
Suasana dikantin kantor sedikit berubah di hadapan Exel dan Erik sekarang adalah Cornelia yang sibuk dengan tab yang sekarang bisa ia bawa kemana-mana.
"Udah hubungi Emma belum?" Exel bertanya sambil melahap makan siangnya
"Udah Xel ini habis dapet arahan dari dia" Cornelia begitu fokus dengan pekerjaannya. Ia sudah mulai terbiasa saat kuliah yang tidak selesai tidak boleh menyentuh yang lain.
Erik tampak tenang dengan makan siangnya. Ia berada di situ karena atas pinta Cornelia yang dari tadi diruangan sudah merengek untuk di temani makan siang
"Makan dulu lah, kamu tadi ngerengek minta di temani sekarang masih fokus sama kerjaan" Erik bernada datar tapi membuat Cornelia salah arti.
"Ehehe iyaa, datar banget si kamu"
"Habis ini ikut aku nemuin client"
"Iya loh Rik di grup pesan udah pada heboh tanyain client baru kok nggk di temuin" tambah Exel yang memperjelas situasi.
Cornelia meletakan tabnya membenarkan posisinya dan segera menyantap satu piring nasi di hadapannya. Erik sedikit melirik kearah Cornelia memperhatikan gerak gariknya saat makan. Cantik, dia perempuan si tapi beda aja sama Emma mereka memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Exel berpamitan untuk meninggalkan kantin duluan karena di ruangan kertas dan segala program sudah menantinya. Exel lagi berusaha untuk kerja keras karena Gabby sudah minta dilamar, kata Gabby sudah waktunya. Oke, mulai kemarin Exel dan Gabby sudah berjanji akan lebih giat bekerja.
"Kamu nggk tanya Emma lagi ngapain?" Erik mencari bahan obrolan karena Cornelia kalau makan sangat diam dan terlihat cantik sekali
"Ya nggak lah mana berani aku tanya sampai sana, tapi kayaknya suasananya lagi tenang gitu kayaknya lagi istirahat"
"Yaudah buru habisin habis itu ikut aku" Erik yang menyuruh Cornel untuk bergerak lebih capat. Cornelia melirik ke arah Erik sambil menatap dalam Erik. Lelaki tampan datar yang sudah membuat jantungnya berdegup kencang.
Berjalan di samping Erik dengan langkah yang seirama sambil membawa tab di tangan kananya berserta beberapa tumpukan notebook yang siap untuk catat mencatat.
Client baru yang baru saja ingin bergabung dengan Wijaya Group, ini hal pertama yang harus Cornelia hadapi. Didepan client baru Erik mempersihlakan Cornelia untuk mengarahkan dan menjelaskan tentang standart untuk pembuatan program dan lain hal.
Erik sangat menamati bagaimana Cornelia menghadapi orang baru bahkan mampu mempercayai client itu sampai tidak sedikitpun client tersebut memutus kata perkataan Cornelia.
Jika ini Emma, mungkin masih akan dibantu dengan Erik. Erik menggelengkan kepalanya untuk mengusir bayangan Emma di kepalanya. Tidak lama Erik juga menambahkan beberapa point penting untuk standart pembuatan. Semua memang tidak terjadi begitu saja, client meninggalkan kartu nama lalu meninggalkan kantor wijaya group.
Cornelia menghela nafas panjang, dalam hatinya ia bangga dalam dirinya sendiri mampu menangani client baru dan tidak banyak dapat bimbingan dari Erik.
Erik ini kenapa si, dia nggk mau Cornelia punya perasaan lebih tapi memandangi anak magangnya dengan dalam
__ADS_1
"Iyaa aku tahu, pasti mau bilang aku hebatkan" sedikit menyombongkan dirinya untuk mengalihkan pandangan Erik kepada Cornelia. Di sisi hati yang paling dalam Cornelia sudah ada perasaan beda terhadap Erik tapi ia tahan sampai ada waktunya sendiri.
Erik diam dan beranjak dari tempat itu lalu kembali keruangan untuk melanjutkan pekerjaannya. Erik tiba-tiba salah tingkah sendiri.
"Aku ada yang salah ya Rik?" tanya Cornelia setibanya mereka di ruangan
"Enggak, kerja bagus Cornelia" jawab Erik sambil melempar senyum paksa. Cornelia juga membalas senyum paksa itu dan duduk di kursinya lalu kembali ke pekerjaannya.
Ada beberapa e-mail masuk dari Emma, banyak sekali yang harus dikerjakan hari ini. Cornelia tidak bisa fokus karena ia benar-banar sedang di mabuk asmara oleh Erik. Tapi semua masih bisa teratasi dengan menggunakan earphone di telinganya dan fokus dalam pekerjaaanya.
...
Mengetuk pintu selama tiga kali. Gilang menyusul Emma yang pulang duluan ke penginapan. Didalam kamar penginapan Emma merasa tegang menunggu kehadiran Gilang, masih sempat berfikir negatif tentang Gilang yang segera menyudahi hubungannya ini. Emma siap dengan segala perkataan yang nantinya keluar dari mulut Gilang.
Emma membukakan pintu dan mempersihlakan Gilang masuk. Setelah sekian lama mereka menantikan hal ini dengan berbagai macam masalah kebohongan yang sedang mereka simpan rapi dan sebentar lagi akan terbongkar.
Gilang duduk di ujung tempat tidur dan Emma duduk di kursi pojokan dengan sangat tidak santai. Canggung, bingung dan harusnya gak boleh canggung.
"Aku bawain ice chocolatenya lagi" Gilang menyodorkan ice kepada Emma.
"Hehe iya aku lagi suka ice chocolate" jawab Emma sambil memberikan tawa manjanya untuk Gilang. Emma sangat tidak tahan tapi sepertinya Gilang masih ada suatu hal yang tertahan
Gilang : Maaf aku memang lagi sibuk-sibuknya
Emma : Iyaa aku mengerti kok Lang, dikafe kamu sama Fio juga?
Gilang : Aku kerja di kafe itu sudah lumayan lama untuk tambahan aja tapi sekarang aku sudah keluar dari perusahaan Deni
Emma : Dan Fio masih ngikutin kamu?
Gilang : Kenapa si Em?
Emma : Kamu tanya kenapa? Salah kayanya aku dateng kesini
Gilang : Selesaikan semua sekarang disini. Keluarin apa yang buat kamu nggak mau hubungi aku beberapa minggu ini
Emma : Kamu pikir dengan aku mendapatkan omongan tentang Fio aku bisa tenang? Dari awal aku memang tidak pernah mau menginginkan hubungan ini Lang
__ADS_1
Gilang : Aku selalu berusaha Emm aku juga minta tolong dukungannya jangan aku aja.
Emma : Nggak lama juga Fio buntutin kamu kalau nggak sekarang kamu sembunyikan dia karena tahu aku datang kesini
Gilang : Semenjak aku sama kamu tiga tahun lalu harusnya kamu sudah menetapkan kepercayaan untuk aku dan untuk kamu sendiri. Aku tahu Emma ini aku yang buat, aku buat hubungan yang super beda dan belum bisa kamu terima. Aku juga bingung Emm sekarang aku sudah keluar dari kantor Deni dan masih aja kamu bilang yang enggak-enggak
Emma terdiam tidak lagi menjawab perkataan Gilang dan akhirnya semua tumpah dalam tetesan air matanya. Gilang sangat mengerti hal itu, Gilang mulai mendekat dan memeluk erat kekasihnya ini. Bau badan Gilang membayar hutang rindu Emma dan bau harum rambut Emma juga meredam emosi Gilang.
Tetap memberi ketenangan untuk kekasihnya dan perlahan mereka bicarakan lagi. Benar kata Gilang harusnya kepercayaan itu selalu ada dimanapun mereka berada, ini semua hanya Emma yang belum biasa menjalankan hubungan yang super beda ini.
Masih sesenggukan, Gilang memberikan segelas air mineral untuk makin membuat Emma berhenti menangis. Gilang mulai paham Emma sedang terbalut kelabilan dan mungkin sedang mendengar yang tidak-tidak tentang hubungan LDR ini.
Gilang : Ini akan terus berjalan Emm sampai aku berada di titik yang pas untuk meminta kamu. Aku tidak berkata aku ingin menyerah tetapi jika kamu sudah merasa tidak sanggup kamu bisa dan boleh untuk berhenti sekarang. Aku tidak suka keterpaksaan Emm, kamu tahu kan?
Emma : Sampai kapanpun aku tidak akan rela kamu terbagi ataupun aku membaginya. Jangan memandang aku seakan ingin menyerah sekarang, perlahan aku akan lebih mengerti Lang.
Gilang : Maaf ya sayang aku jadi emosi sama kamu, akhir-akhir ini memang banyak pikiran jadi aku nggak bisa kontrol
Masih dalam pelukan Gilang, Emma memohon kepada Gilang untuk tidak pulang malam ini temani Emma di kota baru Emma dan masih banyak masalah yang harus mereka selesaikan, cerita kehidupan masalah masa depan dan memberi kekuatan satu sama lain.
Berdiri di balkon kamar sambil menatap langit yang sedang di hiasi banyak bintang kecil dan bulan yang sedang menerangi kota itu serta balkon kamar Emma. Suasana mulai reda kembali, Emma menghampiri Gilang lalu memeluknya dari belakang. Biasaya ini yang sering melakukan adalah Gilang saat di kostan tapi sekarang Emma yang seakan tidak ingin kehilangan Gilang.
“Kayaknya kamu juga ada hal yang mau kamu bahas ya sayang” kata Emma yang masih dalam pelukan Gilang
“Iya, tapi kok rasanya sayang untuk di bahas sekarang malamnya lagi berdamai dengan kita” Gilang membalikan badannya dan melihat wajah Emma lebih dekat. Memang sayang si jika Gilang megeluarkan segala uneg-unegnya tentang Erik, mereka lagi berdamai banget.
“Nggak papa sayang habis gitu kan udah lega kita bisa di lanjut buat malam yang hangat ini” Emma memang pintar merayu Gilang.
Malam itu Gilang mengeluarkan semua apa yang membuatnya mengganjal kemarin lebih-lebih saat ia melihat foto Emma bersama Erik. Mesrah sekali, Gilang saja jarang melakukan hal yang seperti itu. Memang susah untuk memberi penjelasan kepada Gilang yang sedang di landa ketidak percayaan diri terhadap semua hal.
“Mungkin kamu sedang tidak berada di posisi seperti itu, di tanya tentang hubungan beda ini lalu dia datang untuk mempercayai hubungan beda ini Lang” jelas Emma yang masih berdiri di balkon kamar sambil melihat Gilang dengan mata yang lelah
“Lalu kamu lebih percaya dengan dia dari pada aku pacar kamu?”
“Nggak sayang. Keadaan waktu itu dan sekarang begitu berbeda, ya benar apa kata kamu aku hanya belum siap aja untuk menjalani hubungan yang beda ini, sekalian aku kenali ya. Dia partner kerja aku yang baik sekali sama aku dia dan Exel yang selalu memberi aku semangat saat aku sedang patah semangat”
Semua itu berakhir dengan pelukan di dalam selimut dan menikmati malam yang hangat sambil membelai manja rambut Emma sampai Emma hampir tertidur. Malam ini menjawab semua keresahan Gilang dan Emma, walaupun ada beberapa emosi yang masih meluap di atas tempat tidur tapi semua demi menyelesaikan masalah yang selama ini membuat mereka tertahan atas ketidak komunikasian mereka selama beberapa minggu ini.
__ADS_1
***