
Gilang sedikit bercerita di tempat itu bahwa ia dulu pernah hampir hilang karena lepas dari pengawasan Wanda. Saat itu kata Gilang, Wanda sedang membeli minuman dingin dan Gilang sudah tidak sabar untuk bermain komedi putar karena Gilang terpana dengan kuda yang sudah naik turun.
Gelak tawa Emma terdengar begitu nyaring, Gilang juga mengikuti suara tawa Emma. Bahagianya Gilang melihat kekasihnya bisa tertawa lepas di tempat wisata sekaligus tempathiburan ini. Tidak boleh terlewatkan moment yang penting adalah mengabadikan foto di ponsel Emma. Setiap ada tempat yang bagus dan lucu Emma berdiri di depannya meminta Gilang untuk mengambil gambar begitu juga dengan Gilang dan sampai mereka mengambil gambar berdua.
Tangan kanan dan diri Emma sudah penuh dengan gula-gula kesukaan Emma sedangkan Gilang membawakan tas jinjing Emma. Betapa bahagianya saat itu mereka andaikan ini bisa terjadi hingga besok mereka akan menyisihkan segala keperluan untuk kebahagian mereka. Emma tidak memikirkan tentang jarak menyimpan semua air matanya untuk ia keluarkan bila Gilang berulah nakal padanya.
Sangat tidak terasa memang hari itu berjalan dengan cepat matahari sudah hampir berpindah posisi di bagian barat dan tempat hiburan itu juga sudah hampir sepi pengunjung.
Emma mengingatkan kepada kekasihnya bila ia ada janji untuk makan malam bersama Wanda, Emma menjadwalkan ulang untuk makan bersama Wanda, sebelum berpindah tempat Gilang mengajak Emma ke kafe untuk mengambil barang Gilang. Saat itu Emma memutuskan untuk makan malam sekalian di kafe itu.
Banyak percakapan yang tidak ditulis dalam part ini karena Emma dan Gilang begitu merasakan moment yang istimewa tidak ada rayuan yang Gilang katakan untuk kekasihnya mereka hanya memang butuh waktu berdua untuk mengisi celengan moment mereka.
Tapi ketika mereka sedang berjalan ke kafe terlintas di pikiran Emma tentang hubungannya.
"Lang, ini sampai kapan?" tanya Emma yang menaruh dagunya di atas pundak Gilang.
"Apanya yang sampai kapan sayang?"
"Hubungan jarak jauh ini, aku masih tidak yakin dengan Fio bila nanti aku sudah kembali ke kotaku" jawab Emma dengan nada sedih
"Loh tadi kan sudah senang-senang kenapa sekarang jadi sedih gini?" Gilang mulai bingung
"Ya kan semua bakal ada akhirnya Lang, lalu akhir dari hubungan kita ini bagaimana?"
"Loh ya nggak usah ditanya lah Emm, akhir dari hubungan ini ya menuju pelaminan kenapa kamu masih ragu? "
"Ehehe memastikan aja kok sayang kamu udah tegang gitu" Emma mengalihkan pertanyaan Gilang yang sebenarnya sedang menyimpan keraguan tentang Fio yang tidak Gilang jawab. Gilang masuk kedalam sela jari Emma untuk menggenggamnya, Gilang makin mempercayai kekasihnya jika akhir dari hubungan ini akan menginjak ke pelaminan dengan berjanji akan mengikat Emma secepatnya.
Emma jadi merasa bersalah dan membuat beban pikiran baru untuk Gilang, dalam segi keuangan Gilang masih
dibilang krisis. Lagi, Emma menaruh dagunya di pundak Gilang lalu berkata tidak usah diambil pusing Emma hanya memastikan saja dan Emma berkata jalani semua ini satu per satu Emma bakal menunggu Gilang.
...
Cornelia duduk di mobil Erik sambil menghadap ke arah jalanan yang ramai lalu lalang. Erik masih terdiam belum mengatakan apapun saat mereka sudah keluar meninggalkan gedung Wijaya Group. Cornelia tidak ingin
memulainya karena ia sudah merasa bersalah atas sikapnya yang membuat Erik harus menanggung semuanya.
"Gimana tadi presentasinya?" akhirnya Erik membuka mulutnya untuk memulai pembicaraan
"Lancar, client juga langung tanda tangan kontrak sama Pak Miko"
"Nggak lama kamu juga kayak Emma, di rekrut jadi pegawainya Wijaya Group" nama Emma yang keluar dari mulut Erik membuat Cornelia langsung sontak melihat kearah Erik.
__ADS_1
"Semoga aja Mas.." jawab Cornelia datar dan perasaan hati sedikit berubah
"Kamu kenapa hari ini?" Erik langsung ingin tahu tentang anak magangnya ini
"Nggak papa, aku merasa mengganggu hubungan orang aja" jawab Cornelia yang makin membuat teka-teki terhadap Erik, jelas Erik bingung dan langsung mengeryitkan dahi. "Tadi pagi nggak sengaja liat fotomu sama Mbak Emma" kata Cornelia lagi sambil melihat kearah bawah
Erik paham yang dimaksud dengan Cornelia dan Erik juga langsung menjelaskan seperti yang Exel jelaskan di kantin tadi. Tapi itu masih tetap membuat hati Cornlia tersayat.
"Jangan bilang kamu..." Erik bertanya dengan nada yang sedikit meledek
"Apa si Mas.. ya enggak kan nggak mau aja ganggu hubungan orang lain apa lagi kalian kan lagi jarak jauh"
"Ke kedai ice cream yang baru buka yuk, mau?"
"Terserah..."
Erik tertawa melihat anak magangnya yang masih terlihat seperti anak SMA suka ngambek nggak jelas dan maunya di sayang di kejar terus. Tidak banyak bicara lagi Erik langsung tancap gas untuk mengunjungi kedai ice cream yang baru saja buka untuk meredamkan api yang sedang bersarang di diri Cornelia. Malam ini Erik dan Cornelia mau menghabiskan waktunya di kedai ice cream sambil meluruskan yang sekarang menjadi permasalahan berati bagi Cornelia.
...
Setibanya Gilang dan Emma di kafe, Gilang langsung masuk kedalam ruangannya dan Gilang menyuruh kekasihnya mengambil tempat yang nyaman sambil menunggu kedatangan Wanda. Emma sedikit tidak enak
hati kepada Wanda karena sudah merubah jadwal jam makan bersamanya. Wanda memahami Adik Iparnya yang sedang memenuhi celengan moment bersama Adik kandungnya.
Karyawan disana sudah melihat kedatangan Emma dan Gilang yang tak biasa, saat Emma memasan di kasir pun
"Titip meja ku yang di pojokan itu ya Mbak mau ke toilet dulu"
"Untuk berapa orang Mbak Emm?" karyawan kafe itu dengan cepat mengetahui nama kekasih Gilang
"Tiga aja kok" Emma langsung berjalan menuju toilet.
Disisi lain saat Emma memesan dikasir perasaan Emma tiba-tiba aneh seperti sedang ada yang pemperhatikan tapi Emma tidak terlalu memikirkan ia anggap itu teman Gilang yangterheran-heran melihat Emma sama seperti yang lainnya.
Emma bergegas untuk jalan ke arah toilet untuk buang air kecil dan sedikit membenarkan dandannya. Di dalam toilet Emma masihada perasaan tidak enak dengan Wanda karena sudah merubah jadwal pertemuannya.
Keluar dari toilet, di area wastafel ada seseorang perempuan berdiri tegap dan membenarkan rambutnya, Emma sedikit kaget karena tidak ada suara tidak ada pertanda apa-apa perempuan ini sudah berdiri di depan kaca dan wastafel.
"Jika kamu pulang kamu jangan harap hubungan kamu akan aman-aman saja" perempuan itu menyeletuk sebuah kata yang membuat Emma terkejut
"Ohh perasaan ku dari tadi enak itu ternyata dari aura perebut kebahagian orang ini"
"Hubungan jarak jauh itu tidak akan terjadi dengan lama, secepatnya Gilang akan jatuh dipelukan aku" perempuan
__ADS_1
itu adalah Fio yang dari tadi sudah duduk dikafe itu sendirian. Ini semua hanya kebetulan, saat Gilang tiba Fio baru mengetahui jika Gilang bekerja di kafe ini.
Emma mencoba mendekatkan dirinya dihadapan Fio dan mengancam hidup Fio tidak akan tenang bila terus menganggu Gilang dan keluarga. Emma meninggalkan Fio dan bersumpah pada dirinya akan menjaga Gilang
sampai kapanpun Emma tidak akan terima.
Pesanan Emma sudah disajikan dimejanya dan terlihat disana ada Wanda beserta Mama Papa Gilang, Emma terkejut dan mulaimerubah mimik wajahnya supaya keluarga Gilang tidak curiga dengan mimik wajah Emma yang kesal dengan Fio
Sedangkan Fio melihat keluarga Gilang dan Emma duduk bersama, rasa tidak terima itu terus muncul di diri Fio. Dengan sigap Fio meninggalkan kafe.
Tak lama dari itu Gilang menyusul keluarganya di meja yang sudah di pesan Emma, malam itu Gilang dan keluarga makan malam bersama dan Bu Yarin ikut serta didalamnya sambil di kenalkan dengan Emma.
Bahagia sekali hari itu untuk Gilang dan Emma tapi disisi lain Emma masih memikirkan cara bagaimana ia bisa menjaga Gilang dan keluarganya dari gangguan Fio, Emma rasa Fio dan Papanya akan terus menganggu keluarga Gilang.
...
"Lalu kamu fikir aku ada apa sama Emma?" tanya Erik yang perlahan menyantap ice creamnya
"Dengan gaya foto yang mesrah dan baju yang serasi bodoh lah aku kalau nggak menganggap kalian ada hubungan lebih" jawab Cornelia yang masih sedikit kesal
"Emang kenapa kalau aku ada hubungan lebih sama Emma?"
Ya aku salah aja naruh hati ke senior dan emang nggak seharusnya"
"Awalnya kamu yang coba mancing-mancing pakek dolce ice sekarang kamu sendiri yang kena pancingannya" jawab Erik yang meledek Cornelia
"Siapa si Mas yang nggak nyaman sama kamu, pun kalau kamu tahu isi hatinya Mbak Emma ya pasti nyaman sama kamu"
"Jadi kamu rela aku diambil Emma?" Erik makin meledek Cornelia
"Apa si Mas..." wajah cemberut Emma makin kembali terlihat.
Fikiran jenuh Erik sudah sebagian terangkat dengan senangnya ia menggoda anak magangnya yang lucu ini, untuk masalah dengan Pak Miko sudah hampir selesai besok Erik kembali perbaiki semua sudah beres. Erik dan Cornelia sudah tidak perlu lagi sembunyi tentang perasaan mereka masing-masing, tanpa pengungkapan mereka sudah paham dengan keadaan seperti ini.
Sama, Cornelia dan Erik menikmati malam mereka dengan ice cream cup mereka masing-masing bedanya mereka tidak ada rasa kekhawatiran. Setelah cup ice cream mereka habis mereka langsung bergegas untuk pulang karena barusan saja orang tua Cornelia mencarinya.
"Besok-besok coba menu lainnya ya" Erik mengacak-acak rambut Cornelia
"Hmmm" jawab Cornelia dengan suara manjanya yang makin membuat Erik gemas.
Dijalan Erik berulang kali melirik kearah Cornelia ia tidak bisa bayangkan bagaimana nantinya jika mereka bertemu apakah Cornelia tetap seperti anak kecil yang mengerek dan cemburu nggak karuan.
"Jangan ngeliatin gitu ahh" kata Cornelia yang memecahkan tatapan seriusnya Erik.
__ADS_1
Erik mencoba memegang tangan anak magangnya ini berharap di balas dan memang langsung dibalas dengan genggaman yang begitu erat, sangat pertanda sekali jika Cornelia tidak ingin Erik pergi atau lepas genggaman itu.
***