
Waktu berjalan dengan begitu cepat. Tanpa terasa sudah sebulan Rania bekerja diwarung makan Jaya Makmur. Meskipun Rania sering kali mendapat perlakuan yang sangat buruk dari supervisornya, tapi Rania tidak menyerah begitu saja. Rania selalu mengingat pesan ibunya yang menyuruhnya selalu bersabar dengan segala kesusahan. Dan selama dia berdiri diatas kebenaran, ibu menyuruhnya untuk terus berjuang dan tidak boleh takut. Itulah sebabnya sedikit demi sedikit, Rania mulai berani melawan supervisornya yang bernama Aning itu.
Rania juga memberitahu teman-temannya untuk bisa melawan Aning kalau mereka benar. Tapi tidak ada satupun dari teman-temannya yang berani membantah Aning. Hanya Rania saja yang mampu melawannya. Begitu juga dengan pekerja laki-laki, mereka semua takut dengan Aning. Aning selalu mengancam akan memecat siapapun yang berani melawannya. Sedangkan Rania, meskipun ada kekhawatiran akan dipecat karena dia berani melawan supervisornya, tapi dia tetap melakukannya. Rania melakukannya semata-mata karena dia benar.
Selama sebulan ini, Rania belum pernah sekalipun bertemu dengan Pak Soni Wijaya. Pak Soni yang menurut teman kerjanya sangat tampan dan juga baik. Rania pun mulai merasa penasaran seperti apa Pak Soni Wijaya. Menurut cerita teman-temannya, Pak Soni jarang sekali ke warung makan. Hanya sesekali datang untuk mengecek keadaan warung makannya.
"Kenapa selama sebulan ini aku nggak pernah bertemu dengan Pak Soni? Padahal kata Susi dan juga Dewi beliau beberapa kali datang." Kata Rania dalam hati.
Karena sibuk dengan pikirannya yang masih belum menyadari pertemuannya dengan Pak Soni Wijaya, Rania bahkan mengabaikan teman-temannya yang sedang mengajaknya berbicara.
"Rania, kamu lagi ada masalah apa? Dari tadi ditanya diam saja." Kata Susi sambil menepuk bahu Rania.
"Ng-nggak ada apa-apa kok, he he he." Jawab Rania sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Lalu kenapa kamu diam aja dari tadi. Atau jangan-jangan lagi mikirin pacar kamu yah." Goda Dewi.
"Astaughfirullah. Aku nggak mikirin apa-apa, lagi pula aku juga nggak punya pacar." Jawab Rania tersipu malu.
"Lantas kenapa kamu diam saja?" Timpal Susi.
"Oh itu, aku penasaran sama Pak Soni Wijaya. Selama aku disini belum pernah aku bertemu dengannya. Seperti apa si orangnya?" Jawab Rania dengan polosnya.
Alih-alih menjawab pertanyaan Rania, Susi dan Dewi malah tertawa terbahak-bahak. Mereka tidak menyangka kalau temannya yang satu ini masih belum menyadari pertemuannya dengan atasan mereka, Pak Soni Wijaya. Rania merasa heran dengan teman-temannya, kenapa mereka tertawa terbahak. Puas tertawa, Susi menjelaskan bahwa pria tampan yang beberapa kali bertemu dengan Rania adalah Pak Soni Wijaya, atasan mereka. Susi dan Dewi pernah melihat Rania berbincang dengan Pak Soni. Itu sebabnya mereka tertawa terbahak. Rania tercengang mendengar penuturan temannya itu. Rania pun tersipu malu karena selama ini orang yang dia kagumi adalah atasannya sendiri, Pak Soni Wijaya.
Rania mengagumi pria yang ternyata adalah atasannya sendiri sejak pertama bertemu dengannya tanpa sengaja. Rania pun seketika teringat tentang ucapan supervisornya ketika dia dianiaya oleh supervisornya itu. Pantas saja kak Aning habis-habisan menghajarnya ketika itu. Jadi pria tampan yang dia kagumi adalah Pak Soni Wijaya. Rania jadi semakin penasaran tentang hubungan mereka berdua dan menanyakan hal tersebut pada teman-temannya.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, ada hubungan apa antara kak Aning dengan Pak Soni sih?" Tanya Rania tiba-tiba.
Susi dan Dewi saling berpandangan satu sama lain.
"Jadi, kejadian waktu itu, saat kamu dianiaya oleh mbak Aning karena Pak Soni?" Kata Susi yang malah balik bertanya.
"Iya, tapi waktu itu aku masih belum tahu kalau pria itu adalah Pak Soni Wijaya." Jawab Rania sambil menghela nafas berat. Kedua temannya pun menganggukan kepala tanda mengerti.
"Lantas, ada hubungan apa mereka?" Tanya Rania lagi dengan rasa penasaran.
"Dengar-dengar si mbak Aning menaruh hati pada Pak Wijaya semenjak mereka masih kuliah." Terang Dewi.
"Tapi mbak Aning selalu dicuekin sama Pak Soni. Aku pernah melihat mereka berbicara berdua. Tapi Pak Soni seperti tidak peduli padanya." Kata Susi menjelaskan.
"Kalau menurut aku si yah, perlakuan Pak Soni pada mbak Aning berbanding terbalik dengan perlakuan Pak Soni padamu, Ran." Terang Dewi panjang lebar.
Perbincangan mereka bertiga pun terus berlanjut sampai mereka lupa bahwa malam sudah semakin larut. Saat mereka sadar, meraka langsung berhambur mencari taksi untuk pulang ke rumah masing-masing. Begitu juga dengan Rania, dia langsung naik ketika ada taksi yang berhenti setelah Rania menghentikannya. Rania merasa lega sudah dalam perjalanan pulang. Karena kalau tidak, saudara sepupunya pasti akan sangat mengkhawatirkannya.
Hari ini rumah makan tutup lebih awal dikarenakan semua masakan yang ada sudah tidak tersisa. Itu sebabnya semua karyawan bisa pulang lebih awal. Tapi, Rania dan kedua temannya pergi untuk makan malam terkebih dahulu sebelum pulang. Mereka makan sambil berbincang tentang semua hal, mulai dari pekerjaan sampai ke masalah pribadi. Bercanda ria bersama dengan orang-orang yang peduli satu sama lain sangat sulit dilakukan. Karena tuntutan kerja yang mengharuskan mereka kerja hingga malam tanpa adanya waktu istirahat yang cukup.
Itulah resiko yang harus dijalani setiap orang yang bekerja disebuah warung makan ataupun restoran. Disaat orang lain istirahat dan bisa makan siang dengan leluasa, mereka malah bekerja menyajikan makanan untuk orang lain. Sementara mereka, para pramusaji, hanya memiliki beberapa menit saja untuk menghabiskan makanan mereka. Sungguh perbedaan waktu yang sangat jauh antara karyawan perusahaan dengan pramusaji.
Rania tersentak dari lamunan ketika taksi yang dia naiki tiba-tiba berhenti. Dia memperhatikan pak sopir yang langsung keluar untuk melihat situasinya. Tanpa disuruh, Rania pun ikut keluar. Karena penasaran, Rania pun memberanikan diri untuk bertanya pada pak sopir.
"Mobilnya kenapa pak?" Tanya Rania dengan sopan.
__ADS_1
"Ini neng, bannya kempes." Jawab pak sopir.
"Terus gimana pak? Rumah saya masih jauh loh pak." Terang Rania khawatir.
"Kalau begitu, neng naik taksi lain aja." Jawab pak sopir.
"Terus bapak bagaimana?" Tanya Rania lagi.
"Neng nggak perlu khawatir dengan saya. Saya nggak apa-apa neng." Jawab pak sopir dengan sopan.
Rania akhirnya menyetujui usul pak sopir untuk cari taksi lain. Rania juga tidak lupa membayar taksi yang dia naiki tadi. Meskipun ditolak oleh pak sopir, Rania tetap memberikan upah taksinya. Karena Rania tahu betul, ada orang-orang yang sayang dengan pak sopir yang sedang menunggunya pulang membawa uang. Sama seperti dirinya, ada keluarganya di kampung yang berharap banyak padanya.
Rania berjalan ke halte bus yang terletak tidak jauh dari taksi yang dia naiki tadi. Dia menunggu taksi yang mungkin lewat sini. Tapi sedari tadi tidak ada satupun taksi yang lewat. Rania mulai gelisah, karena sudah hampir 30 menit belum juga ada taksi yang mewat. Sementara waktu terus bergulir menyongsong malam. Rania hendak menghubungi saudara sepupunya ketika tiba-tiba ada sebuah mobil mewah berhenti didepannya.
"Rania! Betulkah itu kamu, Rania?" Tanya seseorang dari dalam mobil.
Rania menoleh kearah sumber suara, suara yang sangat dia kenali.
"Pak Soni? Kenapa bapak ada disini?" Tanya Rania heran.
"Kebetulan saya lewat sini dan melihat kamu ada disini. Masuk yuk, saya antar kamu pulang." Kata Pak Soni.
"Tapi pak...." Kata Rania terputus karena pak Soni sudah lebih dulu menarik lengannya untuk masuk ke dalam mobil.
"Nggak ada penolakan, oke? Ini perintah. Dan lagipun ini sudah larut malam, nggak baik perempuan malam-malam diluar sendirian." Terang Pak Soni.
__ADS_1
Rania hanya bisa pasrah dengan perkataan atasannya. Lagipula, dia juga sudah sangat ketakutan tadi. Beruntung ada Pak Soni Wijaya yang kebetulan lewat sini, jadi Rania bisa segera pulang. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah Rania, lebih tepatnya rumah kos saudara sepupunya, mereka saling bertukar cerita. Tanpa Rania sadari, detak jantungnya sudah mulai tidak beraturan ketika berbicara dengan atasannya. Entah apa yang terjadi padanya hari ini, jantungnya berpacu semakin laju dan laju.