
Tiga tahun lalu saat semua masih terasa hangat Gilang masih dalam pantauan Emma dan sebaliknya membuat mereka minim dalam hal pertengkaran. Mereka masih bisa meredam jika ada yang cemburu karena ketidak percayaan diri mereka, mereka masih bisa melakukan hal lain untuk mengurangi rasa cemburu mereka tapi semua itu tidak selalu damai aman dan tentram begitu saja.
Kedekatan Emma dengan mahasiswa prodi lain juga pernah membuat Gilang hampir membunuh orang tersebut. Terkesan lebay tapi itu yang pernah di tanamkan oleh Emma dan Gilang selalu merasa tidak terima jika
cintanya terbagi ataupun harus berbagi.
Vino, mahasiswa psikologi yang mencoba mendekati Emma dengan selalu modus meminta pertolongan kepada Emma untuk mencarikan teman atau orang untuk menjadi pasiennya. Yang dilihat Gilang adalah Vino terlalu berlebihan sampai berani mengajak Emma makan malam.
Emma yang sedang berkunjung ke kost Gilang untuk menyelesaikan tugas bersama, dengan tidak sengaja Gilang membaca pesan masuk yang ada di ponsel Emma. Hari itu Gilang bersumpah jika esok bertemu dengan
Vino ia tidak akan bisa datang ke kampus lagi.
“Sudah lah Lang lagian aku juga nggak nanggepin”
“Kamu meremahkan perasaan aku Em? Seolah kamu rela membagi perasaan ini”
“Membagi yang gimana? Nggk usah sensitif malu sama sikap dingin mu”
“Hubungannya apa?”
“Nggak tahu, hahaha sudah lah sayang Vino cuma minta tolong aja sama aku dan aku nggk menganggap semua lebih” sela canda Emma membuat Gilang bisa meredam emosinya. Gilang berusaha percaya kepada kekasihnya dan tidak menganggap semua ini berlebihan. Melihat Vino berkeliaran di area kampus pun Gilang tidak terpancing emosinya karena ia percaya, Emma tidak akan setega itu dengan Gilang.
Kedekatan yang membuat semua menjadi aman begitu juga Emma masih dalam ukuran aman kalau Gilang masih dalam pantauannya. Tidak ada masalah yang parah diantara mereka, tapi ketika semua harus berurusan dengan jarak mereka menjadi seperti ini.
...
Dua hari mereka tidak berkomunikasi, Gilang yang mencoba langsung menghubungi kekasihnya itu tidak ada jawaban pangiilan di tolak begitu terus setiap harinya. Emma masih belum mau memikirkan hal itu terlalu dalam karena hari ini Emma sedang presentasi ulang bersama investor dan clientnya.
Gilang meminta pertolongan lagi dengan Exel, bantu bicara untuk masalah ini. Di depan ruang meeting Exel sedang berbisik di balik
ponselnya itu. Ia menjelaskan keadaan Emma sekarang masih sama dengan Emma yang
kemarin tapi Emma lebih pendiam dan sering fokus dalam pekerjaannya. Gilang
hanya mendapat kabar dari Exel dan setidaknya bisa menenangkan ke khawatirannya selama dua hari ini.
Gilang melanjutkan pekerjaannya dirumah dan setelah itu datang ke kantor Deni agak siangan saja, ia ingin lebih santai saat bekerja
dengan Deni.
Exel masuk kedalam ruangan meeting dan tidak sengaja bertatapan mata dengan Emma, sepertinya Emma tahu dengan siapa temannya menerima telfon. Emma tidak menghiraukan temannya dan melanjutkan presentasi yang tidak ingin gagal kedua kalinya dengan di dampingi Erik supaya Erik bisa membantu Emma.
...
PANGGILAN MASUK
“Kok kamu nggak keliatan di kantor?” saat serius mengerjakan projek dari Bu Yarin ponsel Gilang berdering, panggilan masuk dari Fio
“Nanti siang, kenapa?”
__ADS_1
“Di cari sama Papa”
“Masih revisi program”
“Ada hal penting yang mau di bicarakan sama kamu?”
“Obrolin by phone nggak bisa?”
“Lang, sejahatnya Papa aku kamu harus tetep sopan”
“Jangan minta di hargai kalau kamu dan Papa kamu nggk bisa menghargai orang lain”
Selalu ada saja yang dipermasalahkan, masih mau cari pekara sama Gilang. Tidak, Gilang tidak mudah terpancing ia masih fokus mengerjakan projeknya dan hari ini ia libur bekerja paruh waktunya.
Untuk masalah Emma mungkin Emma masih butuh waktu untuk menenangkan fikiraanya. Disisi lain ia juga berfikir jika ini salah satu salah Gilang yang tidak bisa membuat Emma percaya dengan hubungan yang beda ini.
Dengan tiba-tiba Nita masuk kedalam kamar Gilang sambil membawakan cemilian kesukaan Gilang. Sudah lama Nita tidak berbincang dengan anak bungsunya ini, ia masih disibukkan dengan cucu pertamanya. Nita duduk di pinggir kasur dan meletakan cemilan itu di meja samping tempat tidur Gilang.
Gilang fokus mengerjakan projeknya sambil menyiapkan alasan jika di tanya kenapa ia tidak berangkat ke kantor Deni. Dengan hembusan nafas dalam Nita mulai berbicara tentang yang selama ini menghantui fikirannya dan yang sekarang menjadi beban bagi Gilang juga.
“Mama itu sudah janji dan dari awal memang tidak ingin merepotkan orang maka dari itu menjadikan semua ini hutang bagi Mama”
“Tapi tidak haruskan Gilang bekerja dengannya?”
“Lalu dari mana kamu bisa mendapat penghasilan Lang?” Gilang membalikan badannya dan berbicara lebih serius dengan Nita.
“Gilang cuma mau Mama percaya sama anak laki-lakinya ini, Gilang bisa apalagi Gilang lakukan semua ini demi Mama, Gilang ninggal Emma demi siapa?”
“Gilang pengen Mama tidak usah terlalu obses dengan Deni, yaa...”
Nita menitihkan air mata atas semua masalah yang merasa bembenani dirinya. Di dalam pelukan Gilang Nita sadar tidak seterusnya ia
berada bawah naungan atau bersujud di kaki Deni. Nita hanya berlebihan untuk
masalah bantuan hidupnya itu.
“Ini hanya kamu yang tahu Lang masalah Mama dengan Om Deni” dengan rintihan air mata Nita perlahan menceritakan sesungguhnya kepada anak
bungsunya. Gilang berpindah duduk disebelah Nita untuk bisa menenangkan
mamanya.
“Dulu, Mama sempat ada hubungan yang belum terselesaikan dengan Deni. Entah dari mana ia bisa tahu tentang ekonomi rumah tangga Mama dan sampai akhirnya ia memberi Mama sebuah pilihan untuk kembali kepadanya atau berhutang dengannya sampai semua kebutuhan rumah tangga kita terpenuhi”
“Lalu bagaimana dengan Papa?” Gilang terheran mendengar cerita dari Nita itu
“Papa hanya tahu ini semua murni hutang keluarga kita dan sudah berjanji juga untuk memperkerjakan kamu di perusahaannya dengan persyaratan itu tadi” masih menitihkan air mata Nita terus menceritakan kepada Gilang, perlahan ia memeluk Nita yang dari tadi bercerita sambil menitihkan air
mata.
__ADS_1
“Gilang mau Mama percaya sama semua usaha Gilang, lupakan Deni kita akan hidup lebih tenang Ma tanpa Deni” pelukan anak bungsunya membuat Nita berusaha lepas dari bayang-bayang perjanjian itu dan selama ini Gilang juga selalu menuruti apa yang Nita mau.
Semua sudah jelas tidak ada yang perlu di fikirkan tidak ada yang perlu di bayangkan semua akan ada jalan keluarnya dengan segala kekuatan dukungan semangat dari keluarga besar.
Berkumpul di kamar Wanda bermain dengan keluarga baru mereka, bayi laki-laki yang akan meruskan darah IT di keluarga Hermawan. Makin ramai jika Emma ikut serta dalam keluarga kecil Gilang, belajar sedikit tentang cara berumah tangga. Maafin Gilang Em...
...
Presentasi berjalan dengan lancar hati Emma begitu lega semua suka dengan presentasinya lebih-lebih mereka juga suka dengan contoh
program yang akan di jalankan dan mereka juga sudah punya deadline untuk
launching program tersebut.
Membereskan laptop berserta notebooknya Emma berjalan keluar ruangan dengan lemah gemulai sambil memeriksa ponselnya yang masih penuh dengan pemberitahuan pesan dari Gilang. Sambil berjalan keruangan Emma berfikir jika harus mengakhiri hubungan yang sudah mereka bangun tiga tahun lamanya.
Makin lama Emma makin merasa dirinya tidak mampu untuk menerima hubungan yang beda ini, ia tidak bisa jika terus terbayang dengan omongan Nita
dan Fio yang tiba-tiba masuk ke kamar Gilang. Berdamai dengan diri sendiri
masih susah untuk dilakukan Emma.
Makan siang di luar kantor menjadi salah satu cara untuk menenangkan diri Emma, tidak menghiraukan sapaan Exel dan pertanyaan dari Erik. Tidak ingin makan siang lama-lama karena hari ini Emma akan datang ke acara ulang tahun Nabila. Pulang lebih awal rasanya akan lebih baik.
...
Deni melemparkan udangan di meja Gilang. Malam itu Deni diundang oleh salah satu clientnya untuk menghadiri pembukaan anak perusahaan yang ke dua, rencananya Deni ingin mengajak Gilang untuk di perkenalkan kepada semua rekan kerja dan clientnya.
Disusul Fio yang juga menghampiri meja Gilang sambil memebawa dua setel jas lengkap dengan sepatunya. Menunjukan kepada Gilang dan Papanya mana jas yang cocok untuk di kenakan oleh Gilang. Tidak bisa menolak hal itu, Gilang masih mengikuti alur yang Deni buat. Gilang menerima jas itu
dan segera berganti pakaian.
Malam ini Gilang dan Emma akan di sibukan dengan bertemu banyak orang diluaran sana. Perkataan apa yang akan membuat menyinggung mereka dan saling mengingat tentang hubungan mereka.
“Aku harap kamu bisa secepatnya membaik aku butuh kamu banget aku mau menceritakan banyak hal sama kamu dan aku tidak tahu bagaimana caranya
supaya kamu bisa memaafkan aku” pesan Gilang kepada Emma. Gilang berangkat
menuju ke acara itu bersama Deni dan Fio, membuat mood Gilang hancur dan ingin
pulang kembali ke kota Emma.
Dikesempatan seperti ini sangat digunakan bagi Fio ia bisa leluasa menggandeng tangan karyawan Papanya ini. Pandangan Fio malam itu sangat berbeda, di bangku belakang Fio terus menatap Gilang yang berpenampilan lebih keren dari biasanya. Memang aura Gilang saat itu sangat terpancar dengan jas
hitam dan dasi yang sedang dibenarkan oleh Fio.
Tidak sengaja, pandangan mereka hampir saja turun ke hati dan membuat Gilang tiba-tiba keringat dingin, ia menampis tangan Fio yang berada di dasinya dan membetulkan sendiri
“Saya harap kamu bisa fleksible di acara ini karena disana nanti banyak client dan rekan kerja penting saya”
__ADS_1
“Okay” singkat padat dan jelas
***