dinaikan diatas kepalanya. Mendengar panggilan dari suaminya Nita menghampiri Didin yang seperti orang panik.


“Siap-siap ya Ma Wanda sudah di bawa ke rumah sakit” suara itu masih di ucapkan oleh Rio dari panggilan suaranya. Dengan sigap Nita berkemas dan memesan taxi. Dihari yang hampir menjelang siang ini Wanda sedang


merasakan kontraksi hebat yang menandakan bayi Wanda akan lahir. Itu semua jauh dari prediksi dokter yang masih dua minggu lagi.


...


“Siang Gilang, kamu fresh banget siang ini”


“Siang guys. Iyaa dong hari libur harus tetep fresh hihi”


“Ohya Lang nanti kamu belajar inventori ya sama Yans di gudang belakang hari ini data harus ke kumpul soalnya”


“Okey” akan ada pengalaman baru ini tentang ia bekerja di tempat kerjanya. Tidak hanya hubungan semua hal memang harus belajar untuk di bawa keluar zona nyaman, bukan berati kita bosan kita mudah menyerah. Hidup hanya sekali semua serba pilihan jika tidak belajar dari sekarang kapan kita akan mengetahui luasnya dunia apalagi dunia pekerjaan.

__ADS_1


Gilang juga masih memikirkan bagaimana keadaan Emma sekarang. Sama yang difikiran Gilang saat hari libur seperti ini mereka sering melakukan hal yang positif, tidak Gilang tidak Emma mereka saling membuat sesuatu hal yang bisa dikenang. Jika mereka sudah merasa lelah dengan olahraga


mereka terkadang mereka juga berkunjung ke danau walau hanya sejenak itu bisa melepaskan beberapa kilo beban fikiran mereka.


PANGGILAN SUARA


“Halo Xel”


“Kenapa Gilang...”


“Maaf merepotkan, kamu lagi kencan kah dengan Gebby?”


“Iya tapi tidak sekarang”


“Aku bisa minta tolong nggak?”


Tatapan mata Exel sedikit tajam semenjak mereka Long Distance Relationship Exel menjadi jembatan mereka disaat seperti ini tapi dengan senang hati Exel akan membantu hubungan temannya ini menjadi baik


kembali. Exel juga selalu memposisikan kepada dirinya dan Gebby bagaimana jika


ini terjadi padanya.


...


Keadaan terlihat begitu tegang di rumah sakit saat sedang menunggu Wanda persalinan, Nita berusaha menelfon Gilang untuk segera datang kerumah sakit. Moment yang paling mendebarkan menunggu persalinan dan akan


Sedari tadi Rio sudah siaga berada di dalam ruang persalinan untuk menemani istrinya yang sedang berjuang untuk mengeluarkan anak mereka. Wajah yang penuh keringat usaha yang begitu keras yang sedang Wanda lakukan.


Nita ingin Gilang hadir disini dan ingin menyaksikan langsung bagaimana perjuangan seorang Ibu untuk melahirkan anaknya dengan seperti itu Gilang tidak mudah membantah atau tidak menuruti permintaan dari seorang Ibu.


“Udah Ma tenang aja dulu Gilang pasti kesini kok”


Terdengar suara tangisan bayi yang begitu keras dan suara Rio yang sedang mengucap syukur atas lahirnya anak pertama Rio. Nita tidak bisa membendung air mata itu rasanya ia ingin masuk dan memeluk Wanda. Setelah semua ditangani oleh suster dan dokter Wanda keluar dari ruang persalinan dan di


pindah di kamar rawat inap.


Terlihat juga saat Rio keluar dari ruang persalinan wajah bahagia sangat terlihat ia begitu bersyukur dan memeluk kedua mertuanya itu.


...


Emma sedang menemui kurir makanan yang berada di depan rumah. Emma tidak merasa memesan makanan dan minuman ini tapi kurir makanan itu mengatakan


“Jangan sedih terus semua akan baik-baik aja kok Mbak”

__ADS_1


Tanpa menunggu lama lagi setelah makanan dan minuman itu berada di tangan Emma kurir tadi langusung meninggalkan rumah Emma dan Emma masih belum mengerti apa maksud dari semua ini. Emma berjalan masuk ke dalam rumah dan membaca surat yang ada di dalam kantong minuman itu.


Emma duduk di meja belajarnya sambil mencoba menghapus air mata yang masih tersisa di mata indah Emma itu. Jika Gilang tahu yang sebenarnya ini tidak akan pernah dibiarkan, air mata Emma tidak boleh terbuang sia-sia karena ulah nakalnya Gilang.


“Maaf semua bisa aku jelaskan kok, Gilang”


Permintaan tolong Gilang tadi kepada Exel hanya untuk mengantarkan makanan dan minuman kepada Emma dan pesan itu ditulis degan tulisan tangan Exel. Emma membuka ponselnya dan ada beberapa pesan yang belum ia buka dari Gilang


“Selamat pagi sayang”


“Hari libur di buat istirahat aja ya”


“Maaf, semua bisa aku jelaskan Emm tolong balas pesanku”


Dengan kelapangan hati Emma ia mencoba menelfon Gilang untuk meluruskan masalah mereka tapi tidak bisa dipungkuri juga Emma masih memikirkan suara Fio yang tiba-tiba ada dikamar Gilang.


Dua kali Emma menelfon Gilang tapi tidak ada jawaban, hampir seharian ia berada dikamar dan belum kesentuh dengan makanan akhirnya Emma memutuskan untuk menghabiskan makanan yang dipilihkan oleh Gilang tentunya itu menu kesukaan Emma. Emma juga bingung harus bagaimana ia menghadapi masalah yang seperti ini, suara Fio itu yang membuat ia jengkel tapi tidak bisa marah lama-lama dengan kekasihnya. Itu hanya sekotak nasi putih dengan ayam pedas


kesukaan Emma yang biasa ia makan bersama Gilang semua bersama Gilang semua


tentang Gilang.


Emma mulai bangkit dan melapangkan segala hatinya untuk kebaikan hubungannya dengan Gilang. Gilang membalas pesan Emma dan ia berkata nanti malam ingin melakukan panggilan video lagi karena sakarang Gilang sedang buru-buru kerumah sakit untuk melihat keponakan gantengnya itu. Emma terkejut membaca pesan Gilang ternyata anak Kak Wanda sudah lahir dalam hati Emma ia ingin sekali berkunjung kesana melihat langsung keponakannya itu.


“Aku sayang kamu Emma”


Tidak akan pernah kata itu terlewat yang Gilang ucapkan untuk kekasihnya.


...


Masalah Emma akan selesai satu persatu. Setelah Erik memeriksa dan membenarkan materi presentasi, hari libur itu Erik gunakan untuk bertemu dengan client dan beberapa investor di suatu kafe. Cara Erik untuk


mendapatkan hati mereka sangatlah mudah, Erik juga sudah begitu lama terjun


didunia yang seperti ini dan prinsip Erik semua bisa di selesaikan dengan


kepala dingin apapun itu yang terjadi setidaknya semua diselesaikan dengan tenang.


Investor dan client Wijaya Group sedang berusaha mempercayai Erik dan Erik juga sedang memperlihatkan kembali materi yang kurang benar kemarin, hanya sebagaian jika mereka mempercayainya kembali lusa atau kalau tidak minggu depan Emma bisa mempresentasikannya lagi.


“Sekali lagi saya atas nama Wijaya Group mohon maaf Pak ini memang kelalaian dari kami semoga Bapak masih mau untuk melakukan kerja sama ini”


Dengan teliti investor memeriksa agenda keuangan yang akan dipakai untuk pembuatan program ini. Sepengetahuan Erik beliau sudah begitu lama menjadi investor Wijaya Gruop, maka dari itu Erik mencoba meyakinkan mereka kembali.

__ADS_1


Masih ingin menjadi malaikat untuk Emma, dengan ini semua Erik juga ingin memperbaiki nama baik Emma dimata atasan Wijaya Group dan dengan secepatnya nama Emma kembali menjadi nama karyawan yang baik. Seperti inilah jika seseorang sudah begitu jatuh hati kepada lawan jenisnya apapun akan ia lakukan demi kebahagian orang yang ia cintai. Erik juga berusaha menyimpan rapi perasaannya itu ya jika suatu saat perasaannya ini diketahui oleh Emma itu sudah takdirnya.


Semua akan dibicarakan lagi lusa sekaligus untuk penentuan presentasi ulang. Setelah membahas itu semua Erik melanjutkan kegiatannya dengan berbincang santai dengan mereka, ini hal yang biasa dilakukan dalam dunia perkejaan.


__ADS_2